Sebelum Subuh

Karya . Dikliping tanggal 16 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Cempaka
IA tak tahu, sudah berapa jauh berlari. Ia terus berlari menembus kegelapan. Ia merasa, orang-orang berseragam itu masih mengejarnya. Tapi sekarang ia merasa sedikit lebih aman. Setidaknya kegelapan dan pepohonan cukup membantunya menyembunyikan dirinya dari orang-orang itu. Untuk pertama kalinya sejak berlari, ia menengok ke belakang. Tak ada apapun selain kegelapan dan bayang pepohonan. Tak didengarnya lagi suara derap langkah yang memburunya. Tak didengarnya lagi suara letusan senjata.
“Semoga saja…”gumamnya. Di dalam benaknya terlintas nama tuhan. Tapi entah kenapa ia tak menyebutnya. Barangkali malu, barangkali tak memiliki keberanian. Tapi ada wajah lain yang juga melintas: wajah perempuan itu, wajah istrinya.
Ia bersandar padasalah satu pohon di kebun itu. Napasnya yang ngos-ngosanmulai mereda. Ketika itu ia mencium aroma kopi. Maka tahulah ia,sekarang berada di kebun kopi. Dalam gelap ia menyungging senyum.Sebab ia tahu, rumahnya tak jauh lagi.
Matanya mengedar keatas, ke satu dua tiga pohon di depannya. Ia dapat melihat beberapagerumbul buah kopi menggantung di pohon-pohon itu. Buah kopi yang iabisa bayangkan berwarna merah kehitaman. Tapi yang dilihatnyaseluruhnya berwarna gelap. Tentu saja ia mengerti. Tak ada cahaya.Sepotong bulan yang beberapa malam lalu sempat dilihatnya, entahkemana.
Sekarang napasnya mulai teratur. Ia ingat istrinya. Ia ingat dua anaknya. Ia inga tketika perempuan dengan rambut ikal mayang itu membuatkan kopi untuknya setiap pagi dan menjelang petang. Tentu saja saat ia beradadi rumah. Ia ingat mata anak-anaknya, yang ia pikir sorot mata mereka adalah sorot mata miliknya. Tapi rambut mereka tidak. Rambut ikal mayang. Rambut milik ibunya.

Ia merindukan mereka. Rindu yang sudah tumbuh berhari-hari lalu dan sekarang kian menebal. Ia berusaha mengingat kapan meninggalkan rumahnya. Gagal. Ia lupa. Tapi ia ingat bulannya.

Baca juga:  Dua Sahabat

“Sudah enam bulan,” gumamnya.

Ilustrasi oleh Ibnu Thalhah

Angin berhembus dan menggerakkan dedaunan pohon-pohon kopi. Ia mendengar beberapa butirbuah kopi jatuh. Tapi ia tak tahu jatuh di sebelah mana. Bayangan seekor luwak yang baru saja menuruni salah satu batang pohon kopi tertangkap juga oleh matanya. Apakah aku seperti dirinya? Ia berpikir. Ia tahu, binatang itu sedang mencuri butir-butir kopi. Barangkali perutnya sudah kenyang. Ia menghibur dirinya dengan berkhayal menikmati kopi luwak. Butir-butir kopi yang dimakan luwak dan keluar bersama kotorannya pasti nikmat, pikirnya lagi.

Ia mulai menggigil dan menggerakkan badannya.

“Sebentar lagi.Aku pasti pulang!” gumamnya sembari melangkahkan kakinya. Pada langkah ketiga ia merasakan ada yang sakit di punggung sebelah kiri.Tangan kanannya meraba ke bagian yang terasa sakit itu. Ada yang basah di sana. Ia tak bisa melihat cairan apa itu. Ia mendekat kanjemarinya ke hidung. Dan, ia tahu itu darah. Bau anyir dan aroma kopi berbaur merasuk ke indera penciumannya. Ia melenguh. Ia berpikir, ada sebutir peluru bersarang di tubuhnya. Ia tak mengerti bagaimana itu bisa terjadi.
Dan, ia tahu itu darah. Bau anyir dan aroma kopi berbaur merasuk ke indera penciumannya. Ia melenguh. Ia berpikir, ada sebutir peluru bersarang di tubuhnya. Ia tak mengerti bagaimana itu bisa terjadi.

Ia berusaha mengingat kejadian beberapa jam lalu, ketika orang-orang berseragam itu menyergapnya. Ia berhasil meloloskan diri. Mereka mengejarnya. Letusan tembakan tak digubrisnya. Ia bisa merasakan beberapa butir  peluru berdesing di dekat telinganya. Kemudian ia masuk kelorong-lorong dan tahu-tahu sudah sampai di sini, di kebun kopi.Hanya itu yang bisa diingatnya. Soal peluru yang sekarang bersarang di tubuhnya. Ia tak mengerti bagaimana itu bisa terjadi.

Ia terus melangkah menembus ekgelapan. Menembus pohon-pohon kopi…
***
Perempuan itu baru saja terbangun dari mimpinya. Ia melirik jam di dinding. Jam tiga dini hari. Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang. Dilihatnya wajah dua bocah yang masih terpejam. Dua bocah yang biasanya tidur di kamar sebelah. Sejak suaminya pamit merantau, bocah-bocah itu ingin tidur bersamanya. Atau dia sendiri yang meminta agar mereka menemani tidurnya.
Ia berpikir soal mimpinya. Suaminya pulang pagi nanti. Beberapa hari terakhir rindunya pada lelaki itu begitu membuncah. Beberapa kali air matanya jatuh. Air mata yang selalu disembunyikan dari anak-anaknya. Bagaimanapun,ia tak ingin terlihat sedih di depan bocah-bocah itu. Ia ingin anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang baik. Itulah yang diharapkan darinya dan suaminya.
Sebelum berangkat empat bulan lalu, suaminya sempat berpesan kepadanya agar anak-anak itu belajar mengaji di mushola. Ia sudah menjalankan pesan itu. Rupanya dua bocah itu senang belajar ngaji di mushola itu. Ayah kalian pasti akan merasa sangat senang. Ia membatin.
Tapi perempuan itu meminta kepada suaminya agar berjanji untuk tidak meniggalkan mereka lagi. Untuk tidak menipu anak-anak dengan pergi merantau.“Berjanjilah ini untuk yang terakhir kali,” katanya pada suaminya saat itu. Suaminya mengatakan kalau setelah itu ia akan berhenti. Ia akan membuka warung kecil-kecilan atau semacamnya. Ia ingin berada didekat istri dan anak-anaknya senantiasa.
Terdengar suara orang melantunkan ayat-ayat suci dari pengeras suara. Tapi ia tahu itu bukan orang ngaji dalam arti sesungguhnya. Itu dari pita kaset.Sebentar lagi azan subuh, pikirnya.
Ia kemudian beranjak menuju dapur. Ia berpikir suaminya benar-benar akan pulang. Ia ingin menyiapkan segala sesuatunya. Ia ingin menyambut lelaki itu dengan secangkir kopi luwak kesukaannya. Ia mulai menyalakan kompor. Ketikaia menumpangkan cerek di atasnya, samar didengarnya ketukan di pintu. Di dengarnya juga suara memanggili namanya. Ia tahu itu suara suaminya.
Ia bergegas meninggalkan dapur. Tanpa sengaja tangannya menyentak lodong tempat gula. Lodong itu berpusing sejenak di atas meja dapur sebelum akhirnya terjatuh di lantai. Sebagian isinya tumpah. Tapi saat itu ia sudah menjauh dari dapur.
Buru-buru ia membuka pintu.
Dan betapa ia terkejut. Lelaki itu terkulai. Temaram lampu teras cukup memberitahukan padanya ada darah yang menggenang di sekitar tubuh itu. Ia menjatuhkan diri mendekap tubuh itu. Air matanya pun tumpah.Ia ingin berteriak tapi tak bisa. Azan subuh didengarnya bergema.Bersahut-sahutan.*** 
Y Agusta Akhir adalah penikmat sastra dan aktif di komunitas sastra alit, Solo. Beberapa karya pernah dimuat di harian Joglosemar, Solopos, Suara Merdeka, Tabloid Cempaka, Republika, Radar Surabaya. Novelnya yang berjudul Requiem Musim Gugur terpilih sebagai salah satu pemenang pada lomba Grasindo Publishers tahun 2013
*) Terimakasih dan salam hormat kami haturkan kepada Bung Teguh Afandi yang telah berkenan mengirimkan file cerpen “Sebelum Subuh” ini 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Y Agusta Akhir
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Tabloid Cempaka” pada 10-16 Januari 2015