Samin Kembar

Karya . Dikliping tanggal 9 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
BAIKLAH kumulai dengan fakta tak terbantah: pada 27 Februari Samin Soerosentiko ditangkap. Sebelum dia dibuang ke Sawahlunto, Padang, aku, Asisten Residen Blora, kepanjangan tangan Pemerintah Hindia Belanda, telah mencatat hasil interogasi perih lelaki yang secara diam-diam kukagumi itu. Sejak itu, kau tahu, warga Randublatung, seperti kehilangan patih, seperti kehilangan ratu.

Akan tetapi, ada juga fakta yang kusembunyikan: sembilan hari kemudian seseorang—yang semula kuanggap hantu bermuka pucat—malam-malam datang ke rumahku dan memperkenalkan diri sebagai Samin. “Aku Samin. Aku masih di Kedung Tuban. Tak satu pun kompeni yang bisa menangkapku.”

Tentu saja aku kaget. Aku hafal benar wajah Samin Soerosentiko. Namun harus kuakui raut lelaki beraroma daun jati itu sungguh-sungguh serupa dengan anak Soerowidjojo[1], serupa dengan Kohar[2].

“Sila duduk,” aku mencoba menyembunyikan keterkejutan. “Kau dari mana dan akan ke mana?”

Sejenak sunyi. Rasanya aku melihat daun-daun dan ranting-ranting pepohonan di halaman tak bergerak.

Setelah laki-laki 48 tahun itu menyeruput minuman yang disajikan oleh jongosku, dia menjawab pertanyaanku dengan tenang. Kata dia,”Aku dari hati dan akan kembali ke hati.”

Ini jawaban khas Samin. Meskipun demikian, aku tak sepenuhnya percaya lelaki kurus dengan kumis melintang ini benar-benar Soerosentiko. Karena itulah, aku memancing dengan beberapa pertanyaan lagi. Aku meniru pertanyaan yang diajukan sang interrogator kepada Samin sesaat setelah dia ditangkap. Aku hanya mengulang apa pun laporan yang sudah termaktub di Het Nieuws van Den Dag pada Maret 1907.

“Siapa namamu?” tanyaku, sedikit gugup.

“Aku wit. Wit itu pohon. Orang-orang memanggilku Kalang atau Kasmin. Kompeni memanggilku Kasmin Kalang.Tetapi aku sesungguhnya Samin. Bukan Samin Soerosentio. Samin Soerosentiko tak ada. Samin itu bukan nama. Ia hanya tetenger[3], maknanya kabut.”

Kubiarkan dia menggugat keberadaan Samin Soerosentiko. Aku harus bersabar agar tahu lebih banyak tentang laki-laki misterius ini.

“Di mana kamu tinggal?” tanyaku lagi dalam nada resmi.

“Kepalaku adalah rumahku. Pesantrenku, pesantren untuk badanku sendiri, berada di Kalang. Aku bertetangga dengan hujan. Aku sering bercakap-cakap dengan sungai.”

Hmm, ini jawaban yang agak kacau. Seharusnya dia tidak perlu menyebut-nyebut sungai atau hujan.

Apakah aku perlu menanyakan dia percaya pada Tuhan? Kurasa tidak perlu. Percaya atau tak percaya bukan urusanku. Tetapi aku yakin benar lelaki kencana ini sangat dekat dengan Tuhan sehingga jika kutanya paling-paling dia akan menjawab, “Aku percaya pada diriku. Aku percaya pada kabut. Aku percaya pada Samin.”

Apakah aku juga perlu bertanya, apakah dia percaya pada surga,neraka, atau kehidupan setelah kematian? Kurasa juga tidak perlu. Aku yakin pria bermata tajam ini sangat mengimani keberadaan surga-neraka; jika pun kutanyakan, paling-paling dia akan menjawab,”Surga dan neraka ada di mulutku. Jika mulutku membuncahkan kata-kata kotor, neraka akan muncrat ke mana-mana. Sebaliknya jika mulutku mengeluarkan kata-kata wang, surga akan bertebaran ke hati siapa pun. Adapun tentang kematian, sedikit pun aku tak percaya, karena di kubur atau di mana pun, aku tetap hidup.”

Baca juga:  Setelah Pembunuhan Pertama
Karena itulah, kuteruskan dengan pancingan lain. “Apakah Tuhan menyayangimu?”

“Apakah kerbau menyayangimu?” dia balik bertanya.

Aku tertawa. Dia juga tertawa.

“Ayolah jawab! Apakah kerbau menyayangimu?”

Aku tak mau menjawab. Aku justru teringat ramalan atau nubuat Samin Soerosentiko perihal kerbau. Samin pernah bilang,”Kerbau jawa masukkanlah ke kandang, kerbau bule biarkan di luar[4].” Itu berarti tak lama lagi kami – yang mereka sebut sebagai kopeni – akan pergi dan orang-orang Jawa berkuasa.

“Baiklah kalau kau tak mau menjawab,” dia tampak mulai tak sabar, “akan kujawab sendiri pertanyaan itu. Kerbau menyayangimu karena mereka menganggapmu sebagai kerbau. Kerbau menyayangi Tuhan karena ia menganggap Tuhan sebagai sesuatu yang tak tersentuh oleh akal. Bukan akal manusia, tetapi akal kerbau.”

“Apakah kerbau punya akal?” aku bertanya.

“Apakah hanya manusia yang punya akal?”

Tak segera kujawab pertanyaan itu. Aku merasa lelaki cerdas yang muncul dari kegelapan itu sedang mempermainkan aku. Tentu saja aku tak mau terpedaya. Tak mau tersihir oleh pandangan mata iblisnya.

Tak ada cara lain, untuk menundukkan dia, aku harus memberondong dengan beberapa pertanyaan lagi. Aku harus menyudutkan dia sebagai penjahat. Jika sudah keok, aku akan mengusir dia secepatnya.

“Semua mausia,” kataku, “menyangka dirinya punya otak. Aku kira itu pandangan yang keliru. Manusia hanya memiliki sesuatu yang menyerupai otak. Otak sejati hanya dimiliki Tuhan. Karena itu, aku tak mau berdebat soal otak lagi.”

“Kau mau mengajakku berdebat soal angin?”

Aku menggeleng. “Aku ingin mengajakmu berdebat tentang maling.”

Hmmm, kali ini dia pasti takluk. Kali ini dia akan bilang, “Ya, aku pernah mencuri kayu. Kau tahu, sejak 1874 kompeni telah menganggap hutan-hutan di wilayah Blora, Grobogan, dan Bojonegoro sebagai miliknya, tetapi tetap saja kuambil kayu-kayu itu. Tak hanya itu pada 1897 hutan di wilayah Blora ditetapkan sebagai houtvesterijen. Rakyat dibatasi masuk ke hutan. Rakyat dilarang mengambil kayu. Tetapi kau meski tahu, aku bukan rakyat. Aku patih. Patih boleh memiliki kayu, patih boleh mengambil kayu di mana pun.”

Tidak! Tidak! Ternyata dia menjawab pertanyaanku dengan kalimat pendek. “Maling milik kompeni boleh. Maling milik rakyat tak boleh. Apakah kau pernah maling?”

Aku menggeleng.

“Tak pernah? Bohong! Tak ada seorang manusia yang tak pernah maling. Jika kau melihat hal-hal yang tak patut kaulihatm, maka sesungguhnya kau telah mencuri. Jika kau mendengarkan apa pun yang tak pantas kaudengarkan, maka sesunguhnya kau telah mencui. Nah, apakah kau pernah melakukan hal-hal yang tak pantas kaulakukan?”

Baca juga:  Zikir Walik Nyai Jagipeken
Aku hanya terdiam. Aku malu. Tak pantas seorang Asisten Residen dihajar dengan berbagai pertanyaan oleh seseorang yang telah kami anggap sebagai penjahat atau bramacorah.

Akan tetapi dorongan untuk membongkar siapa Kasmin Kalang melebihi tindakan apa pun sehingga aku membiarkan siapa pun dia mempermalukan atau melecehkan aku. Untuk sementara aku harus menanggalkan kedudukanku sebagai Asisten Residen Blora.

Tentu sja aku punya cara menjebak lelaki yang mengaku sebagai Samin tetapi meniadakan Soerosentiko ini. aku akan bertanya pada dia tentang pajak, pemerintahan, dan kerja paksa.

“Apakah kau pernah membayar pajak?”

“Pajak dibuat oleh kompeni, biarlah aturan itu untuk para kompeni. Para pengikut Igama Adam lahir dari bulir sawah, dia tidak perlu membayar untuk hal-hal yang akan dimakan. Kami juga tumbuh dari pepohonan. Kami tidak perlu membayar apa pun untuk hal-hal yang digunakan untuk menegakkan rumah.”

“Apakah kau takluk pada pemerintah?”

“Aku hanya takluk pada Patih. Patih itu aku. Aku hanya takluk pada diriku sendiri.”

“Pada Hindia Belanda?”

“Aku juga mengabdi pada kebo jawa bukan pada kebo bule.”

“Apakah kau pernah melakukan kerja paksa?”

“Aku mengerjakan apa pun yang berguna untuk pohon-pohon, jalan, sawah, bukti, palawija, burung, kuda, kerbau, kambing, istri, dan liyan. Aku tak mau dibayar untuk apa pun yang digunakan untuk urip bebrayan, hidup bersama wit gegodhongan sarwa kewan.”[5]
Harus kuakui pandangan Kasmin Kalang ini mirip dengan ajaran-ajaran Samin. Akan tetapi beberapa bagian menyimpang, beberapa bagian merupakah pencanggihan. Hanya, aku yakin kunci terakhir segala persoalan ini terletak pada konsep penyelamatan kehidupan. Jadi, aku akan bertanya pada dia pakah bakal ada Ratu Adil yang menyelamatkan Tanah Jawa.

“Apakah kau percaya akan kedatangan Heru Cokro alias Ratu Adil alias Ratu Kembar?”

“Heru Cokro tak ada. Yang ada Kasmin Kalang. Ratu Adil tidak ada di jalan-jalan tetapi ada di dalam rumah. Tentang Ratu Kembar, apakah kau menyangka yang akan menyelamatkan Tanah Jawa –saat Adam berhenti, Rasul pergi[6]– itu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Cokronegoro dari Surakarta? Jangan-jangan kau malah akan ngawur menyebut Ratu Kembar itu Samin Soerosentio dan Prabu Panembahan Suryongalam[7]. Ratu Kembar itu aku, yaitu Ratu Kalang dan Ratu Kasmin.”

Gila! Ini jawaban yang sangat menohok dan tak terbayangkan. Samin saat diinterogasi pun tak mengatakan dirinya sebagai Ratu Adil. Jangan-jangan Kasmin Kalang ini guru Samin Soerosentiko? Atau jangan-jangan Kalang dan Soerosentiko ternyata Samin Kembar atau Ratu Kembar?

Malam itu aku tak menanyakan rasa penasaranku itu kepada Kasmin Kalang. Bahkan kami tidak bercakap tentang hal-hal pentig lagi, tetapi Kasmin beberapa kali meledek mengapa harus ada aturan menunggang kuda bagi orang Jawa, berjalan pada malam hari, dan bikin pagar untuk rumah-rumah di pinggir[8].

Kami bicara hingga menjelang pagi dan dia lagi-lagi meledek, “Kau itu sesungguhnya berada di pihak kompeni atau kami?”

Baca juga:  Serat Bolonggrowong dan Buku-Buku Lain yang Dibakar oleh Polisi Agama
Aku tak menjawab. Aku tahu Kasmin Kalang paham di wilayah mana aku berpihak.

Setelah itu dia tak bertanya apa-apa lagi dan pergi sesaat sebelum kokok ayam pertama berbunyi.
JANGAN menyangka persoalan telah selesai. Meskipun bisa mengira-ngira siapa sesungguhnya Kasmin Kalang, aku harus bertanya kepada warga Kedung Tuban, mengenai lelaki misterius itu. Akan tetapi mungkin karena aku seorang Asisten Residen, ketika pagi itu aku menginterogasi beberapa warga, mereka serempak menjawab, “Kami semua Kasmin Kalang. Kami tak kenal Samin Soerosentiko.”

Tahu jika dipermainkan, aku melontarkan pertanyaan ngawur, “Apakah kalian kenal HUjan, apakah kalian kenal Sungai, apakah kalian kenal Angin? Apakah kalian kenal Bunga?”

“Kami semua Hujan! Kami semua Sungai! Kami semua Angin! Kami semua Bunga!”

Aku frustasi mendengarkan jawaban semacam itu. Aku menghentikan pertanyaan dan kutinggalkan mereka. 
KINI kubuka satu fakta lagi: beberapa saat kemudian aku meminta seorang mata-mata mengunjungi Samin Soerosentiko ke Sawahlunto. Aku minta kepada dia menanyakan mengenai Kasmin Kalang.

Kau tahu apa pendapat Samin Soerosentilo tentang Kasmin Kalang dan Ratu Kembar? Baiklah kubacakan sebagian laporan mata-mataku: Kata Samin Soerosentiko, “Sami Soerosentiko tak ada. Kasmin Kalang tak ada. Ratu Kembar tak ada. Tapi percayalah kerbau-kerbau di Randublatung tetap ada…”

Aku, kau kerap menyebut namaku Zanveld, tak tahu apakah laporan mata-mataku palsud atau asli. Yang jelas, aku sedang menimbang-nimbang memuat seluruh pengalamanku ini di Het Nieuws van Deg Dag atau menyembunyikan rapat-rapat di lubuk hati.

Ah, kau tahu apa yang seharusnya dilakukan seorang Asisten Residen terhadap fakta bahwa seseorang yang lebih kuanggap sebagai pemikir bebas[9]

ketimbang penggelora perlawanan pasif[10] bukan?

Semarang, 2014-2015
Catatan: 
1 Ayahanda Samin Soerosentiko.
2 Nama kecil Samin Soerosentiko.
3 Tanda.
4 Kebo brujul lebokna, kebo branggah tokna/ulehna.
5 Pohon, daun-daun, serta hewan. 
6 Adam mandheg, Rasul lunga.
7 Nama yang diberikan pengikut Samin kepada Samin Soerosentiko.
8 Beberapa data mengenai aturan Pemerintah Hindia Belanda saya perolah dari Samin: Mistisisme Petani di Tengah Pergolakan karya Anis Sholeh Ba’asyin dan Muhammad Anis Ba’asyin (2014).
9 Tentu Asisten Residen Blora saat itu menyebut Samin sebagai vrijdenker.
10 Demikian juga sang Asisten Residen akan menganggap perlawanan Samin sebagai lijdelijk verzet.
Triyanto Triwrikromo telah menerbitkan, antara lain, Surga Sunsang (buku cerita pendek, 2014) dan Kematian Kecil Kartosoewirjo (buku puisi, 2015). Ia tinggal di Semarang. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triyanto Triwikromo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 8 Februari 2015