Dendam Yung Thiang

Karya . Dikliping tanggal 17 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
SEHARUSNYA sebelum semua terjadi, Kwang Hung sudah tahu. Tahu persis keadaan sebenarnya, juga memahami persoalan itu. Tapi sepertinya dia sengaja. Entah apa maksudnya membiarkan hal itu terjadi. Akibatnya sekarang dirasakan banyak orang. Kampung jadi kacau gara-gara Yung Thiang ngamuk. Kalau saja Kwa Hung tidak membiarkan pasungan yang mengekang tubuh gadis itu lepas, keributan yang menggemparkan kampung tidak bakal terjadi. Sekarang, orang menyalahkan Hung yang dianggap lalai, membiarkan adiknya kabur dari kamar pasungan.
Bagi Hung, perubahan total yang menimpa adiknya jadi seperti itu, menjadi pukulan berat. Sebagai anak tertua, dia punya kewajiban menjaga keselamatan adik kandungnya, Sejak kedua orangtuanya meninggal akibat musibah kebakaran di pabrik mie miliknya.  Semua persoalan menyangkut urusan keluarga besar jadi tanggungjawabnya. Terlebih setelah adik semata wayang, Yung Thiang secara tiba-tiba mengalami depresi berat, jadi gila speerti itu, makin membebani pikirannya.
Sebelumnya Yung gadis cantik ramah dan disukai banyak warga karena perangainya yang santun dan rendah hati. Warga di Pecinan itu mengenalnya sebagai gadis piawai main pedang. Sejak kecil belajar wushu. Setelah peristiwa naas kebakaran pabrik mie yang merenggut nyawa kedua orangtuanya, gadis itu menjadi pendiam, bahkan sering ngomong sendiri. Bertutur seperti menyesali sesuatu yang telah terjadi.
Meski tidak begitu jelas yang diucapkan Yang, sesekali dari mulutnya muncul nama seseorang yang snagat dihormati, bahkan disegani di kawasan pecinan itu. Sebab itulah, Yung kemudian dipasung warga. Kalau dibiarkan, kelakuan Yung membuat pemilik nama itu tersinggung dan marah. Yung selalu menyebut Koh Han Chu sebagai orang yang menjadi otak terjadinya malapetaka di pabrik mie milik orangtuanya.  Semua warga pecinan tahu, siapa Koh Han yang disebut Yung sebagai biang keladi kematian orangtuanya itu.
Sebetulnya orang merasa iba dengan keadaan gadis yang suka membawa bakpao dan selalu membagikannya kepada anak-anak di kampung itu. Sebelum peristiwa naas itu terjadi, Yung setiap siang selalu membawa keranjang berisi bakpao yang dibelinya di warung Khung Hu, pembuat bakpao terkenal di pecinan itu. Entah untuk merebut perhatian atau memang menjadi suruhan orangtuanya yang dikenal dermawan, Yung tak pernah absen.
Bisa dipastikan, setiap kali Yung melintas dengan sepeda Phonix-nya sambil membawa keranjang rotan berisi bakpao. Selalu anak-anak di kampung itu memburu dan mengejarnya di belakang gadis yang selalu ceria itu. Setelah sampai di lapangan sudut kampung, Yung membagikan bakpao itu sampai habis. Setelah keranjang bakpaonya kosong, selalu juga gadis itu mengisi dengan bunga sedap malam yang dibelinya dari kedai bunga Hanjie, satu-satunya penjual bunga kebutuhan persembahan bakti di kampung itu.
Keriangan Yung sirna. Kini seperti selalu kerasukan roh jahat. Kadang diam setengah hari tak bergumam sedikit pun. Lompatan matanya liar menyelidik setiap ada orang yang mendekat. Tidak terkecuali kehadiran Hung pun mendapat perlakuan sama. Gadis itu sudah berubah total. Tangisnya sesekali meledak disertai teriakan dan umpatan terhadap Koh Han, yang dibilang serakah dan biadab. Sontak orang sekampung dibikin gerah ulang Yung. Kalau kejadian itu dibiarkan, bisa jadi orang suruhan juragan kaya yang dikenal bengis melumat gadis berperawakan langsing itu.
Sore itu, seisi kampung gempar. Yung lepas dari pasungan. Perempuan yang dianggap sudah tidak waras itu kabur, netah ke mana. Sontak membuat resah warga, tudingan miring pun ditujukan ke Hung. Dia dianggap sengaja melepaskan adiknya. PAdahal ketika kejadian itu, Hung sedang di warungnya. Jadi tidak tahu persis kenapa adiknya bisa lepas dari pasungan itu.
Orang sekampung pun dikerahkan mencari gadis itu. Yung sempat merusak beberapa rumah warga, dengan melempar batu ke kaca jendela dan genting. Karena ulah itulah warga mencarinya. Seperti lenyap ditelan gelap. Sampai menjelang malam Yung tak ditemukan batang hidungnya.
Kalau sekadar lepas dan merusak rumah warga, kejadian seperti itu memang pernah terjadi. Tapi yang bikin miris warga, ada yang melihat sepintas kaburnya Yung dari pasungan sambil membawa samurai terhunus. Kalau sampai terjadi ada korban, jelas Hung harus ikut tanggungjawab. Karena perbuatan orang gila tak mungkin dijerat hukum. Pasti tudingan miring tertuju pada Hung. Disudutkan pada argumen warga seperti itu, Hung pun keder. Hatinya makin gelisah sampai tengah malam adiknya belum ada kabarnya.
Lu harus bisa cari sampai dapet tuh Yung,” sodok salah seorang tetangga setengah menyalahkan kelalaiannya itu.
“Kalau sampek kejadian, Lu yang harus tanggung jawab, Hung. Yung bawa samurai, ada yang lihat itu,” timpal tetangganya yang lain.
Hung terdiam, pikirannya tak bisa tenang. Meski Yung gila, bagaimana juga dia adik semata wayangnya. Kalau terjadi sesuatu yang paling buruk menimpa adiknya, jelas dia yang paling menderita. Kejadian yang sepertinya beruntun menimpa, membuatnya tak habis pikir. Beban dosa apa yang pernah dibikin para leluuhurnya. Sampai harus mengalami nasib sesial itu. Meski pada setiap chit ngiat pan, dia selalu membakar hio dan memberi persembahan pada arwah leluhur di papan nama mereka.
Bakti seorang anak, selain selalu mengingat para leluhur dan memberi persembahan dalam setiap smebahyang. Juga harus bisa menjaga kehormatan keluarga, terlebih pada saudara perempuan, harus mampu menjadi pelindung. Menjaga keselamatan juga, tanggung jawab itu menjadi keharusan setelah orangtua meninggal. Kalau sampai lalai, bisa jadi mendiang orangtuanya akan memberi kutukan kesialan dalam kehidupannya.
Mengingat itu semua, hati Hung semakin gelisah. Apalagi dia selama ini seperti menganggap musibah itu sudah selesai. Artinya musibah itu murni kelalaian orangtuanya yang tidak teliti, sehingga menyebabkan meledaknya tabung gas yang kemudian melalap habis pabrik mie berikut pemiliknya. Untung saja ketika kejadian itu, Yung seperti biasa membagi-bagikan bakpao kepada anak-anak di lapangan. Sehingga nasib baik masih berpihak pada gadis itu. Sayangnya, jiwa Yung terlalu labil menerima kenyataan itu. Gadis cantik berkulit bersih itu terguncang jiwanya, dia jadi gila.
“Seharusnya lu juga dengar apa keluhan Yung, kayaknya dia pegang rahasia peristiwa pabrik itu. Yung sering bilang pabrik sengaja dibakar, bukan kecelakaan,” ungkap salah seorang tetangga yang masih ada hubungan kerabat keluarga Hung.
“Kalau itu betul, lu harus cari kejelasannya. Jangan sampai lu malah korbankan Yung, ikut saran anak buah Koh Han,” tambah kerabat itu lagi.
Sudah lama Koh Han mengincar tanah milik orangtua Hung. Sebab lokasi itu sangat strategis. Selain menurut perhitungan fengsui lokasi itu lebih cocok dibikin pusat pertokoan ketimbang pabrik mie yang terkesan kumuh. Beberapa kali tokoh berpengaruh di perkampungan Tionghoa itu mencoba menjajagi membeli lahan itu. Tetapi orangtua Hung bergeming. Bahkan menolak harga yang ditawarkan, meski sudah sangat fantastis. Untuk urusan itu, Yung tahu persis. Ia pernah ikut diajak bicara soal keinginan Koh Han membeli pabrik itu.

Baca juga:  Setelah Berbohong untuk Pamit Tidur

Bahkan Yung sempat kasih masukan, kalau sampai pabrik mie itu dijual , artinya kawasan pecinan nantinya akan hilang. Seperti lokasi lain yang sudah disulap menjadi bangunan pusat bisnis, bangunan khas yang menjadi ciri Kampung Liong Samsi satu-satu digusur. Pabrik mie satu-satunya yang masih tersisa. Setelah beberapa pabrik lain gulung tikar dan digusur menjadi bangunan menjulang, yang merampas sinar matahari perkampungan itu.

Koh Han kakap yang sulit dikalahkan,  tidak ada yang berani menolak semua keinginan. Selain punya banyak uang, lelaki bengis yang sering bikin onar karena suka main serobot lahan itu punya banyak koneksi. Berani main urusan dengan Koh Han, artinya masuk dalam masalah pelik. Tidak segan-segan menghabisi. Entah lewat cara apa, yang jelas dia punya sifat licik. Main depan tidak kena, libas dengan cara keji.

Baca juga:  Tart di Bulan Hujan

“Koh Han orang serakah, dia sengaja hancurkan pabrik. Untuk bisa kuasai semua tanah di pecinan ini,” celoteh Yung sebelum dianggap gila oleh warga.

Ucapan Yung tiba-tiba saja nyaring mengiang kembali di telinga Hung. Ada bayangan mengerikan yang muncul di benaknya. Hung seperti melihat sesuatu yang buruk telah terjadi. Kobaran api yang melalap semua isi pabrik tempat tinggal orangtuanya, pun teriakan Yung yang histeris seperti kesetanan setelah melihat jenazah orangtuanya lumat dimakan api.

“Sekarang gimana lu harus ambil sikap. Jangan cuma diam kaya begitu. Ini soal nyawa Yung. Kalau sampai ada kejadian, lu kagak bisa diampuni leluhur.” Ucapan kerabatnya itu seperti menghujam benaknya. Hung gelagapan seperti sesak dadanya ditimpa kemungkinan buruk yang diisyaratkan bakal terjadi.

“Kita cari Yung sampek ketemu malam ini, semua warga diminta turun,” pinta Hung seperti kasih komando. Warga pun lantas bubar mengambil sikap seperti yang diminta Hung, berpencar mencari Yung ke seluruh penjuru mata angin di kampung itu.

***

MALAM menyisakan dingin yang kian menggigit.  Suasana sepi lorong gang sontak seperti gegap. Beberapa orang hilir mudik mencari di setiap jengkal dan sudut perkampungan pecinan itu. Semua pelosok gang sudah disisir seperti layaknya anggota SAR menyisir korban di sepanjang lautan ketika evakuasi korban Asia Air.  Sia-sia, Yung seperti ditelan gelap. Perempuan malang yang sebelumnya banyak disanjung warga itu bagai lenyap disapu kepedihannya.

Baca juga:  Anjing dan Sebuah Nama

Seperti tak ada tanda-tanda kalau Yung akan ditemukan malam itu. Semua kemungkinan makin buruk, setelah rintik hujan secara perkahan turun. Meski beberapa warga bertahan menelusuri setiap gang di perkampungan yang luas itu. Tapi tak ada jejak yang bisa dijadikan petunjuk menemukan keberadaan Yung.

“Kalau terpaksa lu harus cari bantuan polisi untuk ikut cari Yung. Polisi ada herder yang bisa cari orang sampai ketemu,” saran kerabat itu kian membuat bulu kuduk Hung makin tegak berdiri. Tapi dia tak menyahut sepatah kata pun.

Lu ingat ini urusan nyawa adik. Kalau sampai ada apa-apa sama Yung, lu sendiri yang rugi,” sodoknya lagi.

Hampir sepertiga malam dilewati dalam pencarian itu. Sebagian warga mulai jengah, beberapa memutuskan kembali ke rumah, pulang. Lainnya ada yang ogah-ogahan sebab sepertinya tidak ada pentingnya mencari orang sinting. Tapi sebagian lagi tetap bertahan menelusuri lorong-lorong gang kampung. BUkan cuma itu, ada juga yang nekad menelusuri got dan selokan. Anggapannya mungkin saja Yung sembumyi di selokan seperti modus para penjahat menyelamatkan diri dari kejaran aparat. Tapi sama saja, Harapan menemukan gadis itu sia-sia.

Sudah semua sudut kampung disisir, tapi Yung tidak nongol juga batang hidungnya. Hanya satu yang belum terjamah warga sekitar tempat tinggal Koh Han. Siapa yang berani meronda di kawasan gawat itu? Meski banunan rumahnya mentereng, tapi terkesan angker. Apalagi sejumlah tukang pukul dan centengnya selalu siaga kalau ada yang mendekati lokasi itu. Ketimbang bikin masalah lebih baik tidak menjamah, begitu pikir warga yang mencari Yung.

“Kita coba masuk wilayah Koh Han,” ajak Hung seperti geledek di pendengaran beberapa warga yang bergabung dalam kelompoknya.

“Gila lu, mau cari masalah sama dia,” ungkap kerabat tadi.

“Semua tempat sudah tidak mungkin menemukan Yung, tinggal tempat itu yang belum dicari,” tandas Yung sambil berlalu menuju kawasan kompleks tinggal Koh Han. Tanpa ada balasan ucap, semua mengikuti langkah Kwa Hung.

Belum lagi mereka sampai, tiba-tiba di kegelapan malam sesosok bayangan berkelebat meledek. Hung sangat mengenal sosok bayangan di gelap itu. Jantung berdegup kian kuat, sebab sosok itu makin mendekat sambil menghunus sembilah samurai. Warga yang ikut rombongan itu berkesiap, kalau sampai terjadi sesuatu yang paling buruk.

“Yung….” suara Hung bergetar.

Tidak ada balasan dari yang disapa itu.

“Sudah kubalaskan dendam orangtua. Koh Han yang bakar pabrik,” teriak Yung datar sambil menyerahkan samurai yang berlumuran darah segar.

Tubuh gadis itu limbung, ada beberapa luka menganga di tubuhnya. (k)

[] Gunungsempu, Februari 2015



Rujukan:
[1] Disalin dari karya TE Priyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 15 Maret 2015