Nakula – Sadewa

Karya . Dikliping tanggal 23 Juni 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Joglosemar, Koran Lokal

MASIH jelas kuingat, apa yang kualami selama kunjunganku pertama dan kedua di kota Karanganyar, kota asal Nakula calon suamiku. Aku diajak  pergi ke rumah orang tuanya. Dan kunjungan yang ini adalah  kali ketiganya.
    Tak ada yang menarik di kunjungan yang pertama. Jikalau harus dibilang ada, itupun hanya satu yang bisa kusebutkan, bertemu pertama kali dengan anggota keluarga Nakula. Selebihnya nothing, karena selama tiga hari di sana hampir tak ada kegiatan yang berarti.
    Oleh karena itulah ketika Nakula mengajakku lagi untuk yang kedua kalinya aku sempat menolak. Bukan berarti aku tidak suka dengan kegiatan itu tapi lebih karena alasan tidak enak jika di sana aku hanya diam saja. Tak melakukan kegiatan selain tidur dan makan. Tapi pada akhirnya aku memutuskan ikut pergi juga karena tak kuasa aku untuk menolak ajakannya. Apalagi Nakula juga berjanji padaku akan mengajak keliling ke tempat-tempat wisata di Karanganyar.
    “Katanya mau mengajakku keliling?” aku mengingatkannya karena  sudah dua hari aku di rumah itu tanpa melakukan kegiatan apa pun. Nakula menjawab belum sempat.
    “Biar diantar Sadewa dulu, gimana?” Nakula menawariku.
    “Tak usah. Kalau kamu tidak bisa ya tidak apa-apa,” jawabku dengan mimik yang kubuat seperti tak terjadi apa-apa, meski sebenarnya aku sedikit kecewa.
    Untuk mengusir jenuh, aku pergi ke belakang rumah. Di belakang rumah itu banyak tumbuhan buah. Melihat berbagai pohon yang sedang berbuah itu bisa mengalihkan rasa bosan yang saat itu menghantuiku.
    “Kalau kamu mau, aku akan ambilkan. Pilih mana, rambutan, jeruk atau mangga?” sebuah suara yang membuatku terkejut. Ternyata suara Sadewa, adik Nakula.
    “Boleh,” jawabku begitu saja. “Dengan apa ambilnya?” tanyaku tapi dia tak menjawab dan kulihat saat itu dia sudah ada di pohon mangga itu. Sadewa begitu terampil memanjatnya. Sadewa memetik beberapa buah mangga itu.
    “Jangan dijatuhkan,” kataku. ” Aku ingin menangkapnya.”
    Sejak peristiwa itu aku lebih banyak bersama Sadewa dari pada dengan Nakula. Nakula sendiri sibuk karena meski dia berada di sana tapi dia tetap tidak bisa lepas dari bisnisnya. Selesai mandi dan sarapan, Sadewa menawariku mengantar ke tempat wisata di Karanganyar.
    “Aku ingin pergi ke Tawangmangu, melihat air terjun,” kataku.
    “Karanganyar bukan hanya punya Tawangmangu, lho,” kata Sadewa.
    “Aku tahu. Maksudnya setelah dari Tawangmangu kamu boleh tunjukkan yang lainnya.  Akhirnya kami berangkat dan hanya  kami berdua. Selama dalam perjalanan, sejuk yang waktu itu kurasakan lambat laun semakin terasa. Hal itu menggiring perasaanku pada sebuah kenyamanan. Apalagi aku ditemani Sadewa, seorang yang tampil apa adanya, tidak membuatku merasakan canggung. Setiap sikapnya enjoy, meluncur seperti tanpa beban.
    “Aku ingin berbasah-basah di air terjun itu. Kamu mau ikut?”
    “Aku di dekatnya saja. Aku tak mau basah karena tidak bawa baju ganti.”
    Waktu itu aku di sana  sendiri. Merasakan sensasi saat badanku dijatuhi air itu. Seperti sebuah shower berukuran besar menyemprot tubuhku.
    “Kamu bawa baju ganti?” tanya Sadewa dengan sedikit berteriak mengimbangi suara air terjun.
    “Aku sudah siapkan dari rumah, kok. Ayo sini, ikutan. Asyik lho,” ajakku sembari kulempari dia dengan air terjun yang sebelumnya aku tampung di kedua telapak tanganku. Dia tetap bergeming di tempatnya. Aku tak peduli Sadewa akan lama menunggu. Kupuas-puaskan dulu menikmati indahnya air terjun itu.
    “Tadi kamu seperti anak kecil, seperti belum pernah main air sebelumnya,” kata Sadewa begitu aku telah selesai dari ganti baju.
    “Memang,” jawabku.
    “Ada sebuah kepercayaan di sini, jika ada sepasang kekasih mandi di air terjun itu, jalinan hubungan mereka tak akan bertahan lama.”
    “Putus, maksudmu? Mengapa bisa begitu?”
    “Hanya mitos.”
    “Kamu juga percaya?”
    “Percaya nggak percaya.”
    “Artinya?”
    “Ada yang terjadi dan ada yang tidak terjadi. Tapi menurutku untuk urusan cinta sebenarnya terlepas dari itu semua.”
    “Berarti bisa  dibilang itu hanya kebetulan, dong? Oya andai saja kita ini sepasang kekasih aku ingin membuktikannya,” terangku mengalir begitu saja dan diakhiri dengan tawa kami.
    Ketika kami pulang, Sadewa mengajakku mampir di Sendang Pitu, sebuah pemandian air hangat di desa Pablengan.
    “Ini adalah mata air yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit bahkan ada yang bilang jika bisa rutin mandi di sini bisa menyebabkan kita awet muda,” terang Sadewa begitu kami sampai di tempat tujuan.
    “Kalau yang mandi di sini orangnya sudah tua berarti awet tua, dong?” sergahku.
    “Berarti bisa jadi kalau bayi terus dimandiin di sini awet jadi bayinya, tuh,” ungkapan Sadewa membuatku tertawa lebar.
    “Tak adakah air yang membuatku jadi cantik?” tanyaku asal.
    “Sudah cantik begitu, mau dijadikan cantik seperti apa lagi?”
    Aku tahu perkataan Sadewa sekedar untuk menanggapi pernyataanku tapi entah mengapa aku serasa telah mendapat pujian darinya.
    Sepulang dari Sendang Pitu, Sadewa mengajakku singgah di Waduk Delingan.
    “Apa istimewanya waduk begini?” tanyaku begitu sampai di waduk itu.
    “Mungkin memang tidak ada dan kebanyakan orang yang berkunjung ke sini juga berpikir sama dengan apa yang kamu pikirkan. Tapi sebenarnya banyak peristiwa aneh terjadi di sini.”
    “Seaneh apakah itu?”
    “Banyak orang yang mati tenggelan di waduk ini,”
    “Waduk kecil begini bisa menenggelamkan orang?”
    “Lha itulah anehnya. Dan kebanyakan yang mati itu adalah wanita dewasa dan kematian itu bukan karena tidak bisa berenang.
    “Dibunuh?”
    “Lebih tepatnya seperti ada yang mengajaknya masuk ke waduk itu. Satu lagi, kebanyakan dari mereka berasal dari luar desa atau luar kota ini.”
    “Maksudnya aku bisa termasuk, begitu?”
    “Iya,” jawab Sadewa dengan ekspresi serius. Tapi tidak lama setelah itu dia tersenyum.
    “Ada yang lucu?” tanyaku penasaran.
    “Wajahmu menampakkan ketakutan. Hahaha. Tenang-tenang. Asal di dalam diri kamu tidak ada niat buruk, hal itu tidak akan menimpa kamu.”
    Karena Sadewa telah berani mengerjaiku, aku juga mulai berani memukulnya. Tentu saja bukan pukulan sungguhan. Sebelum kami beranjak dari waduk itu Sadewa sempat mengajakku pergi di bibir waduk.
    “Sebelum kita pergi aku ingin membuat prasasti di sini. Biar bisa sebagai tanda kalau aku pernah berkunjung di waduk ini,” kataku.
    “Lupakanlah, itu termasuk niat buruk,” katanya menanggapiku. “Meninggalkan jejak lalu pergi begitu saja adalah sikap yang tidak bertanggung jawab. Itu kejahatan besar.” lanjutnya.
    “Aduh, kamu ini. Apa yang kamu katakan itu beneran atau hanya gurauan saja, sih?”
    “Menurutmu?
    “Gurauan.”
    “Mengapa kamu menurutinya?”
    “Ah sudahlah, tidak jadi saja.”
    “Masih ada waktu. Maukah kutunjukkan satu tempat lagi?”
    Tanpa pikir panjang aku menyetujuinya. Sadewa membawaku ke sebuah dataran tinggi.. Seperti sebuah hutan. Ada empat bangunan terbuka, seperti sebuah tempat singgah. Kondisinya sedikit tak terurus.
    “Tempat apa ini?” tanyaku memecah kesunyian hutan itu.
    “Ini Perbukitan Bromo namanya, salah satu petilasan Nyi Ageng Serang, pendiri kota Karanganyar.”
    “Sebenarnya tempat yang sangat menjanjikan tapi sangat sepi. Sepi yang berbeda. Berbeda dengan kesunyian di hutan-hutan biasanya. Aku pernah pergi ke hutan dulu dan sepinya tidak seperti ini.”
    “Maksudmu hutan ini seperti punya mata begitu?”
    “Ya benar. Lihatlah itu, bahkan saat daun-daun jatuh pun seperti bernyawa.”
    “Tapi kabarnya di sini dulu terkenal untuk tempat pacaran?”
    “Memangnya sekarang sudah tidak lagi?”
    “Tidak seterkenal dulu. Sejak ada peristiwa sejoli tak terpisahkan, tempat ini menjadi sepi. Coba lihat dan bacalah tulisan-tulisan yang ada di bagunan ini, mereka meninggalkan kalimat-kalimat seronok yang saat kita membacanya, tubuh kita bisa merinding.”
    “Tapi nampaknya aura di sini ke arah itu memang begitu kuat. Oya apa yang kamu maksud dengan sejoli tak terpisahkan tadi?”
    “Kabarnya dulu ada sepasang kekasih yang bercumbu di sini. Saat mereka melakukan hubungan badan, tubuh mereka tak bisa dipisah.”
    “Ngeri banget,”
    “Ya begitulah. Oya, hari mulai senja, sudah waktunya kita harus pulang.”
    Begitulah cerita kunjungan keduaku di kota Karanganyar yang akhirnya terasa berisi. Hari berikutnya aku kembali mengadakan perjalanan ke tempat wisata lainnya termasuk ke Candi Sukuh dan Candi Cetha yang terkenal itu.
    Dan untuk kunjungan ketiga ini, ketika kemarin Nakula mengajakku pergi ke sana lagi aku langsung menyetujuinya. Kesediaanku ini bukan karena alasan sudah ada kegiatan untuk mengisi hari-hariku selama di sana. Alasanku mau ikut semata karena aku ingin menemui Sadewa. Aku merasa perlu harus berbicara dengannya.
    Aku tidak kuasa membicarakan baik lewat SMS atau telepon karena bagiku masalah begini sangat penting. Ceritanya, setelah kami berdua melewati kegiatan dulu itu dia sangat terkesan. Katanya setelah itu dia selalu terbayang olehku. Dia sering mengimpikan aku dalam tidurnya. Intinya dia sangat mengagumiku dan terakhir dia menyatakan cintanya kepadaku. Semua itu disampaikannya lewat sms dan kadang telepon. Dan selama itu aku tidak pernah memberinya sebuah keputusan apakah aku menerimanya atau menolaknya. Entahlah mengapa aku bersikap begitu. Mungkin semata karena  aku tidak kuasa harus menjawab apa. Jujur aku bingung dengan hatiku. Tak aku pungkuri, perjalananku bersama Sadewa serta perbincangan-perbincanganku dengannya sungguh terasa mengasyikan. Apa yang kualami bersama Sadewa tak kudapatkan di Nakula.
    Sekarang aku sudah siap memberi keputusan. Aku sudah siap menghadapi semuanya. Karena kepercayaan diriku yang besar ini membuat perjalananku bersama Nakula menuju kota Karanganyar kali ini kurasakan begitu berkesan. Aku melirik Nakula yang sedang serius memegang setir mobil. Sejenak Nakula menyalakan radio mobil. Dia mencoba mencari gelombang stasiun yang pas.
    “Itu saja,” kataku reflek pada Nakula saat salah satu stasiun radio itu sedang memutar lagunya Fatin Shidqia: Aku Memilih Setia.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yuditeha
[2] Pernah tresiar di surat kabar “Joglosemar” pada 22 Juni 2014