Gadis Kecil di Tengah Hujan

Karya . Dikliping tanggal 16 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia
GUNNAR Wiryawan, pengusaha muda itu, gusar. Berkali-kali
ia menelepon, tapi Rainy tidak mengangkat ponselnya.
Pesan pendek pun tak dibalas. Mengapa? Apakah itu pertanda, Rainy tak
mau lagi menerima kehadirannya?

Rainy Adelina. Pianis muda yang
sedang bertabur bintang. Tubuhnya ramping dan semampai. Parasnya cantik
di bawah rambutnya yang lurus tergerai.Tapi sekilas, dalam jarak dekat,
matanya tampak muram. Entah mengapa.
Gunnar menyaksikan
penampilannya yang memukau dalam acara resital piano tunggal di House of
Music, Jakarta, tahun lalu. Malam itu Rainy memainkan karyakarya
komponis besar dunia, antara lain Waltz of the Flowers Tchaikovsky,
Prelude & Fugue Part 2 No 6 in Dm JS Bach, Alla Turca Mozart,
Papillons Op 2 Schumann
.Terakhir ia membawakan Waltz in B Minor karya
Chopin. Komposisi nadanya seolah berkata bahwa hidup ini memang pedih,
tapi janganlah berputus asa. Mari kita jalani saja. Kita rayakan hidup
sebelum semuanya usai.
Para penonton terharu. Ruangan yang
tadinya gelap berubah terang.Penonton seolah baru terjaga dan sadar
bahwa hidup harus dijalani, apa pun konsekuensinya. Tepuk tangan
bergemuruh. Gunnar terpukau. Di akhir acara, ia ikut berdesakan
mendekati sang pianis. “Luar biasa!“ katanya sambil tersenyum. “Saya
sangat menikmatinya!“ 
Mereka berkenalan, berbincang-bincang, lalu
bertukar alamat dan nomor ponsel.Sejak itu hubungan berlanjut. Mereka
makin akrab. Piano sebagai pengikatnya.Sebulan kemudian Gunnar
bertandang ke rumah sang pianis, berkenalan dengan keluarganya. Sebuah
keluarga kaya, rendah hati, dan ramah.
*** 

Bagi Gunnar, hidup
adalah musik klasik, dan Rainy adalah gericik melodi yang terus
menggema, meresap ke dalam perasaannya, membawanya bertamasya ke
sudut-sudut mimpi yang paling indah. Ia mabuk dan jatuh cinta.

“Rainy,“ katanya saat mereka makan bersama di sebuah kafe. “Maukah kamu
menikah dengan saya?“ Rainy tersenyum. Wajahnya tenang.“Mas Gun tidak
mengenal saya,“ katanya, sembari mereguk jus sirsak.
 
“Saya mengenal kamu, Rainy.“
“Tidak.“
Rainy belajar piano sejak usia 5 tahun dengan kakak sulungnya, Ayusha
Sonatina, yang kemudian memilih karier sebagai pengusaha. Kedua
orangtuanya kemudian mengembangkan bakatnya. Ia diikutkan kursus piano
klasik di Caraka Music School di bawah bimbingan Carla Syrena.
Lulus SMA di Jakarta, Rainy mendapat beasiswa piano dari Texas State
University, Amerika Serikat. Usia 17 ia terbang ke Eropa, memperdalam
ilmu piano di Universitat fur Musik und darstellende Kunst Wien di Wina,
Austria. Ia lulus dengan predikat summa cum laude di bawah bimbingan
Sigmund Gilbert, pianis

Baca juga:  Biyung

andal yang sering meraih gelar internasional.

Sejak itu nama
Rainy Adelina mulai dikenal di pentas musik klasik dunia. Ia sering
tampil di berbagai festival luar negeri, mendampingi orkestra simfoni
dan ansambel terkenal di Wina, Berlin, Rotterdam, Wellington, London,
Paris. Tapi Rainy bukan hanya sepotong riwayat pada katalog.
“Saya pelik, dan saya tidak yakin Mas Gun sanggup menerima kenyataan tentang saya,“ katanya.
*** 
Hujan baru saja reda ketika Gunnar datang, dan Rainy menerima
kehadiran pemuda tampan itu di rumahnya yang mewah. Mereka duduk di
teras depan, sambil menghadap taman.
“Setiap kali hujan, atau
seusai hujan, saya selalu ingat sebuah cerita,“ kata Rainy, membuka
pembicaraan.

“Cerita tentang seorang gadis kecil di tengah hujan. Mas Gun mau
mendengar cerita saya?“ 

“O, tentu. Dengan senang hati,“ jawab Gunnar.
Rainy mulai bercerita. Pada zaman dahulu ada sepasang suami-istri.
Sang suami pedagang makanan keliling. Mereka dikaruniai seorang putri.
Siti Maimunah namanya. Sang suami wafat saat putri kecilnya belum genap
tiga tahun. Sejak itu si ibu muda hidup menjanda. Demi kelangsungan
hidup anaknya ia berjuang mencari nafkah sendirian. Ia bekerja sebagai
babu cuci di sebuah rumah keluarga kaya.
 
Suatu pagi hujan turun.
Ibu muda itu sakit, dan memang sejak lama ia dirundung penyakit. Tapi
ia harus berangkat ke rumah majikannya. Ia dan anaknya berlindung di
bawah payung lusuh menerobos hujan. Tapi baru saja menginjak halaman
rumah majikan, ia jatuh. Tubuhnya tergeletak tak berdaya.Tak ayal
anaknya menjerit. Pada detik yang sama, dari dalam rumah majikan
terdengar denting piano: Ballade pour Adeline.
“Mas Gun pernah mendengar lagu itu?“ 
“Karya Richard Clayderman, komponis Prancis.“
“Sonata ringan pada sebuah pagi

berhujan,“ komentar Rainy.

Tapi gadis kecil itu terus menangis,
lanjutnya. Ia menangisi ibunya yang tak sanggup berdiri lagi. Untunglah
tangisnya didengar sang majikan. Ibu dan anak itu segera dibawa masuk.
Namun, tak disangka, beberapa detik kemudian ibu muda itu wafat. Gadis
kecil menjerit. Ia tak tahu lagi ke mana harus pulang.
Gunnar
terharu, tapi ia diam. Untunglah, lanjut Rainy, majikan almarhumah
ibunya baik hati. Keluarga itu mengadopsi anak itu. Ia dirawat, dididik,
dan disekolahkan seperti anak kandung sendiri. Ia juga diajarkan
bermain piano.
“Mas Gun tahu siapa gadis kecil itu?“ 
Tanpa
menunggu jawaban Gunnar yang samar-samar mulai menangkap arah kisah itu,
Rainy menjawab sendiri, “Sayalah gadis kecil itu, Mas Gun. Sayalah Siti
Maimunah. Dulu almarhumah ibu bekerja sebagai babu cuci di rumah ini.
Saya anak adopsi.“
Gunnar terkesiap. Tapi ia menyembunyikan perasaannya.
Mungkin untuk menghapus riwayat, lanjut Rainy, nama gadis kecil itu kemudian diganti dengan Rainy Adelina.

Baca juga:  Kepergian Rima

Anak yang lahir kembali di tengah hujan, saat kakak sulungnya (kakak angkatnya) memainkan sonata Ballade pour Adeline.

“Ini bukan fiksi, Mas Gun, bukan melankoli. Ini
fakta tentang saya, dan saya tidak melupakan riwayat. Mas Gun mau menikah dengan saya?“ 
Gunnar sejenak
terdiam. “Rainy,“ katanya kemudian, “bagi saya, asal
usulmu bukan masalah. Siapa pun kamu, faktanya kini kamu
seorang bintang. Saya akan meminangmu!“ 
 *** 
Di
ruang kerjanya di lantai 12, Gunnar Wiryawan pengusaha sukses
itu sibuk. Wajahnya tampak gusar. Ia coba hubungi lagi. Berkali-kali. Sudah lebih sepekan Rainy tidak mengangkat teleponnya. SMS tak pernah dibalas.
Ia coba hubungi via telepon rumahnya.
“Non Rainy kan dirawat di rumah sakit. Emang Om Gunnar nggak dikasih tahu?“ jelas seorang pembantu.
Tubuh
Rainy

terguncang saat ia didorong ke ruang operasi. Meski operasi
berhasil, ada yang akan berubah pada bagian tubuhnya. “Tabah ya,
Sayang,“ bisik Mama, lirih.

Papa, Kak Ucha, dan Mas Katon beserta
keluarga ikut mengantar ke pintu ruang operasi. Mama dan Papa tampak
mulai sepuh. Kak Ucha dan Mas Katon juga bukan anak-anak lagi. Tapi ada
yang tak berubah: kasih sayang mereka deras mengalir sejak Rainy balita.
Dua malam pascaoperasi, Mama tetap mendampingi Rainy di ruang
pemulihan.Kak Ucha dan Mas Katon juga rutin membesuk. Saat itulah Gunnar
tergopoh datang. “Sejak kapan Rainy dirawat, Om, Tante, Kak? Sakit
apa?“ tanyanya, tersengal.
Mama, Kak Ucha, Mas Katon diam.Mereka
saling pandang, lalu meninggalkan Gunnar yang melangkah mendekati Rainy
di pembaringan. “Biarlah Rainy sendiri yang menjelaskan,“ bisik Mama.
Di pembaringan Rainy menyambut kedatangan Gunnar. Tersenyum, meski
wajahnya pucat. Ada sebuah tabung yang terhubung dari daerah dada untuk
mengangkat cairan yang terkumpul

Baca juga:  Asbabul Wurud

selama proses pemulihan.

“Maaf, Mas Gun,“ ujar Rainy, pelan,
“saya tidak sempat mengabari. Saya tidak membawa ponsel. Saya juga tidak
ingin kabar tentang saya menyebar menjadi berita untuk publik. Saya
ingin sunyi.“
Gunnar maklum dan mengerti. Tapi ia bertanya,
“Kamu sakit apa, Rainy?“ Rainy lama terdiam. Ia tidak tahu harus
bilang apa. Ia merasa risih.
“Mas Gun,“ katanya, “saya Siti
Maimunah, gadis kecil di tengah hujan.Ingat? Tapi saya juga Rainy
Adelina, dan masalah belum selesai.“
*** 
Rainy Adelina
dibesarkan sebagai anak adopsi. Di usia 23, saat mulai melangkah ke
puncak karier, ada benjolan di payudara kirinya. Lalu payudara kanan.Ia
menyesal telah menyepelekan hal itu.Ia mengira itu hal biasa. Makin lama
benjolan itu makin besar dan berkembang menjadi sel kanker. Penyakit
yang agaknya diturunkan almarhumah ibu kandungnya.
Agar sel
kanker tak menyebar, dua tahun lalu ia menjalani terapi radiasi, dan
sebelumnya juga kemoterapi. Efeknya setiap helai rambutnya rontok. Cukup
lama ia harus mengenakan wig saat berada di tengah publik.
Celakanya, sel kanker itu kini tumbuh makin ganas. Daging payudaranya
mulai surut ke dalam, berwarna kecokelatan, mengerut seperti kulit
jeruk. Jika dibiarkan akan timbul borok yang berbau busuk dan mudah
berdarah, yang selanjutnya akan menghancurkan seluruh bagian
payudaranya.
Sesuai anjuran dokter, Rainy memutuskan untuk
menjalani masektomi ganda: seluruh bagian payudaranya harus diangkat.
Itu berarti ia harus rela kehilangan sepasang payudaranya.
“Tak mudah mengungkapkan penyakit saya, terutama pada Mas Gun. Saya perempuan, Mas,“ katanya, sambil terisak.
“Rainy, apa pun penyakitmu, saya berharap kamu kembali sehat. Saya mencintaimu.“
“Sungguh?“ Rainy menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Tampak dada bagian kiri dan kanannya dibungkus perban. Ada sedikit
rembesan bercak darah.
“Inilah saya! Mas Gun siap menikah dengan
saya?“ 
Gunnar terkejut. Bibirnya gemetar….
Jakarta, 2015 
Ahmad
Nurullah sastrawan kelahiran Sumenep, Madura, 1964. Selain cerpen, ia
menulis puisi, kolom, dan kritik sastra.Buku puisinya Setelah Hari
Keenam
(2011).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmad Nurullah
[2] Pernah tersiar dalam surat kabar “Media Indonesia” 15 Maret 2015