Pertengkaran Ivan Satu dan Ivan Dua

Karya . Dikliping tanggal 3 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
MAKA beginilah akhirnya: Ivan Satu menghajar perut Ivan Dua dengan tangan kanan. Ivan Dua menggigit betis Ivan Satu. Ivan Satu menjerit, sejurus kemudian menyepakkan kakinya ke kepala Ivan Dua. Ivan Dua terlempar. Setelah bangkit dan mengambil ancang-ancang, Ivan Dua menghambur lantas menggigit leher Ivan Satu. Ivan Satu menjulurkan tangannya ke belakang, mencengkeram Ivan Dua, lantas mengempaskan Ivan Dua ke dalam got.
Selesai.
AKU telah menceritakan kepadamu sebuah kisah persahabatan yang berakhir dengan tidak menyenangkan. Kau boleh meneruskan kisah ini menurut versimu sendiri kepada pacarmu sebagai pengisi jeda ketika kau kehabisan bahan obrolan sementara pacarmu butuh basa-basi yag lebih menggigit sebelum memberi izin menggigit bibirnya; atau sebagai cerita pembasmi kantuk di sela-sela perjuanganmu menyelesaikan skripsi yang mesti direvisi untuk ketujuh kali; atau bisa juga sebagai dongeng pengantar sebelum meminjam uang pada seorang temanmu yang gemar menonton pertandingan tinju kelas bulu. Terserah.
Namun, sebelum melangkah lebih jauh, aku akan mengajukan tiga syarat: Pertama, jangan mengubah nama tokoh yang ada dalam cerita. Biarlah Ivan Satu dan Ivan Dua tetap ada. Untuk mempermudah pendengar atau pembacamu berilah keterangan tentang siapa Ivan Satu dan Ivan Dua tersebut. Kedua, jangan menceritakan kisah ini lebih dari satu kali pada orang yang sama kecuali kau sudah mengubah jalan cerita yang kau bangun sebelumnya. Terakhir, jangan sekali-sekali memaksakan diri menyisipkan pesan moral apa pun ke dalam kisah yang kau ceritakan kecuali kau sedang berhadapan dengan seorang terpidana mati yang tiga jam lagi akan dieksekusi; atau berhadapan dengan gerombolan remaja patah hati yang gemar memotivasi dirinya sendiri dengan menonton televisi.
Sebagai bahan uji coba, aku menawarkan padamu dua contoh kisah alternatif dari kisah yang sudah kuceritakan padamu barusan.
Satu
IVAN satu adalah seorang mahasiswa sastra tahun akhir di sebuah universitas di Padang. Sudah menulis dua ribu tiga ratus delapan puluh tujuh sajak cinta yang ia tujukan kepada tiga puluh lima perempuan dari tingkat usia berbeda yang masing-masing selalu berkomentar singkat, padat, datar, dan seragam setiap kali Ivan Satu menyodorkan sajak cintanya. Ivan Dua adalah seekor anjing-hitam-kurus-tua bangka-penyakitan dengan air liur yang selalu menghambur berantakan setiap kali ia batuk. Batuk yang, aduhai, ketika mendengarnya bisa membuat selera makan lenyap dua jam.
Perkenalan Ivan Satu dan Ivan Dua bermula ketika Ivan Satu menemukan dirinya tenggelam dalam kesedihan bertubi karena usulan proposal skripsi yang ia ajukan kepada Pembimbing Satu dan Pembimbing Dua ditolak dengan mantap, ditambah lagi proposal hubungan berpacaran yang ia ajukan tadi malam kepada salah seorang perempuan dalam sajaknya juga ditolak dengan mantap. Hari itu Ivan Satu merasa bahwa orang-orang di dunia sedang sepakat untuk menghancurkan perasaannya.
Dengan membawa kesedihan di pelupuk mata ia bertolak dari ruang jurusan yang berada di lantai empat menuju salah satu perpustakaan yang berada di lantai satu. Sepanjang perjalanan dari lantai empat ke lantai satu Ivan Satu berhenti di tiap-tiap lantai, melongokkan kepalanya, dan menatap ke bawah. Duh, tinggi. Pasti langsung mati, bisiknya kepada diri sendiri. Namun, karena tujuannya ke perpustakaan adalah tidur, bukan bunuh diri, maka setelah melongokkan kepalanya, menatap ke bawah, dan berbisik, ia kembali melanjutkan perjalanannya. Sampai di perpustakaan, ia mendadak tidak jadi ingin tidur. Ia malah duduk merokok di bangku yang berada di pintu masuk. Duduk dengan pandangan nanar ke arah depan sambil menggerutu-menggerutu sendiri. Saat itu, Ivan Dua yang kebetuan baru saja pulang dari dalam semak-semak di belakang kampus, membawa diri letihnya dan duduk di samping Ivan Satu. Menatap ke arah yang sama.
Sial, sial benar dosen-dosen itu! gerutu Ivan Satu.
Ivan Dua menggonggong.
Mendengar gonggongan itu, Ivan Satu sadar bahwa gerutuannya didengar. Merasa tidak nyaman karena cemas gerutuannya akan dianggap sebagai makian dan tersebar melalui Ivan Dua, ia membuat kesepakatan.
Dengar, Anjing! kata Ivan Satu berbisik. Apa pun yang kaudengar, itu tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiramu.
Ivan Dua menggonggong.
Aku tidak ingin kau menyampaikan kabar yang tidak benar. Tadi itu aku hanya berusaha mencari-cari cara yang tepat untuk menghabiskan kekesalanku dengan segera.
Ivan Dua menggonggong.
Jadi, jangan membuat jalanku meninggalkan kampus ini menjadi semakin dipersulit. Jangan bercerita pada siapa pun tentang apa yang kau dengan barusan. Sip?
Ivan Dua menggonggong.
Apa kau bisa dipercaya?
Ivan Dua tidak menggonggong dan menolehkan pandangannya ke arah yang lain.
Aduh, maaf, aku hanya bercanda. Tentu saja kau bisa dipercaya. Maklum, akhir-akhir ini aku sering dikecewakan diri sendiri jadi agak sulit untuk percaya pada yang lain.
Ivan Dua menoleh pada Ivan Satu dan menggonggong lagi.
Bagus, ujar Ivan Satu sambil mengelus-ngelus kepala Ivan Dua. Kenalkan, aku Ivan. Kau?
Ivan Dua menggonggng.
Hahaha, anjing! Nama kita sama! Luar biasa. Sebuah awal pertemanan yang menyenangkan.
Ivan Dua menggonggong.
Baiklah, anjing. Eh, Ivan. Maukah kau mendengar kekesalanku yang lain? Tapi, aduh. Sebenarnya aku tidak ingin mengingat-ngingatnya lagi, namun karena kau menyenangkan, dan lebih-lebih karena kita teman, akan kucoba.
Ivan Dua menggonggong.
Dua hari yang lalu, aku berkenalan dengan seorang perempuan—
Ivan Dua menggonggong.
O, tentu, tentu saja dia cantik. Ya, meskipun kita punya sudut pandang yang berbeda tentang apa dan bagaimana cantik itu. Wajahnya, kau tahu, seperti kombinasi yang tidak masuk akal dari tiga bintang film syur Indonesia tahun tujuh puluhan—
Ivan Dua menggonggong.
Hahaha. Bukan, bukan itu maksudku. Aku memberi gambaran seperti itu agar kau bisa dengan lebih mudah membayangkan serupa apa perempuan yang berkenalan denganku itu.
Ivan Dua menggonggong.
Kau sendiri yang selalu menyela. Biklah, aku lanjutkan. Perkenalan itu, tentu saja, tidak hanya selesai dengan saling menyebutkan nama. Aku juga berhasil mendapatkan nama nomor ponselnya dengan cara yang, aku pikir, tidak perlu aku jelaskan karena itu bukan bagian penting.
Ivan Dua menggonggong.
Dua jam setelah mendapatkan nomornya, aku mulai menyerang ponselnya dengan sajak-sajak cinta yang kutulis—
Ivan Dua menggonggong.
Benar, hanya sajak. Aku tidak mengiriminya basa-basi apapun atau menanyakan perihal apapun. Sajak, hanya sajak—
Ivan Dua menggonggong.
Jangan menyela terus!
Ivan Dua menggonggong.
Kalau dihitung-hitung, dalam waktu sehari, aku sudah mengiriminya lebih dari tiga puluh lima sajak cinta. Dengan namanya tertulis di bawah judul. Namun, ia tidak pernah membalas dengan apa pun atau merespons dengan cara apa pun ketika keesokan harinya kami berpapasan di depan ruang jurusan. Ya, sepertinya hari itu ia sedang sibuk karena ia tampak kesusahan membawa banyak map dan bahan ajar sehingga barangkali tidak memperhatikan aku.
Ivan Dua menggonggong.
Tidak, teman. Aku tidak berhenti mengiriminya sajak. Justru sejak berpapasan dengannya di depan ruang jurusan itu aku semakin menggebu-gebu menulis sajak dan mengirimkan padanya. Aku merasa ia semakin cantik karena sajak-sajak yang kukirimkan padanya.
Ivan Dua menggonggong,
Hahaha itu bukan GR. Tapi percaya diri, teman. Kulanjutkan?
Ivan Dua menggonggong.
Malam selanjutnya, atau tepatnya, kemarin malam, untuk pertama kalinya, aku tidak mengiriminya sajak, namun mengganti sajak dengan sebuah pertanyaan—
Ivan Dua menggonggong.
Aku bertanya padanya maukah ia jadi pacarku.
Ivan Dua menggonggong.
Dan ia membalas, untuk pertama kali, dengan bertanya sudahkah aku menyelesaikan revisi skripsiku. Ditambah sebuah kalimat, Dosen Pembimbingmu sudah tidak sanggup lagi membantumu, mulai besok saya yang akan menggantikan. Sial!
Ivan Dua menggonggong berkali-kali.
Sial! Jangan perolokkan aku, teman.
Ivan Dua menggonggong lebih keras dari sebelumnya.
Cukup, cukup. Kau membuatku sedih, teman.
Ivan Dua menggonggong sambil mondar-mandir dan menggoyangkan ekornya di depan Ivan Satu.
Cukup. Aku tidak ingin marah oleh ejekanmu.
Ivan Dua berguling-guling di tanah.
Ivan Satu menggelagak darahnya. Ia merasa teman yang baru saja dikenalnya ini sudah berani untuk memancing kekesalan lain darinya.
Hentikan, anjing!
Dua

IVAN Satu adalah seorang pengangguran berumur dua puluh tujuh tahun, berpacaran dengan Rona Dewi, dan akan menikah. Ivan Dua adalah Ivan Satu yang belum menjadi pengangguran, seorang receptionist sebuah boutique hotel di Padang.
Mereka bertemu di ruang tamu sehari sebelum Ivan dua resmi diberhentikan dari tempatnya bekerja namun sudah mengajukan pengunduran diri dan delapan bulan berlalu setelah Ivan Satu menelepon Rona Dewi dan mengabarkan bahwa ia kini pengangguran dan kekasihnya itu mengajukan putus padanya. Ivan Satu, saat itu, sedang mengaduk kopinya yang tanpa gula sambil menukar-nukar saluran TV dengan serampangan berharap mendapat hiburan yang lebih menarik dengan cara menonton acara TV yang berbeda bergantian, dengan durasi masing-masing kurang dari satu detik.
Dan baginya, itu memang lebih menarik daripada menonton satu acara tertentu dengan durasi satu jam atau lebih. Ia tertawa. Namun, ada satu hal yang belum dipelajari Ivan Satu perihal mengganti saluran TV sambil mengaduk kopi. Ia belum belajar bagaimana agar tangan kanannya yang memegang remote control dan tangan kirinya yang memegang sendok bisa bekerja kompak dalam waktu bersamaan sehingga ketika ia tertawa oleh hasil kerja tangan kanan, tangan kiri menjadi iri. Tangan kirinya mendadak ngambek, mengaduk kopi tanpa gula itu lebih cepat dari sebelum dan membuat kopinya tertumpah sesendok demi sesendok.
Ivan Satu menyadari tangan kirinya ngambek setelah salah satu tumpahan kopinya jatuh di punggung kakinya. “Anjing!” umpatnya. Ketika Ivan Satu bersorak “anjing!” itulah Ivan Dua baru saja menyelesaikan ritual paginya di dalam kamar mandi. Ia menyorongkan kakinya satu per satu ke dalam lubang celana. Kaki kanan lebih dahulu, menyusul kemudian kaki kiri. Menaikkan risleting, mengaitkan kancing, memasang ikat pinggang. Kemudian ia mencelupkan tangan kanannya ke air di ember, mengusapkannya ke rambut, dan bergegas ke ruang tamu.
Ivan Satu berlari ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, beginilah yang dilakukan Ivan Satu: ia memasukkan kakinya satu per satu ke dalam ember yang penuh berisi air yang baru saja ditimba Ivan Dua dan disaringnya untuk keperluan mandinya. Kaki kanan lebih dahulu, menyusul kemudian kaki kirinya. Kakinya terasa dingin dan tiba-tiba membuat perutnya mulas. Ia keluar dari ember, melonggarkan ikat pinggang, melepaskan kaitan kancing celana, menurunkan risleting, dan jongkok menghadapi lubang kakus dan dengan satu desakan yang bertenaga melepaskan enam puluh persen sampah yang tertimbun di perutnya ketika di ruang tamu.
Pada saat yang sama Ivan Dua mengaduk kopinya setelah menuangkan sebungkus krimer yang ia dapatkan dari restoran hotel tempatnya bekerja, mengaduknya dengan sebuah gerakan lembut yang mengingatkan kita pada serial TV di mana seorang pendekar sedang mengajari kekasihnya bagaimana mengayunkan pedang, kemudian mengangkat kopi campur krimer itu ke hadapan mulutnya, membuat mulutnya ingin mengembus-ngembus kopi itu, dan terciumlah aroma pagi yang menyegarkan di hidungnya.
Saat itu,ia merasa betapa pagi seperti ini sudah lam sekali tidak ia jumpai. Pagi yang tidak berlalu dengan tergesa. Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Ia mesti menyeduh kopinya setengah gelas dengan air panas dan mencampurkan setengah gelas air dingin agar kopi itu bisa langsung ia minum dan ia bisa menyulut rokok sambil memanaskan mesin motor dan tak lama kemudian berangkat kerja sambil merokok di atas motor yang melaju terburu-buru. Semua itu terjadi karena ia mesti tiba di konter depan sebelum Front Office Manager-nya yang gemar mengeluarkan tomat busuk, air got, telur basi, dan terkadang kecoa raksasa dari mulutnya ketika ada saja bawahannya yang datang terlambat. Ivan Dua sudah bosan dengan semua ketergesaan itu, ia merasa waktu berjalan lebih cepat dan membuat dirinya menjadi lebih tua daripada usianya. Ivan Dua meraih remote TV, memencet tombol power, kemudian mencari siaran TV yang paling ia suka: iklan.
Ia menyukai iklan karena menurutnya iklan adalah siaran TV yang jelas tujuannya, yaitu sebagaimana mestinya, untuk promosi. Sementara siaran yang lain, tidak jelas apa tujuannya. Ada sebuah iklan lewat, dan tanpa alasan yang jelas, ia tertawa, sehingga gelas kopi yang sedang berada tepat di depan mulutnya goyang dan menumpahkan kopi campur krimer yang masih panas itu ke mukanya. “Anjing,” umpatnya. Berlari ke kamar mandi.
Ivan Satu saat itu sudah selesai memindahkan semua sampah yang ada dalam perutnya ke dalam lubang kakus, dan sedang berada di dalam kamar untuk berganti celana. Celananya basah karena ketika cebok ia tidak cukup cermat untuk hanya membasuh bokongnya saja tapi juga turut menyiram celananya. Namun ia tidak kesal karena itu. Ia tertawa saja. Sudah lama ia tidak sesumringah ini sejak putus dengan Rona Dewi. Memang, masih belum hilang dari ingatannya, bagaimana ketika ia sedang butuh dukungan moril karena memutuskan berhenti bekerja, kekasihnya yang sudah ia pacari lima tahun dan berencana menjadi istrinya itu, dengan intonasi datar dan profesional, mengatakan bahwa lebih baik hubungan mereka berakhir saja karena menurut Rona Dewi keputusan Ivan Satu untuk berhenti bekerja itu bisa membuyarkan semua persiapan pernikahan yang sudah ia susun. Karena jelas, tegas Rona Dewi lagi, semua itu butuh biaya. Daripada mesti memaksakan diri meminjam kesana-kemari, lebih baik pernikahan dibatalkan saja.
Sederhana. Tentu saja sederhana, kenang Ivan Satu, namun sederhana itu yang rumit. Sungguh butuh waktu bagi Ivan Satu untuk bisa meredam sakit hatinya, mencabuti bibit dendam dalam dadanya yang mulai tumbuh satu-satu, dan mencari pengalihan. Namun sekarang, ia tak perlu lagi khawatir karena waktu yang ia butuhkan untuk melupakan kebencian pada Rona Dewi, ternyata tidak lama, ia sudah bisa lega.
Ivan Satu kembali ke ruang tamu, Ivan Dua pun begitu. Mereka bertemu.
“Siapa kau?” tanya Ivan Satu.
“Siapa kau?” tanya Ivan Dua.
“Aku Ivan,” jawab mereka berbarengan.
BAGAIMANA? Ya, memang, dua contoh kisah alternatif yang kuceritakan padamu belum cukup rapi, namun sesuai kebutuhanmu, kau bisa menggunakannya, mengembangkannya, atau menghapusnya sama sekali. Tapi ingat, apa pun kisah yang kau ceriakan nantinya, kau sudah sepakat dengan syarat-syarat yang kuajukan. Dan tambahan: bagaimana pun kau memulai kisahmu, jangan pernah mengubah akhir kisahnya. Karena, bagaimana pun kau memulainya, akhir dari setiap kisah sudah ada yang menentukan.
Gang Patai, 2014
Karta Kusumah tinggal di Padang. Giat di Komunitas Seni Nan Tumpah
Rujukan:
[1] Dislain dari karya Karta Kusumah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 1 Februari 2015