Kuliah

Karya . Dikliping tanggal 30 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
MENJELANG Dunia dalam Berita, hati Luru makin dag-dig-dug. Sore tadi sebelum ayahnya berangkat memimpin rapat RW, berpesan bahwa tepat pukul 21.00 WIB ia akan tiba di rumah. Dan Luru akan diajak berbincang-bincang tentang rencana studinya, kalau sipenmaru yang baru ditempuhnya gagal diterobos. Tapi Luru membayangkan lain. Ayahnya pasti akan melampiaskan marahnya karena hasil ujian SMA-nya tidak memuaskan. Dan ia merasa pekerjaannya menjawab soal-soal tes masuk itu tak terlalu meyakinkan. Harapan untuk diterima di perguruan tinggi negeri sangat tipis, kecuali ada mukjizat. Tetapi selama ia tidak lagi hidu dalam jagat eawayangan, mengharapkan turunnya Betara Indera sama saja menembak kode porkas. Lagi pula, sejak ia menerima nilai ebtanas murni yang rata-rata hanya enam kurang itu, ia menyadari bahwa ia merasa kurang untuk menyiapkan diri menempuh ebtanas itu. Ia menyesal bahwa justru menjelang ujian SMA ia menuntut ayanya membelikan motor dengan slinder besar itu. Dengan motor itu, hubungannya dengan Luzi teraktifkan. Di hadapan ayahnya, malam itu, ia harus mempertangungjawabkan semuanya. Ia perlahan-lahan memahami bahwa ia tak bisa lagi mengelak. Ia juga mulai membayangkan menjadi pelayan tokoh, buruh di pembangunan gedung SD itu, atau ikut membantu mas Mukijo, pemilik bengkel motor yang biasa memperbaiki motornya. Menurut ayah dan ibunya mengeluarkan uang jutaan untuk memasuki perguruan tinggi swasta sungguh absurd. Ia masih punya tiga adik yang juga sangat memerlukan biaya untuk pendidikan mreka. Dan mereka lebih serius dalam belajar.
“Sebentar lagi bapakmu pulang,” kata ibunya dengan nada iba, “sebaiknya kau menyiapkan kopinya dan goreng kerak nasi itu di meja depan,” sambungnya. Luru mengangguk dan segera menjalankan perintah itu.
“Ibumu tak bisa lagi membelamu. Bapakmu ternyata lebih benar, bahwa motor itu telah membuatmu berantakan. Mula-mula ibumu ibu berpendapat sebaliknya, motor akan mendorongmu belajar. Tapi…”
“Sudah, bu!” tukas Luru sedikit bernada kesal. “Aku siap kerja. Jadi buruh sekalipun, kalau sipenmaru nggak nembus.”
Dengan hari-hati Luru mulai menyedu kopi. Dengan hati-hati ia mengaduk gula yang dituangkan ke dalam kopi di cangkir itu. Kopi hitam. Hitam pekat. Seperti jagatnya yang gelap. Tetapi bukankah ada rasa manis di sana, ada rasa yang bisa membuat orang kecanduan, nikmat. Ia terus mengaduk kopi itu.
Ketika ia mengangkat senduk teh pengaduk kopi itu, gerakan cairan kopi perlahan-lahan menjadi tenang. Dan perlahan-lahan pula wajahnya sendiri terpantul dari permukaan. 
“Kau mirip kakekmu,” tiba-tiba terngiang suara. Luru terkejut. Ia ingat suara itu suara mBah Joyo, tetangganya yang tua, yang hidup serumah dengan almarhum kakeknya, mBah Joyo, dulu sebelum pindah, selalu becerita bahwa almarhum kakeknya memiliki sejumlah kuda pacuan. Bahkan kakeknya seorang penunggang kuda yang lihai. Konon, kakeknya mengharapkan kelak anak cucunya ada yang menjadi pecinta kuda.
“Beliau bilang,” kata mBah Joyo pada suatu malam, “kalau ada salah seorang cucunya yang menjadi penggemar kuda, dialah yang berhak menerima surat wasiatnya.”
“Apa isinya?” tanya Luru malam itu. 
“Wah, kurang tahu. Tapi saya kira menyangkut soal sejumlah uang,” kata mBah Joyo sangat perlahan hampir berbisik.
“Uang?”
“Ya. Tapi, uang itu tidak boleh dipergunakan untuk foya-foya. Uang itu hanya boleh digunakan untuk biaya sekolah sampai selesai. Kalau perlu sekolah ke negeri Belanda untuk mencapai titel Meester in de Rechtern…
“Wah, uang itu pasti banyak sekali,” tanya Luru.
“Jelas. Apalagi kalau dikurs dengan uang sekarang…” Luru tertegun. Ia membayangkan seandainya ia pecinta kuda. Tetapi bagaimana ia bisa menggemari binatang itu kalau di rumahnya tidak ada seekorpun, bahkan ia belum pernah sama sekali melihata, kecuali gambarnya, kuda pacuan itu. Mungkinkan makna kuda sama dengan motor? Menurut teman-temannya, terutama Luzi, ia seorang pengendara motor yang dahsyat dan lincah. Siapa tahu ia sebenarnya mewarisi bakat kakeknya sebagai pembalap. Sayang sekali, kakeknya sudah wafat. Seandainya kakek itu masih hidup, ia bisa membuktikan bahwa ia memang mewarisi bakat pembalap itu. Ia akan meyakinkan bahwa antara kuda balap dan motor balap pada dasarnya sama. Ia akan meyakinkan kakeknya bahwa ia tak keberatan disebut joko motor. Ia bahkan akan sangat bangga.
Luru merasa pasti bahwa kakeknya akan kepranan hatinya. Dan jika ia benar, surat wasiat itu akan diberikannya. Dan ini artinya ia akan memiliki uang yang jutaan jumlahnya. Ia tak usah kawatir jika ia gagal menembus sipenmaru. Dengan uang yang banyak ia akan memasuki perguruan tinggi swasta terbaik, yang uang kuliahnya termahal, dengan gedung yang sangat hebat, dengan perpustakaan yang dahsyat, ruang komputer berpendingin.
Ia akan punya uang saku lebih dari cukup dan ia akan membeli buku sebanyak mungkin, lengganan jurnal-jurnal ilmiah yang terbit di dalam dan diluar negeri.
“Tetapi,” pikirnya tiba-tiba, “apakah setelah selesai kuliah ada jaminan pekerjaan?” Luru termenung. Ia pernah mendengar kabar bahwa cucu mBah Joyo yang sulung, Mas Lantip, hingga sekarang masih menganggur. Padahyal mas Lantip seorang sarjana. Demikian pula saudara sepupunya, Sulonthong, yang berijazah sarjana pendidikan umum itu. Ia melihat sendiri mas Sulonthong sering nongkrong di toko Pak Bluder itu, membantu menjual nomor-nomor.
Tiba-tiba Luru tersenyum. Ada gagasan canggih terlintas. Surat wasiat itu, antara lain berbunyi, “Uang ini hanya halal untuk biaya sekolah dan biaya hidup selama masa pendidikan….” Tak ada klausul yang menyebutkan batas waktu pendidikan itu. Karena itu, pikir Luru, ia merencanakan, begitu kuliah hampir tamat, ia keluar dari perguruan tinggi itu dan pindah ke perguruan tinggi lainnya, dan mulai dari tahun pertama lagi. memang idealnya, selesai kuliah sarjana satu melanjutkan ke kuliah strata dua untuk memperoleh gelar Sarjana Utama (USU) atau Master. Tapi, kabarnya, kuliah di strata dua terlalu berat. Mahasiswa dituntut banyak menulis makalah, baik semacam makalah penelitian kecil atau berbentuk ringkasan buku-buku teks. Ini tugas maut bagi Luru. Ia tidak mempunyai tradisi ini, tradisi dia adalah tradisi wayang orang atau kethoprak, yaitu tradisi telinga dan mulut, bukan tradisi menulis, membaca dan merenung. Karena itu, sebaiknya sebelum mulai menulis skripsi Luru  harus minta berhentik kuliah dan pindah ke perguruan tinggi lainnya. Begitu seterusnya. Dengan demikian, sepanjang hidupnya ia akan tetap mahasiswa. Dan, siapa tahu, ia akan mendapat penghargaan karena memecahkan rekor belajar terlama kdi seluruh dunia. Ia mungkin akan bisa audiensi dengan Lurah, Camat, dan siapa tahu, dengan Walikota. Ia akan sangat terkenal tanpa bersusah-susah. Luru tersenyum. Hatinya bersorak-sorai walaupun tidak disentuh Roh Kudus.
Hening sejenak. Luru termenung sejenak. Ia melihat ibunya berjalan menuju pintu depan, kemudian terdengar suara batuk-batuk ayahnya, yang kemudian disusul permintaan agar kopinya segera dibawa ke meja kamar depan.
“Duduk!” kata ayahnya penuh wibawa. Luru duduk. Ia tidak berani memandang ayahnya.
“Bapa tadi beruntung sekali,” kata ayahnya memulai bicara sambil menyulutkan rokok.
Ibunya menunggu kelanjutan kata-kata ayahnya, juga Luru. Ada kegembiraan membersit. Setidaknya jika ayahnya bergembira kalau pun marah nantinya tak bakalan terlalu keras.
“Ketika bapa tahu hasil ujian SMA tidak terlalu bagus, bapa mulai memikirkan pekerjaan untukmu seandainya kau gagal menembus sipenmaru. Di samping itu, bapa juga mikir kemungkinan kalau ada orang yang baik hati bisa menolongmu, entah mencarikan pekerjaan atau memberi semacam biaya kuliah di perguruan tinggi swasta atau akademi,” ayahnya berhenti berkata sejenak.  Ia menyeruputi kopi dan mangut-mangut karena puas. Ukuran kekentalan kopi dan perbandingan gulanya pas. Ia bahkan tersenyum.
“Nih, ada surat. Bacalah…,” sambung bapaknya, “surat dari pak Lurah.”
Terkesiap hati Luru. Ia membayangkan surat itu surat wasiat dari kakeknya yang siapa tahu disimpan pak Lurah selama ini. Dengan cepat Luru menerima surat itu dan segera membukanya. Gemetar ia membacanya. Gemetar ibunya menunggu isi surat itu dibaca.
“Luru,” bunyi surat itu, “kalau kamu gagal menembus sipenmaru jangan gelisah. Dengan senang hati, selaku Kepala Desa, akan memberi kesempatan kamu untuk bekerja, siapa tahu, tidak terlalu jauh dari bakatmu. Bagaimana kalau besok pagi, kira-kira pukul delapan, kamu menghadap kami di Kelurahan. Kami sangat membutuhkan pemuda tegap perkasa seperti kamu. Kami memerlukan tambahan personel untuk tugas Hansip.
Luru terdiam. Entah sadar atau tidak, ayahnya melihat Luru meraba-raba lengannya yang memang kekar. ***
Yogya, 11 Juni 1988
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bakdi Soemanto 
[2] Pernah tersiar di koran “Kompas” Minggu 3 Juli 1988