Kue Ulang Tahun

Karya . Dikliping tanggal 30 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
EMBUN masih menggelantung di atas bunga-bunga yang mulai dirubung kumbang. Kutengok jam yang menunjukkan pukul setengah enam. Kuliah hari ini libur. Maka seperti biasanya, aku malas turun dari tempat tidur. Kamar kos yang tak begitu luas ini sudah cukup buatku tenang di dalamnya. Kubaca halaman per halaman majalah yang kupegang dari tadi. Beritanya aneh-aneh saja. Ada sahabat saling membunuh gara-gara rebutan pacar.
“Rin, kamu lagi ngapain?” teriakku.
“Ada deh.” jawabnya ketus.
Buatku segera mungkin menemuinya di dapur meski malas. kakiku berjalan tersaruk-saruk di lantai.
“Sebenarnya kamu lagi ngapain sih?”
Dilihat dong ini lagi apa,” katanya ketus tanpa melihat aku.
Kulihat dia sibuk menuangkan tepung di mangkuk besar.
“Maksudku, mau buat apa pagi-pagi begini?”
“Udah ah. Jangan kebanyakan tanya. Mandi sana, sayangku, manisku.”
“Males, ah.” kataku masih seperti tadi. Membolak-balik majalah lantas duduk di kursi dekat pintu dapur.
“beritanya apa, kok kelihatan serius banget bacanya. Kayak profesor aja.”
Hoah. Mulutku menguap.
“Ini beritanya aneh-aneh, masak cuma gara-gara pacar, saling bunuh. Padahal diketahui saling bersahabatan.

“Ah, masak sih.” Dia tak percaya. Tapi aku yakin hatinya penasaran. Lalu, dengan gugup dia menghampiriku. Membaca lembaran majalah yang masih di tanganku.

“Tuh, kan.” aku menunjuk-nunjuk.
Hanya sebentar membaca,
“Alah. Nggak kenal aja kok repot. Itu namanya sahabat yang tak bersahabat. Kurang pengertian.” Semburat dia kembali dengan kesibukannya. Kali ini menuang beberapa telur.
Aku mulai tahu apa yang akan dia buat. Aku menghampirinya.
“Untuk siapa kue itu?”
“Ntar kamu juga tahu sendiri.”
“emangnya ada acara apa?”
“Jangan banyak tanya.”
Kudengar suara hapeku berdering di dalam kamar. AKu bergegas melangkah. Oh, ternyata my dear.

“Sayang, pagi ini kamu ada agenda apa?” tanyanya dari jauh sana. Serak-serak basah. Mungkin baru bangun tidur.
“Nggak ada acara apa-apa kok, Sayang. Kuliahnya libur. Emang ada apa?”
“Aku mau ajak kamu ke tempat pesta. Oke…?”
“Em… ketemuannya di mana?”
“Ntar aku jemput di tempat kosmu.”
“Eh, jangan. Bagaimana kalau di taman depan universitas.”
“Memang kenapa?”
“Nggak kenapa-napa kok. Kebetulan nanti mau bayar kertas di fotokopian dekat taman.”
“Oh… ya udah. Siap-siap mandi loh ya.”
“Emang maunya jam berapa?”
“Jam tujuh,”
Ha! Mau ke mana aja?”
“Udahlah, kita jalan-jalan ke mana saja,” katanya datar.
“Wah… asyik dong. Sampai ketemu nanti, Sayang. Mwuach…” Aku berteriak girang. Berloncatan tak tentu arah.
“Cie… yang lagi bahagia mau ketemuan dan pesta-pesta. Enak dong,” Suara dari dalam dapur menggema.
“Ya lah… ini namanya pacar yang sayang.”
Eh ngomong-omong pacarmu namanya siapa? Kenalin ke aku ‘napa.”
“Rahasialah, nama pacar itu haram hukumnya dibeber-beberkan pada orang lain.”
“Aku cima pengen tahu namanya doang. Kok romantis banget gitu. Pake sayang-sayangan. Apa nggak takut patah hati nanti bila putus tiba.”
“Waduh, jangan ngomong begituan.”
“Bukan begitu, Ris. Aku cuman takut nasibmu patah hati seperti aku sekarang.”
“Aku mau minta bantuan,” katanya mengagetkanku saat ganti baju.
“Bantuan apa?”
“Ayo dong keluar.” pintanya.
Aku membuntutinya yang langsung duduk di kursi.
“Wah… bagus sekali kuenya. Andai itu untukku. Aku dibuat terkagum-kagum oleh kue itu. Kue berbentuk love dengan strowberi yang bertaburan di atasnya serta si sampingnya ada tulisan, from; Rina.
“Ini bukan untukmu. Aku mau minta tolong. Kamu mau ke taman kan!  Nanti bawain kue ini. Kasihkan ke Rino.”
“Apa?” aku kaget. Pikiranku melayang. Menerka-nerka tentang Rino. “Bukannya kamu sudah putus dengan dia?” tanyaku dengan suara meninggi.
“Iya. Tapi aku masih sayang sama dia. Sekarang dia ulang tahun.”
“Eh, aku sebenarnya mau Rin. Tapi kau tahu sendiri kan aku mau ketemuan.”
“Iya Ris. Aku tahu itu. Kan kamu bisa jalan terus sejenak dari taman. Rumahnya nggak jauh kok dari taman.” DIa mulai memaksa.
“Kamu kan udah putus dengan dia. Llau hatimu juga udah dibuat sakit oleh dia. Kenapa masih mau ngasih selamat?” Aku  masih mau mencari alasan agar tidak disuruh mengantar kue itu.
“Itulah wanita, Ris. Sesakit apapun hatinya. Sebenarnya dia masih suka dan setia dengan seorang lelaki.”
Dalam hati aku membenarkan omongannya. Kulihat wajahnya pucat. Aku kasihan dengan dia. 
“Rin. Aku keberatan.”
Kulihat pipinya benar-benar basah. Seakan-akan momen yang sangat penting hilang begitu saja.
“Aku terlambat menemui my dear, Rin.”
Ia sesenggukan. Air matanya semakin deras dan deras. Kami diam. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan saat ini. Hape berdering berkali-kali tapi aku tak peduli. Hanya diam dan diam.
Kukira dia sudah menyerah memaksaku. Bibirnya bergetar seakan-akan inilah pesan terakhir.
“Plis… Ris. Apa yang membuatmu keberatan? Jujur, selama ini kau tak pernah keberatan jika kumintai pertolongan.”
Dadaku sesak. Apa yang harus aku katakan.
“Ris…”
Aku diam membisu. Sebenarnya ingin kukatakan sejujur-jujurnya. Tapi, aku tak ingin dia lebih sakit dari pada ini. Tidak mungkin hanya gara-gara ingin ketemuan, lalu aku menghapus kesetiaan persahabatan. Ini masalah berat bagiku. Aku tak tega melihat dirinya yang nanti patah hati lebih parah. Dia tidak tahu kalau aku sudah jadian dengan Rino seminggu lalu. Bahkan saat ini sebenarnya aku mau menghadiri pesta ulang tahun Rino.
“Rin, sebenarnya… aku jadian sama Rino!” []
Luluk Nur Sayyidatin Nisa,  tinggal di Jalan Bung Tomo No 63 Surabaya.
Rujukan:
[1] Disalin dari Luluk Nur Sayyidatin Nisa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 28 Juni 2015