Batu Akik

Karya . Dikliping tanggal 16 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
PARDI mengangkat jari manis. Cincin bermata batu hijau melingkar di jarinya, menyala saat terkena percikan cahaya. “Batu akik ini. Ya, batu akik ini yang menolongku.” Pardi menggebu. Puluhan pasang mata mengarah ke tangan yang terbalut cincin.
“Lihat.” Pardi menyenter akiknya dari bawah, terlihat nyala kehijauan dari cincinnya. Orang-orang mengangguk-anggukkan kepala, lalu beberapa di antara mereka duduk melebarkan telinga.
***
Peristiwa kebakaran yang menghanguskan seluruh isi rumah Pardi tempo hari, menjadi pusat perhatian di kampungnya. Bagaimana mungkin Pardi dan anak istrinya selamat dari kobaran api yang menghanguskan rumahnya. Menurut pengakuan Pardi, dia malah merasakan dingin saat kobaran api menghanguskan rumah kayu miliknya.

Warga terheran-heran atas pengakuan Pardi di warung Buk Zainap. Dengan kondisi tanpa luka bakar di badannya, menguatkan ceritanya, bahwa dia ditolong oleh batu akik yang selalu melekat di telunjuknya itu.

Ilustrasi karya Joko Santoso

“Aku panik melihat api sudah mengepung dan beberapa lempengan kayu yang sudah hangus terjatuh. Begitu ingin membangunkan anak dan istri, kurasakan dingin di tubuh mereka. Ya dingin, dingin yang juga kurasakan dalam tubuhku. Makanya kami memilih diam.” kenang Pardi. Orang-orang melogok lebih dekat. Membuka telinga penuh antusias.

“Sama sekali api itu tidak terasa panas,” kata Pardi meyakinkan warga yang begitu serius mendnegar ceritanya.

Baca juga:  Rotan Keh Pusri

Sejak kejadian itu sontak Pardi menjadi perhatian banyak orang. Dalam sekejap dia menjadi buah bibir, bak artis ternama yang baru terkenal. Cincin naga itu -begitu ia menamai cincin batu akik setelah peristiwa kebakaran, menyedot perhatian banyak orang.

Cerita tentang Pardi mengembara dari mulut ke mulut, dari mulut ke telinga. Bahkan juga beredar di dunia maya. Pengakuannya diunggah oleh masyarakat setempat ke You Tube. Benar saja, dalam waktu sekejap sudah ada empat puluh dua ribu lebih yang mengakses video yang berdurasi 8 menit itu.

Melihat suaminya tiba-tiba terkenal. istri Pardi mendadak resah. Dia menjadi pendiam dan meremas-remas cemasnya setiap mendengar cerita tentang kebakaran dan batu akik itu. Dari kamarnya selalu terdengar suara percakapan Pardi dan para tamunya. Sesekali terdengar tawa kecil, kadang hanya suara Pardi yang terdengar bercerita. Tentunya dengan cerita yang sama.

“Akik ini ada Haddem-1nya. Dia seorang perempuan cantik. Kadang dia hanya duduk sesekali cuma lewat, melesat begitu saja. Seperti angin, ya seperti angin,” terang Pardi penuh semangat.

“Perempuan itulah yang membangunkan tidurku malam itu. Lewat mimpi, ya lewat mimpi. Dalam mimpi aku bertemu dengan seekor naga yang hendak memakanku.” Kenang Pardi sambil mengelus-elus batu akik yang bercorak garis tebal hijau seperti naga itu.

Baca juga:  Seorang Petani

Siang malam Pardi disibukkan dengan taman yang datang silih berganti. Ada yang hanya ingin mendengar cerita kebakaran itu, ada yang bertanya tentang bentuk akiknya, ada pula yang datang meminta air akik sebagai obat.

Setiap hari, di berbagai pelataran rumah warga, pembicaraan batu akik menjadi trending topic. Siang malam, tua muda, saling bertukar cerita tentang batu akik yang diperolehnya. Tapi cerita tentang Pardi selalu menarik perhatian untuk diperbincangkan. Meskipun tidak sedikit yang membencinya karena resah.

Keresahan  tidak hanya dirasakan oleh istri Pardi tapi juga dirasakan oleh para istri yang suaminya jarang pulang karena mencari batu akik. Ada yang mencari di sungai, pantai, pegunungan, di pohon-pohon besar. Ada juga yang sampai bermalam-malam di kuburan kramat hanya ingin mendapatkan batu akik, terlebih pada amlam Jumat.

“Mungkin Pardi mendapatkan batu akik itu dari seorang kiai. Mungkin juga dari kuburan ibunya. Ibunya kan seornag dukun.”

“Bisa jadi.”

“Mungkin saja perempuan itu adlaah jelmaan dari ibunya,” Sono tetangga Pardi menerka-nerka.

“Benar, benar.” Serempak tiga lelaki paruh baya menimpali dengan anggukan kepala.

“Mungkin saja.” kata Sono.

Tapi Pardi tak pernah menjelaskan dari mana akik naga itu didapatkan. Saat ditanya, dia hanya menjawab. Cobalah menjadi teman baik dan selalu menjaga serta percaya akan adanya kehidupan di setiap ciptaan Tuhan.

Baca juga:  Cerita Sehari-hari di Dalam Rumah: Tak Mampus Dikoyak-koyak Sepi!

“Jika kita istikomah pasti ada haddam yang akan singgah dan menjadi penunggu pada benda yang kita percaya dan kita rawat.” Begitulah cara Pardi menjawab pertanyaan. Membuat orang-orang itu semakin penasaran dan lebih bersemangat dalam perburuan batu akik.

“Mau sampai kapan akan seperti ini terus, Mas” Kelu istri Pardi setelah tamu-tamunya pergi mencari akik. Semenjak peristiwa kebakaran itu ketentraman anak dan istrinya menjadi terganggu. Mereka harus berbagi ruang untuk orang-orang yang datang tak mengenal waktu. Rumah kecil yang dibangun dari bantuan warga itu, tak pernah sepi, terutama saat malam hari.

Pardi hanya diam.

“Sebaiknya katakan yang sebenarnya, Mas.”

“Sssttt…” Dengan sigap Pardi menutup bibir istrinya dengan telunjuk.

“Ssst…ssst…” [] – g

Madura-Jejak Imaji, 2012-2015





Catatan:
[1] Hadden atau khodam adalah penjaga (akik) yang didatangkan dari dunia gaib untuk manusia.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sule Subaweh
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan rakyat” pada 15 Februari 2015