Rahasia

Karya . Dikliping tanggal 24 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
MURAD sebetulnya sangat enggan mendatangi rumah Arini, wanita berparas ayu yang sudah dua tahun ini memasung hatinya. Ia selalu menolak bila Arini memintanya bertandang menemui kedua orang tuanya. Bukan karena ia tidak sungguh- sungguh ingin mempersunting Arini.

Ada yang membuatnya ragu untuk hal itu. Padahal Murad sangat mencintai Arini. Persoalannya karena Arini tinggal di Kampung Babi.

Haruskah Murad menolak lagi?

Arini sudah memintanya untuk kesekian kali. Kedua orang tua Arini juga ingin berkenalan dengan Murad. Ingin melihat wajah dan penampilan dokter Murad.

Bukan cuma cerita-cerita manis yang dibawa Arini ketika meninggalkan rumah kost, dan berakhir pekan sesekali di kampungnya. Pada hari yang tidak diketahui Arini, Murad pergi ke Kampung Babi, yaitu sebuah dusun di Desa Way Serdang. Konon Kampung Babi hanyalah sebutan warga Desa Labuhan Batu setelah peristiwa puluhan tahun silam: seorang petani kopi bernama Burhan harus terusir dari kampungnya dengan cara yang sangat memilukan.

Cerita dimulai ketika dua hektare kebun kopi milik Burhan gagal panen karena serangan hama. Burhan bingung menghadapi tagihan utang pada tengku- lak yang tiap bulan harus dibayar. Di tanah miliknya, Burhan memang tidak punya kuasa terhadap hasil panen kopi selain bagi hasil 30 persen saja untuknya. Semua bibit kopi berasal dari tengkulak. Lambat laun akhirnya seba- gian tanah milik Burhan disita. Anehnya beberapa bulan kemudian, lagi-lagi ia mengalami sial. Pada sore hari setelah pulang dari kebun dan beristirahat di rumah, tetangganya mengabarkan ladan- gnya terbakar.

Untunglah ia masih punya rumah yang menaungi istri beserta kelima anak-anaknya. Tapi agaknya Burhan merasa malu dengan kehidupannya. Semua anaknya harus berhenti sekolah karena tidak punya biaya, lalu mereka ikut jejak istrinya bekerja menggarap kebun milik orang lain. Sementara Burhan, sejak peristiwa kebakaran kebun kopi miliknya, menyisakan kelumpuhan kedua kaki sebab ia ter- panggang hampir seluruh badan, demi ingin menyelamatkan sisa-sisa tanaman kopi.

‘’Malik semua yang membiayai pen- gobatanku,’’ cerita Kakek Burhan pada cucu lelakinya sebelum meninggal.

Usia Malik kini hampir 70 tahun dan masih tampak gagah. Kata orang ia hampir menguasai seperempat lahan pertanian di Desa Way Serdang, buah dari keberhasilan jadi tengkulak. Setiap pagi setelah mengelilingi area kebun kopi, dia akan mampir di restoran sim- pang jalan raya. Di sebelah bangunan rumah makan itu berdiri hotel berbin- tang lima. Bangunan itu dulunya rumah milik Kakek Burhan. Di sanalah Murad menginap.

***

MURAD hanya memesan segelas kopi untuk mengganjal perutnya. Pagi itu dia ingin menemui Ki Rudap. Berbekal informasi dari salah seorang petugas hotel tempat ia menginap, Ki Rudap kemungkinan mengetahui ‘’sejarah’’ masa lalu kakeknya.

Baca juga:  Si Lugu dan Si Malin Kundang

Sejumlah orang yang ditemui Murad hanya mau menjelaskan hal-hal baik yang dilakukan Malik. Cerita tentang kekayaannya, sanak keluarga, serta nama harum Malik yang dianggap ikut memajukan desa dari pengentasan kemiskinan, hingga tiga orang anaknya berhasil menjadi tokoh terkemuka di Kabupaten Mesuji, termasuk ayah dari Arini, bakal calon mertua Murad, yang tercatat sebagai salah satu anggota DPR. Tapi bukan semua itu yang mendorong Murad menjejakkan kaki ke daerah tersebut.

’Ingat! Jangan pernah sekali pun kau ke sana, apalagi berurusan dengan orang bernama Malik,’’ pesan Kakek Burhan sebelum meninggal.

Murad tidak tahu pesan di balik semua itu. Kakeknya menyembunyikan- nya sangat rapi hingga ayah dan ibunya sendiri sepakat diam dari keingintahuan Murad. Kenapa keluarganya melupakan tanah kelahiran mereka? Apa yang sudah disembunyikan Kakek Burhan?

Keingintahuan Murad makin besar begitu Arini bilang dirinya cucu Malik. Dan Arini ingin sekali pernikahannya dengan Murad kelak disaksikan pula oleh Malik.

‘’Kakekku sudah sepuh, Mas.

Mumpung ia masih hidup aku ingin kita menikah di hadapannya. Akulah cucu tertua di keluarga kami….’’

***

RUMAH Ki Rudap menyudut di pinggir desa dekat sungai kecil. Sepanjang jalanan yang dilalui mobil Murad, tampak debu-debu membum- bung terbang terbawa angin. Murad masih beruntung perjalanannya tidak dibarengi turun hujan. Kondisi jalan desa yang rusak berat, berlubang, dan bertanah merah.

Ada tiga rumah sederhana yang dikelilingi tanaman ubi singkong sebelum sebuah rumah beratap rumbia yang dituju Murad. Beberapa lelaki dan wanita muncul dari dalam rumah demi menyaksikan kehadiran Murad. Begitu Murad keluar dari mobil, anak-anak berlarian mendekat.

‘’Tahukah kalian di mana rumah Ki Rudap?’’ tanya Murad kepada salah seorang bocah. Serentak kelima anak itu menunjuk sebuah rumah paling sudut. Rumah yang dibangun semipermanen di bagian bawah berdinding bata merah, lalu disambung susunan bilah papan dan diteduhi atap yang menjulang.
‘’Terima kasih, ya!’’ Murad mem- bagikan lembaran lima ribu rupiah kepa- da anak-anak itu. Mereka berebutan gembira. Murad tersenyum. Ia tinggalkan mobilnya di tepi jalanan yang menghubungkan desa selanjutnya.

Menuju rumah Ki Rudap melalui jalanan sedikit menurun, Murad menyaksikan rumah yang ingin disam- bangi pintunya tertutup rapat. Dia sapu pandangan ke sekitar halaman yang ditumbuhi pepohonan dan semak liar. Sampah daun pohon mangga dan jambu air memenuhi sepetak kecil halaman berbatu kerikil. Suasana yang jauh dari  terawat.

Dari setapak jalan kecil terlihat sese- orang mendekat. Laki-laki tua berjalan terbungkuk. Pundaknya memikul jaring dan keranjang bambu berisi ikan hasil tangkapan. Ia bersikap tak acuh pada kehadiran Murad. Padahal Murad sudah memberi salam dan mengutarakan mak- sud kedatangannya. Ceklek! Suara pintu yang dikunci. Ki Rudap hilang di balik pintu yang ter- tutup rapat. Murad menarik napas.

Baca juga:  Silsilah Luka

Gemas. Kesal. Tapi ia memerlukan ban- tuan kakek tua itu untuk sebuah rahasia yang ingin dia ketahui. Murad tidak punya waktu banyak karena esok sudah harus kembali ke Bandar Lampung. Dia coba sekali lagi untuk memanggil Ki Rudap.

‘’Ki, tolonglah! Saya sangat perlu bantuan Ki Rudap. Ini menyangkut masa depan saya. Sebentar lagi saya akan menikah, Ki. Saya hanya ingin tahu kenapa kakek saya melarang saya datang ke sini.’’

Tiba-tiba pintu terbuka sepenggalan wajah, Ki Rudap menelisik tamunya penuh curiga. ‘’Siapa nama kakekmu? Lagi pula kalau sudah meninggalkan desa ini apa pentingnya mengingat kembali.’’

‘’Karena gadis calon istriku berasal dari kampung sini,’’ sahut Murad.

‘’Kau belum menjawab per- tanyaanku tadi.’’

‘’Burhan namanya.’’

Ki Rudap terkejut. Ia menutup kem- bali pintu, tapi Murad dengan gesit menahannya. Terjadi dorong-mendorong yang lalu dimenangkan Murad. Pintu terempas dan Ki Rudap berlari ke dalam. Murad mengejar.

‘’Kau pasti mengetahui sesuatu. Bilanglah, Ki! Ada apa dengan masa lalu kakek saya? Kenapa ia takut sekali jika saya berurusan dengan keluarga Malik?’’

Murad terpaksa menahan Ki Rudap dengan lingkaran lengan ke lehernya. Ki Rudap meronta-ronta sambil merintih.

‘’Ampunkan saya, Tuan…. Bunuh saja saya yang sudah berdosa ini.

Sayalah penyebab kakekmu terusir dari kampung ini…,’’ Ki Rudap menangis. Ia berlutut setelah Murad melepaskannya. ‘’Bangunlah, Ki. Ceritakan saja apa masalahnya. Saya hanya ingin tahu cerita yang sebenarnya.’’

Ki Rudap menyusut air matanya, lalu mengajak Murad duduk di kursiruang tamu. Empat pasang kursi dan sebuah meja kecil dari susunan bilah bambu.

“Setelah kejadian terbakarnya kebun kopi milik kakekmu, beberapa bulan kemudian ia pergi ke kota.Pada hari ia kembali, Malik datang menemuiku, ia merasa tidak senang melihat Burhan bisa menata hidupnya secepat itu. Kakekmu membuka warung nasi di rumahnya. Usaha yang dikelola bersama istri dan anak-anaknya itu maju begitu cepat. Sedangkan utang Burhan kepada Malik setiap bulan terus berlipat-lipat. Malik ingin Burhan melunasi semuanya. Tapi Burhan tidak bisa memenuhinya hingga disusunlah rencana untuk membuat Burhan terusir dari desa ini….’’

‘’Ia menyuruhku untuk menye- barkan fitnah atas diri Burhan. Setiap pagi aku sengaja meletakkan lilin dan segala perkakas selaiknya orang yang baru saja membuat ritual siluman babi jadi-jadian….’’

Baca juga:  Terpanggil dari Tempat yang Jauh - Oh Raja, Hidup Sang Raja - Pada Hari Kau Meninggalkanku

‘’Astagfirullah,’’ desis Murad. ‘’Ya, kami memfitnah kakekmu punya peliharaan babi ngepet. Aku yang menyebarkan berita hingga orang- orang kampung percaya. Padahal desa waktu itu memang sedang rawan pen- curian. Setiap minggu ada saja rumah warga yang disatroni maling terutama setelah panen kopi. Lalu pada hari yang sudah kami sepakati, seluruh warga kampung menyerang rumah Burhan.’’

‘’Teganya kalian terhadap keluar- gaku!’’ rahang Murad mengeras.

‘’Tapi sebelum rumah Burhan dihancurkan orang-orang kampung, aku sudah memberitahu Burhan agar secepatnya pergi keluar desa. Dan… dan… sebetulnya, akulah yang mem- bakar kebun kopi milik kakekmu.

Semuanya Malik yang meminta.’’ ‘’Busuk sekali hati kalian!’’

Ki Rudap membungkuk, dalam posisi duduk hampir menyentuh ujung sepatu Murad. Ia tergugu. Dia ulang- ulang kata maaf dari mulut keriputnya. Sesungguhnya dia pun terluka. Sudah lama ia menyesali perbuatannya yang hina demi bayaran yang tidak seberapa dari Malik. Ki Rudap sudah membayar mahal untuk kesalahannya. Setelah kejadian itu, istri dan tiga anak- anaknya tewas dengan cara menge- naskan. Dibunuh dan diperkosa kawanan perampok saat ia sedang bermalam di rumah istri barunya. Kini Ki Rudap sebatang kara.

‘’Maafkan semua kesalahanku, Anak muda. Aku rela mati di tanganmu asal bisa menebus semua dosa-dosaku pada Burhan,’’ mohon Ki Rudap dengan suara bergetar.

‘’Kakekku orang baik. Dia pasti sudah memaafkan jauh sebelum ia meninggal. Pikirkan saja caramu berto- bat dengan benar. Dan ada satu hal lagi yang ingin kutahu sebelum pergi,’’ Murad berdiri seraya menjauh dari Ki Rudap. Ia berjalan ke pintu, masih dengan tatapan marah yang berusaha ditahan.

‘’Apa yang menyebabkan Malik begitu membenci kakekku?’’

Ki Rudap sudah berdiri. Alisnya berkerut mencoba mengingat sesuatu.

‘’Karena Yusna. Ia tunangan Malik tapi Burhan merebut dan menikahinya.’’

Dada Murad berdesir. Seluruh tubuhnya mendadak lemas. Tiba-tiba ia teringat Arini, gadis yang dia cintai. Entah apa yang ingin dilakukannya nanti setelah kembali ke kota. Ia merasa pikirannya buram. Kekuatan untuk mengikat hati Arini seperti tali- tali yang terputus tiba-tiba.

Senja mulai turun di Desa Way Serdang. Gerimis tumpah perlahan. Jalanan beraspal berdecit karena bunyi roda mobil yang dikemudikan Murad.(62)

—Ida Refliana YH, penulis tinggal di Bandarlampung


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ida Refliana YH
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 22 Februari 2015