Seorang Lelaki dan Sebuah Cermin

Karya . Dikliping tanggal 18 November 2013 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
IA tak habis pikir bagaimana bisa cermin itu terpasang utuh di dinding kamarnya, padahal ia baru saja memecahkannya beberapa jam sebelumnya. Ia ingat, pecahan-pecahan cermin itu berserakan di lantai kamarnya, membuatnya menyesali apa yang dilakukannya itu; ia harus mengumpulkan dan membuang pecahan-pecahan cermin itu, sehingga ia sedikit terlambat menjemput pacarnya dan karenanya perempuan itu memarahinya. Telunjuk tangan kanannya pun terluka akibat ia terburu-buru dan ceroboh ketika mengumpulkan pecahan-pecahan cermin itu dan ia lihat plester cokelat muda itu masih melekat di telunjuk tangan kanannya. Pastilah tadi siang ketika aku memecahkan cermin ini aku tidak sedang bermimpi, pikirnya.
Mengapa ia memecahkan cermin itu? Untuk bisa menjawabnya aku harus membawamu ke dua minggu sebelumnya. Saat itu ia merasa aneh menemukan sesuatu terbungkus kertas cokelat tersandar di pintu kamarnya. Tak ada siapa-siapa. Ia mencari keterangan yang tertulis di benda itu dan hanya menemukan bahwa benda itu ditujukan padanya. Namanya tertulis jelas di sana dan ia yakin di tempat itu atau di mana pun tak ada yang memiliki nama seperti itu selain dirinya. Maka, meski heran dan bingung dan cemas, ia membawa benda yang terbungkus kertas cokelat itu ke kamarnya, dan ia semakin bingung menemukan bahwa benda yang terbungkus di dalamnya ternyata adalah sebuah cermin besar; cukup besar sehingga ia bisa melihat dirinya secara utuh jika berdiri di hadapannya. Ia merasa ada seekor tikus yang berdecit-decit di dalam kepalanya.
Disandarkannya cermin besar itu di salah satu dinding kamarnya dan ia mulai menebak-nebak siapa orang iseng yang telah meletakkan benda itu di depan kamarnya. Siapa pun ia, tentunya ia tahu bahwa aku suka sekali bercermin dan bahwa cerminku baru saja pecah—karena terjatuh—dan kubuang tadi pagi, pikirnya. Tapi ia gagal menemukan satu nama atau sebuah wajah atau suatu sosok. Memang ada beberapa orang yang tahu betul bahwa ia suka sekali bercermin dan karenanya ia selalu membeli cermin baru tak lama setelah cermin lamanya pecah.
Tapi, ia merasa tak pernah memberi tahu siapa pun tentang pecahnya cermin-cerminnya itu. Tidak kali itu. Tidak kali-kali sebelumnya. Siapa pun si pengirim, pastilah ia memiliki cara untuk mengetahui apa-apa yang terjadi di kamar ini meski tak kukatakan, pikirnya. Ia pun menengadah dan mencari-cari sesuatu serupa kamera tersembunyi yang mungkin telah dipasang di kamar itu tanpa pernah ia tahu. Ia mencarinya, di sudut-sudut kamar, di tempat-tempat yang mencurigakan. Namun pencariannya sia-sia. Ia merasa lelah dan memutuskan untuk memikirkan lagi cermin besar itu nanti. Dijatuhkannya kasur busa yang semula tersandar di dinding dan ia rebahkan tubuhnya di sana.
Beberapa menit kemudian ketika ia berada di kamar mandi ia kembali berusaha menebak-nebak siapa orang yang telah iseng mengiriminya cermin besar itu dan kembali ia menghela napas. Sungguh aneh, pikirnya. Kecuali aku menceritakannya secara tak sadar, maka tak ada siapa pun yang bisa tahu bahwa aku saat ini membutuhkan cermin baru, sambungnya. Sekeluarnya dari kamar mandi ia menelepon pacarnya dan menanyakan apakah perempuan itu tahu-menahu soal cerminnya yang rusak itu dan cermin besar yang baru saja menjadi miliknya itu. Seperti yang ia duga, pacarnya tidak tahu apa-apa. Upayanya justru menjadi bumerang baginya sebab si pacar mengatakan sesuatu yang membuatnya kembali merasakan seekor tikus berdecit-decit di dalam kepalanya, “Jangan-jangan kau punya perempuan lain dan dialah yang mengirimimu cermin itu.”
Ia harus menghela napas dulu beberapa kali sebelum akhirnya berusaha meyakinkan perempuan itu bahwa ia orang yang setia dan ia meminta maaf telah mengganggu perempuan itu dengan pertanyaan bodoh soal cermin besar itu. Setelah percakapan berakhir, sebelum ia berbaring dan terlelap, ia menyandarkan cermin besar itu di tempat yang menurutnya tepat, lantas beberapa lama mematut-matut diri di depannya. Lumayan juga. Dengan cermin sebesar ini aku bisa melihat seluruh tubuhku yang sempurna ini, diriku yang mengagumkan ini, pikirnya. Ia semakin yakin bahwa seseorang yang telah iseng mengiriminya cermin itu pastilah tahu betul soal kebiasaannya bercermin dan mengagumi diri sendiri. Siapa pun kau, untuk sementara ini aku berterima kasih kepadamu, pikirnya. Cermin ini sungguh besar dan aku menyukainya, sambungnya.
Namun besok harinya ketika ia terbangun dan mematut-matut diri di depan cermin, ia menemukan sosok dirinya di cermin itu bukanlah yang biasanya ia temukan. Tak ada kesempurnaan yang memancar. Baik wajah maupun tubuh maupun tangan maupun kaki tak sanggup membuatnya ingin berlama-lama melihatnya. Aneh, gumamnya. Ia menggesek-gesek matanya dan menatap lagi dirinya di cermin itu setelah mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali. Sama saja. Antara cermin itu telah salah memantulkan dirinya atau ia masih terlampau linglung pagi itu. Begitulah yang ia simpulkan. Setengah jam kemudian ketika ia berdiri di depan cermin itu sambil berpakaian, dengan tubuh yang bersih-wangi dan rambut yang menurutnya tertata rapi, masih saja, sosok di cermin itu tak mencerminkan ia yang biasanya.
Malamnya ketika ia berdiri lagi di depan cermin itu, ia lihat, sosok dirinya begitu lusuh. Tak pernah selama ini ia melihat dirinya selusuh itu.
Seorang Lelaki dan Sebuah Cermin
CERMIN itu menampakkan dirinya dalam wujud yang lebih buruk. Ia pikir, jika ia sedang dalam kondisi segar, kesegaran itu hilang. Jika ia sedang kuyu, kekuyuan itu bertambah. Seperti ada proses pengurangan kualitas atas sosoknya sebelum akhirnya permukaan cermin itu memantulkannya. Itulah yang ia yakini setelah melakukan upacara bercermin di pagi hari dan malam hari dan menemukan di cermin itu sosoknya tak semengagumkan yang ia ingat.
Ia telah menceritakan keanehan cermin itu kepada dua orang teman terdekatnya—yang satu rekan kantor dan yang satu mantan pacar—dan tanggapan kedua orang itu menurutnya sama saja: tak menanggapinya dengan serius dan malah mengolok-oloknya. Menurut rekan kerjanya, ia mungkin terlalu sibuk bekerja beberapa bulan terakhir ini dan karenanya lelah dan akibatnya sering mengalami salah lihat. “Tapi tak mungkin salah lihat kualami sampai tujuh hari berturut-turut,” bantahnya. Mantan pacarnya menduga ia terlalu sering menonton video porno sehingga penglihatannya mulai memburuk. “Tapi ketika aku bercermin di cermin lain aku temukan sosokku yang mengagumkan seperti biasanya,” sergahnya.
Hal itu memang benar. Selama tujuh hari itu ia telah bercermin di beberapa cermin yang ia temui. Di kaca spion, di toilet kantor, di bioskop. Bahkan ketika sedang berjalan santai menyusuri trotoar dengan pacarnya, ia menyempatkan diri untuk berhenti saat menemukan sosoknya di sebuah jendela toko atau rumah makan. Dan sosoknya itu, di cermin-cermin dan jendela-jendela itu, adalah sosok yang ia kenali. Wajah itu, tubuh itu, tangan itu, kaki itu. Semuanya membuat ia tertahan untuk berlama-lama melihatnya. Ketika diceritakannya hal itu kepada pacarnya, perempuan itu memberinya sebuah pemahaman yang membuatnya tersentak, “Mungkin dirimu yang sebenarnya adalah yang kau lihat di cermin barumu itu. Di cermin-cerminmu sebelumnya, kau hanya melihat apa yang kau bayangkan tentang dirimu.” Ia terdiam berbelas-belas menit lamanya mendengar pernyataan itu terlontar dari pacarnya.
“Jadi, maksudmu, selama ini yang kulihat ketika aku bercermin adalah apa yang kubayangkan di kepalaku tentang diriku sendiri?” tanyanya.
“Bisa jadi,” jawab pacarnya.
“Dan itu berarti aku yang sebenarnya tidaklah mengagumkan seperti yang kulihat itu. Begitu maksudmu?”
“Mungkin saja, kan?”
Ia tidak senang mendengar pernyataan itu terlontar dari pacarnya dan lebih tak senang lagi karena jawaban-jawaban pendek perempuan itu seperti sebuah penyangkalan atas keyakinannya tentang dirinya selama ini. Lalu, sebuah ide melintas di benaknya. Ia mengatakan kepada pacarnya bahwa malam itu ia ingin membawa perempuan itu ke kamarnya. Pacarnya tersenyum, mungkin mengira kalimat itu adalah ajakan halus untuk bercinta. Mereka memang bercinta malam itu. Tapi sebelum ritual dua mingguan itu dilakukan, perempuan itu sempat dimintanya berdiri di depan cermin. Ia merangkul perempuan itu dari belakang, mengecupnya di leher, lantas bertanya, “Bagaimana? Apa yang kau lihat di cermin itu? Bagaimana rupaku, juga rupamu?”
Jawaban pacarnya itu sama sekali tak membuatnya puas karena perempuan itu hanya tersenyum lantas menciumnya dan berkata, “Sama seperti biasanya. Tak ada yang berbeda.” Besoknya dan besoknya dan besoknya ia menghubungi pacarnya itu dan mengajukan pertanyaan yang sama seolah-olah mengharapkan jawaban lain akan didengarnya. Tapi tidak. Jawaban yang diberikan pacarnya itu tetap sama. Lima kali ia mengajukan pertanyaan itu, lima kali pula ia mendengar jawaban itu. Pada kali keenam ia akan mengajukan pertanyaan itu lagi, nomor pacarnya sedang tak aktif.
PACARNYA mengatakan padanya bahwa ia baru akan menerima ajakannya untuk bertemu jika ia sudah bisa mengatasi masalah cermin itu. Maka begitulah, pada suatu siang ia memecahkan cermin itu. Pecahan-pecahan cermin itu berserakan dan telunjuk tangan kanannya terluka akibat ia ceroboh saat berusaha mengumpulkan pecahan-pecahan cermin itu dan malam harinya, ia temukan cermin itu terpasang utuh di dinding kamarnya. Ia sempat berpikir untuk memecahkan lagi cermin itu saat itu juga, namun tak jadi dan hanya mencuci muka dan menggosok gigi, lantas berbaring dan terlelap.
Besoknya saat terbangun dan berdiri di depan cermin itu, ia merasa marah, dan akhirnya melempar setrikaan dan cermin itu pun pecah. Namun, malam harinya, saat ia memasuki kamar, ia temukan lagi cermin itu terpasang utuh, di tempat yang sama, dengan posisi yang sama. Dan ia memecahkannya lagi besok paginya. Dan malam harinya ia temukan cermin itu seperti tak tersentuh sama sekali.
Selama lima hari berturut-turut hal itu terus terjadi dan ia mulai merasa seekor tikus benar-benar ada di dalam kepalanya dan semakin hari decitannya semakin mengganggunya. Pada hari keenam, ia putuskan untuk menghubungi pacarnya dan mengakui bahwa ia sesungguhnya belum berhasil mengatasi masalah cermin itu, dan ia meminta perempuan itu mengerti dan mungkin membantunya.
“Memangnya bantuan apa yang bisa kuberikan?” tanya pacarnya.
“Entahlah. Tapi kupikir kau bisa melakukan sesuatu,” jawabnya.
“Sesuatu apa?”
“Entahlah.”
Percakapan berakhir di situ dan setelahnya ia tak bisa lagi menghubungi si pacar. Seorang diri ia memikirkan apa yang sebenarnya tengah dialaminya, bagaimana hal ini bisa terjadi dan bagaimana cara mengakhirinya—jika cara itu ada.
“Selama ini, apakah kau pernah memecahkan cermin yang kau miliki?” tanya rekan kerjanya.
“Tak pernah,” jawabnya.
“Tapi, cerminmu yang satu ini sampai berkali-kali kau pecahkan?”
“Ya, berkali-kali.”
Ia tahu apa yang ingin disampaikan rekan kerjanya itu, tapi ia diam saja.
“Menurutku, sudah saatnya kau mengalah,” cetus mantan pacarnya. “Bisa jadi apa yang seharusnya kau lakukan adalah membiasakan diri dengan sesuatu yang bagimu baru ini,” lanjutnya.
“Membiasakan diri?”
“Ya, membiasakan diri.”
“Akankah itu membantuku?”
“Cobalah.”
Di kepalanya seekor tikus itu kembali berdecit-decit. Decitannya begitu mengganggu sampai-sampai ia hanya bisa berbaring dan baru bisa terlelap ketika hari sudah berganti.
Dua bulan kemudian ia berdiri di depan cermin itu dan tersenyum kepada sesosok perempuan yang dilihatnya merangkul sosoknya di cermin itu dari belakang. Perempuan itu, kau tahu, bukanlah perempuan yang pernah berdiri di depan cermin itu sepuluh minggu sebelumnya.(*)
Bogor, Agustus 2013
Ardy Kresna Crenata tinggal di Dramaga, Bogor.
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Ardy Kresna Crenata
[2] Pernah dimuat di “Koran Tempo”