Kuda Bersayap

Karya . Dikliping tanggal 2 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

SEBELUM matahari terbit, ketika orang-orang masih mendengkur di dalam tenda, saat daun masih dilumas embun dan jalan masih dirajam senyap, Langkir mengeluarkan kuda putih itu dari kandangnya; berupa sebatang pohon beringin purba, dengan rimbun daun memayungi juntai ratusan akar yang bergelantungan mencium tanah.

Dari lubang pengap di pangkal pohon itu—tepatnya di antara apitan belukar akar-akar raksasa yang meliuk-liuk dan ujungnya menghunjam tanah—kuda itu keluar seraya menguap dan menggeliat, sembari mengedipkan matanya beberapa kali seperti baru bangun tidur, membuka sayapnya perlahan, sebelum akhirnya digosok-gosokkan ke punggungnya yang dingin.

Langkir melempar beberapa bongkah batu ke depan kuda itu. Tak tunggu waktu lama, kuda itu pun langsung menyantapnya dengan lahap. Suara retakan batu di dalam mulutnya seakan sengaja dipermainkan, sebelum benar-benar ditelan, menimbulkan bunyi gleg seperti benda keras jatuh ke dalam air. Setelah itu, Langkir lekas menaiki punggung kudanya. Sejenak tangannya mengusap-usap bulu tebal di leher kuda itu sambil membaca ayat-ayat. Kuda itu tiba-tiba tegak, mengencangkan seluruh ototnya, sepasang matanya lurus menatap arah tujuan, sayapnya direntangkan hingga ujungnya menyentuh rumput basah.

Bless!!”

Sekali kaki belakang menerjang dan sayap berkepak, kuda itu melesat cepat, seperti benda ringan terlempar ke udara. Daun-daun di sekitarnya bergerak-gerak oleh angin yang ditimbulkan kecepatan lesatan itu.

Mubin yang tengah mengintai Langkir, seketika wajahnya di liputi rasa heran, matanya terpaku ke arah kuda terbang itu, yang sudah jauh dan hanya berupa titik kecil di antara sisa cahaya bulan. Jantungnya berdetak kencang. Mulutnya menganga. Ia tak tahu ke mana Langkir, temannya itu, akan pergi.

Saat menoleh ke sekitar, tenda masih sunyi, teman-temannya masih lelap setelah semalam menjalani latihan perang. Di ufuk timur, matahari belum terbit. Beberapa kali Mubin melihat kejadian itu, selalu setiap pagi, sebelum matahari terbit. Tapi, ia tidak tahu kapan Langkir pulang dan mengandangkan kudanya kembali ke dalam pohon itu. Hanya, Mubin tak terlalu memikirkan hal itu. Yang jelas, Mubin kini punya satu tontonan ajaib yang harus dirahasiakan kepada siapa pun sebelum dirinya bertanya langsung kepada Langkir. Di sela keheranannya itu, Mubin menduga, yang membuat Langkir selama ini bahagia—meski di arena peperangan sekalipun—karena ia selalu terbang dengan kuda itu setiap pagi, membuang kegelisahan jauh-jauh di datar langit.

Hari-hari setelahnya, ketika Mubin menanyakan peristiwa ajaib itu kepada Langkir, si Langkir malah tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Mubin. Lalu, ia menyebut Mubin berhalusinasi. Ia sendiri mengaku tak pernah menunggang kuda pagi-pagi, apalagi kuda bersayap.

“Itu sangat mustahil. Mungkin kamu ditipu jin,” ujar Langkir sambil mengulangi tawanya. Mubin terdiam, keningnya mengernyit, mengingat peristiwa yang ia lihat setiap pagi, ketika mereka sama-sama berada di tenda peperangan.

Masih dengan dada sangat yakin, keesokan harinya Mubin datang langsung ke lokasi tenda peperangan. Ia mendekat ke pohon beringin, mengetuk pohon itu dengan keras, berharap kuda Langkir keluar atau paling tidak meringkik. Tapi, pohon itu biasa saja, padat membisu, menampakkan kulit berkerut kasar dengan ceruk berisi getah yang mengering. Tanah di sekitar pohon itu pun datar dan sedikit berpasir, tak ada jejak kaki kuda.

Beberapa hari kemudian Mubin masih penasaran. Ia tak mengabaikan waktu untuk mengintai dari balik semak yang tumbuh di dekat pohon beringin itu. Dugaannya tetap tak meleset. Pagi-pagi sebelum matahari terbit, Langkir mengeluarkan seekor kuda putih bersayap dari pohon itu, sejenak kuda itu menari pelan sambil membuka sayapnya, diabai menyentuh embun di daun-daun. Saat itulah Mubin segera mendekati Langkir untuk bertanya perihal kuda itu. Tapi, begitu Mubin mendekat, kuda itu membawa Langkir dengan lesat yang cepat ke arah langit. Mubin bangkit di antara rimbun semak dengan raut wajah yang cemas. Kakinya melangkah pelan ke tempat kuda itu mengepakkan sayap. Sepasang matanya lurus menatap ke arah kuda terbang itu. Jantungnya berdetak kencang, bulu kuduknya meremang.

***

Pikiran Mubin selalu dibayang-bayangi kuda bersayap yang keluar dari pohon beringin dan ditunggangi Langkir setiap pagi. Sudah puluhan tahun—sejak kali pertama Mubin melihatnya hingga kini—, Langkir tetap tak pernah mengakui perihal itu, bahkan marah ketika didesak dengan pertanyaan itu. Ketika menceritakan hal itu kepada warga, Mubin malah ditertawakan dan diledek dengan sebutan suka mengkhayal. Padahal, nyaris setiap bulan Mubin selalu mengecek pohon beringin itu setiap pagi. Sepasang matanya tetap melihat peristiwa unik itu. Langkir mengeluarkan kuda bersayap dari dalam pohon beringin itu. Lalu, kuda itu terbang membawa Langkir ke langit.

“Tapi, kenapa orang-orang tidak percaya dan malah menuduhku suka berkhayal?” Mubin menopangkan wajah cemasnya pada tangan kanannya yang tegak di atas meja. Kepalanya pusing. Dia merasa tersiksa dengan peristiwa ajaib itu. Tebersit keinginan untuk mencoba menghapus ingatan peristiwa itu dari ingatannya.

Dua tahun setelah itu, barulah Mubin lupa total pada peristiwa itu. Saat itu tak ada lagi kuda bersayap dalam kepalanya. Ia kembali bekerja normal seperti biasa—setelah pensiun jadi prajurit keraton. Ia bekerja menjadi tukang pelitur meja di sebuah pabrik mebel. Waktu berjalan menyeret usia Mubin ke arah yang semakin renta. Wajahnya terlihat mulai dipenuhi garis keriput. Kulit lehernya kendur dan bergelambir. Sepasang matanya tampak lebih beku, seiring beberapa gigi depannya yang tanggal, dan rambutnya nyaris berwarna putih semuanya.

Tibalah suatu waktu, istri Mubin terserang penyakit jiwa. Ia selalu merasa ketakutan. Tak ada yang bisa dilakukan selain menangis. Tubuhnya gemetar, bersedekap seperti menggigil. Mulutnya lebih sering tertutup, hanya mau bicara barang seucap manakala didera dengan pertanyaan. Ia selalu berusaha berdiam di dalam kamar sambil terus berurai air mata. Matanya selalu cemas, seolah sedang menunggu giliran tiang gantungan.

Mubin sudah membawa istrinya ke beberapa tabib dan psikolog. Tapi, tak seorang pun yang bisa menyembuhkannya. Hari demi hari, istrinya hanya bekerja menguras air mata di dalam kamar pengap yang sunyi. Mubin menemaninya dengan perasaan gundah. Sambil lalu, dielusnya rambut istrinya, dan kadang ia menembakkan kecupan di kening istrinya. Tak jarang Mubin juga memeluk tubuh istrinya yang gemetar. Istrinya pun merebahkan kepalanya di dada Mubin, seperti tengah membagi ketakutan yang ia rasakan. Beberapa kali Mubin juga menangis sambil bertanya-tanya, gerangan apa yang bisa menyembuhkan penyakit istrinya.

Hingga tiba suatu malam, istrinya tiba-tiba berkata bahwa penyakit yang dideritanya akan sembuh apabila bisa menyentuh kuda bersayap. Pikiran Mubin kembali berputar-putar, ia berusaha kembali mengingat kuda bersayap yang telah lama lenyap dari kepalanya.

“Apa ada kuda yang bersayap, Kakang?”

“Iya, ada. Jangan khawatir,” Mubin menepuk bahu istrinya sambil tersenyum.

Keesokan harinya, Mubin dibantu sebagian tetangganya menyebar ke berbagai daerah untuk mencari kuda bersayap. Menyinggahi dusun demi dusun sambil coba bertanya perihal kuda bersayap itu. Tapi, semua orang menyatakan bahwa kuda bersayap itu cuma ada dalam cerita, tak ada di dunia nyata. Mubin dan teman-temannya ditertawakan.

Pada suatu hari, Mubin teringat pada pohon beringin raksasa yang pernah dijadikan kandang kuda bersayap oleh Langkir. Ia segera ke sana, melintasi tiga desa ke arah selatan dengan sepeda onthel kebanggaannya. Ia masih ingat lokasi pohon itu, tepat di sebelah barat sebuah tugu. Berharap kuda bersayap itu masih berdiam di sana. Setiba di lokasi, Mubin terkejut, ia tak melihat pohon itu lagi. Seseorang yang sempat ditanyai mengabarkan bahwa pohon itu telah lama ditebang. Kini di lokasi itu telah berdiri sebuah ruko.

Mubin tak kehabisan akal, ia langsung memutar haluan, mengayuh sepeda tuanya ke rumah Langkir yang berjarak puluhan kilometer ke arah barat dari lokasi itu. Setiba di rumah Langkir, Mubin kembali terkejut. Langkir mengalami gangguan jiwa, ia hanya tertawa dan berjoget semaunya. Tubuhnya kurus kerempeng, menguar bau tak sedap. Rambutnya awut, dimukim banyak kutu. Kukunya panjang hitam dan berdaki. Mubin meringis melihat keadaan temannya itu. Saat Mubin bertanya perihal kuda bersayap itu, Langkir menjawab bahwa kuda itu kini ada dalam tubuhnya. Mubin bergidik, lalu pulang dengan perasaan cemas.

Beberapa hari kemudian, pada suatu pagi yang gerimis, Langkir datang ke rumah Mubin, masih dalam keadaan gila, tertawa dan berjoget semaunya. Bau tubuhnya sangat menyengat. Dan tanpa diduga, istri Mubin tiba-tiba keluar dari dalam rumahnya dan berlari ke arah Langkir, lalu memeluknya dengan sangat mesra.

“Inilah kuda bersayap yang aku cari,” ucap istri Mubin seraya mencium kening Langkir. Lalu, keduanya tertawa.
Sepasang mata Mubin terbelalak melihat istrinya berpelukan dengan Langkir di hadapannya. Hati Mubin sangat sakit. Kuda bersayap itu seperti masuk ke dalam dadanya, mengentak-entak, meringkik-ringkik, dan meluluhlantakkan semua yang ada.

Gaptim, 24 Maret 2019

WARITS ROVI

Lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, dan artikel dimuat di berbagai media nasional dan lokal. Bukunya, Dukun Carok & Tongkat Kayu, terbit pada 2018.


[1] Disalin dari karya A Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 31 Maret 2019