Penyair Yang Jatuh Cinta Pada Telepon Genggamnya

Karya . Dikliping tanggal 22 September 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
1.
KARENA tak ingin dianggap kampungan dan ketinggalan zaman, maka ia pun memutuskan untuk membeli telepon genggam. Sebagai penyair, ia merasa perlu tampil bergaya. Apalagi saat ini penyair dekil dan miskin sudah tak lagi mendapat tempat dalam pergaulan. Maka penyair kita tercinta ini pun mulai rajin menabung duka, honor yang didapat dari puisi-puisi yang ditulisnya. Lumayan, setelah cukup banyak duka diperoleh, ditambah utang sana-sini pada teman-temannya, akhirnya penyair kita pun bisa membeli telepon genggam.
Telepon genggam bekas, tentu saja. Itu pun model lama. Sudah rusak keypad-nya. Dan ngadat huruf-hurufnya. Kalau memencet huruf ”a” yang muncul di layar huruf ”k”. Bahkan kadang-kadang sama sekali tak muncul hurufnya. Tapi penyair kita tetap bangga. Maklum, telepon genggam itu barang mewah pertama yang sanggup dibeli dengan seluruh kepedihannya.
Dengan penuh gaya, segera ia menelepon ke sana-kemari. ”Halo, kamu siapa? Ini handphone baru saya. Apa kamu bisa dengar suara saya?” Begitulah sepanjang hari ia menelepon siapa saja, ke nomor rumah sakit, nomor panji pijat, nomor yang serampangan dicomotnya dari Yellow Pages, sampai ke nomor-nomor yang hanya ada dalam khayalannya. Meski telepon genggam itu tak ada pulsa.
”Tak apa tak ada pulsa,” batinnya, ”yang penting kini aku sudah bisa bergaya. Apa gunanya jadi penyair kalau tidak bergaya!”

Di depan cermin ia pandangi tubuhnya yang kerempeng, pantatnya yang tepos, dan celana jins yang kedodoran. Tapi tubuh itu kini kelihatan lebih gagah karena menenteng telepon genggam. Ia tak lagi minder dengan wajahnya yang penuh jerawat, juga matanya yang kelam oleh penderitaan. Ia yakin pacarnya kini pasti bangga karena ia telah punya telepon genggam. Setelah mandi, menyisir rambutnya dengan model klimis, menyemprotkan sedikit minyak wangi agar bau balsem di tubuhnya hilang, maka penyair kita tercinta ini pun segera berkunjung ke rumah pacarnya.

2.
”Lihat,” ia pamer pada pacarnya. ”Sekarang aku punya telepon genggam. Betapa imut telepon genggam ini. Ia seperti memiliki mata yang sendu, seperti sepasang matamu.”
Pacarnya yang hitam manis itu hanya diam saja.
”Aku yakin, ini telepon genggam paling cantik di dunia. Wajahnya seperti wajahmu yang memiliki senyum paling menawan di dunia.”
Mendengar itu, pacarnya malah cemberut.
”Menurutku, ini telepon genggam paling sexy. Kamu tak akan mungkin menemukan lagi telepon genggam seperti ini. Sungguh beruntung aku memiliki telepon genggam ini, sebagaimana kau juga begitu beruntung punya pacar seperti aku. Percayalah, aku akan merawat telepon genggam ini dengan baik, seperti aku akan merawat dan mencintai kamu.” Lalu dielusnya telepon genggam itu. Diciuminya pelan-pelan.
Tiba-tiba terdengar: braakkk!!! Pacarnya masuk rumah, sambil membanting pintu.
3.
Semakin terlihat cantik saja telepon genggam itu. Setiap kali menatap berlama-lama, penyair kita merasakan ada yang berdesir lembut dalam hatinya. Kadang ia heran, bagaimana sebuah telepon genggang bisa membuat seseorang merasa begitu bahagia? Setiap zaman memang memiliki ukuran kebahagiaan yang berbeda-beda, batinnya, saat merasakan kesedihannya perlahan-lahan menguap. Telepon genggam itu telah mengubah hidupnya. Ia teringat hari-hari sedih ketika ia belum memiliki telepon genggam. Ia teringat tetangganya, seorang tukang becak, yang rela tak membeli beras karena uangnya habis untuk beli pulsa. Orang memang perlu bergaya untuk sekadar merasa bahagia.
Ketika telepon genggam itu bergetar, ia merasakan jantungnya berdebar, sekan-akan telepon genggam itu telah menjadi jiwanya. Matanya berkaca-kaca. Tiba-tiba ia ingin menangis karena merasa begitu bahagia. Lalu ia ambil tisu bekas yang tergeletak di meja di sisi ranjangnya. Ah, kebahagiaan memang seperti tisu, yang kita butuhkan saat sedih. Hanya saja: kita tak tahu di mana mesti membelinya.
Tak apa aku diputus pacar, batinnya, karena kini aku punya telepon genggam yang lebih pengertian dari seorang pacar. Kini ia mengerti, kenapa banyak orang merasa perlu memiliki lebih dari satu telepon genggam. Punya banyak telepon genggam memang lebih menyenangkan ketimbang punya banyak pacar. Ia tersenyum memikirkan itu. Tak usah larut dalam kesedihan, batinnya. Sebab kesedihan punya waktunya sendiri-sendiri, yang mengerti kapan saatnya mesti pergi. Lagi pula, kesedihan hanyalah cara kita memberi nama pada sesuatu yang sebelumnya tak bernama.
Kemudian ia tiduran di ranjang. Dibaringkan telepon genggam itu di sisinya. Malam itu ia tidur ditemani telepon genggamnya dengan perasaan yang ganjil ketika melihat sepasang cicak berkejaran di dinding, sementara suara angin pelan-pelan menggesek jendela kayu yang sudah reyot engselnya, dan ia merasakan bagai ada seseorang yang bernapas dengan tenang di sampingnya. Dipeluknya dengan penuh gairah telepon genggam itu, sembari memejam dan berbisik pelan, ”Aku kangen kamu….”
Ia berharap ada suara penuh kerinduan menjawab dari telepon genggam itu. Tapi ia hanya mendengar suara pilu seekor anjing melolong dalam telepon genggam itu.
4.
Ia semakin jatuh cinta pada telepon genggamnya. Kian hari telepon genggam itu kian terlihat sexy. Ia suka memandangi telepon genggam itu: membaca pesan-pesan gelap yang dikirim entah siapa, mengintip foto porno dan video mesum, sembari membayangkan tubuh pacarnya. Ada saat-saat telepon genggam itu membuatnya berahi. Dengan gemetar ia menyentuh telepon genggam itu. Rasanya sintal dan kenyal, seperti payudara. Kadang-kadang telepon genggam itu menjadi basah, seperti tubuh perempuan yang berkeringat, ketika ia memeluknya.
Disebabkan perasaan bangga dan bahagia, ia sering memamerkan telepon genggam itu pada kawan-kawannya. ”Aku yakin telepon genggam ini juga mencintaiku. Ketika aku merasa sedih, ia menghiburku. Ia suka bernyanyi. Bukan, itu bukan bunyi ringtones. Tapi ia memang benar-benar bernyanyi. Ia paling suka nyanyi lagu dangdut.”
”Cukuplah kamu menjadi penyair gagal,” kata kawan-kawannya. ”Jangan memperburuk nasibmu dengan menjadi gila.”
Bagi kawan-kawannya, telepon genggam itu hanyalah telepon genggam rusak, tapi bagi penyair kita tercinta, telepon genggam itu selalu memberinya ilham yang menakjubkan. Ketika ia ingin menulis puisi, ia mendengar telepon itu berbicara dengan kata-kata yang tak akan pernah mampu ia terjemahkan menjadi puisi. Ah, kata-kata abadi memang kata-kata yang tak akan mungkin bisa dituliskan ke dalam puisi, batinnya. Mungkin suatu kali ia akan menulis puisi seperti ini: aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan suara yang tak sempat diucapkan telepon genggam kepada kata, yang membuatnya bahagia. Telepon genggam itu memberinya cinta, kenangan, dan hal-hal yang tak pernah tepermanai. Barangkali, ia membatin, seperti dalam puisi, telepon genggam ini hanya melankoli. Telepon genggang ini hanyalah sesuatu yang kelak retak, tapi ia ingin membuatnya abadi. Itulah yang membuatnya semakin mencintai telepon genggamnya. Apalagi dengan telepon genggam itu ia bisa menelepon ibunya. Bila kesepian tengah malam, sering ia iseng menelepon ibunya, di surga.
”Apa kabar, Ibu? Pasti Ibu bahagia, sudah ketemu Tuhan. Jangan khawatirkan nasibku. Sebagai penyair aku memang miskin, tapi bahagia. Seperti dulu sering kau nasihatkan padaku, Ibu, kebahagiaan, secuil apa pun selalu lebih nikmat bila dibagikan. Karena itulah, Ibu, kalau Ibu kesepian di surga, teleponlah aku.” Lalu ditutupnya telepon genggam itu, dengan mata berkaca-kaca. Kerinduan pada ibu adalah kerinduan pada kata. Karena ibu adalah muasal segala kata.
Malam itu, menjelang tidur, ia melihat bayangan ibunya keluar dari telepon genggam. Ia mendengar suara orang cuci muka di kamar mandi. Ia teringat pada ibunya yang selalu bangun tengah malam untuk menunaikan shalat. Bila doa tak menolong hidupmu, setidaknya doa bisa membuatmu tenang, begitu kata ibunya saat ia masih berusia 10 tahun. Ia ingat, seminggu sebelum Lebaran, ibu membelikannya baju dan celana baru, dan dua hari kemudian meninggal dunia. Nasib buruk adalah karib penyair. Sejak itu ia ingin selalu menulis puisi untuk ibunya. Dan itulah yang membuatnya tersesat menjadi penyair. Meski hanya menjadi penyair gagal, seperti kata teman-temannya. Tapi ia kerap menghibur diri: jauh lebih beruntung menjadi penyair gagal ketimbang menjadi presiden gagal.
5.
Ia mendekam dalam kamarnya karena tak mungkin pulang kampung Lebaran ini. Tak ada ongkos. Harga tiket kereta api jauh lebih tinggi dari honor puisi. Ia sudah berusaha menjual telepon genggamnya, tetapi pedagang loakan itu malah tertawa, ”Telepon genggam rusak begini, dikasih gratis pun saya enggak mau!”
Dari dalam kamarnya yang sumpek, ia mendengar gema takbir malam Lebaran yang bagai meledeknya. Perutnya keroncongan. Terbayang makam ibunya yang penuh semak belukar. Ia mencoba memejam. Lebaran yang semakin mahal memang bukan untuk orang-orang miskin seperti dirinya. Lagi pula ia malu bila pulang kampung bertemu kawan-kawan semasa kecilnya yang pasti sudah sukses dan menenteng gadget terbaru yang mewah. Ia tertidur sembari memimpikan telepon genggam yang bisa menyelamatkannya dari kesedihan. Sementara matanya terkantuk-kantuk, tiba-tiba melintas ide sebuah puisi: Malam Lebaran. Bulan di dalam telepon genggam.
6.
Tengah malam, penyair kita tercinta tergeragap bangun—seperti ada suara memanggil-manggilnya—dan dilihatnya telepon genggam itu berkedip-kedip, seperti isyarat yang tak ia pahami maknanya.
Barangkali, Tuhan mencoba meneleponnya.

Baca juga:  Enam Cerita

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Agus Noor
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 21 September 2014