Hari Terakhir Ah Xiang

Karya . Dikliping tanggal 26 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
Seusai menderetkan delapan piring tart susu di atas meja panjang ruang tamu, Ah Xiang kembali ke kamarnya, berbaring. Kendati merasa bugar—ia baru mandi setelah berbulan-bulan tak membasuh tubuhnya—ia yakin bahwa hari itu ajalnya akan tiba sesuai perkataan Li Hwa, sepupunya yang mampu meramal hari kematian seseorang itu. 

“Tanggal empat bulan sembilan wa bakal mati,” kata Ah Xiang. Ia menelepon kakak dan delapan orang adiknya satu demi satu sehari setelah ia mendapati tanggal kematiannya. Pemberitahuan itu pun ia maksudkan sebagai undangan agar saudara-saudaranya datang mengunjunginya pada tanggal tersebut.

“Daripada le ngomong sembarangan begitu lebih baik le mandi deh! Kalau le cari perhatian dengan cara begitu, makin tak ada yang mau dekat-dekat sama le,” kata Ah Seh, adik perempuan Ah Xiang.

Lebih banyak saudara Ah Xiang yang tak mengindahkan perkataan perkataannya itu. Sedangkan Ah Xiang percaya betul dengan ramalan Li Hwa karena perempuan paruh baya itu pernah meramal dengan jitu hari kematian salah seorang sahabat dekat Ah Xiang. Saudara-saudara Ah Xiag yang mendengar cerita itu beranggapan bahwa akibat tebakan Li Hwa hanyalah kebetulan. Pikir mereka waktu itu, orang bodoh saja pasti bisa menebak hari kematian seseorang yang sudah sekarat!
Di samping kepercayaannya terhadap ramalan Li Hwa, Ah Xiang memang berharap untuk segera mati, tetapi ia terlalu takut untuk bunuh diri. Ia pernah mendengar bahwa Giam Lo Ong, dewa penguasa akhirat, tak akan segan-segan menjebloskan orang-orang yang mati bunuh diri ke dalam neraka.

Seumur hidup Ah Xiang membujang. Satu-satunya perempuan yang pernah ditidurinya tidak juga dinikahinya. Perempuan itu adalah Was, pembantu rumah tangga yag dulu pernah merawat ibu Ah Xiang. Setelah ibu Ah Xiang meninggal dua puluh tahun lalu, Was kembali ke kampungnya. Was pernah membujuk Ah Xiang agar memperistrinya, namun kedua orangtua Ah Xiang tak sudi menjadikan pembantu rumah tangga mereka sebagai pembantu. Dan akhirnya, Was pun menyadari bahwa warisan dari kedua orangtua Ah Xiang tak akan menjamin kemakmuran hidupnya. Apalagi Ah Xiag adalah penganggur. Ia hidup hanya dengan pemberian adiknya Ah Li, yang sempat tinggal bersamanya bertahun-tahun dan akhirnya pergi meninggalkan dia untuk bekerja di Singapura. Hingga kini Ah Li masih mengiriminya uang dan sesekali uang itu digunakan Ah Xiang untuk taruhan main catur dengan tukang-tukang yang memperbaiki rumah tetangga seberang.
Sejak kepergian Was. Ah Xiang menjadi sosok yang muram. Lebih-lebih setelah Ah Li pergi, ia jadi hidup sebatang kara. Namun, kesendirian itu masih bisa terobati paling tidak sekali dalam setahun. Perayaan Imlek dengan keluarga besar beberapa kali masih terus diadakan di rumahnya, begitu pula sangjit—upacara seserahan—jika ada kemenakan perempuan Ah Xiang yang hendak menikah. Kedua acara tersebut diadakan di tempat tinggal Ah Xiang karena itulah rumah induk keluarga. Dengan adanya acara-acara itu, selalu ada yang Ah Xiang nantikan setiap tahun. Dan Ah Xiang akan sibuk membikin tart susu andalannya untuk memeriahkan acara-acara itu. Bagi ia, keberadaan tart susu wajib dalam setiap perayaan keluarga. Tart susu adalah sebuah warisan luhur. Rasa manisnya adalah pembawa kebahagiaan. Dan kebahagiaan adalah pembawa keberuntungan.
“Isi tart susu harus lembut, lembut sampai terasa meleleh ketika ia masuk ke dalam mulut,” kata ibu Ah Xiang ketika beliau mengajari Ah Xiang membikin tart susu pertama kali. “Dan le mesti ingat untuk selalu pakai telur ayam kampung, karena warnanya lebih kuning, rasanya lebih lembut, dan baunya lebih tidak amis.”
Jika Ah Xiang membayangkan dirinya memanjat pohon keluarganya hingga ke zaman leluhurnya di Kengtang Timur, ia akan menemui nenek moyangnya, si pembuat tart susu pertama yang menerima resep kue tersebut dari Chàu-Kun, dewa pengusaha dapur, melalui mimpi. Ah Xiang tak pernah bisa menerima jika ada yang mengatakan bahwa tart susu hanyalah modifikasi orang-orang Hong Kong terhadap pai susu Portugis. Ah Xiang tak akan berpihak pada kemungkinan sejarah yang mengancam keluhuran resepnya. Dan apa pula guna menentang keyakinannya itu?
“Orang bule mana bisa bikin kue enak!” kata Ah Xiang. Padahal ia tak pernah mencoba kue-kue Eropa.

BEBERAPA tahun setelah masa-masa suram Ah Xiang, tart susu buatannya pun tak lagi hadir dalam acara-acara keluarga. Ia kehilangan semangat untuk membuatnya. Perayaan Imlek dan sangjit tak lagi diadakan di rumahnya, tetapi di rumah baru Ah Seh di daerah Kebon Jeruk, yang memiliki lahan parkir dan ruang keluarga yang lebih luas. Istilah “rumah induk”, yang berarti rumah generasi pertama keluarga Ah Xiang yang tinggal di Jakarta, pun tak lagi diindahkan. Mulanya Ah Xiang masih mau menghadiri acara-acara di rumah adiknya itu. Ia pergi ke sana dengan menumpang mobil kemenakannya. Akan tetapi, tahun demi tahun ia semakin merasa terasing di tengah keriuhan keluarga besarnya sendiri. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk tak lagi bergabung dalam acara-acara keluarganya. Ia lebih memilih untuk menyendiri sepanjang tahun di rumahnya yang hampir tak pernah dikunjungi siapa pun. Ia hanya keluar dari rumahnya untuk membayar air, listrik, dan telepon, atau membeli makanan di warung. Selebihnya ia lebih sering duduk di kursi teras sambil memandangi pohon jeruk.

“Kenapa belum ada yang datang juga?” pikir Ah Xiang.
Ah Xiang juga memutuskan untuk tak lagi mandi dan membersihkan rumah. Pikir ia, untuk apa merawat sesuatu yang tak lagi dihiraukan? Bau kecut tubuhnya pun makin pekat dan makin menyebar. Tak mungkin ada yang tahan berada dekat-dekat dengannya. Saudara-saudaranya pun terjebak di antara rasa kasihan dan rasa jijik, namun nampaknya rasa yang kedua jauh lebih kuat. Mereka menganggap perbuatan Ah Xiang sebagai aksi unjuk rasa untuk mencari perhatian. Dan hasilnya malah sebaliknya, ia semakin tak diperhatikan
Jika Ah Xiang mendengar deru mesin mobil yang mendekati rumahnya, seringkali ia akan berpikir bahwa itu adalah suara mobil milik salah satu saudaranya yang hendak berkunjung. Namun, dugaannya itu hampir selalu salah. Dan tiap kali itu terjadi, ia akan mengembuskan napas panjang sambil menatapi mobil yang menderu itu melintas di depan rumahnya.
Pada suatu petang, harapan Ah Xiang bangkit ketika ia mendengar Li Hwa yang memanggilnya di depan pagar rumah. Padahal, sepupunya itu datang semata-mata untuk melihat keadaannya. Tentu saja Li Hwa tak semudah itu memberi tahu tanggal kematian seseorang. Ia lebih sering menyimpan pengetahuannya itu di dalam hati. Untuk itu ia perlu dipaksa selama berjam-jam.
“Tak pantas rasanya wa kasih tahu soal itu ke le!” kata Li Hwa.
“Kalau le dikasih kemampuan buat buka rahasia langit, itu artinya le memang punya hak untuk itu!” kata Ah Xiang.
Meski kemampuannya terdengar begitu luar biasa, cara Li Hwa menyibak hari kematian jauh tak memerlukan tata upacara: ia hanya perlu memejamkan kedua matanya dalam waktu yang agak lama. Menurut penjelasannya, dengan cara itu ia dapat membiarkan kesadarannya berkelana ke langit, memasuki istana Giam Lo Ong yang berdiri di atas kepulan awan-awan, melintasi lorong panjang yang di kedua sisi dindingnya dipenuhi rak berisi gulungan-gulungan perkamen, dan kemudian berhenti di sebuah ruangan kecil berlantai kayu, berdinding lukisan naga dan burung hong, dengan sejilid kitab bersampul emas di atas meja. Dalam kitab itu, Li Hwa dapat mencari nama orang yang ia ingin ketahui tanggal kematiannya. Halaman-halaman kitab itu akan berbalik sendiri sesuai keinginan Li Hwa.
Ah Xiang merasa tak perlu bertanya-tnya bagaimana ia akan mati. Ia pikir ia akan mati karena kondisi tubuhnya yang sudah tak sehat lagi. Seringkali ia muntah tanpa sebab, napasnya tiba-tiba jadi pendek-pendek, dan sekujur tubuhnya lemas total sehabis makan. Namun tak sekali pun ia pernah ke dokter untuk memeriksakan keadaannya. 
“Dua bulan lagi wa bakal mati!” kata Ah Xiang ketika menelepon Ah Li.
“Koh, le lebih baik jangan percaya deh sama si Li Hwa itu! Omongan dia cuma bullshit! Kalau dia memang jago ramal, kenapa hidupnya susah sampai sekarang?” kata Ah Li.
“Bulsit itu apa, Li?”
SEJAK memperoleh tanggal kematiannya, Ah Xiang mulai berpikir untuk membuat sebuah perayaan sederhana. Perayaan Imlek berulang terus dari tahun ke tahun, sedangkan kematian adalah hal yang tak berulang. Kematian semestinya lebih pantas dirayakan, pikir Ah Xiang. Untuk itu ia mulai menyiapkan adonan tart susu sejak beberapa sebelum tanggal kematiannya yang telah diramalkan itu. Dalam sehari ia menyiapkan delapan piring tart (delapan, ia pikir, adalah angka keberuntungan). Setelah selesai memanggangnya, dan menunggu tart-tart itu mengempis dan mendingin, ia menyimpannya di dalam kulkas. Ketika harinya tiba, ia tinggal menyajikan kue-kue tart itu di ruang tamu. Ia juga telah memotong tiap tart menjadi delapan bagian.
“Ah Li dan Ah San pasti yang paling kangen sama tart susu wa,” ujar Ah Xiang seraya membelah-belah kue itu. Dalam benaknya ia mengingat-ingat setiap anggota keluarganya besarnya, mengira-ngira siapa saja yang bakal datang ke pemakamannya. Ia berharap semua datang. Namun ia juga bertanya-tanya apakah mereka bakal menangisi dan mendoakannya. Atau jangan-jangan mereka sekadar datang untuk kesopanan. Bukankah kesopanan sudah menjadi alasan berjuta-juta orang untuk menghadiri bermacam acara di dunia ini?
Akankah mereka datang hari ini?
Lama-kelamaan, Ah Xiang semakin merasa cemas. Ia tak lagi tahan berbaring di tempat tidurnya, menatapi dinding-dinding kamarnya yang kuning kusam dan kalender tahun 1995 bergambar perempuan bule berbikini yang tak pernah dicabutnya sejak tahun yang tercetak pada kalender itu. Ia mulai bertanya-tanya, kenapa sudah sesiang ini saudara-saudaranya belum juga datang untuk menemani saat-saat terakhirnya?
Bahkan Li Hwa pun tak memberi kabar.
Ah Xiang bangun dari tempat tidurnya, berjalan ke arah telepon untuk mengecek apakah kabelnya putus atau digerogoti tikus. Ah Xiang berniat menelepon tetapi ragu. Ia lalu memandang ke arah deretan tart susu buatannya di meja panjang ruang tamu. Ia termangu sebentar, sebelum klakson mobil dari arah luar mengagetkannya dan membuat ia berlari ke halaman rumahnya dengan penuh harap.

Baca juga:  Tarom
“Siang, ini rumah keluarga besar Pasaribu, bukan?”
“Sa… salah rumah!” Ah Xiang menggeleng.
Ah Xiang kemudian kembali ke kamar tidurnya. Ia berjalan lunglai. Ia berbaring lagi selama dua jam. Ia mencoba membayangkan bilamana keluarga besarnya telah datang dan memenuhi rumahnya itu, menikmati perayaan sederhana yang digelarnya sebelum upacara pemakamannya.
Pukul empat sore, Ah Xiang keluar lagi dari kamarnya. Tak ada tanda-tanda kedatangan siapa pun. Ia lalu berjalan ke ruang tamu dan mengambil sepotong tart susu dengan tangannya. Ia makan sambil duduk di kursi teras sambil memandangi jeruk-jeruk yang mengkal dan langit yang lama-lama menguning. Sinar matahari menimpa wajahnya.
“Ah Xiang, Ah Xiang. Kamu jadi anak pertama yang menyusul Mama.”
Beberapa saat setelah mengunyah potongan tart susu itu, Ah Xiang tiba-tiba mengantuk. Ia tak kembali ke kamarnya untuk berbaring. Ia membiarkan dirinya tertidur sambil duduk. Tak ada udara yang bergerak saat itu, tetapi ia merasa sejuk. Saat terbangun, ia merasa tubuhnya begitu ringan, seolah-olah ada beban yang terangkat dari dalam rongga dadanya. Mendadak ia terkekeh. Ia terkekeh begitu lama hingga air matanya tumpah, tanpa sebab yang bisa ia jelaskan.
Ia tak lagi mengharapkan apa-apa, tak juga mengharapkan kedatangan siapa pun.
Malam hampir tiba dan Ah Xiang beranjak dari teras. Ia menoleh ke belakang dan melihat dirinya terkulai. Kedua matanya terpejam seperti tengah tertidur pulas. Ah Xiang mengusap wajahnya dan pergi meninggalkan tubuhnya.
Ia masih belum tahu hendak ke mana. 
Kuta Selatan, 29 Desember 2014
Leopold A. Surya Indrawan lahir di Jakarta, 11 November 1989. Lulusan Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Leopold A. Surya Indrawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 25 Januari 2015