Pantai Cemara

Karya . Dikliping tanggal 30 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
SETIAP datang ke pantai itu, Dalena selalu ingat dua hal: tentang Marlam dan cerita asal-usul pohon cemara yang tumbuh di sepanjang pinggir bentangan pantai. Tidak diketahui siapa dulu yang telah menanam pohon-pohon cemara itu. Bahkan warga di sekitar pantai tidak ada yang merasa menanam apalagi merawatnya.
“Sejak saya masih kecil, sudah ada pohon cemara di situ,” kata orang-orang tua.
Pohon cemara itu tampak seperti pagar kokoh yang melindungi pantai. Pucuknya yang tinggi menjulang seperti hendak menyentuh langit. Para nelayan sebelum berangkat melaut, biasanya menyempatkan diri bersantai di bawah pohon cemara itu sambil menikmati kopi panas yang mereka bawa dari rumah.
Meski tak diketahui siapa dulu yang telah menanam pohon-pohon cemara itu, Dalena terkesima dengan cerita yang pernah ia dengar dari Marlam. Konon, kata Marlam, seorang pangeran dari Kerajaan Gurang-Garing pernah memberikan bibit cemara pada seorang gadis desa, anak seorang nelayan yang tinggal di dekat pantai.
“Kerajaan Gurang-Garing?” tanya Dalena waktu itu.
“Ya”
“Aku tak pernah tahu ada nama kerajaan itu.”
“Namanya juga cerita.”
“Untuk apa sang pangeran memberikan bibit pohon cemara itu?”
“Entahlah.”
“Apa mungkin semacam tanda cinta?”
“Mungkin saja.”
“Gadis itu pasti cantik.”
“Aku rasa lebih cantik kamu, Dalena.”
“Ah, gombal lagi.”
Keduanya tersenyum. Di langit, awan putih berarak pelan dan seakan menjadi saksi bagi kebahagiaan Dalena yang selalu menyempatkan diri menemui Marlam di pantai itu kala senja. Baik Marlam maupun Dalena, mereka tak pernah melupakan hari Minggu. Ya, karena hanya pada hari itulah mereka memiliki waktu untuk berjumpa. Berjalan beriringan di tepi pantai dengan kaki telanjang, membiarkan ombak menjilati kaki-kaki mereka yang legam. Di pantai itu Marlam dan Dalena bertemu. Marlam yang berasal dari pulau seberang jatuh cinta kepada Dalena, gadis yang selalu dilihatnya mengumpulkan ranting-ranting cemara saat dia turun dari perahunya.
“Bagaimana dengan mengajarmu?” tanya Marlam pada Dalena yang sebulan lalu baru saja diterima mengajar di sekolah dasar yang letaknya tak jauh dari pantai tempat mereka sering bertemu.
“Tidak ada masalah. Sekarang aku punya cara baru mengajar mereka,” jawab Dalena.
“Oya, seperti apa?”
Dalena menyibak rambutnya yang tiba-tiba menutupi wajah setelah diterpa angin pantai yang ombaknya makin pasang menjelang senja.
“Bila waktu istirahat tiba, aku ajak murid-muridku kemari untuk bermain bersama. Macam-macam permainan kami lakukan di sini. Bahkan kuceritakan juga pada mereka asal-usul pohon cemara yang ada di sini. Seperti yang kau ceritakan dulu.”
“Astaga!” seru Marlam
“Kenapa?”
“Mereka belum waktunya dengar cerita itu.”
“Tapi mereka suka. Bahkan dengan begitu mereka makin dekat denganku.”
Marlam diam. Tempias matahari senja sinarnya jatuh di laut. Ujung ombak jadi terlihat kuning. Buih pun jadi tampak kuning. Dengan kaki telanjang. Dalena terus berjalan di samping Marlam yang sesekali bercerita perihal ombak besar yang ia hadapi saat pergi menangkap ikan. Ada rasa bangga di hati Dalena mendengar semua cerita Marlam itu. Ia semakin kagum padanya yang menurutnya begitu perkasa.
“Kau sendiri, kapan berangkat melaut lagi?” tanya Dalena
“Lusa.”
“Ah!”
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, waktu kita bertemu rasanya terlalu singkat.”
Marlam tersenyum. Dalena tersenyum. Mereka kemudian saling menatap. Di bawah senja dan desau angin pantai, mereka seakan enggan beranjak pulang. Suara camar yang sesekali melintas di atas kepala mereka berdua seperti makin mengobarkan perasaan dua insan yang tak pernah bisa diurai oleh berlalunya sejarah demi sejarah.
***
LIHAT, perahu siapa itu yang datang,” teriak seorang anak sambil menunjuk ke arah utara.
Anak-anak lain yang sejak tadi bermain pasir ikut berdiri. Mata mereka tertuju pada sebuah perahu yang perlahan merapat ke tepi pantai. Perahu bercat kusam itu bergerak pelan dan seakan tak berdaya melawan ombak yang sebenarnya tidak begitu besar.
“Itu perahu Kang Marlam, Bu Dalena,” teriak mereka.
“Ya, aku tahu.”
“Pasti ikan jurungnya banyak.”
“Mudah-mudahan,” jawab Dalena
“Kita jadi pesta ikan bakar, Bu?”
Dalena tersenyum. Hari ini sekolah libur. Sejak pagi-pagi sekali Dalena mengajak murid-muridnya bermain di pantai. Menikmati hari Minggu bersama-sama sambil menunggu datangnya Marlam. Hari itu juga ia menjanjikan untuk bakar ikan di pantai sebagai syukuran karena sekolah tempatnya mengajar  mendapatkan juara pertama lomba gerak jalan se kecamatan.
“Tentu saja, anak-anak. Kalian boleh pilih ikan-ikannya sesuka hati kalian,” jawab Dalena.
Suara mesin perahu makin terdengar jelas. Asap hitam terlihat mengepul dari cerobong mesin dan sebentar kemudian lenyap ditelan angin laut. Perlahan-lahan Dalena berjalan ke arah mana perahu itu hendak merapat. Pantai itu memang tanpa karang. Jadi semua perahu nelayan bebas mau merapat di amna saja. Lautnya yang tidak terlalu dalam serta ombaknya yang selalu tenang membuat anak-anak bebas berenang.
“Perahunya makin dekat, Bu. Ayo kita sambut,” teriak anak-anak itu.
“Sidik, cepat bawa ember itu,” perintah Dalena. “Dan kau, Tahir. Kumpulkan ranting-ranting cemara yang sudah kering. Apa kalian sudah bawa korek apinya?”
“Sudah, Bu.”
“Bagus. Sekarang bersiaplah anak-anak. Pesta akan segera dimulai.”
Anak-anak bersorak kegirangan. Mereka melompat-lompat sambil berlari ke arah perahu yang makin mendekati bibir pantai. Begitupun halnya dengan Dalena yang sudah tidak sabar menyambut kedatangan Marlam. Sinar matahari pagi begitu cerah di ufuk timur. Secerah perasaan Dalena yang selalu tidak sabar menunggu Marlam setiap hari minggu di tepi pantai.
Semilir angin pagi berhembus seiring mesin perahu yang dimatikan. Seorang rekan Marlam melompat turun dari dalam perahu dan berjalan ke pinggir pantai sambil menarik tali jangkar. Wajahnya begitu kusut dan terlihat masih ada bekas-bekas kelelahan yang membias di matanya. Dalena terus melihat ke arah perahu. Beberapa muridnya sebagian sudah ada yang naik ke atas perahu itu. Namun Marlam yang ditunggunya tak kunjung turun.
“Buuuu….!!”
Teriakan murid-murid itu membuat Dalena tersentak. Apalagi mereka melompat dari atas perahu dan berenang ke pinggir pantai dengan wajah seperti orang ketakutan.
“Ada apa…!?”
Belum sempat anak-anak itu menjawab pertanyaannya, lelaki yang sudah selesai menancapkan jangkar perahunya itu mendekati Dalena dan menceritakan soal ombak besar yang dia hadapi saat melaut bersama Marlam. Lelaki itu juga berkata bahwa tak ada ikan yang berhasil ditangkap. Sebaliknya, dia malah kehilangan Marlam yang terlempar dari atas perahu dan baru ditemukannya beberapa jam dalam keadaan sudah tak lagi bernyawa.
“Kami membawa jasadnya. Kami akan menguburnya di dekat pantai ini, tempat yang selalu ia kagumi.” (k)

Baca juga:  Lima Kisah Mimpi Kanak-kanak
Lombang, 2014


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Salman Rusydie Anwar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 28 Desember 2014