Saat Yama Kembali

Karya . Dikliping tanggal 6 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
AKU duduk seorang diri di food court ditemani segelas minuman mocca dingin sembari mengedarkan pandangan ke pengunjung yang datang silih berganti. Detik berganti menit, hingga arah jarum jam melangkah dengan jauh. Dia belum datang juga. Aku jenuh. Lalu beralih memainkan gadget. Rasanya aku lebih senang melakukan aktivitas seperti ini.
Seseorang datang di depanku. Keasyikanku berhenti sejenak. Aku membenarkan kacamata yang kupakai sembari terus melihatnya fokus dari ujung kaki hingga area wajahnya secara mendetail. Di depanku berdiri seorang gadis cantik dengan mata sipitnya yang sudah tak asing lagi sejak dulu.
Ia melihatku juga. Hampir saja aku dibuat pangling. Rambutnya yang dulu pendek dan tak bisa diikat sama sekali kini berganti dengan gaya feminim. Ia tambah manis dengan rambut hitam lurus yang memukau penglihatanku.
“Apa kau orang yang kutunggu?” tanyaku menerka.
“Ya, aku adalah orangnya. Kau tak lupa denganku, kan?” Dia malah balik bertanya.
Aku tersenyum simpul. “Darimana aku bisa lupa denganmu? Sosok yang selalu menghantui tidurku dengan semua bayangmu.”
Aku memersilakan Yama duduk di sampingku. Ia tak menolak. Kami banyak bercerita tentang suatu hal. Dari yang sehari-hari, hingga hal pribadi sekalipun. Satu hal yang membuatku sangat kaget dan hampir tak percaya, Yama sangat pendiam, tak seekspresif yang kupikirkan. Wajahnya datar dan serius, tersenyum pun sangat tipis. Apa lantaran ia takut kalau aku tiba-tiba menaruh suatu perasaan padanya?
Aku menyudahi pertemuan dengannya sore ini. Banyak yang harus aku kerjakan. Tugas kuliah tengah menanti untuk segera kutindaklanjuti. Belum lagi ujian dadakan yang telah direncanakan oleh dosenku.
“Revrinda?” Yama memanggilku. Menarik tanganku sangat cepat. Hingga aku merasa keeratan genggaman tangan lembutnya menghangati tanganku
“Ada apa lagi?” tanyaku. Sepasang mata Yama menatapku dalam.
“Aku sudah jauh-jauh datang kemari. Tentu kau pasti sudah tahu maksud dan tujuanku,” ucap Yama sangat berharap. “Aku mohon, pertemukan aku dengannya. Karena hanya kau yang bisa membuatku dekat dengannya. Kau mau?”
Aku terus memandang mata Yama yang sendu, ditambah dengan genggaman erat tangannya yang belum ia lepaskan. Terlihat nanar matanya yang sangat memohon sesuatu padaku, karena ia pikir hanya akulah yang mampu membantunya.
“Ya, aku mau.” Lantang aku mengucapkan kalimat itu. Yama akhirnya dapat tersenyum lega.
“Tapi tidak sekarang….”
“Jangan buat aku menunggu lama. Aku tak mampu menahan rindu padanya…”
Mata Yama sedikit berkaca. Ternyata ia benar-benar sangat mengharapkan seseorang itu…
***
YAMA kembali. Aku tak konsen belajar. Sejak dulu aku menjaga hubungan baik dengannya meski kami terhalang aral jauh yang memisahkan. Usianya dua tahun lebih tua. Kami sangat dekat. Masih terekam jelas kedekatan yang terjalin dengan Yama, karena bagiku dia adalah gadis yang mengasyikkan dan selalu bisa menjadi teman dalam kondisi apapun.
Kini, Yama menjelma menjadi gadis cantik seiring waktu yang memisahkan kami. Ia sangat perhatian denganku. Pernah ketika aku terkena sakit DB, dan memosting infus di jejaring sosial, Yama  muncul pertama kali. Cerewetnya mulai keluar di bagian komentar. Borongan pertanyaan itu bagian sebuah skrip drama opera. Ia selalu menanyakanku tentang ini itu.
Dia juga menelponku, meski waktu sudah sangat larut. Tak peduli dengan pulsanya yang nanti cepat habis. Banyak sekali yang ia tanyakan seolah aku sakit keras dan parah. Padahal aku tak apa-apa. Besok sudah keluar rumah sakit, foto itu hanya foto iseng saja daripada tak ada kerjaan. Tapi entah kenapa aku sama sekali tak merasa terganggu meski kupingku mulai panas mendengar ocehannya yang makin menjadi, dan bahkan memarahiku karena pola hidupku yang tak beres.
Tiba-tiba, jantungku kembali menyeruak keras, saat tak lama ditelpon dia menyisipkan pertanyaan tentang seseorang. Kekhawatiran dari nada bicaranya seolah lebih serius daripada bertanya tentang keadaanku saat itu.
***
YAMA kembali. Bukannya aku tak senang, namun aku sangat takut sewaktu dia bertanya terus tentang seseorang yang begitu melekat dengannya. Entah aku merasa sedikit cemburu atau cemas jika kasihnya berpaling. Apa-apaan aku ini. Aku mengecam diriku sendiri tak adil kalau menggagalkan niatnya.
Yama sudah dandan cantik sembari membawa rangkaian bunga mawar indah. Aku tahu, bunga itu bukan ia tujukan untukku, melainkan untuk seseorang yang membuatnya sangat bersemangat sewaktu tiba di sini, dan buru-buru ingin segera bertemu. Bunga mawar itu dipegang Yama erat-erat seakan menandakan batinnya yang tak kuasa lagi menahan rindu itu.
Di dalam mobil, tak banyak yang dilakukan oleh Yama. Serius, dia sangat beda sewaktu dulu sering berteleponan ria. Cerewet, bawel, serta seringkali bercanda. Namun kini, tidak sama sekali. Aku meliriknya, dia hanya diam termangu sembari memangku rangkaian bunga. Pahamlah aku dengan apa yang ia risaukan. Pandangannya lurus ke arah kaca mobil yang saat ini kusetir. Bahkan ia tak sadar saat aku meliriknya.
“Bagaimana sekolahmu di sana?”
“Baik.”
Aku tak puas dengan jawaban itu.
“Apa awal-awal kau di sana tak ada kesulitan beradaptasi di lingkunganmu yang baru?”
“Tidak. Apa tempatnya masih sangat jauh?”
Sudah kuduga. Dari pertanyaan kedua saja, dia sudah menanyakan tempat tujuannya. Aku tak berani bertanya lagi.
“Kurang lebih satu jam lagi. Jalanan macet. Jadi aku harap kau bersabar.”
“Apa tidak ada jalan lain untuk mempersingkat waktu?”
“Tidak.”
***
YAMA berjalan buru-buru. Ia mendahului langkahku. Padahal akulah yang lebih tahu tentang apartemen ini. Yang kutahu, ia sudah tak sabar ingin segera sampai. Aku hanya maklum. Yama berlari kecil seraya melihat ke belakang, aku tertinggal cukup jauh darinya. Lagi-lagi aku cemas, saat melihatnya begitu bersemangat sekali.
Pintu apartemen dibuka. Seseorang melihat Yama dengan lama. Yama pun begitu. Bibirnya membisu. Dalam hitungan detik saja butiran kristal bening itu meluncur membasahi wajah mulusnya. Lama-lama makin deras. Dengan segera ia berlari cepat menuju seorang yang sangat ia rindukan semasa hidupnya. Tangisnya pecah saat berpelukan erat. Hingga aku pun juga larut dalam suasana seperti itu yang amat mengharukan…
***
DEVINDRA Yamaguchi kini telah kembali. Kami berdua dipisahkan sejak kecil, karena ayah dan ibu bercerai. Aku dan kakakku, Yama, masih terlalu kecil untuk dapat mengetahui secara pasti apa penyebabnya. Yang kuingat, ayah sering berbuat kasar pada ibu. Yama lalu dibawa ke Jepang oleh ayah. Dan aku tinggal bersama ibu. Aku dan Yama tak berjumpa lama. Ayah melarang Yama mengunjungi ibu. Begitupun aku.
Beberapa tahun kemudian ayah meninggal karena kecelakaan kereta api di Jepang. Aku merasa sangat sedih dan kehilangan, meski sejak kecil aku sudah kehilangan belaian lembut kasih ayah. Akhirnya Yama memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ibu sangat bahagia menerima kedatangan putri kecilnya yang kini telah beranjak dewasa. Ibu sangat bersyukur karena bisa dipertemukan dengan putri kesayangannya lagi, begitu juga aku yang sudah lama tak bertemu Yama karena ayah sangat prorektif menjaga Yama.
Keluarga kecil ini akhirnya bersatu lagi . Ibu, Devindra, dan aku: Revindra. Tanpa ayah.
Dyah Eka Kurniawati. Mahasiswi D-III Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dyah Eka Kurniawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 4 Januari 2015