Pernikahan Emas

Karya . Dikliping tanggal 17 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina
Semuanya bermula dari tujuh hari lalu, saat Opa Eli diberitahukan oleh anak-anaknya, cucu-cucunya, bahwa dia mati suri selama tujuh belas menit. Dia sendiri tak lagi ingat, apakah dia benar tak sadarkan diri selama tujuh belas menit ataukah lebih dari itu? Tahu-tahu dia membuka mata di atas ranjang dengan dikelilingi orang-orang yang menangis. Oma Eli langsung menciuminya dengan kalung salib masih di genggamannya. Oma Eli bahagia saat dia tahu suaminya tak jadi meninggal dunia. 
Setelah mati suri tujuh belas menit itu, dia selalu saja mendengar suara tangisan di dapur mereka. Ketika Opa Eli di kamar atau di ruang tamu, suara tangis itu tak terdengar. Namun, ketika dia kembali lagi ke dapur, suara tangisan itu justru kembali jelas di  gendang telinganya. 
Dia ingin bertanya pada Oma Eli, apakah istrinya mendengar suara tangis  itu ataukah hanya kupingnya sendiri yang menangkap suara itu? Tapi kemudian Opa Eli membatalkan niatnya. 
Suatu waktu, dia merasa sangat terganggu oleh suara tangisan itu. Dia bertindak menjadi orang tidak normal, dia merundukkan kepalanya ke lantai dan memeriksa apakah di kolong lemari makan, suara itu berasal. Dia mengarahkam cahaya senter ke kolong lemari, tapi tak ada apa-apa di sana. Dapur senantiasa bersih, sebab Oma Eli benci dapur yang jorok.
Jika dia bepergian, dia selalu mendengar suara tangisan di belakang mal, di restoran, di warung-warung pinggir jalan. Tapi, yang paling sering dia dengar justru datang dari dapur rumah makan mereka di Jalan Panjang Arteri. 
Pada akhirnya, jika hendak makan, Opa Eli lebih memilih makan di ruang tamu atau di taman belakang. Berkali-kali Oma Eli bertanya, kenapa sikapnya menjadi kekanak-kanakan begitu, tetapi Opa Eli tak tahu bagaimana mesti menjelaskannya. Jika dia mengatakan kepada istrinya bahwa di dapur dia mendengar suara tangisan, maka sudah bisa ditebak reaksi apa yang akan diperlihatkan Oma Eli. Bisa jadi Oma Eli akan menelepon psikiater dan membuatkan dia jadwal konsultasi. Bisa jadi juga Oma Eli akan tergelak dan mungkin akan berkata, “Itu tandanya kau makin renta.” 
***

Hari ketika ulang tahun pernikahan emas Oma dan Opa Eli,  cucu-cucu dan tiga anak-anaknya memutuskan merayakan di rumah makan milik keluarga. Rumah makan itu terkenal. Pagi-pagi menjual menu tinutuan, bubur Manado lengkap dengan ikan asin dan dabu-dabu (sambal) ikan roa. Banyak perantau Manado yang makan di sana dan berbicara dengan aksen yang sama. Hal itu sangat menyenangkan bagi Oma Eli. Dia merasa seolah-olah berada di kampung halamannya. 

Oma dan Opa Eli adalah dua orang Minahasa yang merantau ke Jakarta sejak mereka masih muda. Mereka perantau beruntung. Tiga anak mereka lahir di Jakarta dan hanya sesekali liburan ke Manado. Oma dan Opa Eli hanya akan pulang setahun sekali, ketika sedang musim panen cengkih di Minahasa. Mereka masih punya kebun di sana. Kebun cengkih itu milik Oma Eli. Warisan keluarga. Itu sebabnya Oma Eli mempertahankannya hingga sekarang.
***
Hari ini Rabu yang akrab. ‘Rumah Makan Oma deng Opa Eli’ di Jalan Panjang Arteri tutup untuk pembeli. Rumah makan hanya dipenuhi kerabat, pelanggan terdekat, anak-anak dan cucu-cucu mereka. Dua orang cucunya sering dibicarakan pelanggan karena wajah mereka kerap muncul di televisi. Cucu yang lelaki kerap tampil membawakan lagu-lagu rohani di hari Minggu. Cucu perempuan adalah komedian muda populer, karena dia adalah salah satu komedian perempuan lucu di acara Stand Up Comedy. Lelucon-lelucon khas Timur-nya sukses membuat orang tergelak. 
Hiruk-pikuk di rumah makan sudah terlihat sejak pagi masih dingin. Makanan melimpah hingga butuh dua meja panjang. Dari menu smokol(1); nasi kuning ikan tenggiri rica-rica, panada ikan tuna. Menu utama: ikan bobara bakar rica, sate kambing, ikan woku, dan sayur tumis bunga pepaya. Makanan penutup adalah jejeran, puding gula merah, kue klappertart, shortbread jahe dan bienenstich, juga es kelapa muda gula batu. 
***
“Ungke coba ngana mulai jo dang angka samua itu kadera-kadera, atur yang bagus!(2)” Oma Eli berseru pada Ungke. Dia mondar-mandir, mengamati Ungke yang mengangkat bangku-bangku kayu. Ungke adalah tukang jaga kebersihan di rumah makan Oma Eli. Oma Eli sibuk memastikan segala sesuatunya terlihat rapi, sementara  Opa Eli hanya duduk, mengelus-elus kepala dua ekor anjing labrador. Opa Eli masih memikirkan kenapa dia selalu mendengar suara tangisan di mana-mana. 
Karena diperhatikan, Ungke bekerja dalam tekanan. Kakinya tersandung dan vas bunga kesayangan Oma Eli jatuh dari meja. 
“Mata pe basar sorupa sosiru, nyanda liat tu kaki meja!”(3) seru Oma Eli, histeris. Opa Eli bangkit dan mengatakan kepada istrinya, biarkan saja Ungke. Opa Eli menasihati istrinya agar jangan terlalu mengontrol pegawainya. 
“Biarkan mereka bekerja dengan tenang dan santai,” Opa Eli berkata kepada istrinya. Oma Eli batal marah-marah. Dia memilih beralih ke depan pintu. Menyambut tamu-tamunya dengan senyum gigi palsu yang putih bersih.
Tak lama kemudian, tiga anak mereka berdatangan dari Bandung, Bogor, dan Bekasi. Cucu perempuannya membatalkan jadwal syutingnya. Dia lebih memilih meluangkan waktu kali ini bersama oma dan opanya. 
***
Pagi-pagi jam delapan tamu-tamu sudah berdatangan. Mereka dipersilakan untuk smokol. Jam satu siang tamu-tamu melanjutkan dengan makan siang. Di jeda sebelum makan siang, tamu-tamu saling berbagi pengalaman merantau, berbagi kerinduan mereka akan Manado. Beberapa yang baru pulang dari kota itu, menceritakan perkembangan Manado dan situasi festival bunga yang semarak di Tomohon. 
Oma dan Opa Eli mendengar dan mengangguk-angguk senang. Mereka khidmat mendengarkan segala hal yang diceritakan para tamu. Salah satu tamu tiba-tiba menjerit, saat  dua anjing labrador melompat di hadapan Oma Eli. Oma Eli berkata, “Tak apa-apa, anjing itu sangat manja jika ada tamu-tamu.”
Oma Eli kemudian memanggil cucu perempuannya. Cucu perempuan itu akan melakukan stand up comedy ala Manado. Stand up comedy secara Manado dikenal dengan bakusedu. 
Cucu perempuan Oma Eli pun berdiri di antara para tamu. Dia akan membawakan satu cerita berjudul Teteruga Batolor4. Orang-orang bertepuk tangan. Opa Eli ceria. Dia lebih senang mendengar hal-hal yang penuh humor ketimbang gerutuan Oma Eli  tiap hari. Cucu Oma Eli menceritakan tentang  sepasang anak muda yang pacaran sembunyi-sembunyi. Tiap malam Minggu, si pria muda mengapeli kekasihnya diam-diam. Mereka memakai kode lagu penyu bertelur (4). Tiap kali si pemuda datang, dia akan menyanyi di bawah jendela kamar kekasihnya. Hingga orang tua perempuan itu merasa bosan mendengar lagu penyu bertelur  tiap malam Minggu.
Ayah perempuan itu kemudian meminta putrinya tidur di kamar ibunya. Dia sendiri yang tidur di kamar anaknya. Dan, pada malam Minggu kemudian, si pria muda yang tidak tahu-menahu bahwa ayah kekasihnyalah yang ada di kamar itu, kembali menyanyi lagu penyu bertelur. Pada saat dia menyanyi, ayah kekasihnya membuka jendela kamar dan menyemprotnya. “Eh tuturuga, pigi batolor di pante ngana, jang batolor di sini, jang dapa potong ngana pe tolor.5”
Lawakan cucu perempuan Oma Eli membuat semua orang terpingkal-pingkal. Di antara mereka ada yang tertawa hingga mata mereka merah. Dua orang om tertawa terguncang-guncang. Ungke yang sedang minum es kelapa muda tersedak lantaran tertawa sambil minum es. 
Setelah lawakan cucu Oma Eli, para tamu berdoa. Seorang pendeta perempuan memimpin doa makan siang. 
“Terima kasih atas makanan yang sudah Engkau berikan pada hari ini. Kiranya apa yang hambamu akan makan ini, bisa menjadi kekuatan untuk tubuh. Tuhan, terima kasih atas berkat yang sebentar lagi hambamu santap. Di dalam nama Tuhan Yesus, hamba berdoa,”
Orang-orang mengaminkan. Denting sendok. Denting piring terdengar ramai. Para tamu mengutarakan decak kagum mereka pada Oma Eli. Mereka menanyakan resep masakan Oma Eli. Oma Eli dengan  bangga  mengatakan, itu resep rahasia yang hanya akan dibagikan kepada keluarga. Di antara suara orang makan, Oma Eli memanggil Ungke dan meminta dia mengurus makanan anjing labrador piaraan mereka. Opa Eli berbisik, “Ajak dulu Ungke makan bersama-sama kita.” Tapi, Oma Eli hanya tersenyum pada Opa Eli, lalu dia menyahuti pujian seorang tamu yang sedang menikmati makanan penutup. Dia memuji kue klappertart Oma Eli yang lembut dan langsung lumer di dalam mulut. Seseorang yang lain menyanjung ikan bakar rica yang membuat dia berkeringat. “Kami seperti makan di Manado,” katanya. 
***
Ini adalah pesta ulang tahun perkawinan yang meriah. Gemerlap seperti emas. Dipersiapkan Oma Eli dan anak-anaknya dengan sungguh-sungguh selama sebulan. Tapi, Opa Eli merasa kosong. Kebahagiaannya seperti tersedot dalam pesta pora jamuan. 
Ketika petang turun, para tamu sudah pulang ke rumah masing-masing. Oma Eli meminta mereka membawa pulang kue klappertart, shortbread jahe, dan bienenstich. Ungke dan dua orang pegawai merapikan rumah makan. Banyak sekali makanan bersisa, para tamu makan sembari menyisakan sekeping puding. Makan ikan dengan masih menyisakan daging ikannya. Menyisakan es kelapa muda seperempat dalam gelas. Opa Eli mengamati piring-piring kotor yang berjejer dan sisa-sisa makanan di pinggirannya. Opa Eli teringat perkataan sahabat tua, sahabat tua yang selalu mengajaknya memancing. Dia pernah berkata, dalam  tiap butir makanan tersimpan berkah.
Teman memancing itu pernah menggerutu, “Aku tidak mengerti kenapa manusia sekarang sering kali berperangai ‘sok beradab’, makan di restoran, di kafe, dengan memesan sejumlah makanan, lalu kita menyisakan seonggok makanan di pinggir piring, menyisakan minuman kita. Lalu kita membalikkan garpu dan sendok dengan elegan. Seolah-olah menyisakan makanan adalah aturan table manners. Kita seperti memiliki dua hasrat paradoks, hasrat melahap dan hasrat membuang.”
“Aku baru saja membaca,  tiap tahun ada miliaran ton makanan dibuat di dunia, lalu seperempat terbuang percuma. Di satu sisi, persediaan air bumi kita makin menipis. Stok emisi gas  makin sekarat. Lahan tanam makin sempit, lalu di belahan dunia yang lain ada orang-orang membuang makanan dan ada orang-orang tetap kelaparan. Bukankah hal sepele itu sangat berdosa?”
Opa Eli menghela napas. Perkataan sahabatnya adalah hal sepele, namun dia rasakan kebenarannya. 
***
Malam  makin larut. Oma Eli memutuskan bermalam di rumah makan. Rumah makan telah rapi. Lampu telah dimatikan sebagian. Dua anjing labrador sudah pulas, tertidur di kolong meja karena kekenyangan. Oma Eli sudah mendengkur di atas sofa. Opa Eli masih duduk sendirian. Di depannya, meja makan lapang dan bersih. Tiba-tiba dia mendengar suara tangisan itu lagi. Kali ini lebih gamblang. Opa Eli bangkit dari kursinya, berjalan mencari suara tangisan itu. Dan kini dia tiba di hadapan tong sampah dapur. Di sana tumpukan sisa makanan memenuhi tong sampah. Opa Eli mendekat, suara tangisan itu kini benar-benar terang. Benar-benar keras. 
Opa Eli baru memahami kenapa suara tangis itu kerap kali dia dengar dari dapur, dari belakang mal, dari belakang restoran. Air matanya perlahan jatuh di pipinya yang kisut. Makanan juga punya air mata. Dia mendengar suara makanan menangis. Kini dia tahu seperti apa rasanya terbuang.(f)
********
Catatan:
1.Smokol: sarapan pagi
2.“Ungke angkat kursi-kursi itu dan atur yang bagus!”
3.“Mata besar seperti penyaring ikan, tak bisa lihat kaki meja!”
4.Penyu Bertelur
5.“Eh, penyu, pergi bertelur di pantai. Jangan bertelur di sini, kalau kamu tidak ingin telurmu dipenggal.” 
Rujukan:
[1] Dislain dari karya Erni Aladjai
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”