AWAN MENDUNG

Karya . Dikliping tanggal 10 Juli 2012 dalam kategori Arsip Cerpen, Harian Waspada
Merasa hina dan tercela. Aku selalu merasakannya. Hatiku merasa bahwa aku bukanlah ciptaan Tuhan dan aku merasa bahwa Tuhan terkecoh karena telah mengirimku ke duniaNya. Setiap hari aku berpikir apa yang diteriakkan oleh mereka kepadaku, tapi aku ingat apa kata Mbah Putri bahwa ‘diri yang terhina adalah diri yang menghina’ setiap mengingat kata Mbah Putri aku menjadi lega lalu menitikan air mata.

AWAN MENDUNG
 AWAN MENDUNG

Mbah Putri sangat amat melegenda dalam hidupku dialah yang merawatku dari aku kecil, Ibu dan Ayahku meninggal tanpa diketahui keberadaan jasad mereka. Mbah Putri merawatku dari kecil sendirian tanpa dibantu oleh siapapun. Di mata orang banyak Mbah Putri adalah wanita hina tapi di mataku beliau adalah wanita sempurna. Mbah Putri dianggap hina oleh orang banyak karena dia adalah seorang PeRek tua. Untuk menghidupiku dia rela menjadi PeRek sampai ajal menjemputnya, lalu profesi tersebut menurun kepadaku.

Entah apa yang kurasakan… setiap kali aku satu ranjang dengan lawan jenisku aku selalu menangis dan hatiku terasa perih, bukan karena aku sedih harga diriku hancur dan juga bukan karena aku teringat celaan mereka. Bahkan dua hal itu tidak sebanding perihnya dengan yang biasa ku rasakan setiap satu ranjang dengan lawan jenisku. Mbah Putri selalu berkata bahwa aku tak boleh seperti beliau akupun juga telah menjanjikan hal itu tapi sekarang janji itu telah kuingkari. Sering kali Mbah Putri kepergok olehku menangis di dalam kamar sempitnya dan sekali aku mendengar dia berkata saat dia menangis di dalam kamarnya.

“Manusia kotor, menjijikkan… aku sudah rusak. Tak ada lagi yang berharga dalam hidupku, kini dunia telah menghantamku hidup-hidup…” lalu Mbah Putri megambil pisau tajam yang berkarat dan mendekatkannya ke atas urat nadinya sendiri saat melihat hal itu terjadi aku langsung menampakkan diriku dan berteriak.

“Jangan Mbah Putri.” Mbah Putri pun menoleh ke arahku.

“Awan. Sini nak,” suruhnya dan aku pun menghampiri Mbah Putri sembari menangis lalu Mbah Putri mengelus-elus rambut hitamku dengan penuh kasih sayang.

“Mbah Putri kenapa? Memangnya nggak ada lagi yang berharga dalam hidup Mbah Putri?” tanyaku.

“Awan nguping ya?” tanya Mbah putri dan akupun mengangguk. “Kamu. Cuma kamu yang berharga dalam hidup Mbah.”

“Kalau begitu Mbah jangan tinggalin Awan.”

Kejadian itu sudah berlalu 19 tahun lamanya dan sampai sekarang masih dan selalu kuingat, sampai pada akhirnya tiga tahun setelah kejadian itu Mbah Putri pergi meninggalkanku untuk selamanya karena ditabrak oleh mobil mewah yang menurutku sepertinya memang sengaja menabrak Mbah Putri. Aku masih selalu ingat dengan pesan Mbah Putri ketika beliau di ujung-ujung nafasnya: “Bunuhlah yang membunuh……” pesannya belum selesai tapi dia telah pergi jauh untuk selamanya meskipun pesan itu tak lengkap tapi aku mengerti apa maksud dari pesan itu.

Baca juga:  lnfus

Sekarang aku berniat menjalankan pesan Mbah Putri…, mobil mewah itu memang sudah berubah warna dan nomor platnya tapi tidak dengan model dan tulisan yang tertera di sudut jendela belakangnya. Aku bekerja sebagai PeRek itu hanya salah satu dari caraku untuk memenuhi pesan atau amanah Mbah Putri meskipun banyak yang menghina dan mencela karena profesiku aku tak peduli walau sekali dua kali aku berniat untuk bunuh diri tapi rasanya tak lengkap mati kalau pesan itu belum ku laksanakan.

Saat mengingat tabrakan itu yang berlangsung dengan jelas di depan mata kepalaku rasanya semakin tak sabar menyelesaikan pesan itu. Setiap kali melaksanakan profesiku sebagai wanita panggilan aku teringat pada Mbah Putri kalau ternyata seperti ini lah yang dirasakannya setiap malam untuk menghidupiku. Meskipun aku adalah PeRek tapi bukan berarti aku selalu lupa untuk melaksanakan ibadah. PeRek ya PeRek Iman ya Iman.

Aku pun melangkahkan kakiku keluar rumah untuk menerima panggilan, namun seperti biasa aku selalu diludahi dan dicacimaki.

“Hey…. pekcun… neraka udah menunggu loe , dasar rumput liar… tumbuh di mana-mana,” cela tetanggaku yang umurnya telah mendekati maut, akupun menghampirinya dan sorot wajahnya tampak terkejut karena tak biasanya aku meladeninya menghinaku.

“Bukannya rumput liar itu tumbuh dimanapun dia mau dan sulit untuk dicabuti? Seharusnya Anda bisa lebih menghargai kekuatan rumput liar dari pada bunga yang tumbuhnya di taman bunga,” ujarku dan langsung pergi meninggalkan wanita tua beruban itu.

Lagi-lagi aku menangis karena mengingat apa kata Mbah Putri. Ketika aku tidur aku bermimpi, di dalam mimpiku aku melihat Mbah Putri bertengkar hebat dengan seorang wanita sebayanya sebelum kecelakaan yang menimpa Mbah Putri terjadi, tapi mimpi itu menjadi petunjuk bagiku. Tuhan… untuk kesekian kalinya aku berterimakasih padamu.Wajah wanita itu sepertinya tak asing lagi bagiku… dan sepertinya dia ada sangkut pautnya dengan kematian Mbah Putri.

Untuk memastikan mimpiku tadi malam aku sengaja datang lebih awal ke operator PeRek yang biasa ku datangi, menurutku wajar kalau aku tak menemukan wanita atau mobil itu karena memang aku datang terlalu awal dari biasanya. Aku duduk di sofa depan jendela. Begitu semangatnya aku ketika melihat mobil itu berparkir tak jauh dari pandanganku, akupun tersenyum sinis. Lihatlah apa yang akan terjadi… Ketika pintu mobil itu terbuka yang kulihat bukanlah wanita yang ada di mimpiku melainkan Pria berubanlah yang keluar. Aku merasa heran dan penasaran, sesaat pria tua itu pergi akupun menghampiri mobilnya dan memastikan tulisan yang tertera di jendela belakang mobilnya… Jendela belakang mobil itu tertera tulisan ‘butterfly in the night’ tak salah lagi inilah mobilnya. Ketika aku ingin mengambil spidol dalam tasku untuk
mencoret-coret mobil ini, tiba-tiba…..

Baca juga:  Memungut Rintik Hujan

“Hey…” Pak tua itu menegurku dan mencurigakanku. “Sedang apa kamu?” tanyanya mulai mendekatiku.

“Siapa pemilik mobil ini?’’ tanyaku.

“Kenapa kau tanyakan hal itu?” tanyanya kembali .

“Siapa?” bentakku.

“Ya… sayalah, memangnya siapa lagi?” jawab pak tua itu.

“Kalau begitu siapa mendung itu?” tanyaku dan dia terlihat salah tingkah.

“Darimana kau mengetahui nama itu?”

Tanpa menjawab pertanyaannya akupun langsung menancapkan pisau ke bahunya dan dia mengaduh kesakitan tak tahan.

“Kenapa kau melakukan hal ini?” tanyanya dan aku tersenyum sinis.

“Karena kau telah membunuh Mendung… Nenekku,” akupun langsung melangkahkan kakiku dan meninggalkannya.

“Bukan… bukan… aku yang… Mem…bunuh men…du..ung..,” ucapnya terpatah-patah akupun menoleh ke arahnya dan memasang wajah bertanya.

“Istrikulah yang melakukannya,” kata pria tua itu menahan sakit.

Di benakku sempat ada rasa bersalah dan kaget namun aku berusaha menutupinya. Dengan aku membunuh pria tua itu berarti aku membunuh suami yang sangat disayanginya seperti dia membunuh Mbah Putriku yang sangat kusayangi pula dan anggaplah itu balasan dariku dan biarkan wanita itu merasakan apa yang kurasakan, lalu dalam waktu tak lama ini kau akan merasakan apa yang dirasakan oleh Mbah Putri.

Akupun melanjutkan langkah kakiku tanpa memperdulikan pria tua malang itu. Beduk do’a telah berkumandang dan akupun segera melaksanakan shalat maghribku. Siapakah istri dari pria tua itu? Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya, Bodoh.. kenapa aku tak tanyakan hal itu pada pria tua tadi? Kalau sekarang mungkin dia sudah mati.

***
Matahari telah bersinar, kembali aku melangkahkan kakiku menuju ke operator PeRek yang biasa kudatangi. Tidak seperti biasa, tetanggaku yang biasa menghinaku kini tak kunjung menghinaku bahkan batang hidungnyapun tak tampak… Aku melihat bendera merah terpasang di tiang listrik dan ibu-ibu berbusana serba hitam pun lewat dan aku bertanya kepada mereka bahwa siapa yang meninggal? Dan ternyata wanita tua yang biasa mencacikulah yang telah meninggal, innailahi wa’inna ilahi raji’un. Tak pernah terbesit sedikitpun di dalam hatiku bahwa aku ingin wanita tua itu cepat mati tapi yang namanya hidup dan mati hanya Tuhan yang tahu.

Baca juga:  Mentari di 0 KM

Akupun sampai di rumah operator PeRek dan melihat bahwa parkiran tersebut disegel garis polisi, dipenuhi oleh orang banyak dan terdengar suara jerit isak tangis seseorang. Aku tak sabar melihatnya. Ketika aku mulai mendekati suara tangisan itu ternyata tak salah lagi, dialah wanita yang ada di dalam mimpiku. Ingin menghampirinya tapi dikiri-kanannya terdapat dua polisi yang menenangkannya. Lihatlah betapa sedihnya wanita tua itu, menderita dan merasa bahwa dadanya telah retak akibat tragedi yang menimpanya.

Kurasa hampir 7 jam dia menangis dan menjerit sembari menyebut-nyebut kata ‘suamiku’. Bahkan hal itu pun masih tidak sebanding dengan apa yang kurasakan, wanita tua itu memiliki dua anak lelaki, mertua, ipar dan lain sebagainya. Sedangkan diriku? Aku 16 tahun sebatangkara tanpa siapapun akibat wanita sialan itu.

Hampir sampai pukul 08.00 malam aku menunggunya. Akhirnya wanita tua itupun menjalankan mobilnya dan kurasa ia menuju rumahnya, akupun mengikutinya dengan menaiki Taxi. Apapun cara akan kuhalalkan untuk memenuhi pesan dari Mbah Putri. Mobil itu berhenti di sebuah rumah yang mewah. Kurang ajar, ternyata selama ini hidupnya dipenuhi dan dikelilingi harta yang berlimpah sedangkan diriku? Aku sudah cukup menderita setelah wanita tua itu menghilangkan nyawa Mbah Putriku.

Setelah ia masuk kedalam rumah aku menunggunya sampai beberapa jam lamanya hingga rumah itu gelap dan akupun mulai mengendap-endap masuk, seperti yang kuduga, rumah ini dikunci rapat. Tentu aku tak kehabisan akal, akupun menyongkel lubang kunci dengan kawat. “Percuma rumah mewah kalau pintupun mudah dibuka dengan kawat kecil ini,” ucapku dalam hati.

Dengan perlahan aku masuk dan mencari kamarnya. Kubuka pintu yang lebih besar dari pintu yang lainnya kurasa kamar Tuan dan Nyonyalah yang paling mewah, kubuka dengan perlahan dan penuh hati-hati. Aku ternganga tak menyangka dan kembali menutup pintunya.

Ternyata kematian suaminya membuat dia lebih dari gila. Akupun tak perlu menghabisinya. Karena cairan merah segar telah bercecer kemana-mana.

Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Lilis Mulyani
[2] Pernah dimuat di “Waspada”