Yang Menikah Dengan Mawar…

Karya . Dikliping tanggal 3 November 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
Kau harus menikahi mawar itu, karena, betapapun tajam durinya, keharumannya terlalu berarti untuk kau abaikan begitu saja. Apa yang kau cari dalam hidupmu yang tak seberapa lama ini, selain sebuah arti? Dan bukankah itu hanya bisa kau dapatkan dari keharuman mawar? Telah dibuktikannya, kau paham maksudku, betapa kau tak bisa hidup tanpa keharumannya.
Tak ingatkah kau, ketika pada suatu masa rongga dadamu hanya terisi oleh uap karat, debu, dengus nafsu, dan kau menggerapai mencari permukaan kehidupan? Siapakah yang membersihkan itu semua dengan kesegarannya, sehingga saat itu juga kau bisa mengatakan bahwa dirimu hidup kembali, jika bukan keharuman mawar?
YANG MENIKAH DENGAN MAWAR…

Tak tercatatkah olehmu, ketika matamu disesaki seringai gigi srigala yang mengancam lehermu, atau telingamu yang nyaris pecah oleh berondongan kata-kata entah dari siapa saja? Siapakah yang menepis itu semua sehingga kau bisa menapaki kabut pagi, melayang tenang dalam tidur tanpa mimpi, jika bukan keharuman mawar?

Siapakah yang mampu mengantarkan doa selain keharuman mawar? Siapakah yang bisa memberimu kekuatan sehingga kau yakin dirimu begitu dekat dengan Tuhan, selain keharuman mawar?
Bukankah bundamu sering berkisah bahwa malaikat pembawa rizki akan selalu mampir di beranda rumahmu, manakala tercium olehnya keharuman mawar di rumahmu? Dongeng yang entah ciptaan siapa itu, dan begitu kau percaya ketika kanak-kanak dulu, bukankah membuktikan bahwa hanya keharuman mawarlah yang mampu memberimu keindahan dan harapan tentang hari depanmu?
Jadi, kau harus menikahi mawar itu.
”Karena, keharumannya terlalu berarti untuk kau abaikan begitu saja…” ulangnya seakan pada dirinya sendiri. Dia mengulang-ulang sepenggal kalimat itu, sambil sesekali tersenyum kepada mereka yang tengah menyaksikannya. Dia tak ambil pusing mengapa para tetangganya mau menyempatkan diri memandangi dirinya, yang nongkrong di halaman rumahnya sendiri. Sempat dia berpikir bahwa barangkali para tetangganya itu sedang menganggur, dan tak punya pekerjaan lain.
Para lelaki bergerombol, saling berbisik. Para perempuan berbisik-bisik, diselingi tawa kecil mengikik. Semua tak paham menyaksikan salah seorang tetangga mereka sendiri—seorang lelaki paruh baya—yang sudah berhari-hari duduk memandangi pagar rumahnya, yang dirimbuni onak mawar kampung. Mereka menduga-duga, menerka, memasang prasangka dan bergunjing saja. Jelas, tak ada lagi yang bisa mereka lakukan atas apa yang mereka saksikan di depan mata.
”Tapi, kan, cuma kembang, Pak?” celetuk salah seorang tetangganya.
”Ini bukan kembang. Ini mawar,” jawabnya dengan bangga. Banyak wajah yang berkerut menanggapi jawabannya itu.
”Iya, kembang mawar, kan?”
”Yang keharumannya menyambut kelahiran kita di dunia ini, dan mengantarkan jenazah kita ke liang kubur,” lanjut laki-laki itu seperti kepada dirinya sendiri. Yang, tentu saja, disambut senyum geli dan gelengan kepala para tetangganya.
Begitulah sampai entah berapa lama peristiwa itu berlangsung, tak ada yang mau mencatatnya. Sampai suatu ketika, tetangga sebelah rumahnya protes, sebab mawar itu menjalar memasuki pekarangannya. Batangnya yang sebesar telunjuk orang dewasa itu dipenuhi bukan saja oleh dedaunan, tetapi juga duri-duri setajam silet. Tetangga itu protes sebab dia khawatir anaknya akan terluka. Karenanya dia mengusulkan agar mawar itu dipangkas saja, paling tidak, di bagian yang memasuki pekarangannya.
”Jangan lukai mawar itu!” sergah laki-laki itu, dengan nada seolah seorang ayah tengah melindungi anaknya.
”Tapi, masuk pekarangan saya, pak,” jawab si tetangga lebih keras.
”Biar cabangnya saya belokkan ke halaman saya saja.”
”Gitu, dong. Tanggung jawab kalau…” ucapan si tetangga terpangkas dan terganduli rasa jengkel yang membatu di kerongkongannya.
Berminggu-minggu berlalu, tapi laki-laki itu tak juga membelokkan batang mawarnya. Kini, bahkan batang-batang mawar itu telah menjalar ke jalan. Tentu saja dengan kuntum-kuntum bunganya yang merona merah dan harum. Yang protes, jelas lebih banyak lagi. Bahkan ada yang diam-diam mengambil parang dan membabat batang mawar yang menjalar itu.
Laki-laki si pemilik mawar, marah. Dia menantang siapa yang berani memangkas kesayangannya. Tentu saja, menghadapi manusia kalap, para tetangganya lebih memilih menutup pintu rumah masing-masing daripada menanggapinya.
Sambil meneteskan airmata sedih, laki-laki itu mengumpulkan batang mawar yang menjalar liar itu. Memeluknya, dan dengan sangat hati-hati dia belokkan ke pagar rumahnya. Tentu saja, tangan, sebagian besar dada dan perutnya penuh luka tusukan duri mawar, tetapi dia abaikan kepedihan itu. Dia tampak begitu bahagia, bergetar, seakan semua tusukan duri mawar adalah kecupan dari si pacar.
Mungkin karena jengkel, atau entah oleh alasan apa lagi, para tetangga kemudian sepakat, beramai-ramai membersihkan mawar dari pekarangan laki-laki paruh baya itu. Tentu saja harus menggunakan tak-tik.
Dengan ”persahabatan” yang tiba-tiba tercipta dan bantuan berbotol-botol bir di malam hari—tentu saja ada kacang dan kisah-kisah ajaib, para tetangga berhasil membuat si lelaki tak berdaya oleh gelombang alkohol. Pada malam itu juga mereka ”kerja bakti” membersihkan onak mawar di pekarangan itu. Bersih. Tuntas. Hilang sudah rasa was-was oleh ancaman duri, dan para tetangga pulang untuk tidur pulas, tanpa mimpi.
Tengah hari, semua kuping pecah oleh raungan kecewa yang luar biasa. ”Tahukah kalian bahwa kita bahkan tak perlu meminta keharuman, dia sudah memberikannya kepada kita. Disadari atau tidak, dikehendaki atau ditolak, keharuman itu ada untuk kita. Mawar hanya memberi, mencintai dan tak menuntut apa-apa,” lelaki itu berceracau.
Hingga jauh malam, seakan tak peduli kata-katanya disimak atau diabaikan, lelaki itu terus berkoar-koar. Dia bercerita bahwa dia banyak belajar dari mawar. Bahwa cinta adalah paduan dari tajam dan lembut, melukai dan menyembuhkan, kecewa dan penghiburan. Dan semuanya itu dia peroleh dari mawar.
Dia mengkritik para tetangganya yang membuat ”aturan” sendiri soal cinta. Dia teriakkan bahwa mereka tak lebih daripada makhluk bebal yang sangat egoistis dengan menetapkan cinta adalah hanya kasih sayang dan senang-senang. ”Kalian pernah melahirkan, kalian luka, berdarah, tapi bibir kalian tersenyum bahagia. Bukankah itu cinta? Apa kalian lupa? Mawar tidak pernah memilih siapa yang akan terlukai oleh durinya, sebagaimana dia juga tidak pernah menentukan siapa yang mencium keharumannya. Sebagaimana juga dia tak peduli apakah dirinya akan dipuja, diperdagangkan, ditaburkan di atas pekuburan, atau di ranjang pengantin. Itulah cinta. Tidakkah kalian berpikir?
Kita tak akan pernah bisa mengasihi mawar, sebagaimana kita juga tak bisa menggarami lautan. Dan jika aku mengasihinya, itu tak lebih dari sebuah upaya agar aku mendapatkan kasih sayang yang lebih darinya. ”Ngerti, enggak, seeeh?” teriaknya di pukul dua dini hari.
Tentu saja semua teriakan dan perbendaharaan katanya yang menghambur itu tak mendapat tanggapan apa-apa. Kata-katanya seperti gelembung sabun yang dimainkan anak kecil, yang melayang sesaat di udara dan pecah entah jadi apa, begitu saja.
Beberapa hari berlalu begitu saja. Memang, September terasa seperti neraka. Siang hari, panasnya tak kurang dari 33 derajat celsius. Di terik siang itu, laki-laki itu mulai menggarap halaman rumahnya yang tak seberapa. Dia bersihkan batang-batang mawar yang terserak di halaman selama beberapa hari itu. Rumput-rumputnya yang mengering oleh panas pun dicabutinya. Dedaunan kering pun dikumpulkannya. Semua ditumpuknya di halaman rumah lalu dibakarnya. Api berkobar, asap putih mengepul, udara makin panas.
Sampah jadi abu. Abu ditaburkannya di halaman, jadi pupuk. Sore itu, berember-ember air disiramkannya ke tanah berabu. Keringat membasahi tubuh kurusnya. Bibirnya tersenyum puas.
Maghrib turun dari langit bersama iringan adzan, bersama tirai jingga, bersama cericit burung-burung. Laki-laki itu, mengorek-orek tanah, memindahkan potongan batang-batang mawar yang tersisa. ”Kau kubuatkan rumah baru. Kau harus tumbuh dan tetap menebarkan wewangianmu. Jangan takut. Seribu parang mencincangmu, seribu tanganku akan menanammu kembali,” gumamnya sambil menggundukkan tanah di sekitar batang-batang kecil yang ditancapkannya di tanah.
Selang beberapa waktu kemudian, laki-laki itu menancapkan 3 batang bambu panjang, menjulang setinggi hampir 5 meter. Tentu saja, semua kegiatannya itu ”dimeriahkan” oleh tatapan mata penuh tafsir para tetangganya.
”Mau bikin tangga ke sorga, mungkin?” ucap salah seorang sambil berlalu ke warung rokok, kepada entah siapa.
Tak ada keajaiban. Semua berjalan sebagaimana alam memaparkan kehidupan ini. Tak sampai sebulan, mawar-mawar itu sudah tumbuh lebat. Namun, kali ini, yang benar-benar membuat para tetangga si lelaki itu ternganga adalah: mawar itu, yang berpilin berkelindan pada batang-batang bambu itu, tumbuh menjulang ke langit; seperti menhir.
”Bagus, ya?” ucap laki-laki itu bangga, tentu saja kepada beberapa orang yang merubung ”keajaiban” itu. Tentu saja tak ada jawaban langsung.
Hanya berselang seminggu, menhir mawar itu memekarkan dirinya menjelma kanopi; kanopi mawar. Dan, demi dilihatnya nyaris sekujur menhir, bahkan hingga ke mekaran kanopi itu bersembulan mawar-mawar merah menyegarkan, jatuhlah airmata bahagia lelaki itu. Lututnya lemas, matanya menatap takjub, jiwanya seperti lolos dari tubuh bersama keharuman mawar yang mengalir tenang, tersujud dia sepenuh jiwa di kaki menhir mawarnya.
Orang-orang: tua-muda, besar-kecil, lelaki-perempuan… hanya bisa ternganga. Tanpa mereka sadari, keharuman mawar yang lembut itu memenuhi jiwa mereka. Ada keteduhan, sebetulnya, namun entah mengapa, beberapa orang malah menolaknya.
Itu sebabnya, lelaki itu terdiam, ketika pada Jumat pagi buta, disaksikannya menhir mawarnya rebah, hancur—sebagian menumpuk di genting rumahnya. Dia pun menceracau lagi, kali ini benar-benar kalap.
Dia tantang semua orang. Dan karena dia sambil mengacung-acungkan parang, polisi pun datang. Dia diringkus diiringi cacian dan kutukan garang: ”Mampus kau penyembah mawar.”
Di luar sana, panas masih tigapuluhan derajat. Angin mati. Bau keringat begitu kecut. Tiba-tiba, semua tetangganya seperti disadarkan bahwa ada yang hilang. Hilang bersama perginya si lelaki yang dibawa oleh polisi dan entah kapan bisa kembali. ; ya, keharuman mawar.
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Yanusa Nugroho
[2] Pernah dimuat di “Kompas” pada 2 November 2014