Berpaling Dari Almaut

Karya . Dikliping tanggal 6 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
KETIKA Almaut menyaru, kamu sedang di kafe bandara Changi. Pertemuan dengan kolega tadi telah menghasilkan penutup tahun yang baik, bisnis migas lancar meski agak tersasar oleh harga minyak yang turun dan kewaspadaan pemerintah, politik yang kamu danai juga aman, dan beberapa perempuan masih membuatmu nyaman meniup terompet di kejauhan. Kamu tersenyum, dan akan terus begitu, seandainya Kirun, pengawal setia, tidak membawa kabar penerbangan ditunda besok pagi, sebab cuaca berbahaya. Benar, setelahnya muncul pengumuman resmi.
Tidak masalah, kamu kembali ke hotel, menunda beberapa agenda di tanah air dan punya sedikit waktu  untuk merenungi 58 tahun diri sendiri. Duduk di restoran hotel, memandangi pucuk gedung, kamu memandangi hujan malam yang diwarnai cahaya dan teringat dirimu sendiri waktu hujan-hujanan di masa kecil pada tanah becek, ketika jalan sepayung berdua dengan istri, lalu ingat anakmu. “Ayah kenapa hujan jatuh untuk semua orang? Kenapa tidak membedakan orang baik dan orang jahat?”
Dia sudah besar, tapi entah sedang apa sekarang. Pertengkaran dua tahun lalu, membuat hubungan kalian renggang. Dia tidak paham bahwa apa yang kamu lakukan adalah untuk masa depannya. Dia sudah menikah. Kamu ingin melihat cucu. Istrimu? Juga jarang bertemu. Entahlah, batinmu, kadang terlalu kosong semua gemerlap ini, terlalu sepi. Mendadak matamu basah dan bersama itu, muncul Almaut. Ia menawarkan tisu, duduk di depanmu, dan tanpa basa-basi memperkenalkan diri.
Kamu tidak percaya. Namun, etika tidak membuatmu curiga berlebihan. Mungkin ini acara lelucon televisi, batinmu. Kamu lihat sekeliling, tidak ada yang mencurigakan, hanya latar resto dan denting piring dari kejauhan.
Ilustrasi Oleh Joko Santoso
Almaut tertawa melihat sikapmu. Dia berkata bahwa ini bukan lelucon televisi. Kamu nahan napas, astaga, dia tahu isi pikiranmu. Lalu? Tatapanmu ingin tahu. Almaut tersenyum dan berkata sejak semula dia sudah menjelaskan, sebagaimana hidup, kematian juga kepastian. Hanya saja, hiduplah yang masih memiliki kebebasan menentukan diri, bukan kematian.
“Dan sangat mudah bagi kami untuk menjelma tanda-tanda, apa saja,” kata Almaut. Seperti kursi rapuh, piring yang melukai, lantai licin, hujan badai, awan berisiko petir, angin perubuh, air pembanjir, tanah longsor, atau apapun, juga menjadi manusia, baik yang dikenal atau tidak, seperti ini. Almaut menunjuk dirinya sendiri. “Apa buktinya?” tanyamu dengan niat ingin mendebat.
“Saya diperkenankan datang bukan untuk membuktikan, tetapi mengingatkan. Saya sudah mengirimkan pesan pendek, jangan lupa dibaca.” Almaut mencondong diri, menatap matamu, mengunci, hingga kamu melihat pusaran cahaya yang berpilin di sana, menghisap detak waktu dalam diirmu, hingga tercerabut. Kesadaran jadi mengambang di arus deras asing. Sel-sel tubuhmu menggapai ruang kosong. Napasmu sesak. tertahan. Seperti penyelam yang celaka dalam dingin laut cahaya. Sakitnya membuat syarafmu minta ampun, jiwamu menjerit.
Kesal karena merasa disakiti, kamu mulai berkata kasar, memaki, berdiri dan mengacung-asung Almaut sebagai tukang hipnotis, perampok model baru, dan menyuruh satpam hotel dan pekerja resto mengusirnya jauh-jauh. Kamu marah, keringatmu memasah, Jantungmu resah. Kamu kembali duduk, mual. Orang-orang memandang dari kejauhan. Mereka tidak melihat siapapun di depanmu, kecuali kursi kosong dan latar hujan di luar jendela yang diwarnai cahaya lampu gedung dari kota Singapura.
Kirun datang tergopoh, terlambat. Ia membawamu ke kamar. Di sana, kamu ceritakan. Kirun berkata bahwa mungkin ini penipuan model baru, mereka menyadap nomor, jadi lebih baik sementara nonaktifkan telepon genggam, agar pesan penipuan dimaksud tidak melanjutkan jebakan. Tetapi, katamu, aku merasa sangat gelisah. Kirun menduga tadi itu penghipnotis dengan ilmu hitam, jadi, lebih baik tidak pulang ke tanah air, tapi bersihkan serangan ilmu itu di Tanah Suci. Panik dan percaya, kamu meminta Kirun mengurus itu semua.
Esoknya bersama biro profesional eksklusif, kamu sudah berada di dalam pesawat menuju Tanah Suci, namun teror mata cahaya itu terus hadir. Bahkan ketika memandang awan di luar jendela pesawat, kamu membayangkan Almaut yang menyamar, lewat, bergumpal. Kelegaanmu baru datang saat pesawat mendarat di bandara King Abdulazis. Kamu sedang istirahat di hotel terdekat, sebelum seseorang mengetuk. Ketika membuka, tidak percaya. “Halo sudah datang, ya?”
Bagaimana ada di sini? Kamu curiga, pergi! Baik, kata Almaut, kamu lupa baca pesan pendekku, ya? Tidak peduli! Kamu tutup pintu, penasaran cekatan hidupkan kartu yang dimatikan, dan terbaca pesan pendek bahwa Almaut akan menemuimu akhir Desember, di Tanah Suci, mengetuk kamar hotelmu, dan tertulis kamu akan terlambat membaca pesan pendek, membaca kesempatan dari Almaut. Darahmu jadi naik, panik. Jantung sakit, sengit. Dan di luar pintu, Almaut dengan sabar menunggu akhir. [] -g
Solo, 2014


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eko Triono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 4 Januari 2015