Surat yang Tak Kunjung Datang

Karya . Dikliping tanggal 20 Januari 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah HAI
MENTARI
pagi belum juga muncul, namun Damar telah beranjak dari ranjang hangatnya. Ia
baru saja berdoa semoga ia lulus sekolah. Hari ini adalah pengumuman kelulusan.
Ada dua kemungkinan, jika salah seorang guru mengantarkan surat ke rumahnya,
maka sudah dapat dipastikan ia tidak lulus, begitu sebaliknya, jika sampai
pukul 12.00 belum juga ada guru yang menyambangi rumahnya maka ia lulus.
Sudah sejak pukul 01.00
pagi Damar terbangun. Ia cemas. Maka ia mengambil wudhu untuk tahajud. Ia
sangat khawatir oleh dua kemungkinan yang mengganjal pikirannya, lulus atau
tidak lulus. Damar tahu betul dua kemungkinan itu bisa saja terjadi. Ia tahu
bahwa nasibnya terletak pada lembar jawab yang beberapa bulan lalu ia kerjakan.
Ia sangat cemas pada
kemungkinan yang bakal terjadi. Ia takut tidak lulus. Walaupun ia termasuk
orang yang selalu meraih juara di kelas, namun ia masih cemas jika tidak lulus.
Ia menggantungkan nasib pada lembar kerja. Ia takut bila ternyata alat tulis
yang ia gunakan palsu. Ia takut kalau pensil 2B yang ia bulatkan pada lembar
kerja itu tidak terbaca oleh komputer. Ia juga takut jika bulatannya kurang
penuh atau melebihi dari yang disediakan. Ia takut lembarannya kotor. Ia amat
cemas jika lembaran yang ia kerjakan terlipat saat guru-guru pengawas mengumpulkan
lembar jawab.
Kemungkinan-kemungkinan
yang bersifat teknis itu mungkin saja terjadi dan membuat nasib Damar menjadi
buruk lantaran ia tidak lulus sekolah. Makanya mulai bulan lalu, ia selalu
berdoa agar diluluskan sekolah. Saban hari ia shalat lima waktu dan berdoa
setelahnya. Saban hari pula ia bangun tengah malam untuk melaksanakan shalat
tahajud. Ia benar-benar ingin lulus dan melanjutkan ke kampus impiannya.
Jam masih menunjukkan
pukul 04.00 pagi, tak seperti biasanya Damar telah siap-siap untuk mandi. Baru
akhir-akhir ini Damar mandi sebelum Subuh. Ia menjadi begitu rajin berangkat
untuk salat Subuh berjamaah di masjid. Sesekali ia mengumandangkan adzan
lantaran ia datang pagi sekali. Tapi kali ini ia keduluan. Adzan berkumandang
sebelum Damar tiba.
Ilustrasi oleh Gio
Ia pulang dari masjid
dengan raut kecewa. Diletakkannya peci dan sajadah. Ditanggalkannya sarung dan
baju kokonya hingga ia hanya berkaus oblong dan bercelana pendek. Disapunya
lantai kamar. Lantai kamar Damar sangat kotor. Banyak sobekan-sobekan kertas dan
bungkus-bungkus makanan dan permen berserakan. Apalagi kalau puluhan kertas
yang tertempel di temboknya itu ia cabut, maka kamar menjadi seperti gudang
sampah.
Banyak sekali
kertas-kertas yang menempel di dinding kamarnya menandakan betapa sulitnya
Ujian Nasional Damar. Ia kurang pandai menghapal. Maka ia tulis rumus-rumus dan
poin-poin penting ke atas kertas-kertas lalu ia tempel di dinding. Ia tak
peduli. Ia ingin lembaran itu terbaca begitu ia berada di dalam kamar.
Tempelan-tempelan
kertas itu tak hanya memenuhi dinding kamar Damar, namun juga lemari dan pintu.
Tak hanya menempel di kamar Damar, namun juga di beberapa ruang  yang sering Damar lewati ketika di rumah,
seperti di pintu kamar tamu, ruang makan, kamar mandi, pintu kulkas, daun
jendela dan tempat sampah.
Tak hanya tempelan
kertas, namun juga dalam bentuk digital, seperti wallpaper ponsel, laptop, dan komputer. Ia memang sulit menghapal.
Ia tak ingin tidak lulus sekolah. Begitu lulus, ia akan membersihkan semua
kertas yang menempel di rumahnya. Ibu dan ayah Damar kesal lantaran
lembaran-lembaran itu mengotori rumah.
Setelah menyapu
kamarnya, ia lanjutkan menyapu ruang demi ruang rumahnya.
“Andai Ujian Nasional
diadakan setiap bulan, tentu kita tak butuh pembantu, iya, kan, Ma?” Ayah
Damar berkata menyindir Damar dengan lirikan ke arah Ibu Damar yang tengah
membantu Bi Siti, pembantunya memasak.
“Biarin, Pa.
Beruntunglah akhir-akhir ini tole rajin membersihkan rumah. Syukur-syukur bisa
setiap hari.”
“Jangan, Nya,
nanti saya bisa makan gaji buta,” seloroh Bi Siti sambil senyum-senyum ke
Damar.
“Kebersihan, kan,
bagian dari iman, jadi nggak ada salahnya, kan, jika aku menyapu rumah? Lagian
daripada main PS atau Facebook-an. Iya, kan?” Damar terus menyapu,
“yang penting, Pa, Ma, Bi, kalian mendoakan aku supaya lulus
sekolah.”
“Amin, amin,
…,” ayah Damar mengamininya, dilanjutkan minum kopi. Memang hari masih
pagi dan ayah Damar belum juga siap-siap ke kantor. “Mar, apapun hasilnya,
hadapi dengan kemenangan. Maaf, Papa dan Mama kamu tidak bisa menemanimu hari
ini.”
“Iya, deh, Pa. Kan,
ada Bi Siti.”
“Iya, Den, biar
aku temani nanti.”
Pukul 07.30 dan kedua
orangtua Damar telah meninggalkannya setelah mereka sarapan. Kini tinggal Damar
dan Bi Siti.
“Jadi, gimana,
Den?”
“Gini, Bi, kalau
ada guru yang datang, itu berarti pertanda buruk, Bi. Aku sudah pasti tidak
akan lulus. Sebaliknya, jika tidak ada guru yang datang hingga adzan Dhuhur,
maka pasti aku dinyatakan lulus. Dan aku pasti langsung ke sekolah karena pasti
sudah berkumpul anak-anak yang lulus untuk merayakannya, Bi.”
“Oke, Den, Bibi
siap bikin cemilan yang enak.”
“Makasih, Bi.
Pokoknya doakan Damar, ya, Bi.”
“Pasti, Den.”
Damar pun menuju ruang
tamu. Ia tak mau membersihkan debu-debu yang hinggap di permukaan sofa dan
meja. Ia tak berharap kedatangan tamu pagi ini. Maka dibukanya gorden jendela.
Sinar mentari pun masuk. Ia buka pintu. Ia keluar. Ditengoknya jalanan: masih
sepi. Ia tak mengharap kedatangan gurunya. Tapi ia sangat takut jika tiba-tiba
gurunya muncul di balik gerbang rumahnya yang tinggi menjulang. Ia sangat takut
kalau tidak lulus.
Berkali-kali ia
menengok jalanan, takut kalau tiba-tiba gurunya datang mencari rumahnya.
“Den!”
tiba-tiba Bi Siti memangilnya.
“Iya, Bi.”
“Ini cemilannya
sudah jadi. Mumpung masih panas, Den.”
“Oke, Bi.
Makasih,” Damar pun bergegas ke ruang tamu, “lho, ngapain dibersihin,
Bi?”
“Kotor, Den.”
“Nggak usah,
Bi.”
“Lho, kenapa,
Den.”
“Pokoknya nggak
usah, Bi. Sini kemocengnya!”
“Ini, Den.”
“Bibi boleh
ninggalin aku sekarang.”
“Baik, Den, kalau
ada apa-apa panggil Bibi, Den. Bibi mau nyuci pakaian dulu.”
Damar begitu kesal, ia
tak berharap akan ada tamu yang duduk di sofa itu hari ini. Ia tak mau
menyiapkan kursi untuk tamu yang akan membawa kabar buruk baginya.
Pukul 10.00 pagi dan
Damar masih dilanda rasa cemas. Dua jam lagi adalah waktu penentuan. Jika
ternyata tidak ada guru yang datang ke rumahnya, maka ia bisa tersenyum puas
akan kemenangannya. Ia akan bergegas menuju ke sekolahnya untuk pesta
kelulusan.
Sesekali ia menengok
kembali jalanan dekat rumahnya. Berharap tidak ada yang mencari rumahnya. Tapi
tiba-tiba tetangganya datang.
“Nak Damar.”
“Iya, Lek. Ada
apa?”
“Gini, Mar, tadi
kayaknya ada yang mencari kamu. Tapi aku nggak tau dia bener-bener nyari kamu
atau nggak.”
“Hah, siapa, Lek?
Yang bener?” seketika jantung Damar berdegup kencang dan nafasnya menjadi
begitu menggebu-gebu.
“Tapi, Lek, nggak
tau yang dimaksud Damar itu kamu apa Pak RT.”
“Gimana
perawakannya, Lek?”
“Seorang ibu-ibu.
Seumuran sama akulah, Nak.”
“Dandanannya
gimana?”
“Mmm…, ya biasa.
Pokoknya berkerudung. Dia memakai sepeda. Kamu nggak kenal, ya?”
“Dia membawa
surat, nggak, Lek?”
“Nggak tau, ya.
Yang pasti dia membawa tas.”
“Ya udah, Lek.
Makasih,” lantas Damar menuju kamarnya. Berseragam lalu bersepatu.
Menjinjing tas lalu menyalakan motor. Belum adzan namun Damar sudah melesat ke
sekolah. Gampang saja, jika ada guru datang membawa surat, pasti Bi Siti akan
meneleponku, pikir Damar.
Ia tiba di sekolah.
Sepi. Hanya kantor guru yang pintunya terbuka. Ia datangi dengan terburu-buru.
“Bu, saya lulus
atau tidak?” tanpa basa-basi Damar bertanya dan tanpa permisi terlebih
dahulu. Lantas guru-guru kaget.
“Lho, bukannya
disuruh menunggu di rumah?”
“Saya sudah tak
sabar, Bu.”
“Maaf, Mas,
silakan ikuti sesuai dengan perintahnya.”
“Baik, Bu. Terima
kasih. Permisi,” Damar dengan perasaan kesal lantas menuju parkiran. Ia
bingung mau pulang atau tetap di sekolah mengingat sebentar lagi adzan. Damar
memilih untuk tetap di sekolah.
Adzan pun berkumandang,
namun belum pukul 12.00.
Sekonyong-konyong
muncullah teman-teman Damar dengan suka cita. Mereka datang sambil
menggembor-gemborkan motor mereka. Sudah pasti yang datang ke sekolah pasti
lulus. Mereka menumpahkan kegembiraannya dengan mencorat-coret seragamnya. Ia pilox
lalu bersiap-siap untuk pawai kelulusan keliling kota.
Damar ikut tumpah ruah
dalam kegembiraan. Ternyata ia telah memenangkan ujian kelulusan. Mereka pun
pawai mengelilingi kota. Lalu belok ke pantai untuk melepaskan kepenatannya
telah dihadapkan pada rumus-rumus yang membuat muka mereka mengkerut.
Damar merogoh
celananya, ada yang bergetar. Ia mengeluarkan handphone-nya: ada 3 panggilan tak terjawab, dari Bi Siti.
“Berhenti, bro! Berhenti sebentar!” seketika
rombongan kendaraan bermotor pun berhenti. Damar menghubungi Bi Siti.
“Ada apa, Bi,
telpon aku tadi? Aku sedang pawai merayakan kelulusan, Bi. Tolong nanti
bilangin Papa dan Mama kalo aku lulus.”
“Maaf, Den, tadi
sebelum adzan, ada seorang ibu-ibu berkerudung bertamu. Dia meninggalkan
sepucuk surat untuk orang tuamu, Den.”
Bantul,
29 Maret 2013
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Muchtar
[2] Pernah tersiar di Majalah HAI