Eksekusi

Karya . Dikliping tanggal 3 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
PEREMPUAN itu tidak terlalu cantik. Namun senyumnya terasa begitu teduh. Ia perempuan yang cerdik kalau dilihat dari caranya berbicara. Sebab itu, saya senang menjalin kerja sama dengannya. Kisah-kisahnya pun tidak sedikit yang memenuhi lembaran buku harian saya.
Saya dan perempuan itu bisa dibilang hidup senasib. Setiap pekerjaannya adalah jembatan penyambung hidup. Baik untuk diri atau keluarganya. Apa pun bisa dilakukan demi mempertahankan napas di arus kesulitan kota ini.
Sebenarnya kami tidak terlalu lama kenal. Tetapi, di luar pekerjaan, saya sangat akrab. Ia yang bekerja di salah satu cabang kantor pos kerap bercerita banyak hal tentang hidupnya yang malang. Orangtuanya meninggal dengan dililit utang. Ia menjadi pundak dari beban keluarganya sejak usia SD. Sebab itu, semua pekerjaan bisa ia lakukan asal menguntungkan. Dapat terbebas dari tekanan seorang rentenir yang menjarah dirinya.
“Silakan, Mas, kilat atau ekspres?” senyumnya mengembang dari bibirnya yang tipis dan jernih.
Saya letakkan sebuah paket di timbangan digital, “yang kilat berapa?”
Perempuan itu bertahan dengan bibirnya yang indah, Penuh senyum. Ia lihat angka berat paket yang tertera di layar timbangan. Lantas meraih bungkusan paket dan melihat alamat tujuan yang saya tulis.
“Saya cek dulu ya, Mas.”
Selang beberapa detik. “Kalau kilat Rp 11.500. ekspres Rp 19.800,” ujarnya.
Saya terdiam. Pura-pura berpikir. Tepatnya terpukau melihat wajahnya. Sungguh, bola mata ini tak mampu ditahan untuk tidak terus mencuri pandang ke arah perempuan itu.
“Mas, bagaimana?” tersentak. Kali ini tertangkap basah bahwa perhatian saya telah sampai pada permukaan dadanya yang indah dan tebal. Tertegun. Ada kekhawatiran, kalau-kalau ia akan tersinggung atau marah. Tetapi, ia malah tersenyum. Senyumnya berusaha disembunyikan.
“Iya, yang itu.” Saya masih gugup. Gelagapan. Malu. Sedikit takut!
“Yang mana? Kilat atau ekspres?” tanyanya lagi. Saya mematung.
“Express.” Jawab saya sekenanya. Kali ini perempuan itu tidak bisa menyembunyikan lagi garis-garis senyumnya yang lembut. Sehingga saya semakin sulit mengendalikan bola mata untuk tidak menatapnya.
“Seperti biasa, kan?” bisik perempuan itu. Cair. Saya mengangguk, “Yang lebih cepat dan aman!” Saya berisyarat. Ia kembali mengulum senyum. Lantas diletakkannya paket terbungkus rapi di tempat terpisah.
***
Suatu pagi, tiba-tiba pacar saya marah. Ia menuduh saya memiliki hubungan intim dengan petugas pos. Semua buku harian yang banyak mengurai tentang perempuan itu telah ia baca. Sebenarnya, itu tidak cukup bukti untuk menuduh saya punya hubungan asmara dengan perempuan itu.
Braaaaaakkkk.
“Siapa yang kamu maksud perempuan pos dalam buku ini?” ia tiba-tiba menyeringai. Melempar buku harian ke meja.
“Kau punya hubungan apa dengan perempuan itu?”
“Jangan salah paham dulu.” Saya mencoba menjelaskan.
“Jangan salah paham gimana? Dalam buku ini jelas-jelas kamu telah memiliki hubungan dekat dengan perempuan itu.”
“Itu hanya catatan saja. Fiktif.” Saya coba mengelak.
“Catatan pertemuanmu dengan perempuan itu? Catatan perjalananmu dengan perempuan itu? Catatan kekagumanmu terhadap perempuan itu? Kamu bilang semua fiktif?” Sepasang matanya membara.
Braaakkk.
Ia kembali membanting buku itu ke hadapan saya. Pergi. Saya tidak bisa membela. Api cemburu telah menggerogoti pikirannya. Tuntaslah kemarahan ia tuangkan.
Saya terkejut melihat buku tergeletak di meja. Terselip selembar foto perempuan pos yang pernah saya simpan rapat-rapat dalam lipatan pakaian di lemari. Hari itu juga, ia meminta agar hubungan kita putus. Saya menolak. Ia tetap memaksa. Apapun alasannya ia tetap akan pergi dari kehidupan saya.
“Beri aku waktu menjelaskan semua ini!” Saya merayu.
“Semuanya sudah cukup jelas.”
“Tapi kamu salah paham.”
Ia langsung pergi. Tak mau mendengarkan penjelasan lagi.
***

Rencana liburan akhir semester minggu ini untuk memperkenalkan saya kepada orangtuanya, gagal. Sejak peristiwa itu, ia tak mau lagi menemui saya. Nomor handphone-nya sulit dihubungi. Saya berusaha mencari kabar melalui teman-temannya. Tetapi, semuanya bilang tidak tahu. Saya juga mencoba menghubungi kakaknya seorang polisi yang bertugas di Yogyakarta. Tetapi, nomornya kini tidak pernah aktif.

Baca juga:  Keledai
Di sela kesibukan saya kuliah sambil bekerja sebagai marketing buku di salah satu penerbitan di Yogyakarta, saya selalu luangkan wkatu untuk menyambangi kosnya. Namun, sayang usaha itu sia-sia. Ia tak pernah ada di kosnya. Di beberapa warung kopi tempat biasa ia nongkrong juga tak pernah ada.

 Menurut salah seorang teman kuliahnya, terakhir berjumpa dengannya saat ia duduk menunggu bus di seberang jembatan Janti. Dengan begitu, paling tidak, saya merasa sedikit lega. Artinya kuanggap ia telah pulang ke rumahnya.
Suatu hari saya kembali ke kantor pos untuk mengirim paket buku kepada pelanggan online. Di kantor pos yang tak jauh dari kantor penerbitan tempat saya bekerja, karyawan perempuan itu sedang bertugas sendiri.
Ia tersenyum menyambut saya.
“Silakan, Mas, kilat atau ekspres?”
“Ekspres.” Saya membalas senyumnya.
“Seperti biasa, kan?”
Saya mengangguk dengan mata terpana pada paras wajahnya. Sesekali tak lupa memberi isyarat. Ia membalas dengan senyuman. Penuh pengertian.
Ah, entahlah, memerhatikan perempuan itu tiba-tiba saya tertegun. Lama-lama perempuan itu terlihat manis. Enak dipandang. Tidakkah saya telah mencintainya? Ah, tidak, ini kekaguman saja yang tak lebih dari sebagai teman yang menjalin kerja sama dalam urusan pengiriman barang.
Ya, kedekatan saya dengan perempuan itu sekadar menjalin kerjasama dalam urusan pengiriman barang agar bisa aman sampai tujuan. Terlebih barang yang saya selipkan dalam buku itu. Jika kau bertanya bagaimana triknya? Ini urusan saya dan perempuan itu. Yang jelas ia tahu seluk beluk dalam kantor pos. Dan semua kurir di sana adalah teman karibnya. Dengan kerjasama inilah, saya dan perempuan itu, dan juga orang yang ikut membantu urusan ini–dapat meraup keuntungan lebih besar berlipat ganda dari gaji pekerjaan kami yang pas-pasan.
“Sudah, Mas.” Saya terkejut. Pikiran buyar seketika. Perempuan itu menjulurkan slip bukti pengiriman  ke hadapan saya.
“Oh iya.” Saya menatap sumringah.
Ketika saya pergi meninggalkan kantor pos, tanpa saya duga ada dua polisi datang. Ia berhenti tepat di depan kantor pos. Berdiri tegap dengan sebuah tembak. Kemudian disusul dengan sekawanan polisi dengan mobilnya. Bersamaan dengan seorang kurir yang saya kenal datang untuk mengambil sebuah paket.

Baca juga:  Suatu Pagi di Dermaga

Saya menghentikan langkah di seberang area parkir. Memerhatikan polisi-polisi itu yang tampak serius di depan kantor pos. Kurir itu mempercepat langkahnya. Masuk ke dalam kantor pos. Mengambil sebuah paket untuk ia kirimkan ke alamat tujuan. Namun, sebelum ia pergi membawa bungkusan-bungkusan paket, polisi-polisi tersebut mencegah dan meringkus lelaki berpakaian oren itu.

Saya merasa ada yang ganjil. Saya menjauh beberapa langkah. Memerhatikan dari kejauhan. Polisi-polisi itu masuk ke dalam kantor pos. Menggeledah semua barang-barang yang ada di dalamnya. Tak seberapa lama, salah seorang dari polisi keluar menggiring perempuan pos itu. Tangannya terborgol. Ia dipaksa masuk bersama seorang kurir ke dalam mobil polisi.

Baca juga:  Ular Tiban

Saya mematung. Dari kejauhan melihat betapa raut wajah perempuan itu terbalut oleh duka. Linang air mata dara menetes satu-satu di pipinya. Nyanyian-nyanyian pilu terdengar samar-samar menusuk telinga.

Polisi-polisi itu masih menggeledah semua isi kantor pos. Mendeteksi semua benda-benda dan setiap barang paketan. Tak seberapa lama, salah seorang polisi keluar dari kantor pos. Membawa beberapa bungkus paket. Termasuk paket buku yang baru saja saya kirimkan. Sebelum akhirnya, sekawanan polisi itu pergi meninggalkan kantor pos, membawa seorang kurir dan perempuan pos itu.

***

Malam itu pacar saya menangis. Air matanya meleleh, ketika tahu bahwa saya masuk dalam komplotan pengedar barang terlarang. Ia tidak bisa berbuat apa pun atas penyesalannya yang telah melaporkan perempuan pos kepada kakaknya yang seorang polisi.

Kecemburuan yang terus bercokol di kepalanya, menjadikannya buta ketika ia tahu melalui buku harian saya  tentang perempuan pos yang menjadi agen pengedar narkoba. Dialah yang memberi kabar terciumnya barang haram kepada polisi. Dialah yang menjerumuskan perempuan pos ke rumah besi. Dan, dia pula yang membawa saya ke balik jeruji ini.

Di akhir pertemuan ini, saya melihat betapa mukanya dibalut pilu oleh penyesalan yang tak bisa disulam kembali. Ia melangkah gontai bersama lelehan air mata saat seorang polisi memintanya segera keluar. Sebab, dini hari nanti, eksekusi akan segera dilakukan. [] – g

Yoyakarta, 2014-2015





Rujukan:
[1] Disalin dari karya Marsus Banjarbarat
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 1 Februari 2015