Sepasang Sayap

Karya . Dikliping tanggal 3 November 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
Aku, perempuan yang memutuskan menyelamatkan laki-laki yang telah berada di ujung ajalnya. Tentu aku tahu seberapa besar risiko itu. Laki-laki itu bukan manusia sembarangan. Ia datang dari sebuah negeri yang berbeda dariku. Orang-orang bilang, ia datang dari tempat para malaikat bersemayam.
Beberapa hari lalu, seluruh penduduk kota memang sudah melihatnya. Ia tergeletak di jalanan lengang di pusat kota tepat di perlimaan jalan. Punggungnya berdarah, hingga darah menggenangi seluruh tubuhnya. Jelas sekali, sesuatu yang ada di situ, baru saja terpotong. Dan orang-orang menebak itu adalah sepasang sayapnya.
Aku, perempuan yang akhirnya memilih bergerak mendekatinya. Memapah tubuhnya yang berat dengan seluruh tenagaku. Membiarkan darahnya mengotori baju dan tubuhku. Lalu membawanya pergi meninggalkan genangan darah dan tatapan orang-orang yang memandang dari jauh.
Sejak itulah laki-laki itu tinggal di kota ini. Aku menyembunyikannya di sebuah rumah kosong di tengah hutan, yang biasa dijadikan tempat bermalam bagi para pemburu yang kemalaman.
Beberapa kawanku, yang awalnya takut-takut, datang padaku. Aku tentu saja tak bisa merawat laki-laki ini seorang diri. Jadi bersama mereka, kami merawatnya bersama-sama. Kami memberinya makan. Memberinya pakaian. Merawat luka di punggungnya. Bahkan mengajaknya bicara.
Jauh di lubuk hati, kami selalu berharap agar sepasang sayapnya dapat kembali tumbuh. Tapi ternyata sampai berbulan-bulan terlewati, itu sekadar menjadi harapan kosong. Tak ada yang terlalu berubah dari laki-laki itu. Ia memang tak lagi terkulai dan lemah, ia sudah bisa berjalan ke sana ke mari dan berbincang dengan kami. Tapi bekas sepasang sayap di punggungnya, tetap seperti itu.
Kadang, aku merasa terlalu berharap padanya. Beberapa kawan yang membantu, nmulai merasa telah melakukan hal yang sia-sia. Tentu aku bisa memakluminya. Seperti kukatakan, menyelamatkannya adalah sebuah tindakan penuh risiko. Begitu juga merawatnya.
Ya, sejak kota ini dikuasai para iblis, semua memang menjadi lebih berbahaya.
***
AKU, perempuan yang datang ke kota ini dalam badai yang hampir menjungkalkan
seluruh kota.
Ayah memang menyuruhku untuk datang dalam suasana paling tak memungkinkan.
Nyaris tak kusisakan jejak, kalau aku adalah perempuan yang menghabiskan
separuh hidupku bersama buku. Mungkin itu yang membuatku menjadi orang paling berapi mengucapkan pikiranku. Dan sampai sejauh ini, tak ada yang berani membantahku, termasuk ayah. Ia bahkan pernah berujar, kalau kelak, ia bisa membayangkan puluhan kata-kataku menjadi quote yang dipetik penulis-penulis amatir di buku-buku mereka.
Satu yang tak mereka tahu, aku sebenarnya lebih suka menulis sajak daripada pikiran-pikiran kritis itu. Aku akan menulisnya di pagi hari, saat otakku belum bergerak secara sempurna. Dulu aku pernah memiliki kekasih yang akan menemaniku di saat seperti itu. Ia akan membiarkan punggungnya menjadi meja bagi notes kecilku. Dan sesekali, di sisa kantuknya, ia akan mencoba menebak apa yang tengah kutulis. Tentu, tak ada satu pun tebakannya yang benar.
Tapi itu tentu bukan sesuatu yang penting. Punggungnya adalah tempat paling nyaman bagi kepalaku yang lelah. Di situ, ia akan bicara, dan dengan satu telingaku yang menempel, aku seperti mendengarkan suara dari relung hatinya.
‘’Kita tak bisa terus seperti ini. Para iblis sudah benar-benar menguasai kota.’’
Aku tahu apa yang dibicarakannya. Itu juga dikeluhkan oleh ayah. Tapi apa lagi yang bisa dilakukan? Menentang mereka sedikit saja, itu bisa menjadi akhir segalanya.
‘’Aku berharap,’’ ia membalikkan badan, dan menatap langit-langit, ‘’kelak akan ada orang yang
menyelamatkan kita semua. Mungkin, seorang malaikat, dengan sepasang sayap di punggungnya.’’
Aku tentu hanya tersenyum mendengar harapannya. Sama sekali tak kubayangkan bahwa itu adalah perbincangan terakhir kami.
Di malam hari, saat aku datang lagi ke rumahnya, aku menemukan dirinya masih di atas pembaringannya. Tapi kali ini dalam kondisi tak lagi bernyawa. Di punggungnya, aku lihat sayatan luka-luka, bagai sebuah bait-bait puisi paling pendek.
Aku tahu, para iblis sudah membunuhnya.
***
Sepasang Sayap
Sepasang Sayap
Baca juga:  Terkutuk

AKU, perempuan yang paling banyak merasakan kematian di sekelilingku. Aku sudah berpikir bila kematian adalah tebaran paku di sekelilingku, kapan pun dapat terinjak dengan mudah.

Aku tahu, di kota ini, kehidupan sama sekali tak lagi berarti. Kota ini sudah seperti sebuah kota yang mati. Para iblis telah menguasai kota sejak puluhan tahun yang lalu, dan semua seperti baru menyadarinya tahun-tahun terakhir ini.
Kata ayah, awalnya mereka hanya datang dengan satu kelompok kecil saja. Tentu mereka nampak tak berbeda dari kita semua. Jangan dibayangkan mereka berkulit merah dengan dua tanduk di kepala. Tidak, tidak. Mereka benar-benar sama seperti kita. Hanya matanya saja yang kadang terlihat merah menyala!
Karena datang dengan damai, kami pun menerimanya dengan tangan terbuka. Mereka kemudian membuat koloni di pinggir kota. Namun seiring datangnya lagi kelompok yang lain, lama-kelamaan mereka mulai melebarkan koloni sejengkal demi sejengkal, tanpa pernah ada yang menyadarinya. Perlahan tapi pasti, mereka mulai menguasai pusat-pusat perdagangan di kota. Dan beberapa tahun lalu, mereka mulai berani mengganti penguasa kota sebelumnya, dengan membunuh dan menggantungnya di gerbang kota.
Sejak itu, mereka menghapus semua hukum yang ada di kota ini. Saat itulah ayah berkata bahwa kita semua telah berada di dalam neraka milik para iblis itu. Beberapa orang memilih pergi. Termasuk ayah. Namun setelah beberapa tahun menepi, aku memutuskan kembali ke kota ini. Entahlah, terlalu lama bersembunyi membuatku merasa hidup hanyalah berada di dalam sebuah kaleng busuk. Sama sekali tak berarti.
Kupikir, walau pun kota ini sudah menjadi neraka, selalu saja ada harapan yang tersisa. Seperti dengan kehadiran laki-laki dengan sepasang sayap yang terputus ini. Aku merasa ia adalah sebuah tanda. Aku ingat di dinding-dinding rumah doa yang biasa kudatangi bersama ayah ketika kenak-kanak, di situ aku melihat manusia-manusia dengan sepasang sayap seperti ini.
Aku tahu, merekalah yang akan menghabisi para iblis.
***
AKU, perempuan terakhir yang bertahan bersama laki-laki itu. Kembali kukatakan, aku mungkin terlalu berharap banyak padanya. Padahal ia sudah berkali-kali berkata padaku, kalau ia bukanlah malaikat.
‘’Di sebuah tempat yang jauh dari sini, dapat kau temukan orang-orang seperti aku. Kami hanyalah orang-orang biasa seperti halnya dirimu. Kami hanya kebetulan memiliki sepasang sayap untuk terbang. Apa ini terlalu aneh buatmu? Apa aku harus menceritakan padamu kisah tentang orang-orang yang memiliki tanduk di kepalanya? Atau orang-orang yang memiliki ekor di tulang belakangnya?’’
Aku hanya terdiam. Ya, terdiam. Dulu aku pernah membantahnya, dengan mengatakan itu sebagai caranya menolak menolong kami?
‘’Sungguh, ini adalah hanyalah sepasang sayap belaka.’’
Dan dulu pula, kalimat itu selalu kuikuti dengan ucapan, memang itu
sekadar sayap belaka, tapi dengan itu kau bisa melayang dan mendekati para iblis itu dengan mudah, dan memenggal leher mereka, bukan?
Tapi tidak kali ini. Setelah puluhan kali ia mengucapkan itu, aku akhirnya tak lagi bisa menahan diri. Kekokohan diriku selama ini seperti telah runtuh.
Aku menangis untuk kali pertama.
Ia kemudian memelukku. ‘’Aku memang tak bisa menolong seluruh kota,’’ bisiknya tepat di
telingaku. ‘’Tapi… aku bisa membawamu pergi dari kota ini.’’
Aku menengadahkan kepala. ‘’Tanpa kau tahu, semalam, seorang sahabatku datang kemari. Ia berjanji akan membawakan sepasang sayap untukku malam ini.’’
‘’Kau mungkin tak tahu, tapi sepasang sayap yang ada di tubuh kami tak pernah mati. Ia terus hidup. Setiap ada dari kami yang mati, sayap itu kami potong untuk berikan pada orang lain yang telah kami pilih.’’
Laki-laki itu menggenggam kedua tanganku. ‘’Nanti bila sahabatku benar-benar sudah membawakan sepasang sayap itu, aku bisa membawamu pergi ke tanah di mana diriku berasal. Kita… bisa tinggal bersama di sana.’’
Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Tapi aku melihat kesungguhan di matanya.
***
AKU, perempuan yang memilih terjaga  di malam ini. Bersama laki-laki itu, aku duduk berdampingan menatap ke arah jendela di mana langit malam terbentang. Tangan laki-laki itu tak pernah lepas memegang tanganku, seakan memberi segenap kekuatannya.
Pada akhirnya, aku melihat bayangan putih berkelebat di langit. Awalnya aku menyangka itu adalah seekor burung raksasa. Namun tiba-tiba saja, seorang manusia bersayap, sudah kulihat bertengger di ambang jendela, dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Ia pastilah sahabat laki-laki itu. Berbeda darinya, ia bertubuh lebih kecil. Sepasang sayapnya yang berwarna cokelat tua, terlipat rapi di punggungnya, sementara di kedua tangannya, terlihat sepasang sayap yang segera diberikan pada laki-laki itu.
Kemarin, aku sudah meminta agar aku yang memasang sayapnya. Dan ia mengizinkanku. Maka setelah membuka bajunya, ia segera berlutut di depanku.
Sahabatnya hanya melihat sekilas. Aku tahu, ia memandangku dengan tatapan tak suka. Tapi ia tak berusaha membantah. Toh, walau bagaimana pun ini adalah keinginan sahabatnya, jadi ia memilih pergi dari situ.
Sejenak, aku mengamati sepasang sayap di tanganku ini. Cukup berat dan berbau asing. Di ujungnya, yang nanti akan menempel di punggung, kulihat serabut akar-akar kecil yang nampak terus bergerak-gerak. Kupikir akar-akar inilah yang akan masuk ke dalam punggung.
Aku menelan ludah. Saat itulah diam-diam kukeluarkan belati di balik punggungku. Lalu dengan satu gerakan cepat, kutusukkan bilahnya pada punggung laki-laki itu.
Seketika, ia mengerang kesakitan. Dengan sekali sentak, ia berbalik dan mendorong tubuhku hinggal terjungkal ke arah meja. Di antara wajah kesakitannya, ia menatapku tak percaya, seakan-akan bertanya: mengapa?
Tapi aku tentu tak harus menjawabnya. Ia sudah tahu alasanku melakukan ini. Jadi aku hanya memalingkan wajah dan menatap ke jendela. Kubiarkan ia mati perlahan.
***
AKU, satu-satunya perempuan di kota ini yang memiliki sepasang sayap. Aku
tahu sayap ini belumlah berakar kuat di punggungku. Tapi aku yakin, tak lama lagi, ia pasti mampu membawaku melayang ke angkasa.
Aku yakin, di saat itulah hari-hari terakhir bagi para iblis akan datang. (62)
— Yudhi Herwibowo, penulis tinggal di Solo. Buku terbarunya bertajuk Enigma (Grasindo)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yudhi Herwibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 2 November 2014