Menari Di Dayung Senja

Karya . Dikliping tanggal 12 Juli 2012 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal
DEBURAN ombak yang saling berkejaran dihempas angin seolah sepasang sejoli yang sedang memadu cinta di malam pertamanya. Mereka berpadu dengan mesra. Saling berjabat, saling menyentuh, bersenda gurau, tertawa riang, bahkan seolah berbaring bersama dan masuk dalam mimpi indah bersama-sama pula.
Di bibir pantai senja itu, terdampar sebuah perahu nelayan. Perahu yang ikut menari kala tubuhnya terhempas ombak. Di ujung badan perahu kayu itu berdiri seorang anak perempuan berusia 7 tahun yang ikut pula menari bersama perahu yang ditumpanginya. Seorang anak berambut ikal sebahu, dengan kaus berwarna biru langit, memakai rok kuning selutut dengan motif bunga di sekelilingnya sesekali ikut menari, terhempas angin. Tubuhnya menghadap laut yang luas, matanya menerawang, seperti sedang mencari dan membayangkan tentang keberadaan ujung laut di hadapannya kini.
“Ree…,” sahut bocah lelaki dari bibir pantai.
“Reee…,” merasa tak ada respons, bocah laki-laki itu kembali menyahutnya.
“Reee…,” sahutan itu terlempar kembali pada anak perempuan yang sejak tadi hanya berdiri kaku di ujung perahu, tanpa gerakan sedikit pun dari tubuhnya.
Bocah laki-laki itu pun memilih naik ke atas perahu dan menghampiri anak perempuan itu. “Reee..,” sapanya, kali ini tangan bocah lelaki itu menyentuh pundak Kayre.
Seolah sebuah patung, Kayre tidak merespon sedikit pun. Kemudian bocah laki-laki itu memeluk tubuh Kayre. Tubuh bocah lelaki itu lebih tinggi dari Kayre. Benar saja, tubuh Kayre seperti beku. Masih tanpa respons sedikit pun.
“Ree, semalaman kamu di sini?” bisik bocah laki-laki itu tepat di samping telinga Kayre. “Aku khawatir padamu,” lanjutnya. Kemudian, mengecup pelan rambut Kayre. “Aku benar-benar khawatir.”
Kayre dan bocah lelaki itu berayun di atas perahu nelayan yang masih menari di tepian pantai. Mereka sama-sama menatap jauh ke ujung laut biru, ditemani terpaan angin dan riakan ombak.
“Kakak…” suara lirih teralun dari mulut Kayre.
Pelukan bocah lelaki itu seketika terlepas, dan wajahnya menatap ke arah Kayre. Memastikan yang bersuara benar-benar Kayre.
“Kakaak,” ulangnya kembali.
“Iya Ree, ini Kakak,” jawabnya sigap. Tangannya menyentuh pipi Kayre.
“Kakaaak…,” sahutnya lagi, kali ini air matanya meleleh.
“Kenapa menangis?”
“Apakah ibu ada di ujung laut itu, Kak?” keluhnya.
“Ibu?” tanya bocah lelaki itu. ”Ibu siapa?” tanyanya lagi dengan suara pelan, seperti tak ingin ada orang lain mendengarnya.
“Ibu,” jawab Kayre singkat.
“Ayah tak mencarimu?” tanya bocah lelaki itu.
“Ayah?” Kayre terdengar bingung. Matanya masih menatap ujung laut yang tak bertepi dengan air mata yang masih sesekali menetes.
Bocah lelaki itu pun kembali memeluk tubuh Kayre, kali ini pelukan itu begitu erat. Tubuh Kayre tenggelam dalam pelukan bocah lelaki itu. Kayre masih teguh dengan pandangannya, begitu pun bocah lelaki itu.
***
Suasana malam di laut memang sangat indah. Itu tergambar dari rona wajah Kayre. Saat ini anak perempuan pemilik rambut ikal gantung dan mata sayu itu berbaring di tepi laut. Kakinya menjulur ke arah air laut, dan sesekali tersapu ombak. Namun senyum yang terpancar dari bibirnya, menandakan kali ini dia sedang berbahagia. Wajahnya menghadap ke langit bertabur bintang yang saling berkerlip.
“Ibu..” sesekali mulutnya menyuarakan kata hatinya.
“Apa ibu ada di sana? Menjadi salah satu bintang di langit sana?” dia bertanya lagi.
Kemudian ujung bibirnya tersenyum tipis. Matanya mengernyit, memandang bintang seolah ingin terlihat lebih dekat. Sesekali jari telunjuk dan ibu jarinya disatukan hingga membentuk lingkaran, lalu dijadikannya teropong untuk menerawang bintang-bintang yang bertebaran di langit luas.
“Aku senang kalau ibu jadi salah satu bintang di sana,” katanya, kemudian tersenyum lagi. “Nah…, bintang yang itu kan, Bu?” tanyanya.
“Re..,” sapa bocah lelaki yang tiba-tiba terbaring di sampingnya.
“Kakak?” jawabnya kaget.
“Lihat deh Kak, bintang itu. Itu ibu, Kak,” ucapnya penuh kerinduan terhadap ibunya. Jari telunjuknya yang mungil masih menunjuk satu bintang di langit.
“Re,” ucap bocah lelaki itu terhenti. “Ibu siapa?” tanyanya lagi dengan suara yang benar-benar pelan.
“Ibu, Kak…,” jawab Kayre yakin, matanya menoleh sekejap ke arah bocah lelaki di sampingnya.
Bocah lelaki itu hanya menatap Kayre dengan mimik bingung. Kemudian matanya beralih ikut memandang bintang di langit.
***
MENARI DI DAYUNG SENJA
Baca juga:  Fatma dan Lidahnya

Suasana riuh, gaduh dan ramai menepi di bibir pantai. Banyak orang berkumpul di bibir pantai. Suasana yang terjadi musiman, karena hari ini adalah awal musim melaut. Suara orang bercampur baur dengan deburan ombak yang terdengar bergemuruh. Orang-orang saling berteriak, mengobrol dan tertawa. Suara senda gurau anak-anak kecil yang saling berlarian di pinggir pantai sedang bermain ombak dan pasir ikut meramaikan suasana pagi itu.

“Kay di mana?” seorang lelaki paruh baya bertanya pada seorang pemuda yang sedang melepaskan ikatan perahunya dari samping bibir pantai.
“Tidak tahu,” jawab pemuda itu singkat.
“Kaaaay… Kaay..!” lelaki itu berteriak di tengah kerumunan orang di pinggir pantai.
“Lihat Kay?” tanyanya pada seorang wanita. Juga pada pada seorang anak yang sedang bermain bola pantai.
“Tidaaak,” jawab anak laki-laki itu, kemudian berlari mengejar bola yang sudah dilempar kawan bermainnya.
Laki-laki itu berdiri putus asa. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Napasnya masih terengah-engah, dan kedua tangannya memegangi pingggangnya.
“Ke mana anak itu?” ucapnya kesal. “Dia tahu ayahnya akan melaut, kenapa tidak datang?” lanjutnya dengan kesal dan tersendat-sendat.
“Ayaaaaahh..” tiba-tiba Kayre berteriak di balik badan ayahnya.
“Kay, ayah mencarimu, kamu dari mana saja?” seru ayahnya, sambil memegang bahu Kayre dengan sentuhan yang agak kencang.
“Ayo cepat, ayah belum menyiapkan perahu kita, Kay,” ucapan ayahnya kali ini menghalus.
“Maaf Ayah,” jawab Kayre dengan wajah tertunduk.
“Lain kali bilang dulu kalau kamu mau pergi. Supaya ayah tidak susah mencarimu,” ucap ayahnya, menghiraukan Kayre yang tertunduk menangis.
“Maaf…,” ucapnya pelan dan lirih.
“Ayo cepat!” tangan ayahnya menarik tangan Kayre yang mungil.
Kayre mengikuti ayahnya, dengan muka yang masih tertunduk.
“Ree!” sahut bocah laki-laki yang berdiri tepat di samping perahu yang
terdampar rusak.
Kayre menoleh ke arahnya. Wajahnya lagi-lagi tanpa ekspresi. Mungkin kali ini karena sedih dibentak ayahnya.
“Cepat, Kay!” ayahnya kembali bersuara.
Kayre memalingkan wajahnya dari bocah laki-laki itu dan kembali mengikuti ayahnya berjalan di belakanganya.
Suasana riuh dan gaduh tak mampu memengaruhi suasana hati Kayre, muram. Kali ini dia akan ikut berpetualang menangkap ikan bersama ayahnya. Ini adalah kali pertama dia berlayar di tengah terpaan angin kencang di atas perahu nelayan yang mengapung di laut lepas. Seharusnya Kayre merasa senang, karena dia akan berlayar. Namun sepertinya tidak, matanya sayu dan mukanya cemberut.
“Kay, ambil dayungnya!” perintah ayahnya yang lebih dulu naik ke dalam perahu layarnya.
Kayre meraih dayung yang bersender di samping badan perahu, kemudian tangannya meraih pinggir perahu dan naiklah dia dengan lincahnya sambil melompat.
***
Berlayar di tengah laut rasanya seperti bermimpi terbang di udara. Tubuh mungil Kayre yang terduduk manis terombang ambing di atas perahu kayu. Sedangkan ayahnya sibuk menebar jala seraya sesekali bersenandung beberapa lagu.
“Kenapa dayung ini tak pernah dipakai, Ayah?” tanya Kayre yang kebingungan dengan dayung yang tergeletak di sampingnya.

Ayahnya dengan tak acuh tak menjawab pertanyaan Kayre. Dengan rona sedih, perempuan itu menatap dayung bercat biru dan putih bergaris-garis. Tangan mungilnya kemudian menyentuh garis-garis abstrak warna-warna cat di dayung itu, seraya sesekali meneteskan air mata.
“Kay, ayah lusa akan pergi melaut bersama kawan-kawan, mungkin selama seminggu ayah tidak pulang,” ujarnya dengan ekspresi yang datar.
“Ayah..?” nada suara Kayre bertanya, kemudian tetes air matanya berjatuhan.
Tangannya kali ini bukan hanya menyentuh garis-garis cat di dayung, tetapi dayung itu benar-benar digengggamnya. Meskipun tak akan pernah mampu tangan mungilnya menggenggam dayung sepenuhnya.
Tak sedikit pun ayahnya menyentuh pundak Kayre. Jangankan menyentuh badannya, mendekati anaknya saja seolah enggan. Tubuh Kayre gemetar seperti menggigil kesakitan menahan luka dalam hatinya. Dia hanya bias melamun, sementara dari matanya tak henti meneteskan air mata.
***
Senja sore ini berwarna merah bersolek dengan warna kuning tua dan matahari yang hendak pulang ke tempat peristirahatannya. Wajah Kayre masih sama seperti 10 tahun yang lalu, saat dia berdiri di ujung perahu kayu yang menepi seraya menatap tepi laut, di bibir pantai. Kali ini yang berdiri adalah sesosok gadis remaja, dengan rambut ikal gantungnya sampai di pinggang. Dia mengenakan kaos yang masih tetap berwarna biru langit dan dilengkapi rok hitam semata kaki.
Tangannya menggenggam dayung berwarna biru bergaris-garis putih, kali ini dayung itu dapat digenggam sepenuhnya. Sore ini, dia benar-benar menanti bocah lelaki yang sering menghampirinya dulu, dan memanggilnya “Ree”. Kayre benar-benar ingin mengetahui siapa bocah lelaki itu. Hanya bocah itu yang memiliki panggilan berbeda, semua orang memanggil dirinya “Kay”, bukan “Ree”.
Ujung laut yang tak pernah bertepi, mengingatkannya pada sosok ayah yang tak pernah ditatapnya lagi semenjak 10 tahun lalu. Kini Kay benar-benar merindukan ayahnya, bahkan sepertinya rindu bentakannya. Saat ini, ujung laut itu memberikan dua gambaran, yang satu muncul dan satu tenggelam.
Kini bukan lagi ibunya yang dia nantikan muncul di ujung laut itu. Kay tahu bahwa sosok ibunya adalah sebuah bintang yang bernaung di langit, yang setiap malam sejak dulu selalu dipandang dan ditunjuknya.
Suasana hati Kayre remaja itu terlihat tak menentu. Beberapa orang kini sedang dinantinya.
“Ree,” sesekali Kayre menirukan suara bocah lelaki itu. Namun tak pernah ada jawaban.
“Reee,” ulangnya kembali memanggil dirinya sendiri. Dan tetap tak pernah ada jawaban.
Ombak menghempas perahu Kayre dengan begitu kencang, dan mengajaknya menari. Angin pun datang menghampiri rambut dan baju Kayre dengan maksud yang sama, mengajaknya menari. Kayre tersenyum pada ujung laut yang seolah menopang senja cantik sore itu. Seketika dayung di genggamannya mulai bergerak berputar di bawah jari jemari Kayre, seolah ikut pula menari bersama senja sore itu.
Mata Kayre berbinar, merekam setiap piksel warna senja sore itu. “Aku masih menanti di sini,” lirihnya pada sinar matahari yang perlahan hilang dengan senyum lebar. (*)
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Ana Marliana
[2] Pernah dimuat di “Inilah Koran”