Denggan Menghilang

Karya . Dikliping tanggal 9 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
Usia Denggan baru lima tahun. Masih sangat kecil. Tapi sudah ada tanda-tanda bahwa kelak ia akan tumbuh jadi bajingan seperti mendiang ayahnya, Marapande. Ia sering pulang membawa berbagai jenis mainan, entah dari mana barang-barang itu dia peroleh.

Usahamu membujuk agar ia memberitahu dari mana mainan itu diperoleh, tidak dia tanggapi. Anak itu bersikap masa bodoh. Segala ucapanmu bagai tidak pernah masuk ke telinganya. Ia justru sibuk memainkan mainan-mainan itu.

Awalnya kau masih bersabar menghadapinya, bersikap lembut dan membujuk dengan berbagai cara agar ia mau memberitahu dari mana asal mainan itu. Kau juga mengatakan, mainan itu harus dikembalikan kepada pemiliknya. ‘’Ini punyaku!’’ Ia berkata sambil terus memainkan mainannya.

‘’Mainan ini harganya mahal,’’ katamu.

‘’Ompung tak pernah membeli mainan seperti ini untukmu.’’

Ia tidak menggubrismu. Kau tak hilang akal. Kau coba menakut-nakutinya. Kau bilang pemilik mainan itu akan mencarinya, lalu memukulinya. Tapi, usaha itu tidak mempan. Anak itu malah bersikap seakan-akan kau tidak pernah ada.

Akhirnya kau tak bisa menahan diri. Kau rampas mainan itu dengan kasar, lalu menyembunyikannya. Anak itu menatapmu dengan sorot mata yang tajam. Sama sekali tidak menangis. Mata itu begitu menakutkan. Seakan-akan anak itu ingin menghabisimu. Kau merasa ditantang, lalu memberinya sebuah tamparan.

Anak itu diam saja.

***

KETIKA kali pertama aku ajak Denggan ke rumahku, lalu bertemu dengan kedua orang tuaku, temanku ini bisa dengan cepat mengambil hati orang dewasa. Mungkin karena wajahnya yang lucu dengan pipi tembam dan tatapan selalu sayu akibat kelopak matanya yang cembung. Ia juga sangat sopan, selalu bertutur sapa ketika bicara atau menjawab pertanyaan yang diajukan ayah maupun ibuku. Kadang ia menjadi sangat lucu. Apa pun yang diucapkannya mengundang tawa kedua orang tuaku, meskipun ia tidak berniat melucu.

Tapi, apabila Denggan sudah pulang, kedua orang tuaku akan memarahiku. Mereka melarangku berkawan akrab dengan Denggan. Kata Ayah, Denggan itu punya darah seorang penjahat. Ia memperolehnya dari ayahnya, Marapande.

Seumur hidupnya Marapande selalu menyusahkan orang lain. Pekerjaannya mencuri, apa saja dia curi. Kalau Marapande sudah berniat akan mencuri di sebuah rumah, tak akan ada yang mampu menghalangi niat itu. Sekalipun rumah itu dijaga ratusan orang, ia akan tetap bisa masuk tanpan ada yang mengetahuinya.

Kemampuan Marapande itu diperoleh dari leluhurnya, yang memang mewariskan ilmu mencuri itu kepada anak keturunannya. Meskipun begitu, tak semua orang di dalam keluarga Marapande punya ilmu mencuri. Hanya Marapande yang menguasai ilmu mencuri itu, padahal mereka tujuh orang bersaudara.

Marapande sendiri tidak pernah mengenal ompungnya, apalagi leluhurnya. Ketika ia lahir, ompungnya sudah lama meninggal. Ia tidak pernah menerima ilmu mencuri itu langsung dari ompung apalagi leluhurnya. Konon pula dari ayahnya, yang bukan seorang pencuri.

Baca juga:  Odi Ergo Sum - Kisah Azzali - Kalijodo
Ayah Marapande itu seorang yang taat beragama. Semua orang menghormatinya karena wibawanya. Meskipun orang tahu ia punya darah pencuri, tapi ia tidak pernah mencuri. Ilmu mencuri itu tidak menitis ke darahnya. Ilmu itu justru menitis kepada Marapande.

‘’Denggan itu satu-satunya anak Marapande. Anak itu pasti mewarisi ilmu mencuri itu,’’ kata Ayah.

Aku tidak mudah dipengaruhi Ayah, karena Denggan tidak pernah aku lihat mencuri. Lagi pula untuk apa Denggan mencuri, ia bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan hanya dengan memikirkannya. Aku sering menyaksikan ketika Denggan ingin mobil-mobilan, misalnya, pada saat itu juga sebuah mobil-mobilan sudah ada di tangannya. Entah dari mana mobil-mobilan itu datang. Tiba-tiba saja sudah dia genggam. Seperti sihir, segala sesuatu terjadi begitu saja.

***

KAU pikir Denggan akan jera dan tidak lagi membawa barang-barang ke rumah. Ternyata dugaanmu keliru. Ia semakin sering membawa mainan ke dalam rumah. Kau tetap memarahinya. Sikapnya tetap seperti biasa. Kemarahanmu tidak berarti apa pun baginya.

Sejak itu kau tak pernah bertanya lagi, langsung menyita mainan itu. Kau menyembunyikannya. Kau berharap suatu saat ada orang yang mengaku kehilangan mainan, dan kau tinggal memberikan mainan-mainan itu. Tapi, tidak pernah ada yang datang mengeluhkan kehilangan mainan. Kau menunggu. Berhari-hari, sepekan pun lewat. Tidak ada yang datang. Sebulan pun berlalu. Tetap tak ada yang datang. Sementara ia tetap pulang membawa mainan.

Setiap kali mainannya kau sita, besoknya ia pulang membawa mainan baru. Mainan-mainan yang kau sita itu semakin lama semakin banyak. Lemari tempat kau menyembunyikannya sudah penuh. Kau kehabisan tempat untuk menyembunyikannya.

Kau pikir anak itu sudah keterlaluan. Kalau dibiarkan, seluruh rumah akan penuh mainannya. Suatu saat orang akan melihat mainan-mainan itu. Mereka akan heran. Sangat pasti, mereka akan menyebut Denggan mewarisi perilaku buruk Marapande.

Marapande? Setiap kali ingat Marapande, kau menyesal punya menantu seperti dirinya. Mestinya, kau melarang Nauli, anak gadismu, menikah dengan laki-laki itu. Tapi, ketika kali pertama Marapande mendatangimu dan mengatakan niatnya untuk menikahi Hindun, kau kagum pada keberaniannya mengungkapkan isi hatinya. Kau tak kuasa menolak, karena kau percaya laki-laki yang punya keberanian pastilah laki-laki yang bertanggung jawab.

Memang rasa percayamu itu tidak keliru. Marapande sangat bertanggung jawab. Ia menghidupi Nauli layaknya seorang suami menghidupi keluarganya. Cuma, kau tak pernah tahu bagaimana cara Marapande menghidupi keluarganya. Tidak pernah jelas apa pekerjaannya. Ia jarang keluar rumah, tapi apa pun keinginan Nauli selalu bisa dia penuhi.

Baca juga:  Arloji Bang Olo
Segala sesuatu kemudian terungkap ketika salah seorang warga mengaku memergoki Marapande sedang mencuri di rumahnya. Tidak jelas betul kabar itu. Tapi, seluruh warga langsung percaya, lalu melabrak Marapande ke rumahnya. Mereka kemudian menyeret Marapande ke luar. Entah siapa yang memberi memulai, warga menghakimi Marapande. Selang beberapa menit, Marapande tewas.
Nauli yang sedang mengandung Denggan, syok mengetahui kematian Marapande. Sejak itu tubuhnya menjadi lemas, sakit-sakitan. Ketika ia melahirkan anaknya, tubuhnya sangat lemah. Ia meninggal sebelum anaknya lahir. Anak itu kemudian kau beri nama Denggan.

***
AKU percaya Denggan itu punya kemampuan sihir. Dengan kemampuannya, ia mewujudkan apa saja yang dia inginkan. Tapi, kau malah selalu mencurigainya, sama seperti kedua orang tuaku, juga sebagian besar warga di kampung kita. Kau menuduhnya mencuri kalau ia pulang membawa main-mainan ke rumah. Tanpa mau mendengarkan penjelasannya, kau langsung menyita dan menyimpannya.

Aku jatuh kasihan pada Denggan. Sikapmu sering kasar padanya, padahal ia hanya punya dirimu. Tidak ada seorang pun yang percaya kalau ia tidak pernah mencuri. Semua orang percaya ia seorng pencuri.

Kau harus memikirkan bagaimana ia mau mencuri? Ia jarang keluar rumah. Tidak punya banyak kawan. Hanya aku kawannya, karena yang lain menolak berkawan. Mereka takut dimarahi orang tua masing-masing. Tapi kalau Denggan memberi izin agar mereka memainkan mainannya, barulah mereka mau berkawan dengan dirinya.

Cuma, Denggan kurang suka berkawan dengan mereka. Ia ingin perkawanan dengan siapa pun terjalin karena hati, bukan karena mengharapkan pamrih. Tapi di belakang, malah menjelek-jelekannya.

Hanya aku satu-satunya orang yang menjalin perkawanan secara tulus. Bagiku, Denggan itu anak yang baik. Terlalu baik, malah. Ia mau memberikan mainan-mainannya kepadaku. Gratis. Aku yang tidak pernah mau menerimanya, karena takut kedua orang tuaku akan bertanya-tanya. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Tidak mungkin aku katakan mainan itu diberikan Denggan. Mereka akan menyangka bahwa aku sudah ikut-ikutan mencuri seperti anggapan mereka tentang Denggan.
Aku lebih suka memainkan mainan itu bersama Denggan. Kalau kami sudah bosan, Denggan akan membawa pulang mainan itu ke rumahnya. Seperti biasa, kau akan marah padanya dan menyita mainan itu. Denggan akan menceritakan semuanya padaku.
‘’Kau harus sabar,’’ kataku.
***
DENGGAN memang penyabar. Ia terima apa pun yang kautuduhkan meskipun ia tidak pernah melakukannya. Itu sebabnya ia sering bersikap seolah-olah tak mendengarkan ketika kau menasihatinya. 
Ia mendengarkan semua perkaaanmu, juga cacimaki yang kadang tidak bisa kaukendalikan. Hatinya sering sakit. Tapi ia diam saja.
Sebetulnya ia kasihan kepadamu. Kau tidak pernah tahu kemampuannya yang luar biasa, tapi kau sudah memvonisnya lebih dahulu. Baginya, kau sama saja seperti orang lain, yang menghukumnya tanpa alasan jelas seperti juga mereka menghukum ayah dan ibunya tanpa alasan jelas.
Sebagai satu-satunya orang yang dia miliki, seharusnya kau mendukungnya. Tapi tidak. Kau malah selalu ketakutan kelak ia akan seperti mendiang ayahnya. Rasa ketakutanmu itu luar biasa. Kau selalu curiga kepadanya. Puncak kecurigaanmu malah tak masuk akal.
Suatu sore, saat ingin bertemu Denggan karena sudah lama tidak pernah melihatnya, aku lihat kau mengambil lampu minyak yang disangkutkan di dinding papan rumahmu. Di luar malam mulai merambat. Dengan lampu di tangan, kau melangkah ke jendela, menutupkan daun jendela. Setelah memastikan terkunci rapat, kau melangkah ke pintu rumah dan memastikan bahwa pintu itu terkunci rapat.
Setelah itu kau melangkah ke pintu yang memisahkan ruang tamu dengan dapur. Kau berhenti sebentar ketika tubuhmu sejajar dengan sebuah foto berbingkai kayu yang ditempel di dinding. Kaupandangi foto yang berisi seorang perempuan muda dan seorang anak perempuan yang masih berumur lima tahun. Itulah foto mendiang istrimu, Dumasari, bersama mendiang anak gadismu, Nauli. Mendadak air matamu menggenangi kelopak mata. Buru-buru kautinggalkan foto itu.
Kau sibak gorden bercorak bunga-bunga yang jadi pemisah ruang tamu dengan dapur. Dapur perlahan- lahan mulai terang oleh pendaran lampu minyak yang kau bawa. Sudut-sudut dapur yang kelam dan jorok terlihat jelas. Pada beberapa tiang tampak sarang laba-laba. Kau menarik napas dalamdalam.
Kau melangkah sangat perlahan. Suara langkahmu tak terdengar pada lantai kayu. Tak ada derit pada lantai itu seolah-olah tubuhmu sangat ringan. Lalu kau angkat lampu minyak tinggi-tinggi untuk menyinari seluruh bagian dapur. Dan, tiba-tiba, cahaya yang temaram itu menangkap sosok anak kecil sedang jongkok dekat tungku. Kedua tangan yang kecil itu terikat pada sebatang kayu, sedangkan pergelangan kaki yang sangat ramping itu terbelenggu dua batang kayu balok yang disatukan. Di samping anak itu ada sebuah cangkir kaleng dan piring kaleng. Beberapa butir nasi terserak di sekitarnya.
Aku terenyak. Aku tahu itu Denggan. Pantas ia tak pernah lagi terlihat. (62)
— Budi Hatees bergiat di Sanggar Menulis Tapanuli Selatan dan menulis karya sastra di berbagai media cetak. Kini tinggal di Kota Padangsidempuan, Sumut.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Hatees
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 8 Februari 2015