Seringai

Karya . Dikliping tanggal 2 Juli 2010 dalam kategori Arsip Cerpen, Tribun Jabar
TAK ada yang tahu mengapa Aik selalu melontarkan kalimat itu. Hanya tiba-tiba saja kalimat itu terlontar lewat bibir perempuan jelita berkawat gigi itu. Melesat begitu saja dan menerobos pertahanan nuraninya. Benar-benar di luar kendali dirinya sendiri.
“Izinkanlah aku membunuhmu!”
Awalnya Aik hanya menyampaikannya kepada teman-teman dekatnya. Namun kian lama, hampir kepada setiap orang yang ditemuinya di jalan, ia mengucapkan kalimat yang sama. Dan tanggapan mereka nyaris seragam: mengacuhkannya.
Mereka memang selalu tak pernah merasa yakin Aik mampu melakukannya. Perawakannya yang sangat ramping membuatnya bisa dengan mudah dirobohkan. Bahkan hanya dengan sekali dorong, tak perlu harus dengan pukulan atau tendangan. Wajahnya yang jelita pun sangat jauh dari kesan sangar. Dari mana Aik mendapat kalimat itu, tak seorang pun tahu. Yang pasti, Aik seperti kecanduan mengucapkan kalimat itu. Ia obral kata-kata sakti itu kepada siapa pun yang ia jumpai. Kepada orang yang tak ia kenal sekalipun. Bahkan kini tak hanya secara lisan ia lontarkan. Ponselnya telah menerbangkan kalimat itu lewat pesan pendek ke semua orang yang terekam di kartunya.
“Mengapa kamu ingin membunuh?” Seseorang bertanya ketika Aik menemuinya di sebuah warung makan kaki lima.
“Karena aku memang ingin melakukannya.”
“Jika mereka tak mau kaubunuh?”
“Aku akan memaksanya jika memang aku harus memaksanya. Meski sesungguhnya aku tak suka memaksa.”
“Sampai kapan pun, tidak ada orang yang rela begitu saja untuk kaubunuh.”
“Ada. Orang-orang yang ingin mati tapi menghindari bunuh diri.”
“Kamu sudah pernah melakukannya?”
“Belum. Tapi suatu saat nanti, aku pasti akan melakukannya. Nanti, jika saatnya sudah tiba.”
Namun saat yang ditunggu-tunggu itu sepertinya berlalu begitu saja. Hingga ratusan hari sejak Aik pertama kali mengucapkannya, belum pernah ada orang yang mati di tangannya. Orang-orang masih lebih memilih cara lama untuk mati: bunuh diri.
Pada hari kelima ratus, Aik mencopot kawat giginya. Ada yang aneh pada penampilannya. Mulut Aik tak lagi seperti mengunyah makanan saat bicara. Liurnya tidak lagi seperti terhalang untuk keluar. Ia pun makin lancar mengucapkan, “Izinkanlah aku membunuhmu.”
Tanpa kawat gigi, Aik makin jelita. Hanya yang membedakan: kini ia jadi getol berkacamata. Rambutnya yang sebahu lebih sering ia kepang dua. Orang boleh merasa aneh pada penampilannya. Namun Aik merasa tak ada yang berbeda pada dirinya.
“Kalau aku bilang kamu makin cantik, apakah kamu tetap ingin membunuhku?” Seorang lelaki mencoba menggodanya.
“Kamu boleh bilang apa saja. Tapi jika aku ingin membunuhmu, aku akan melakukannya dengan senang hati.”
“Bukankah aku sudah berbaik-baik padamu dengan memuji kecantikanmu?”
“Pujian bukan sesuatu yang bisa menghapus niatku. Pujian tidak selalu harus dibalas dengan pujian.”
“Kamu memang sudah gila!”
“Seperti kubilang, kamu boleh ngomong apa saja. Tapi jika aku memang harus membunuhmu, aku akan dengan senang hati melakukannya.”
Laki-laki yang mencoba menggodanya itu memilih menyingkir daripada perdebatan harus jadi berkepanjangan. Perdebatan yang tak akan pernah bertemu pada satu muara lantaran kedua sisinya saling bertolak belakang.
Aik tak pernah merasa bersalah atas sikapnya. Baginya, apa yang ia lakukan masih wajar. Membunuh juga bukan sesuatu yang tabu jika memang korbannya adalah orang yang benar-benar lebih suka dibunuh.
***
AIK sedang makan siang ketika seekor kupu-kupu menghampirinya. Hanya dengan sekali rengkuh, sayap kupu-kupu itu telah lumat. Aik memandangnya dengan perasaan sangat puas.
Itu adalah hari kelima ratus enam puluh sejak ia kecanduan mengajukan keinginan membunuh. Dan kupu-kupu itu adalah korban pertamanya.
“Kamu telah berhasil melewati ujian pertama, Aik!” kata hatinya. “Kamu berhasil membunuh korban pertamamu.”
“Tapi ini cuma seekor kupu-kupu.”
“Kupu-kupu atau bukan hanya masalah objek belaka. Tidak penting. Yang jauh lebih penting adalah kamu sudah berhasil membunuh. Tak ada langkah yang langsung lebar. Semua berawal dari sejengkal.”
“Dan ini anak tangga pertama yang telah aku lalui?”
“Benar. Dan anak-anak tangga di atasnya sudah menanti untuk kaudaki.”
Aik tersenyum. Puas. Penuh kemenangan. Ia semakin tak sabar menanti korban selanjutnya. Namun ia tak pernah mengangankan, makhluk apa lagi yang akan menjadi korbannya. Pernah ia berencana membunuh anak kucing di rumahnya. Namun semakin ia rencanakan, semakin gagal ia melakukannya. Kucing itu semakin jauh dari jangkauannya. Karenanya, ia urungkan saja niat itu. Sejak saat itu, ia menganggap rencana hanya akan membebani langkahnya. Rencana hanya akan membelenggu jalannya. Ia lebih suka berguru pada kata hatinya. Manakala hati kecilnya tergerak, saat itulah ia melakukannya. Seperti saat ia melumat kupu-kupu dalam genggamannya, meski sesungguhnya ia pun agak kecewa lantaran tak sempat mengucapkan kalimat saktinya: “Izinkanlah aku membunuhmu.”
Aik berjanji, kealpaan itu hanya patut terjadi sekali. Tak layak kesalahan yang serupa terjadi dua kali. Maka, ketika lagi-lagi hati kecilnya tergerak untuk segera menginjak kecoa yang tiba-tiba nyelonong di kakinya, ia pun buru-buru berucap, “Izinkanlah aku membunuhmu.” Dan dengan sekali injak kecoa itu telah berubah bentuk.
Aik lega. Ia telah sempurna menuntaskan hajatnya hanya pada latihan kedua. Dan kepada korban-korban selanjutnya, bahkan Aik ingin menyebut nama calon korbannya saat hendak menghabisi nyawanya. Seperti pembunuh berdarah dingin, Aik  berlatih keterampilannya dengan membunuh beragam serangga.
Sudah sembilan ratus sembilan puluh sembilan korban tandas dalam keperkasaan tangan Aik… Kini ia menunggu korban keseribu. Ia menunggu hati kecilnya memberi perintah. Tak seperti biasanya ia merasa gelisah. Tak seperti biasanya hati kecilnya mengulur-ulur waktu. Padahal lazimnya, seperti tanpa rencana, tiba-tiba saja ia tergerak untuk melakukan pembunuhan. Dan bisikan itu muncul dari balik hatinya yang paling dalam. Bisikan yang dalam sehari kadang bisa muncul lebih dari lima kali.
Tapi entah mengapa kali ini tidak. Berhari-hari ia menunggu, bisikan dan perintah itu tak kunjung muncul. Semakin mencoba mendengar kata hatinya, Aik semakin mendapatkan kesenyapan. Hati kecilnya seperti benar-benar telah mati. Ia jadi seonggok daging yang menggantung di bawah rongga dadanya dan sewaktu-waktu bisa saja membusuk. Tak ubahnya hati sapi yang digantung para pedagang daging di pasar-pasar tradisional yang selalu kumuh.
Aik sangat menyesalinya. Mengapa hati kecilnya yang semula perkasa tiba-tiba saja runtuh dalam kelumpuhan yang nyaris sempurna?
Haruskah ia berhenti memuja hati kecilnya sendiri?
Tidak. Aik merasa ia masih harus bersabar. Korban keseribu tentu korban yang sangat istimewa. Korban terakhir yang harus ia tuntaskan sebelum mencapai anak tangga paling tinggi. Dan kesebaran tak pernah berbatas. Aik sangat meyakininya.
Kesabarannya berbuah ketika menjelang tengah hari Aik merasa hati kecilnya kembali berdenyut. Aik tersenyum. Sangat bahagia. Ia merasa hatinya bergerak-gerak seperti janin di dalam rahim. Kadang bergerak kencang, kadang pelan. Penantian Aik tinggal berbilang detik lagi. Dan tepat tengah hari, hati kecilnya mulai bersuara.
“Kamu sudah menunggu lama, Aik.”
“Tentu saja. Mengapa kamu tak kunjung datang?”
“Tidak mudah untuk menentukan korban istimewa, Aik. Korban keseribu bukan korban sembarangan. Ia harus bermakna.”
“Tidak jadi soal. Aku sudah kebelet menuntaskan latihan ini.”
“Kamu sudah siap?”
“Sudah berhari-hari yang lalu aku siap. Katakan saja siapa yang harus aku bunuh sekarang?”
“Bunuhlah bayanganmu.”
“Bayanganku? Bagaimana mungkin? Caranya? Ini mustahil. Kamu mengada-ada. Kamu tidak seperti biasanya.”
“Tidak ada yang mustahil. Bukankah sudah kubilang, korban keseribu haruslah istimewa dan bermakna?”
“Benar. Tapi caranya?”
Tak ada lagi suara. Hati kecilnya kembali membisu. Aik merutukinya. Bagaimana mungkin orang bisa membunuh bayangannya sendiri? Ini bukan dunia absurd. Ini realitas. Ia tidak sedang berada di alam surealis yang memungkinkan segalanya terjadi meski bertolak belakang dengan logika.
Tapi perintah tetaplah perintah. Aik tak ingin perjalanan panjangnya harus berhenti justru pada anak tangga terakhir. Ia ingin sebuah kesempurnaan. Memalukan  dan naif jika kandas pada detik-detik yang sangat menentukan. Apalagi kandas lantaran kebebalannya sendiri. Aik tak mau mengalaminya. Maka dengan berbagai cara ia berusaha menjalankan perintah terakhir hati kecilnya.
“Izinkanlah aku membunuhmu, bayanganku!”
Lantas Aik mencoba menginjak bayangannya dengan kaki keras-keras, tapi bayangan itu masih bertengger perkasa. Ia coba hantam dengan batu, tetap tak goyah. Ia coba pukul dengan tangan kosong berkali-kali, justru tangannya yang lantas melebam. Ketika menemukan sebilah bambu, Aik merasa itulah piranti paling tepat untuk menghabisi bayangannya. Pelan tapi pasti Aik menghunjamkan bilahan bambu itu tepat ke ulu hati. Dan benar saja. Seketika bayangan itu tak lagi bergerak. Bayangan itu sekarat. Mulutnya menganga.
Aik tersenyum puas. Tugas terakhirnya tuntas sudah. Selang satu jam kemudian, lalat berkerumun, berdengung dan berpesta di sebuah taman kota. Mereka merubung sesosok mayat perempuan yang tergeletak dengan sebilah bambu tertancap tepat di ulu hatinya.
***
Baca juga:  Kepada Seorang Penari - Sepotong Sejarah Hitam - Syah Jehan
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Handoko Adinugroho
[2] Pernah dimuat di Tribun Jabar