Obam

Karya . Dikliping tanggal 6 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
OBAM menyundul-nyundul kakiku lembut. Meski tidak sepenuh tenaga, aku tahu ia berusaha memberikan rasa nyaman di segenap otot kakiku yang membisu diam tak bergerak. Lalu ia menyenderkan tubuhnya di betisku. Rasa nyeri masih terasa di sana, tetapi suhu hangat tubuh Obam, perlahan-lahan menghilangkan rasa nyeri itu. Obam memandangku tajam ketika aku berusaha sekuat tenaga bertumpu dengan tangan kananku dan mengangkat punggung agar bisa bangkit. Obam tahu ini usaha yang sangat berat, ia berjalan perlahan, mendekat ke sisi kanan bahuku, lalu menempelkan tubuhnya.
“HATI-HATI, Ma, ayo pusatkan segenap tenaga ke pergelangan tangan kanan Mama, Mama pasti kuat. Mama mau ke kamar mandi, kan? Aku akan membukakan pintu kamar mandi untukmu!” serunya. Lalu Obam terlihat sibuk, ia mendorong pintu kamar mandi dengan sepenuh tenaga yang ia miliki. Ia hafal dengan kebiasaan pagiku. Setiap hari baru tiba, selalu diawali dengan perjuangan rutin untuk membuang segenap kotoran di tubuh ke dalam lubang pembuangan yang selalu kududuki dengan setia. Rutinitas yang dulu sangat biasa, kali ini menjadi tak biasa, kegiatan ini menyita seluruh energi di tubuhku.
Kemudian, derit pintu kamar mandi terdengar. Aku sudah mampu merangkak. Kupusatkan kekuatan di tangan kananku, kemudian kuarahkan dengkulku ke kloset duduk yang ada di depan mata. Lalu, sambil menahan napas, aku mengangkat tubuhku dengan kekuatan tangan kanan. Huf! Akhirnya aku bisa duduk di kloset. Seperti biasanya, kebiasaan pagi terulang kembali, bertarung menguras seluruh isi perut dan membuangnya ke dalam penampung kotoran itu. Obam berada di satu meter di hadapanku. Ia berkata perlahan, “Maaf aku tak bisa mengangkat tubuhmu Ma, kau berat sekali.” Wajahnya terlihat murung.
Meski rasa nyeri masih mendera tubuhku, aku hampir tertawa melihat Obam yang berdiri sedih memandangiku. Buang air besar pagi itu sama seperti hari-hari sebelumnya, meletihkan. Setelah itu, aku harus berjuang keras mengambil gayung untuk membersihkan bokongku. Mengangkat air segayung pun bagai mengangkat segalon air mineral. Bila nyeri di bahu menjalar ke lengan kiriku, maka sambil duduk di kloset, aku memejamkan mata, menahan rasa nyeri yang sangat menyakitkan itu dengan menekan geraham sekuat tenaga. Ketika rasa nyeri hilang, perlahan-lahan kuciduk air di dalam ember dan kubersihkan segala kotoran yang ada dengan hati-hati. Lalu, Obam akan menyerahkan handuk kecil yang ada di handel pintu kamar mandi. Handuk itu setengah basah, karena ia menyeretnya dan tersentuh oleh genangan air yang ada di lantai. “Ups! Sorry Ma, handuknya basah. Kau bisa memakainya di bagian-bagian yang kering.” Katanya dengan tatapan penuh kesal.
Kutatap Obam yang masih berdiri menunggu kegiatan pembersihan isi perut dan tumpukan daki yang menempel di kulitku. Kegiatan ini membutuhkan waktu hampir satu jam lebih. Setelah semuanya selesai, bukan berarti aku bisa melenggang dengan sempurna ke luar dari kamar mandi. Perjuangan untuk menata tubuhku agar bisa kembali ke pembaringan bukanlah pekerjaan mudah, sebab sedikit salah strategi, tubuhku akan terjatuh bagaikan karung goni yang berisi puluhan kkilo beras.
Dan yang selalu ada di sisiku hanya Obam. Dalam kondisi yang paling memilukan, ia akan berusaha sekuat tenaga membantuku. Jika ketidakberdayaanku itu semakin menemui jalan buntu, Obam akan mendekatkan tubuhnya ke betisku. Kehangatan yang ia salurkan dari tubuhnya ke tubuhku, bagai transformasi energi yang seketika memberikan tenaga tambahan. Perlahan tangan kananku bisa kuangkat, lalu dengan kekuatan yang bertumpu pada tangan itu, aku mengangkat tubuhku, kemudian perlahan-lahan aku merangkak untuk mencapai tepi tempat tidur, lalu kurebahkan tubuhku di pembaringan dengan sangat susah payah. Jika aku tak sanggup menjangkau sisi tempat tidur, Obam akan berteriak dengan lantang, “Ayo Ma semangat, kamu pasti bisa. Kamu perempuan tangguh, aku tahu itu. Jangan menyerah, Ma!”
Obam tak rela bila ada air mata menetes di pipiku, ia akan berkata, “Jangan menangis, Ma. Jika engkau sedih, aku ikut sedih. Apa yang harus aku lakukan sehingga kau bisa tertawa?”
Aku hanya meringis, tatkala Obam kembali melihat aku dengan susah payah mengenakan pakaian atau menyuap makanan yang diantar sepupuku. Suara halusnya terdengar di telingaku, “Makan pelan-pelan Ma, anggap saja itu makanan terlezat di dunia.”
Suatu waktu, ketika sepupuku mogok membawa makanan, Obam menggantikan perannya. Ia seperti memiliki indra keenam untuk memahami situasi sulit yang kuhadapi. Maka di suatu pagi, ketika perutku memberontak minta diisi, Obam sudah ada di samping wajahku dengan sebungkus roti isi kelapa yang entah dari mana ia dapatkan. “Kau tidak mencurinya dari warung sebelah, kan?” selidikku.
Obam menatapku tajam. Lalu tangannya menekan-nekan kakiku. “Percayalah padaku, Ma, aku tidak mencuri.” Sahutnya sedih. Ketika siangnya ibu pemilik warung sebelah rumahku datang ke kamarku membawakan nasi lengkap dengan lauk-pauknya, aku merasa bersalah pada Obam.
“Obam mengabarkan pada saya kalau Bu Ida belum makan sejak pagi,” ujarnya. Kemudian ia menyuapi makanan yang dibawanya ke mulutku. Obam melihat semuanya dengan mata berbinar.
Entah dengan cara apa Obam memberi tahu keadaanku pada ibu si pemilik warung, hari itu, dan air mataku tumpah tanpa bisa kutahan lagi. Kecengengan itu selalu terulang dan terulang lagi bila ia melakukan hal-hal baik untukku. “Kemari Nak, kau anak yang hebat. Sungguh, Mama bangga padamu.” Aku berjuang mengangkat lenganku, memanggil namanya dan meminta ia medekat. Obam kemudian memiringkan tubuhnya, menyenderkannya ke pinggangku, ia memelukku lembut, kehangatan menyebar ke seluruh tubuhku. Rasa nyeri perlahan-lahan sirna. Aku balas memeluknya, kataku, “Hanya kau Anak Mama yang tahu semua derita yang Mama rasakan, hanya kau…” kemudian air mataku kembali menetes, dan Obam tertidur di sisiku.
**
“TARIAN Rindu Angin dan Daun” karya Andi Gita Lesmana
ANDAI saja stroke keparat ini tidak menyerang dan mematikan tubuh bagian kiriku dengan tiba-tiba, mungkin hubunganku dengan Obam tidak sedekat ini. Hampir sebagian dari tubuhku lumpuh total, hanya tangan kanan saja yang bisa kugerakkan, itu pun bila kondisiku sedang bagus. Setelah CT-scan, otakku tidak ikut-ikutan lumpuh, aku masih bisa berpikir dengan baik. Mungkin pola makanku yang kurang bagus hingga stroke itu datang, mungkin pula karena aku memiliki rumah makan Padang yang masakannya selalu bersantan, mungkin… ah, aku tak mau lagi menduga-duga, penyakit yang melumpuhkan syaraf-syaraf motorikku ini sungguh bagai mimpi buruk buatku. Penyakit itu datang seperti hantu, menyerang seluruh tubuhku tanpa bisa kuantisipasi sebelumnya. Rasa nyeri yang menjalari seluruh persendian tubuh membuat aku kerap mengerang diam-diam dan gulita menyergap tiba-tiba. Aku tak berdaya karenanya.
Dua bulan setelah peristiwa stroke itu menyerangku, aku kehabisan biaya pengobatan dan kebutuhan hidup sehari-hari. Selama dua bulan rumah makan Padangku tutup. Pemasukan per hari nol. Semua dana yang ada sudah terkuras untuk biaya pengobatanku yang jumlahnya tak sedikit. Aku merenung di dalam kamar kusamku. Bercakap-cakap dengan Tuhan, mengadu segala derita yang kualami. Dan Obam seakan mengerti akan masalah yang tengah kuhadapi. Tanyaku padanya, “Nak, uang Mama sudah habis, Mama belum sembuh total, kaki dan tangan belum bisa bergerak dengan sempurna. Bila tak ada uang, dengan apa kita akan makan nanti?” tanyaku padanya.
Obam mendongak. Lalu ia berjalan ke arah pintu, tak lama ia berbalik ke arahku. “Uda Amin datang. Katakan padanya uang Mama sudah habis. Mama harus meneruskan pengobatan. Pergilah ke pengobatan alternatif yang lebih murah biayanya!” serunya. Sepeti itulah yang kulakukan.
Apa yang ada di benak Obam seakan bertransformasi ke otakku. Ketika sepupuku Uda Amin datang, kujelaskan keberadaanku padanya. Uda mengerti akan hal itu, lalu ia membawaku berobat ke seorang ahli pengobatan alternatif khusus untuk penderita stroke. Di Minggu kedua keajaiban terjadi, aku sudah bisa berdiri dan berjalan meski masih tertarih-tatih. Lima bulan berikutnya, kondisi tubuhku sudah kembali normal, aku bisa berdiri dan berjalan meski masih tertatih-tatih. Lima bulan berlalu, kondisi tubuhku sudah kembali normal, aku bisa mengendarai motor tuaku dan berbelanja ke pasar untuk makan Padang mungilku. Obam, tentu saja suaranya yang ceria terdengar di seluruh penjuru rumah ketika melihat aku sehat kembali.
“Ma, jaga kesehatanmu. Kau belum sembuh benar. Aku khawatir,” katanya selalu di pagi yang sunyi ketika aku menghidupkan motor tuaku menuju ke pasar untuk berbelanja kebutuhan warung makanku.

Baca juga:  Mesin Pengukir Mimpi
“Mama harus melakukan ini, Nak. Ini pekerjaan halal yang diberkati Tuhan.”
“Hati-hati, Ma…” suara Obam masih kudengar sayup-sayup ketika motorku bergerak perlahan meninggalkan pagar rumah.
Dari atas motor tuaku kilas balik kenangan ketika aku sakit, menguak kembali. Juga di saat aku menghangatkan tubuh dengan berjemur di bawah sinar matahari pagi, Obam selalu ada di sampingku. Ia berkata, “Ma, Kau pasti sembuh.”
Obam…bisikku di pagi buta itu.
**
KEMUDIAN kisah buram itu membenturkanku dengan kepedihan yang teramat sangat. Obam terserang penyakit muntaber. Hari demi hari tubuhnya kian melemah sehingga ia harus diinfus. Dokter beberapa kali datang ke rumah memeriksanya. Ia tak memiliki selera makan. Aku menunggui tanpa beranjak sedikit pun darinya. Sungguh, aku takut kehilangan dia.
“Jika aku tak ada, kasihan Mama sendiri lagi.” Katanya, air mengambang di sudut mataku.
“Hus, jangan berkata begitu, kau anak Mama yang tangguh.”
“Tapi tubuhku semakin lemah, Ma. Virus muntaber ini kian merajalela di perutku. Rasanya sakit sekali…”
“Besok Mama bawa ke rumah sakit untuk diopname ya?” 
Obam membisu.
Ketika kupeluk dia, ia kejang-kejang, aku segera menambah cairan infus ke tubuhnya. Apa pun yang diajarkan dokter untuk kesembuhannya, kupraktikkan. Tapi kekuatan Obam hanya sampai di situ. Kematian yang absurd menjemputnya tanpa bisa kucegah. Usianya terhenti di pukul 2.30 dini hari, di saat pagi mulai merayap diam-diam, di saat aku panik melakukan apa saja agar napasnya yang terhenti berbalik kembali. “Obammmm…” dini hari itu aku berteriak memanggil namanya.
**
ITULAH kisah antara aku dan Obam. Ia lahir dalam sunyi. Sang ibu yang bernama Triksi tak mau menyusuinya, aku mengambil alih peran itu, susu instan yang kubeli di toko perlengkapan bayi, menggantikan puting susu Triksi, kucing belang tiga yang melahirkan Obam. Ia dan suaminya yang kuberi nama Goldi, tampaknya masih enggan meninggalkan era pacaran mereka. Obam, si manis berbulu hitam ke abu-abuan itu, pada akhirnya memasrahkan hidupnya padaku. Di makamnya yang tepat berada di halaman depan rumahku, ada papan yang bertuliskan namanya. Di bawahnya aku juga menulis demikian, “Obam, kau kucing termanis yang pernah kumiliki. Anakku, Mama sayang padamu.”
Sayup-sayup, sepertinya kudengar percakapan imajiner yang kerap kami lakukan. “Ma, aku sayang Mama!” suara Obam lembut mendayu. Lalu aku juga seakan mendengar ia berbisik lembut “Meonnnng…”***
Depok, Desember 2014
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fanny J Poyk
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 4 Januari 2015