Firasat

Karya . Dikliping tanggal 2 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
“JANGAN pernah menerima pemberian dari pemuda itu, Nduk.”
“Kenapa tak boleh, Bu? Laki-laki itu memberikan bunga sebagai ungkapan cintanya.”
“Pokoknya tidak, atau Ibu tidak membolehkanmu keluar lagi.”
Aku terduduk lemas dengan muka sedih yang menggantung, sesaat setelah ibu melarangku menerima seikat bunga mawar dari Setyo. Sudah sejak lama aku memimpikan punya teman lelaki yang baik dan mau berteman akrab denganku. Baru Setyo-lah satu-satunya lelaki yang dekat dan mengutarakan niat baiknya kepadaku.
Namun, selalu saja ibu melarangku untuk dekat-dekat kepadanya.
Aku masih berhubungan baik dengan Setyo, tentunya diam-diam tanpa sepengetahuan ibu. Aku takut jika nanti ibu mengetahuinya, bisa saja ibu menyeretku pulang tanpa ampun. Yang kuherankan, mengapa dengan lelaki lain ibu tidak sejahat seperti dengan Setyo?
“Maaf ya, untuk sikap ibu yang kurang berkenan.”
“Aku mengerti, mungkin karena kau anak semata wayang maka ibumu terlalu overprotective terhadapmu.”
Entah sesabar apakah priaku ini sehingga setiap ibu bersikap tidak baik di depannya, dia selalu menerima. 
Sedikit demi sedikit aku memahami sikap ibu seperti yang dibilang Setyo, mungkin ibu terlalu takut serta belum siap bila nanti anak semata wayangnya akan bersanding dengan orang lain. Meninggalkannya dan membuatnya sendiri tentu sedih. Tapi, ah ibu, belum tentu ibu akan merestuiku dengan Setyo bukan? Aku hampir menyerah, meski sebenarnya ibu bukankah penghalang hubunganku. Tapi apa iya, aku harus menentang ibuku sendiri? Aku masih sangat sayang kepadanya, beliaulah satu-satunya orang tua yang selalu melindungiku saat aku tak tahu lagi keberadaan ayah di mana.
***

“TERIMA kasih sudah menemaniku latihan, sebentar lagi aku akan mengiringi konser musisi ibukota. Sekelompok musisi yang selalu menggemparkan penikmatnya, aku harap engkau datang untuk melihatnya”

Baca juga:  Sihir Tumis Ibu
Setyo tersenyum. Mengangguk. Malam itu, aku berdiri di ruang tengah sembari melihat barisan not-not balok yang terpampang di kertas. Tanganku mulai menggesek pelan benda bersuara melengking itu. Ibu mendatangiku sembari tersenyum dan membawakan segelas cokelat hangat kesukaanku.
“Ibu… sebentar lagi Nawang akan mengiringi konser, Ibu datang ya? Nawang ingin ibu berada di sana,” pintaku merajuk manja.
“Kau ini seperti ibu masih muda, bersemangat sekali setiap mau konser. Baiklah ibu tentu akan melihat dan mendukungmu.” Ibu tersenyum mengusap kepalaku, berkali-kali.
Aku senang memeluk ibu. Ibu tersenyum tapi dalam senyumnya ia merasa takut saat dilihatnya setangkai bunga mawar merah segar tergeletak di atas meja. Bunga itu pemberian Setyo.
***
HARI yang kutunggu telah tiba. Dengan balutan make up dan dress panjang hitam, rambut diikat kuncir kuda masa kini, aku naik panggung. Bersiap bersama pemain orkestra lain. Duduk di depan sebelah kanan. Tata panggung begitu apik, pun saat musisi ibukota mulai mengisi panggung dan membawakan enam lagu terbaiknya, Tepuk tangan penonton riuh terdengar menggema dalam ruangan itu, Kulihat dari kejauhan ibu tersenyum, juga Setyo yang dari jauh mendekap bunga mawar sambil melambaikan tangan.
Pertunjukan telah selesai.
“Tyo, aku kira kau tak datang.”
“Aku tak pernah ingkar janji, bukan? Hehehe… oiya, mawar-mawar ini untukmu spesial.” Diulurkannya mawar itu ke arahku.
Belum sempat kujawab, “Oiya aku ke sini bersama Ayahku. Aku tunggu di depan ya.”
Setyo melangkah ke luar ruangan. Dari jauh ia tampak bersama lelaki yang umurnya kira-kira sudah setengah abad. Aku mendekat ibu. Rasa bahagia akan pentas perdana mengiringi musisi ternama, usai sudah. Sukses dapat menghibur penonton dan mendapat berpuluh ribu tepuk tangan antusias. Membahagiakan. Ditambah kedatangan Setyo. Aku dan ibu menuju lobi.
Dari kejauhan Setyo sudah tersenyum.
“Tante, saya datang bersama ayah saya. Beliau sangat senang sekali melihat pertunjukan Nawang di atas panggung tadi.”
Ibu hanya tersenyum, tidak banyak komentar atas perkataan Setyo. Setyo lantas memanggil lelaki yang berpenampilan rapi mengenakan jas dan sepatu mengkilat, nampaknya lelaki terpandang itu ayahnya. Lelaki tersebut membalikkan badannya, lalu menyalami kami. Namun ada adegan yang aneh saat tangan ayah Setyo menjabat tangan ibu, keduanya bertatap sangat lama dan ibu lekas melepaskan tangannya dengan sengit.
“Bram.”
“Wulan”
Aku dan Setyo saling berpandangan, bingung, nampaknya kedua orangtua kami sudah saling kenal sebelumnya.
“Jadi, ini kemunculanmu pertama kali dengan putramu semenjak kau meninggalkan kami?” Ibu membuka suara, matanya sedikit nanar dan geram.
“Wulan, maafkan aku yang saat itu tidak memperjuangkanmu karena orangtuaku yang tidak merestui kita,” Lelaki itu menjawab dengan suara samar-samar.
“Hanya karena aku pemain biola lantas kau meninggalkanku dan Nawang sendirian?”
Sedikit demi sedikit aku menangkap maksud ibu. Diakah ayah kandungku yang sebenarnya? Ayah dari lelaki yang kucintai juga, lalu sebenarnya aku dan Setyo adalah saudara seayah?
“A… ayah?”
Aku mencoba memanggil lelaki yang ternyata ayahku itu dengan tercekat dan berlinangan air mata. Rindu, kesal, amarah dan kenyataan yang harus kuterima saat ayah tiba-tiba muncul di hadapanku, dan Setyo saudara seayah denganku berputar-putar di kepala. Rasanya ribuan belati telah menghunjamku dari berbagai arah. Tuhan, inikah jawaban firasat ibu yang selalu melarangku jatuh cinta pada Setyo?
Sebenarnya lakon ini terlalu berat. Gelap. Semuanya terasa gelap, dan tubuhku terasa ringan. Limbung. []
Dian Marfuah, Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya UGM prodi Sastra Arab
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dian Marfuah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 1 Maret 2015