Kantong Kresek

Karya . Dikliping tanggal 10 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
KEJENGKELANKU telah sampai ubun-ubun. Kini, laki-laki itu kembali di depan mataku. Ingin sekali aku memakinya. Rupanya ia sengaja membuntuti kemana-mana. Tapi…
Aku mulai menyadari sesuatu. Aku keliru. Ya, aku sangat keliru. Bukan, ia sama sekali tidak sedang membuntutuiku. Lihat saja tingkah lelaki itu dan benda yang digenggamnya. Aku ingin muntah saja.
Laki-laki itu tepat di depanku sekarang. Tapi yang dilakukannya, dia tengah mengobrak-abrik sampah, tidak peduli tatapan orang yang memandangnya hina. Tidak peduli bau nasi basi yang dibuang orang-orang ke tempat itu. Terkadang ia memungut dan mengumpulkan botol minuman kemudian mengikatkan pada seutas tali yang menggelantung di pinggangnya. Tiap kali ia bergerak botol-botol minuman itu bersuara. Namun ia terlihat begitu menikmati bunyi itu, seperti tengah menikmati instrumen lagu-lagui sendu.
Aku berada di radius lima meter dari lelaki itu. Memandangnya dengan perasaan yang tak terdefinisikan. Aku mengawasinya. Ia menyadari kehadiranku. Mata kami beradu. Kosong.
Aku ingin berceriat sedikit tentang lelaki itu. Dua hari lalu, aku melihatnya di pasar. Duduk di trotoar seperti sedang menunggu seseorang. Tapi aku yakin sekali, ia tidak sedang menunggu seseorang dan barangkali tak seorang pun yang sudi ditungguinya. Sorenya aku kembali melintasi jalan itu. Sendirian. Seorang preman berambut cepak menarik tasku dan berhasil membawanya kabur. Aku berteriak minta tolong seperti orang kesetanan. Tak ada yang berani mengejar preman itu. Mereka hanya menaatp preman yang semakin jauh membawa kabur tasku. Namun, entah dari sudut mana laki-laki itu muncul tiba-tiba, berlari dengan sangat gesit. Ia berhasil merebut tasku kembali. Tapi ia tidak bertingkah seperti seorang pahlawan yang mendatangiku dnegan bangga sambil menyerahkan tas itu. Ia hanya menatapku dari jauh dan meletakkan tas itu pada sebuah batu. Dari kejauhan aku ternganga menatap laki-laki yang kini memungggungiku.
Beberapa hari sebelum kejadian itu, aku beberapa kali melihatnya. Di taman kota, di jembatan, dan terakhir di depan rumah salah seorang temanku. Aku merasa seperti berjodoh dengannya. Ia ada di tiap langkah kakiku. Dan setiap kali bertemu mata kami selalu beradu. Namun kosong.
Sekarang, aku bertemu lagi dengannya. Tiba-tiba saja sosoknya berada di depan kampusku. Duduk termangu di bangku taman. Beberapa temanku melihatnya dengan tatapan takut sekaligus jijik. Memang wajahnya terlihat sangar. Rambutnya sudah menutupi telinga dan kumis tebal semakin membuat wajahnya bertambah sangar. Pakaiannya pun sudah terlihat snagat kumal dan mengundang bau yang taj sedap. Seorang satpam menghampirinya dengan langkah ragu-ragu. Takut jika lelaki itu mengamuk saat diusir. Tapi ternyata yang ditakutkan tidak terjadi. Lelaki itu hanya tertawa lantas pergi.
Aku memperhatikannya dari jauh. Beberapa detik lagi lelaki itu akan berlalu di hadapanku. Aku tidak menyingkir seperti yang dilakukan orang-orang jika berpapasan dengannya. Aku hanya berdiri mematung tanpa takut sedikitpun. Saat melintas di depanku, lelaki itu berhenti dan menatapku dengan tatapan yang hanya ia dan aku yang bisa mengartikan. Tiba-tiba mataku panas. Mataku hampir basah. Namun masih bisa kutahan.
Tiga minggu berlalu, aku tak pernah lagi bertemu dengan lelaki itu. Ada rasa yang tak terdefinisikan. Dulu ia ada di setiap langkahku, seolah ada yang mengomandoi sehingga setiap kesempatan aku bertemu dengannya. Meski kami tak pernah bercakap atau pun sekadar menyapa. Namun, isyarat hati dan permainan mata mengisahkan banyak kisah. Dan aku bisa membaca kisah itu dengan sangat jelas.
***
KOSONG. Rumah kosong. Nyaris tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Kalau tidak ada Nuri, adikkuyang berumur lima tahun, dan kucing kesayangannya, mungkin rumah ini benar-benar seperti tak berpenghuni. Sementara ibuku, hampir setiap hari pulang di atas pukul sembilan malam. Bapak? Ah, aku tak tahu dari mana memulai cerita tentang bapak.
“Kak, tadi Mimin ke sini,” kata adikku sambil menggendong si Sule.
“Hah, yang benar Dik?” Aku langsung meletakkan buku yang sedang kubaca dan menatap Nuri dengan serius. Nuri menganggukkan kepalanya.
“Apa yang dilakukannya tadi? Dia nggak ngapa-ngapain kamu kan?”
“Nggak kak, si Mimin udah berubah. Dia baik sekarang, nggak jahat kayak dulu lagi. Dia ngasih aku permen,” jelas adikku panjang lebar.
“Beneran permen?” tanyaku meyakinkan. Nuri kembali mengangguk.
“Dari mana dia dapat permen itu?”
“Nuri nggak tahu Kak. Oh ya, tadi si Mimin bawa kantong kresek. Kantongnya itu bau banget Kak. Entah apa isinya. Nuri suruh dia buang kantong plastik itu, habis itu dia nggak balik-balik lagi.”
Si Sule, yang berada di pangkuan Nuri mengeong kecil, seakan membenarkan apa yang diceritakan Nuri. Aku tak bertanya apa-apa lagi kepada Nuri. Tiba-tiba perasaanku mendadak tidak enak. Buku yang tadi kubaca kubiarkan tergeletak di atas sofa. Aku berdiri dan menyambar sweater yang kugantung di belakang pintu. Setengah berlari aku menuju ke jalan utama.
Aku mempercepat langkah menuju arah yang tak kutahu ke mana. Ke mana saja arah langkah kaki ini, yang penting aku harus menemukan Mimin. Paling tidak, aku harus memastikan keadaannya baik-baik saja.
Hari mulai gelap saat kulihat ada keramaian yang tak biasa. Tiba-tiba naluri keingintahuanku datang. Aku menyeruak keramaian, mencari tahu.
“Apa yang terjadi, Pak?” tanyaku kepada seorang tukang becak.
“Itu, ada orang yang kelindas kereta, langusng meninggal di tempat, Dik,” jawabnya.
Aku semakin berenergi menyeruak kerumunan. Ternyata si korban telah dibawa ke rumah sakit. Hanya ada ceceran darah dan pakaian korban yang sedang diselidiki beberapa orang polisi. Meski berlumuran darah, aku seperti mengenal kaos biru itu. Tulisan beserta gambar sablonnyasangat familiar bagiku. Aku mendekat, dugaanku tidak salah. Sablon kaos itu bertuliskan ‘Ayah Hebat.’
Lewat tengah malam, aku kembali ke rumah. Kudorong pintu dengan sangat hati-hati, tetapi tetap saja menimbulkan bunyi. Engselnya sudah minta diminyaki, tapi siapa yang akan mengerjakannya? Tidak ada laki-laki di rumah ini. AKu berdoa supaya ibu atau pun adikku tidak terbangun suara itu.
“Dari mana saja kau?” Aku terperanjat mendengar suara ibu dalam gelap. Lampu dihidupkan dan wajah antagonis itu terlihat jelas. Asap rokoknya mengepul ke udara. Jantungku berdetak kencang, keringat dingin membasahi tubuhku. Aku tak sanggup berkata.
Ibu mendekatiku. Aku menunduk, tak berani menatapnya.
“Sudah malam, ayo tidur.” Ibu berlalu dari hadapanku. Aku bernapas lega.
Di atas meja di ruang tamu aku melihat beberapa kertas masih baru. Kubaca tulisna yang tertera di atas kertas itu. Tertulis, Pengadilan Agama Kota Padang. Di sampingnya tergeletak buku nikah. Ada foto bu dan Mimin di sana. []
Padang – Yogya, 2011 – 2014
Mega Nofria, mahasisiwi prodi LinguistikPascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mega Nofria
[2] Pernah tersiar di surat kabar ‘Minggu Pagi’ pada 8 Februari 2015