Lintah di Kepala Ayah

Karya . Dikliping tanggal 20 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
AYAH memelihara seekor lintah di kepalanya. Lintah itu tersembunyi di balik kopiah yang selalu dipakai Ayah setiap keluar rumah. Bila Ayah membuka kopiah, maka terlihatlah makhluk bemandikan lendir sepekat getah.

MULANYA, Ibu dan Ayah selalu marah setiap aku bertanya tentang lintah. Ibu akan menjewer telingaku. Dan Ayah langsung menendangku. Terakhir, Ayah Ibu mengancamku dengan sebilah pisau. Bila aku bertanya lagi, mereka tidak segan-segan menghabisi nyawaku. Aku pun berhenti bertanya tentang lintah.

Setelah aku menuntaskan kuliah tahun pertama di Universitas Paris, Sorbonne, Ayah dan Ibu baru memberikan jawaban tentang lintah yang telah lama kutunggu. Waktu itu, aku sedang menghabiskan liburan musim panas di tanah air. Untuk merayakan kepulanganku, kami menyantap masakan mewah sambil mendengarkan musik klasik yang mengalun merdu dari gramafon tua peninggalan pemerintah kolonial Belanda.

“Lintah itu harus disembunyikan di balik kopiah ayahmu. Jika tidak, orang-orang akan muntah melihatnya dan ayahmu dicopot dari jabatannya,” tutur Ibu saat kami. “Lagi pula, bukan hanya ayahmu sendiri yang memelihara lintah,” ujar Ibu menambahkan.

“Setelah lulus kuliah, kau sebaiknya memakai kopiah!” pinta Ayah dengan tegas.

“Untuk apa?” tanyaku langsung.

“Karena kau akan memelihara lintah di atas kepalamu juga.”

“Aku tidak akan memakai kopiah untuk menyimpan lintah!” bantahku. “Sebab, selama ini, aku hanya menggunakan kopiah untuk ibadah.”

“Kalau mau kaya, kau harus memelihara lintah!” seru Ayah sambil melepaskan kopiahnya dan menaruhnya di permukaan meja makan. Maka, terlihatlah lintah yang dipelihara ayah. Menggelinjang-gelinjang di sela-sela rambut Ayah yang ikal dan mulai memuntih. Lintah itu membelah diri ribuan kali setiap detik. Hingga menjelma ular-ular kecil yang tidak terbilang jumlahnya.

Ilustrasi “CLOWN Country”, oleh Ismail Kusmayadi

Diiringi alunan Mozart: Haffnor No. 35 in D Major, ular-ular kecil tersebut menari-nari binal di kepala ayah. Membuat ayah terlihat bagaikan Medusa. Alih-alih jijik atau menjerit-jerit ketakutan, Ibu melemparkan sepotong chicken cordon bleu ke atas kepala Ayah. Jutaaan ular kecil langsung menyambar, berebutan melahap potongan daging itu, dan menghabiskan dalam sekejap mata.

Baca juga:  Borobudur dan Hujan - Dik, Aku Sedang di Malioboro - Mata Senja - Aybel Janan
Salah satu ular kecil jelmaan lintah, menmanjangkan diri dan menuruni bahu Ayah, lalu melata di permukaan meja makan. Sebelum aku bereaksi, ular kecil itu berenang-renang dalam semangkuk pumpkin dan gorgorzola soup. Membuatku mual. Sebuah dinamit seolah meledak dalam lambungku. Vitello alla provenzale yang tengah kusantap, terasa bagaikan aspal cair. Ibu dan Ayah tertawa-tawa menatapku. Mereka seolah menyaksikan komedi yang paling lucu di dunia. Mata Ibu sampai berkaca-kaca. Tubuh Ayah berguncang-gncang. Membuat ular-ular kecil di atas kepalanya semakin liar bergoyang. Setelah derai tawa tuntas, mereka kembali makan dengan lahap sambil memberi makan ular-ular kecil rakus jelmaan lintah.

Orang-orang mengenal Ayah sebagai kartunis papan atas. Ayah dipuja-puja dan menjadi buah bibir di mana-mana. Karya Ayah mendunia. Jejak langkah Ayah dimuat dalam buku-buku biografi tokoh terkenal. Ayah digadang-gadang sebagai tokoh kebebasan berekspresi. Layaknya selebriti, kamera wartawan selalu mengikuti setiap langkah Ayah. Sayangnya, mereka tidak pernah melihat makhluk pengisap darah di kepala Ayah.

Aku penyayang hewan, tetapi benci setengah mati pada lintah. Lintah tidak pernah kenyang di meja makan. Begitupun dengan daging segar yang menjadi kudapannya. Sering kali kujumpai di tengah malam, lintah itu turun dari kepala Ayah, lalu merayap ke kamar pembantu kami. Begitu kembali ke kepala ayah, lintah itu terlihat lebih gemuk dan montok. Lendirnya bercampur darah segar. Keesokan harinya, salah seorang pembantu kami akan terlihat pucat dan sekarat. Tubuhnya penuh bintik-bintik merah bekas gigitan lintah.

Tak ada pembantu yang bertahan lama di rumah kami. meskipun bergaji tinggi, mereka mengundurkan diri sebelum empat bulan bekerja. Tidak jarang, bekas pembantu kami meninggal dunia beberapa minggu setelah berhenti bekerja. Ada juga pembantu meninggal dunia di rumah kami. Tubuhnya membusuk. Pada bintik-bintik merah bekas gigitan lintah, meruyak belatung. Melihat bintik-bintik merah yang terlalu banyak, aku tidak yakin hanya lintah di kepala ayah yang mengganyang dan menghisap darah di tubuh para pembantu. Pasti ada lintah lain di rumahku. Omongan Ibu tentang pemilik lintah yang “bukan hanya ayahmu” melesat ke dalam ingatanku. Tetapi, lintah milik siapa?

Baca juga:  2030
Di sisi lain, berkat gaji tinggi pula, rumah kami tidak pernah sepi pembantu. Pembantu-pembantu baru terus berdatangan. Mereka tergiur gaji tinggi. Para tetangga tidak pernah curiga pada pembantu-pembantu berwajah pucat atau kematian bekas pembantu yang selalu terjadi setiap bulan. Ayah tetap dipuja-puja. Karir Ayah sebagai kartunis semakin meroket. Buku yang memuat kartun Nabi Muhammad karyanya, menuai kontroversi dan pujian. Tidak lama lagi, buku itu akan dicetak ulang.
“Semakin ditentang, semakin laris,” tutur Ayah bangga sambil menepuk dada.

“Ayahmu sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan majalah Charlie Hebdo, lho,” puji Ibu. 
Namun, diam-diam aku khawatir lintah di kepala Ayah pindah ke atas kepalaku. Aku tidak bisa membayangkan hewan berlendir itu berada di atas kepalaku nyaris sepanjang waktu. Apalagi aku tidak tahan memakai kopiah lebih dari sepuluh jam.

“Untuk apa memakai kopiah hanya untuk menyembunyikan lintah” tuturku ketika Ayah dan Ibu menyambangi apartemanku.

“Bila tidak mau memakai kopiah utuk menyembunyikan lintah, kau bisa memakai sorban,” saran Ayah.

“Bahkan di balik serban, kau tidak hanya bisa menyembunyikan seekor lintah, melainkan seratus lintah,” sambung Ibu. Nada suaranya ringan tanpa beban seolah-olah telah lama kopiah ataupun sorban beralih fungsi, dari perlengkapan ibadah menjadi sarang makhluk penghisap arah.

“Aku juga tidak menyukai sorban!” bantahku lagi.

“Eh, kamu mau kaya atau tidak?” balas Ayah enteng.

**

SETELAH empat musim salju berlalu, aku pun menuntaskan kuliah di Universitas Paris dan meraih gelar sarjana di bidang ekonomi. Sebagian besar orangtua teman-temanku setanah air menghadiri wisuda kami. Senyum mereka semringah. Akhirnya, putra mereka meraih gelar akademis di perguruan tinggi bergengsi. Ayah dan Ibu pun hadir. Mereka bangga padaku yang lulus dengan predikat summa cum laude Sebagaimana yang kuduga, Ayah memakai kopiah untuk menyembunyikan lintah. Sesekali kulihat lintah turun ke bahunya, lalu kembali menyelinap ke dalam kopiah, luput dari bidikan kamera fotografer yang mengabadikan momen bahagia kedua orangtuaku.

Baca juga:  Kutukan Rahim (17)
Dua bulan setelah aku kembali ke tanah air, Ayah dan Ibu mengadakan pesta khusus untuk merayakan kelulusanku. Para pembantu diliburkan. Tamu laki-laki mengenakan kopiah atau sorban, sedangkan tamu perempuan mengenakan hijab dan gamis lebar. Mereka adalah orang-orang terkenal dan sering muncul di televisi. Dandanan mereka sangat mewah dan melebihi kehebohan selebriti Hollywood. Sambil menyantap hidangan, mereka saling pamer satu sama lain.

“Serban saya berasal dari Tanah Suci.”

“Kopiah saya hadiah dari ulama yang telah naik haji sebelas kali.”

“Kain hijab saya dari sutra asli.”

“Gamis saja harganya tiga ratus juta.”

Pada puncak acara, Ayah dan Ibu memperkenalkan diriku pada semua tamu. “Inilah pewaris tunggal lintah di kepala saya!” seru Ayah membahana. Lintah di kepala Ayah merayap dari tepi kopiahnya, menuruni bahu, dan jatuh di lantai pualam

Para tamu bersorak sambil mengacungkan gelas-gelas anggur berleher ramping. Bibir-bibir gelas berdenting nyaring, mengiris keheningan malam. Lalu, lintah-lintah menyelinap keluar dari sorban, kopiah, hijab, dan gamis mereka. Mataku terbelalak ketika puluhan lintah berjatuhan pula dari balik gamis Ibu. Lintah-lintah itu bersatu dengan lintah yang jatuh dari kepala Ayah, meruyak di lantai, mendesis-desis kelaparan, dan memburu diriku. ***

Sulfiza Ariska¸ pemenang unggulan sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2012. Tahun 2014, ia terpilih sebagai penulis emerging Indonesia dalam Ubud Writers and Readers Festival Ke-12 di Bali.  
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sulfiza Ariska
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 18 Januari 2015