Annelies Malemma

Karya . Dikliping tanggal 31 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

#SATU
Dari kisah yang ditulis oleh Tuan Pramoedya, banyak orang tahu bagaimana akhirnya aku; Annelies Mellema, putri mendiang Herman Mellema dari gundiknya bernama Sanikem, dikirim ke negeri Belanda, sebagai keputusan pengadilan di Amsterdam. Pengadilan kulit putih itu tak punya urusan dengan Mamaku, apalagi soal haknya atas diriku. Bukan hanya karena dia pribumi, tapi juga ia hanya seorang Nyai, seorang gundik. Pengadilan juga tak punya urusan dengan kenyataan bahwa aku sudah menikah. Tak ada hak Minke atas diriku. Walaupun suamiku seorang Raden Mas yang memiliki hak istimewa di kalangan pribumi, namun pengadilan orang kulit putih itu menganggapku masih di bawah umur. Hak perwalian dan pengasuhan ada pada kakak tiriku, Maurits Mellema. 
ATAS nama hak perwalian itulah mereka mengirimku ke Belanda, tidak ubahnya sebatang tanaman yang dicabut dan harus dipindahkan tempatnya. Aku dipisahkan dari Nyai Ontosoroh Mamaku, dari Minke suamiku; tanah yang jadi tempatku tumbuh dan berlindung. Ketika aku meninggalkan rumah di Wonokromo dengan pengawalan marsose, Minke dan Mama hanya bisa menatapku seakan mereka memandang bagian tubuh mereka yang terlepas dan lenyap pelan-pelan.
Dua orang perempuan Belanda memegangi tubuhku berjalan seperti menuntun seekor sapi. Kubiarkan tangan mereka yang putih bertotol-totol itu menyentuhku, perasaan dan pikiranku seolah tak lagi berada dalam tubuhku. 
Keputusan pengadilan itu sebenarnya tidaklah mengirimku ke Belanda. Tapi mengembalikanku ke dalam ingatan masa laluku yang paling mengerikan, seperti ingatan Mama pada masa lalunya, sewaktu bapaknya, Sastrotomo, menyerahkannya pada Herman Mellema, Papaku, untuk dijadikan gundik. Ditukar dengan jabatan sebagai Juru Bayar di pabrik gula.
#Dua
“MENANTIKAN Rani”, drawing karya  Yana Husnah Rahyana
BEGINILAH aku sekarang, sendirian dengan koper tua ini, (mendekap koper). Ini koper Sanikem sewaktu ia dulu harus meninggalkan rumahnya, diserahkan bapaknya pada Tuan Kuasa Besar, Herman Mellema. Sanikem tak pernah pulang lagi ke masa lalu yang dibenci dan menjadi kesumatnya itu. Selamanya ia menjadi gundik yang bernama Nyai Ontosoroh. Seorang Nyai yang terhomat karena pikirannya yang maju dan pengetahuannya yang luas. Bukan hanya Minke siswa H.B.S., atau pelukis Prancis Jean Marais, atau juga Doktor Martinet dan Tuan Kommer seorang wartawan, bahkan Juffrow Magda Peters guru kesayangan Minke yang pandai itu; adalah penganggum (terketik seperti dalam koran, admin) Mama. Jangan sebut lagi aku anaknya, yang oleh kebenaran seluruh sikap dan perkataannya, aku memilih menjadi pribumi, seperti Mama. 
Lewat kisah yang ditulis oleh Tuan Pramoedya tentang Mama, semua orang tahu bahwa tak ada seseorang yang sangat membenci Nyai Ontosoroh kecuali Robert Mellema, anaknya sendiri, kakakku. Ia sangat memuja Eropa dan membenci pribumi, apalagi pada perempuan gundik seperti Mama. Ia benci kenyataan bahwa dalam tubuhnya mengalir darah seorang gundik.
Menjadi pribumi adalah suatu kesalahan, apalagi menjadi perempuan pribumi, dan menjadi perempuan pribumi yang jadi gundik adalah kesalahan paling besar. Tapi, Mama tak pernah tunduk pada moral umum serupa itu. Bagi Mama, ketidakadilan itu harus dilawan dengan keras,termasuk moral umum yang sering jadi tempat bersembunyi orang munafik dan lemah, seperti Herman Mellema. 
Inilah yang menambah kebencian kakakku, lelaki Eropa yang tak bisa menundukkan seorang gundik. Sampai suatu hari Robert Mellema meluapkan kebenciannya itu pada adik perempuannya yang di matanya adalah seorang Nyai seperti mamanya. Ia memperkosa adik perempuannya ini di ladang, aku, Annelies Mellema. 
Sejak peristiwa itu tak ada lagi kehidupan dalam tubuhku. Ingatan yang membuatku tak bisa menangis atau berteriak. Aku diam menyimpannya, membiarkan ingatan itu terus hidup menggerogoti tubuhku, merogoh jantungku, dan memerasnya. Setiap hari ingatan itu membuatku merasa sekarat. Bukan hanya ketika aku melihat ke arah ladang, tapi juga setiap kali melihat dan bersentuhan dengan orang yang berkulit putih. Kulit yang mengingatkanku pada tangan kekar Robert Mellema, memegang pundakku, membekap mulutku! 
Dan, kau tentu tahu, warna kulit itu ada dalam tubuhku. Aku benci dengan ingatan itu; tapi bagaimana seorang perempuan bisa melawan ingatan buruk yang menempel di tubuhnya?
Lalu banyak orang mengenal namaku, Annelis Mellema, boneka cantik yang lemah, yang sangat disayangi dan dilindungi ibunya yang perkasa Nyai Ontosoroh. Sebagaimana Mama menyayangi dan memanjakanku, begitu pula Mama mendidikku bekerja keras. Termasuk keras melawan ketidakadilan dan penghinaan, siapa pun, termasuk orang-orang Eropa. 
“Bakal jadi apa kau ini kalau aku tidak sanggup bersikap keras. Terhadap siapa saja. Dalam hal ini biar cuma aku yang jadi korban, sudah kurelakan jadi budak belian. Kaulah yang terlalu lemah, Ann. Sekali dalam hidup orang meski menentukan sikap. Kalau tidak, dia tidak akan menjadi apa-apa,” begitu kata Mama. Seandainya saja Mama tahu bahwa kebenciannya pada masa lalunya adalah juga kebencianku pada masa laluku; kebencian Mama pada Eropa yang jahat adalah juga kebencianku, yang bahkan diperbuat oleh anaknya sendiri, kakakku. 
Ingatan Mama pada kehinaan di masa lalu sangatlah menyakitkan, menjadi dendam yang dinyatakannya dengan keberanian melawan siapa atau apapun yang menghina kehormatan dan berlaku tak adil padanya. Apalagi hanya karena ia perempuan pribumi dan gundik. Sedang padaku, kebencian dan dendam itu tak seluruhnya tidak bersarang di luar diriku, tapi ada dalam tubuhku; menempel dan menghisap seperti lintah. 
Karena itulah aku selalu menghindar bertemu dan bersentuhan dengan orang berkulit putih. Ah. Seandainya saja Minke tahu mengapa aku sengaja berada di dalam kamar sewaktu kunjungan Juffrow Magda Peter, kekasihku itu tak akan berpikir bahwa aku cemburu. 
#Tiga
AKU tak hanya mencintai Minke, bahkan sangat mencintainya. Ia pun mencintai dan menyayangiku melebihi apa yang pernah kupikirkan tentang lelaki pribumi. Begitu juga Mama, sangat menyayangi Minke, bukan karena ia siswa H.B.S atau karena dia seorang Raden Mas, anak seorang bupati. Minke pandai, berpikiran maju, berperilaku baik, dan yang paling penting dia sangat menyayangiku. Sebaliknya, kekasih dan suamiku itu teramat memuja dan mengagumi Mama. Bahkan, Nyai Ontosoroh sudah dianggapnya mahaguru yang banyak mengajarinya kesadaran untuk melawan jika haknya sebagai manusia dirampas, mengajari Minke tak terlalu memuja Eropa karena pengetahuan Eropa yang tinggi itu sering berisi keserakahan. 
Cinta, kata seorang pujangga, adalah roh yang menghidupkan. Begitulah Minke yang ciumannya seperti membangunkanku dari kematian. Aku selalu ingin berada dekat Minke karena berjauhan dengannya ingatan yang mengerikan itulah yang selalu mendekatiku, mencekikku. Aku takut kehilangan Minke, takut bahwa ingatan itu membawaku kembali pada kematian.
Suatu kali, setelah kami tak bisa lagi mencegah hasrat tubuh kami berdua, aku tidak bisa lagi mengelak untuk menceritakan peristiwa mengerikan itu pada Minke. Sempat aku berpikir bahwa ia akan meninggalkanku karena kecewa ada lelaki lain yang telah mendahuluinya menjamahku. Namun, seperti yang kurasakan, ia menyayangiku melebihi apa yang kupikirkan tentang lelaki pribumi kebanyakan.

Baca juga:  Pembunuh Terbaik
Kebahagiaanku bertambah ketika kami menikah; inilah puncak dari kelahiranku kembali, menjadi Annelies Mellema, seorang pengantin, istri Minke. Tetapi, Eropa yang serakah tak pernah membiarkan kami kaum pribumi hidup di atas bumi yang lain selain kematian. Inilah yang ditakutkan Mama, gugatan Maurits Mellema yang dikabulkan oleh pengadilan Amsterdam. Tidak cuma menyangkut harta mendiang Papaku yang sebenarnya hasil kerja keras Mama bertahun-tahun. Namun, juga keputusan menyangkut hal perwalianku, aku harus dikirim ke Belanda. Meninggalkan Mama dan Minke, meninggalkan rumahku.
Sejak mendengar keputusan pengadilan itu, aku merasa ada sebuah tangan yang kuat menekan pundakku, tangan yang membekap mulutku, tangan lelaki berkulit putih, tangan Robert Mellema. Lelaki yang memandang dirinya Eropa, yang memandang tubuh adik perempuannya adalah tubuh perempuan pribumi, tubuh gundik. Lelaki yang tubuhnya menindih tubuhku.
Beginilah aku sekarang, sendirian dengan koper tua ini. (Berdiri menenteng koper). Ini koper yang dibawa Sanikem sewaktu ia dulu harus meninggalkan rumahnya, untuk menjadi gundik. Sanikem tak pernah pulang lagi ke masa lalu yang dibencinya. Aku pun tak akan pulang lagi ke Wonokromo, pergi ke dalam masa laluku yang kubenci; masa lalu yang melarangku berteriak dan melawan seperti Nyai Ontosoroh. (Berjalan ke luar). ***
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahda Imran 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 28 Desember 2014