Bunuh Diri

Karya . Dikliping tanggal 16 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SEHABIS menonton tayangan langsung acara blusukan presiden di tv, Gabrul tiba-tiba ingin bunuh diri. Sebagai pengusaha dan politisi, dirinya merasa gagal total gara-gara mendukung capres yang kalah pilpres. Sudah banyak uang yang dihabiskan untuk kampanye capres yang didukungnya. Kini dirinya menanggung banyak utang yang sulit dilunasinya, karena capres yang didukungnya kalah pilpres. Harapannya untuk bisa ikut menikmati uang dari proyek-proyek negara telah hilang.

“Aku akan bunuh diri dengan cara seperti dihukum gantung sampai mati. Bunuh diri yang akan kulakukan harus menghebohkan. Sebelumnya aku akan mengundang wartawan berbagai media. Bagi semua wartawan yang ingin meliput atau menayangkan langsung proses bunuh diri bisa datang langsung di lokasi.”   Gabrul bergumam sambil membayangkan proses bunuh diri yang dilakukannya, yang ditayangkan langsung oleh sejumlah stasiun tv dan diliput pers dalam negeri dan luar negeri.
Gabrul lantas mengingat-ingat sejumlah lokasi yang dianggap cocok untuk melakukan bunuh diri. Sekilas Gabrul teringat pulau kecil bernama Pulau Panjang di wilayah Jepara Jawa Tengah yang pernah dikunjunginya.
Ya, di pulau kecil itu ia akan melakukan bunuh diri, dengan cara gantung diri, di depan sejumlah wartawan yang diundangnya secara khusus. Waktu yang dianggapnya paling cocok untuk bunuh diri adalah siang hari, agar kamera wartawan bisa merekamnya dengan sejelas-jelasnya.
Hanya dirinya dan semua wartawan yang diundangnya yang tahu bahwa dirinya akan bunuh diri. Karena itu, ketika siang itu tayangan langsung bunuh dirinya muncul di tv, banyak kawannya yang terpana. Mereka terkejut, tapi juga iri. Mereka sangat tertarik ingin menirunya: bunuh diri dengan ditayangkan tv.
“Semua yang hidup akan mati. kenapa tidak bunuh diri seperti yang dilakukan Gabrul?” gumam seorang elite partai yang merasa bosan berpolitik dan bahkan bosan hidup lagi. Lantas esoknya bunuh diri seperti yang dilakukan Gabrul: ditayangkan di tv yang mengagetkan banyak orang, tapi juga makin merangsang banyak orang yang sudah bosan hidup.
Ilustrasi Oleh Joko Santoso
Baca juga:  Pria Jahe

Ya, ketika hidup sudah membosankan, bunuh diri adalah pilihan termudah yang bisa dilakukan. Tapi rasanya sayang kalau bunuh diri dilakukan diam-diam. Bunuh diri harus dilakukan dengan disaksikan langsung oleh masyarakat luas lewat layar kaca agar terkesan dramatis.

Esoknya, lagi-lagi ada kasus bunuh diri yang ditayangkan langsung di tv dan diliput berbagai insan media. Polisi sebagai pelindung masyarakat selalu gagal mencegah kasus bunuh diri yang sudah direncanakan oleh pelakunya. Polisi mengaku kesulitan mencegah kasus bunuh diri karena pelakunya bisa merahasiakannya dan juga menganggap bunuh diri sebagai hak asasi manusia.
Kasus bunuh diri beruntun yang ditayangkan langsung sejumlah stasiun tv menjadi trending topic di berbagai sosial media, juga menjadi tema talk show yang digelar sejumlah stasiun tv dalam negeri dan luar negeri.
“Bunuh diri sudah menjadi trending topic, cepat atau lambat bisa berlangsung massal di negeri ini, selama rakyat dibiarkan memilih langsung pemimpinnya.” Seorang tokoh oposisi berkomentar di acara talk show yang ditayangkan tv.
“Bunuh diri beruntun jangan dikaitkan dengan sistem politik. Mungkin kebetulan saja pelaku-pelaku bunuh diri dikenal sebagai elite politik. Saya kira kasus bunuh diri yang terjadi secara beruntun berkaitan dengan kejenuhan hidup di negeri ini. Karena itu, pemerintah baru perlu menggelar konser-konser musik dan panggung-panggung hiburan bagi banyak pihak untuk mengatasi kejenuhan hidup.” Seorang budayawan berkomentar juga dalam acara talk show itu.
Semua koran dan majalah memuat gambar-gambar proses bunuh diri di halaman pertamanya. Kolom opininya penuh dengan artikel bertema bunuh diri. Halaman-halaman lain dipenuhi ucapan bela sungkawa dari sanak kerabat pelaku-pelaku bunuh diri.
Di pasar, di kantor-kantor, di ruang-ruang keluarga, di mana saja ada kerumunan orang, diskusi membahas masalah bunuh diri berlangsung, setiap hari, karena tak ada hari tanpa kasus bunuh diri yang ditayangkan langsung tv.
Menurut survey, tayangan langsung bunuh diri menempati rating tertinggi. Buktinya bisa dilihat dari banyaknya iklan yang mendukung tayangan langsung tersebut.
Di sosial media, kasus bunuh diri terus menerus menjadi trending topic dunia. Anehnya, tak ada yang mem-bully pelaku bunuh diri. Sebaliknya, semua pemilik akun di sosial media memuji-muji pelaku bunuh diri sebagaimana layaknya pahlawan bangsa, karena logikanya pelaku bunuh diri nyata-nyata berani mati.
“Sekarang dunia makin sesak, maka selayaknya mereka yang berani mati dipuji-puji.” Demikian sebuah status di facebook.
“Ya, akur, kita patut kasih jempol seratus bagi mereka yang betul-betul berani mati, nggak omong doang!” Demikian salah satu komentar atas status tersebut. “Semua yang bunuh diri pantas menerima karangan bunga,” komentar lainnya.
Polisi dibantu militer bersama pemuka agama dan kaum intelektual mencoba mencegah kasus bunuh diri dengan berbagai cara persuasif. Tapi karena jumlah mereka tak sebanding dengan jumlah penduduk maka tetap saja setiap hari ada kasus bunuh diri. Sepertinya semakin banyak orang berlomba-lomba bunuh diri yang ditayangkan langsung di tv dan diliput sejumlah awak media. Sepertinya semakin banyak orang bangga dengan berani mati bunuh diri yang bisa disaksikan langsung oleh masyarakat luas.
Presiden yang sedang blusukan di luar Jawa segera merespons kasus bunuh beruntun dan sepertinya sudah dianggap rutin itu dengan menggelar konferensi pers.
“Bagus, bagus, bagus. Lebih baik mati bunuh diri daripada mati berpredikat sebagai koruptor. Semoga semakin banyak yang bunuh diri untuk menghindari jeratan hukum atas kasus korupsi.” Presiden berseloroh dengan senyuman ceria, di depan sejumlah awak media. [] -g
Grobogan Purwodadi,
Pondok Kreatif, 2014.

Rujukan

[1] Disalin dari karya Manaf Maulana

[2] Tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat”  pada 14 Desember 2014