I Kolok

Karya . Dikliping tanggal 9 Juni 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Sudah subuh. Segala masih ditangkup kabut. Jika bukan karena bulan, mungkin sawah dan lembah di dinding bukit itu diterpa pekat. Dan karena cahaya bulan, dua sosok berdiri tegak di tengah sawah berair itu sedikit tersingkap, bergerak agak samar, sesekali membungkuk lalu tegak kembali. Ketika bulan bersinar terang karena tak terhalang awan, makin jelas sosok-sosok itu; seorang anak dan lelaki tua.
Mereka tak berbicara. Perhatian mereka hanya pada belut yang meliuk di sawah berair. Nampak lebih sigap dan kerap si lelaki tua mendapatkan tangkapan belut, menusuk hasil tangkapannya pada sebatang lidi janur dan memberikannya kepada anak itu. Mereka seperti tak hirau pada dingin, keremangan, dan kesunyian. Mereka cuma peduli pada belut-belut.
Pagi mulai terang dan mereka menyudahi perburuannya. Sebelum pulang, mereka singgah di pancuran di bawah bukit, telanjang membasahi sekujur tubuh tanpa sabun. Dingin yang bersisa di bawah bukit itu tak membuat mereka menggigil. Lelaki tua itu malah berendam berlama-lama di bawah genangan air pancuran.
Mereka harus sedikit mendaki untuk kembali. Saat tiba di atas dan melangkah di pematang di atas lembah, mereka melewati sebuah gubuk di bawah mereka. Si anak meraih segumpalan tanah sawah kering dan melemparkannya ke arah gubuk itu. kemudian mengulangnya kembali. Pada lemparan ke berikutnya seorang lelaki tua keluar dari gubuk itu dan mendongak sambil mendelik ke arah si anak.
Tetapi anak itu tak gentar. Ia kembali mengambil gumpalan tanah sawah dan kali ini tak lagi mengarahkannya pada gubuk, tetapi pada orang tua itu. Yang menjadi sasaran lempar menghindar dan memilih masuk gubuk. Si anak melempari kembali gubuk itu bertubi-tubi dan itu diketahui orang tua yang mengajaknya.
”Kuwal cai, Kolok![1]” damprat orang tua itu sambil melotot.
Si anak tak menjawab.
Dan orang tua itu melanjutkan langkahnya kembali sambil menggerutu.
Anak itu mengekor di belakang.
Mereka memasuki permukiman desa. Satu dua orang menyapa si lelaki tua saat berpapasan. Dan beberapa anak yang berangkat ke sekolah menyapa si anak. Kehidupan mulai berdenyut di desa itu. Saat melewati bale banjar[2], si anak mengisyaratkan minta dibelikan bubuh basa[3]. Karena lapar, dia minta tambah lagi satu tekor[4].
”Wah, I Kolok banyak dapat lindung!”[5] sapa seseorang.
”I Kolok memang pintar menangkap lindung,” ujar seseorang yang lain. ”Walau dia kolok[6] dan tak bersekolah, tapi cenik-cenik suba dueg megae[7].”
Namun, I Kolok tak menggubris sapaan-sapaan orang. Ia sibuk dengan bubuh basa-nya. Saat usai makan bubur, mulutnya mencuap-cuap kepedasan. Berkali-kali ia minum air, tetapi tindakan itu hanya sedikit menolong. Beberapa orang lelaki tua di bale banjar itu hanya meledek kelakuannya.
SEHARUSNYA I Kolok sudah bersekolah. Namun ia yatim piatu. Ia diasuh kakeknya yang buta huruf. Tapi kakeknya tak tahu urusan pendidikan. Tambah pula I Kolok adalah anak bisu. Sanak saudaranya pun enggan membantu mengurus sekolah I Kolok. Bagi kebanyakan orang-orang di desa itu, sekolah bukanlah suatu hal yang penting, dan karena itu I Kolok tak sendirian tak bersekolah. Banyak anak-anak seusianya juga tak bersekolah.
Meski masih anak-anak, I Kolok sangat cekatan. Orang-orang desa banyak memanfaatkan kesigapan dan keterampilannya mencari belut, memanjat pohon, atau memintanya nguopin ayah-ayahan[8] di pura atau di banjar. Jika ada piodalan[9] di Kahyangan Tiga[10], maka I Kolok adalah yang paling menonjol perannya walau ia masih anak-anak. Banyak warga desa meramalkannya bahwa ia kelak bisa jadi bendesa[11].
Selain bale banjar, tempat bermain I Kolok adalah sawah, sungai, dan lembah. Desa kelahiran anak itu memang kaya akan bukit, sungai, dan lembah dan selebihnya adalah sawah yang bertingkat-tingkat. Di dekat kaki bukit terdapat lebih dari sepuluh mata air. Sebagian dari mata air itu disucikan terutama yang ada di goa di bawah bukit.
Satu-satunya orang yang dibenci I Kolok adalah Nang Lanying, lelaki yang berumah di gubuk di tengah sawah. Ia sering menimpuk gubuk itu dari atas pematang. Ia benci karena sepanjang ingatannya lelaki tua itu selalu menampar kepalanya, menjewer telinganya, atau membentaknya tanpa sebab bila ia berdekatan dengan lelaki itu. I Kolok merasa betapa buruk cara lelaki tua itu memandangnya. Ketika ia merasa sedikit besar dan Nang Lanying berlanjut uzur, ia mulai berani melakukan ”perlawanan” dengan mengepal-ngepalkan tinjunya dari kejauhan, atau menimpuk gubuknya dengan lumpur sawah yang telah kering.
Meski Nang Lanying sudah tua, jalannya pelan, dan sering gemetaran, tetap saja I Kolok tak berani berdekatan. Ia masih takut juga. Bila ia menuju pancuran untuk mandi dan melewati gubuk Nang Lanying, anak itu masih harus melihat-lihat awas apakah lelaki tua itu duduk atau berdiri di dekat pematang. Bila dilihatnya senyap, barulah I Kolok melintas dengan kekhawatiran yang masih terjaga.
Di sepanjang persawahan atau sungai, peluang kehadiran Nang Lanying selalu ada. Lelaki tua itu sering berada di sawah atau sungai. Ia adalah petani penggarap. Sementara di sungai, ia menanam kangkung. Inilah yang membuat I Kolok selalu merasa sedikit tidak aman, tidak leluasa bila ia bersama teman-teman sebayanya bermain di sungai atau mencari belut di sawah.
”Ah, kenapa takut sama Ki[12] Lanying!” ujar seorang teman I Kolok tatkala mereka hendak pergi memancing ke bendungan desa.
”Ya, lagi pula Ki Lanying sudah tua. Badan dan tangannya sering gemetar. Jalannya juga pelan. Apa yang ditakutkan?” kata yang lain.
Kolok memberi isyarat bahwa ia masih tetap saja khawatir. Tapi desakan teman-temannya membuat I Kolok sedikit berbesar hati. Sering kali bila mengingat Nang Lanying, I Kolok berharap lelaki tua itu agar cepat mati saja.
SAAT musim penghujan, sungai di dasar lembah biasanya meninggi dan mengalir deras. Pohon-pohon yang menyeruak dari dinding tebing sering tak kelihatan, atau hanya menyeruak dedaunan paling atasnya. Anak-anak desa sering memanfaatkan sungai yang meninggi itu sebagai ajang terjun bebas dan berenang. Tak sedikit pun mereka gentar pada kedalaman dan derasnya air mengalir. Hanya I Kolok yang menonton keceriaan teman-temannya. Ia merasa kurang mahir berenang dan sangat takut melihat pemandangan air sungai seperti ular besar coklat yang bergerak cepat.
Hujan deras yang jatuh beberapa hari membuat desa itu selalu basah, suram, dan menyusahkan warga desa. Jalanan tanah jadi berlumpur, banyak kubangan, dan membuat sebagian warga malas ke luar rumah. Dan dalam keadaan seperti itu, I Kolok terpaksa harus hilir mudik di bawah hujan untuk keperluan kakeknya. Jika musim penghujan, segala sakit kakeknya kambuh.
Seperti juga pada kali itu, I Kolok harus menembus hujan untuk membeli obat gosok di warung Men[13] Merni di dekat bale banjar. Saat menyusuri tepi lembah, anak itu melangkah hati-hati karena tanah sangat berlumpur dan goyah. Namun, saat melompati kubangan kecil di tepi tebing, ia terpeleset dan tak dapat menjaga keseimbangan, terjerembab ke tebing dan jatuh di atas sungai yang mengalir deras. Tubuh I Kolok tersapu oleh deras air sungai dan ia panik, timbul tenggelam di sungai yang meninggi dan mengalir deras itu. Beruntung baginya, ia tersangkut pada cabang kecil pohon yang menjulur ke tengah sungai dan ia sebisanya mencoba berpegangan erat pada cabang pohon itu. Ia merasakan tubuhnya gemetar karena ketakutan yang sangat.
”Kolook…!” sayup-sayup ia mendengar namanya dipanggil.
I Kolok mendongak dan ia melihat Nang Lanying tengah cemas memandangnya.
Dengan tertatih-tatih, Nang Lanying menuruni tebing, berpegangan pada batang dan cabang-cabang pohon di dinding tebing, ”Tetaplah kau pegang cabang pohon itu, Lok. Kaki akan mencoba menarikmu,” seru Nang Lanying sambil berusaha mencari ranting atau cabang pohon yang cukup bisa dijulurkan ke arah I Kolok. Ketika tak ditemui cabang atau ranting pohon yang cukup panjang, ia akhirnya mencoba pelan-pelan mengikuti cabang pohon tempat anak itu berpegangan.
I Kolok menunggu dengan penuh harap.
Ketika sudah dekat, Nang Lanying mengulurkan sebelah tangannya, dan sebelah tangannya yang lain tetap berpegangan pada batang pohon yang melintang ke tengah sungai yang besar, dalam dan deras itu. I Kolok menyambut uluran tangan itu, dan ia merasa Nang Lanying mulai menarik tubuhnya.
Hampir mendekati tepi dan kemudian I Kolok sudah berpegangan pada akar pohon di dinding tebing, tiba-tiba cabang pohon terputus dari dinding tebing dan arus deras sungai dengan cepat menghanyutkan cabang pohon kecil itu beserta Nang Lanying. Lelaki tua itu kelelap lalu timbul tenggelam terbawa air sungai yang dalam dan mengalir cepat entah menuju ke mana.
I Kolok memandang semua peristiwa itu dan berteriak dengan ah uh ah uh… dan tak berani menolong Nang Lanying. Ketika lelaki tua itu tak lagi nampak dalam pandangannya, ia menangis, takut, dan tak percaya kalau yang menolong adalah Nang Lanying, orang yang paling dibencinya.
Catatan:
[1] Kuwal cai kolok! (bahasa Bali kasar) = Bengal kau, Kolok!
[2] Bale banjar = bangunan terbuka, semacam tempat sekretariat bagi susunan masyarakat terkecil di Bali.
[3] Bubuh basa = bubur dengan diurapi bumbu khas Bali.
[4] Tekor = wadah dari daun pisang, dibuat untuk mewadahi bubur atau jajan Bali.
[5] Lindung = belut
[6] Kolok = bisu
[7] Tapi cenik-cenik suba dueg megae = masih kecil sudah pintar mencari nafkah.
[8] Nguopin ayah-ayahan = membantu kerja bakti secara adat
[9] Piodalan = hari raya/suci di suatu pura
[10] Kahyangan Tiga = adalah sebutan untuk tiga pura, yaitu Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem.
[11] Bendesa = pimpinan adat.
[12] Ki, kaki = kek, kakek.
[13] Men, meme = bu, ibu
Rujukan:
[1] Disalin dari karya I Wayan Suardika
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 8 Juni 2014