Dia yang Menjinjing Kepalanya

Karya . Dikliping tanggal 9 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
SEKUMPULAN anak bermain ucing-ucingan. Kaki-kaki kecil mereka lincah berlari di antara pepohonan; saling kejar, berteriak, dan tertawa riuh rendah. Ada yang ganjil. Kedua bola mataku hampir meledak melihatnya; kaleng minuman soda yang kugenggam lebih dahulu meledak. Isinya berbusa-busa membasahi baju dan lenganku. Sambil bermain, anak-anak itu menjinjing kepala mereka. Tubuhku melayang; seperti sehelai bulu ayam yang lepas dari kemoceng lapuk. Ringan. Kemudian terjerembab!
KUBUKA perlahan kedua kelopak mataku. Cahaya bulan keemasan, yang bertengger di antara cabang dan ranting, menerpa wajahku. Siluet ranting dan cabag yang mengering seperti jari-jari nenek penyihir berkuku panjang. Kepalaku berdenyut-denyut.
“Lama sekali kamu pingsan. Kupikir kamu tdak akan pernah suman.”
Kedua bola mataku berputarputar mencari pemilik suara.
“Aku di sini.”
Seorang gadis duduk di atas batang kayu pohon tumbang. Beberapa depa di sebelah kanan tempatku terkapar; tak berdaya di lantai hutan. Rambut panjangnya terurai menutupi kedua payudara. Jantungku menyentak dada. Seketika tanganku mencengkeram keras; meremukkan kaleng minuman soda yang masih tergenggam di tangan kanan. Darah merembes dari sela-sela kuku di ujung jari.
“Maaf, aku tidak mengenakan baju sepertimu atau seperti perempuan-perempuan temanmu,” katanya seraya bangkit berdiri, berjalan mendekatiku. Bunyi serasah dari langkahnya menghentikan sejenak nyanyian serangga malam di hutan ini. Dia membantuku duduk.
“Maaf aku tidak mengenakan baju sepertimu atau seperti perempuanperempuan temanmu.” Dia mengulangi kata-kataya, seperti tidak yakin aku telah mendengarnya.
UNDEAD HERO karya Nur Istiqomah
Kaleng minuman soda yang tercengkeram jemariku dilepaskannya pelan-pelan. Tubuhku berguncang. Menggigil. Rasa takut yang sangat hebat melandaku melihat dia yang tak dibalut selembar benang. Kepalaku semakin berdenyut nyeri.
“Di hutan ini, tidak ada binatang buas yang akan memangsamu walau kamu pingsan. Aku menungguimu karena ingin mendengar kisahmu. Kamu pingsan saat melihat anak-anak bermain sambil menjinjing kepalanya, ya?” Dia tersenyum.
Kengerian kembali menyerang hebat. Lambungku melilit dan meronta ingin keluar dari teonggoran dan mulutku. “Pandangi aku. Ketakutan dan kegerianmu akan berangsur reda.”
Kuturuti kata-katanya. Semerbak wangi melati halus berhembus dari nafasnya yang hangat dan teratur.
“Minumlah air nira ini; akan mengembalikan jiwamu ke dalam raga.”
Air nira dalam “gelas” batang bambu yang diberikannya kuteguk perlahan. Dingin. Dia menatapku. Wangi melati dan air nira yang manis membuatku bisa melihat lentik bulu matanya. Cahaya bulan berpendar-pendar di bola matanya.
“Sejak lepas dari susu ibu, anak-anak di sini memang menjinjing kepala mereka dan membawanya ke mana mereka bermain. Dulu aku pun begitu. Ayah dan ibuku pun begitu. Juga kakek dan nenekku.”
“Kata ibuku….” Dia terdiam sejenak. Seekor kata pohon berwarna putih pucat “hinggap”di bahu kirinya. Ditatapnya, sebentar kemudian katak “terbang” menghilang di kerimbunan perdu.
“Suatu masa, prahara melanda negeri kami. Menjadikan hati kami beku. Kepala kami membatu.Nafsu, akal, dan hati nurani saling membohongi dan memperdayai hati nurani dan bekerja sama dengan nfasu. Nafsu yang bekerja sama dngan akal mengabaikan dan menganggu eksistensi makhluk lain1.Hati nurani membohongi dirinya sendiri;atau termakan hasutan akal dengan kata-kata “logis” yang akal ciptakan. Bahkan nafsu membunuh akal dan hati nurani.
Dia seperti bermonolog. Tidak kupahami kata-katanya.
“Kamu tahu, –dia menatap bulan;bulan jatuh di bola matanya—kejujuran, ketulusan, keberanian, kasih sayang sirna di negeri kami. Kami hidup dalam keegoisan; berkemlompok-kelompok dan bergolongan-golongan dengan segala sifat dan perilaku buruk yang jahat.”
Kata-katanya seperti angin malam yang berlalu di antara rimbunan daun; menjatuhkan helai-helai daun rapuh dari tangkainya. Aku hanya mendengar nyanyian burungmalam yang melengking menyayat luka.
“Masa itu, banjir besar di mana-mana. Gunung meletus tiba-tiba. Terjadi zaman yang terbolak-balik. Tidak ikut gila tidak akan kebagian. Yang sehat akalnya, sedih hatinya. Penjahat berkeliaran. Manusia makan manusia. Kayu gelondongan dan besi juga dimakan, dianggap enak seperti roti bolu. Kalau malam tidak bisa tidur. Orang yang salah semakin bahagia. Perbuatan jahat dibanggakan. Orang yang hidupnya benar dan adil menjadi susah dan terpencil. Yang tidak bisa mencuri dibenci2.
Sementara kata-katanya terus mewangi dibawa angin, diambilnya helai-helai daun yang jatuh di kepala dan yang menempel di bajuku. Daun di rambutnya dibiarkan seperti pita gadis remaja.
“Prahara terus melanda negeri kami, hingga akhirnya datang seorang yang berhati cahaya. Dia yang berhati cahaya mengajak anak-anak memisahkan akal di kepala dengan hati nurani di dada untuk sementara waktu, hingga awal masa dewasa. Agar jiwa anak-anak tetap hening. Agar keburukan dan kejahatan tidak terus diajarkan dan ditularkan.”
Dia meraih kedua tanganku. “Darah dari ujung-ujung jarimu sudah berhenti,” katanya, tersenyum. “Selama pingsan, kamu menangis hingga air matamu berdarah.” Jari-jemarinya yang halus. Lembut, mengusap sudut-sudut mataku, membersihkan darah yang mengering. Aku menahan perih.
“Kamu mungkin bertanya-tanya, kenapa kami menanggalkan pakaian pada saat beranjak dewasa?
Jangankan untuk bertanya, berpikir pun aku tak sanggup. Wangi melati dari nafas dan tubuhnya menyumbat akan dan pikiranku.
“Setelah prahara berlalu, hanya anak-anak yang berpakaian di negeri kami. Ibuku tidak berpakaian sejak usia 13 tahun. Aku lebih cepat setahun. Para laki-laki menanggalkan baju dan celananya

Baca juga:  Gelang Tali Kutang

setelah suara anak-anaknya menghilang3. Pada masa prahara, pakaian lebih berharga dari jiwa dan hati kami. Jiwa-jiwa yang kerdil dan hati yang busuk bersembunyi di balik pakaian halus dan mewah. Banyak perempuan berpakaian laki-laki dan sebaliknya.”

Kata-katanya berhenti. Angin masih membawa wangi melati. Dia bangkit dari duduk di hadapanku, berjalan beberapa langkah membelakangiku ke arah batang kayu poho tumbang tempat dia tadi menungguiku selama pingsan. Duduk di atas batang kayu, kaki kanan ditumpangkan di atas kaki kirinya. Rambutnya disibakkan, lalu kedua tangannya bersedekap di dada menahan dinginnya hutan. Cahaya bulan menyelimuti seluruh tubuhnya. Siluet ranting-ranting pohon seperti sketsa yang bergerak-gerak di tubuh gadis yang seperti baru saja melepaskan semua pakaian.
Dia kembali mendekatiku. Membantuku berdiri. Wangi melati memeluk erat tubuhku. Nyanyian serangga malam berhenti. Sepi. Lurus kaku pepohonan sampai ke puncak4.
Seperti berbisik dia berkata, “Peluk aku. Aku belum mendengar kisahmu. Aku akan menunggumu di sini. ingin mendengar kisahmu, tapi kamu harus pulang. Langkahkanlah kakimu mengikuti bayanganmu, perlahan menjauhi bulan.”
**
REMBULAN semakin pudar. Begitu juga bayanganku. Kutanggalkan seluruh pakaian, berjalan menuju semburat merah jingga cahaya matahari yang belum terbit. Melewati matahari yang belum terbit. Melewati kampung dan rumah yang berbaris-baris. Di belakangku, di batas cakrawala, hutan berwarnaabu-abu berselimut kabut tipis. Orang-orang masih menutup semua pintu dan jendela. Ayam jago bergantian memanggil matahari.
Serombongan orang yang baru pulang dari masjid berpapasan denganku. Beberapa orang terkejut dan setengah berteriak menyebutkan namaku. Yang lain berhamburan. Kegaduhan terjadi pada pagi yang belum sempurna. Seseorang menyelimutiku dengan sorbannya. Aku mengenalnya, dia guru mengaji di kampung kami.
“Tiga malam kami mengkhawatirkanmu dan mencarimu hingga ke batas hutan. Istrimu menangis tak berhenti sejak tadi malam. Dua malam lalu di amasih ikut mencarimu. Kami tidak berani memasuki hutan terlampau dalam. Kata istrimu, kamu pamit sebentar ke hutan, hendak mencari anak kucing
hutan buat anakmu. Untunglah di dekat masjid ada anak kucing kampung yang baru beberapa minggu dilahirkan induknya. Kami berikan kepada anakmu untuk menghiburnya.
Guru mengaji menuntun dan menggandengku menuju rumah yang sangat ku akrabi. Sorbannya hanya menutupi sebagian tubuhku. Pagi mulai tenang. Beberapa ibu-ibu yang masih bermukena sepulang dari salat Subuh di masjid menitikkan air mata. Mereka mengikutiku dan guru mengaji dari belakang. Istriku memeluk erat dan menangis begitu melihatku. Anakku yang baru berusia lima tahun terbangun oleh tangis ibunya ikut memelukku.
Guru mengaji meminta istriku mengambilkan baju dan kain sarung. Seekor anak kucing berwarna campuran hitam kuning pulas tertidur di sisi pintu kamar; beralaskan koran bekas. Di ujung ekornya terpampang foto yang menguning dan hampir koyak; orang-orang berjas mewah saling tunjuk, bermuka ganas dan berkelahi di parlemen dan foto seseorang yang tertawa lebar setelah merampok yang negara. Sebaris judul berita. Seorang Anak Sekolah Dasar Membunuh Adik Kelasnya, membuatku memeluk erat anakku yang masih memelukku.
“Aku tak mau memakai baju dan kain sarung,” kataku lirih. Sorban guru mengaji masih membalut sebagian tubuhku.
Istriku tertunduk. Air mata menitik membasahi baju dan kain sarung yang digenggamnya. Guru mengaji mengucapkan istigfar berkali-kali. Nafasnya berat dan tertahan.
“Aku tak mau memakai baju dan kain sarung,” kuulangi kata-kataku. “Kita harus segera menanggalkan semua pakaian dan anak-anak harus mulai belajar menjinjing kepala. Akan kuceritakan kepada kalian tentang dia. Dia yang menjinjing kepalanya ketika masih anak-anak dan melepaskan seluruh pakaian ketika haid pertama datang. Juga kisah tentang .”
Tak kulanjutkan kalimatku. Ada rindu yang diam-diam menyelinap.
Semerbak wangi melati memenuhi seluruh ruangan rumah, merebak hingga ke halaman. Orang-orang yang masih berkumpul di halaman menjadi gaduh. Sambil menggenggam segelas air bening, guru mengaji semakin khusyuk berdoa. Tangannya bergetar; membuat riak-riak air di dalam gelas. Kedua matanya dipejamkan rapat-rapat. Kulihat istriku jatuh pingsan.
Cisaranten Endah, Oktober 2014
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lian Lubis
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” 8 Maret 2015