Hari Ini Qi Genap Berusia 21 Tahun

Karya . Dikliping tanggal 16 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

NAMAKU Qi. Nama yang tidak lazim, sehingga wajar bila hanya beberapa orang yang bisa melafalkan namaku dengan benar. Salah satunya adalah nenekku yang biasa aku panggil Simak. Simak buta huruf, dia tidak tahu bagaimana menulis dan membaca namaku. Yang dia tahu ayahku memanggilku dengan ucapan Chi, dengan bibir agak dikulum dan ditarik ke bawah. Jadi dengan cara persis seperti itu dia memanggilku. Ibu kandungku sendiri, yang aku panggil dengan sebutan Mbak Ning tidak sefasih itu bila memanggilku. Mbak Ning memanggilku Ci, ringan seperti dalam Ciri Tegal. Kebanyakan orang memanggilku Ki.

Nama lengkapku Tan Qi Zi dari bahasaTiongkok yang berarti giok yang anggun dari keluarga Tan. Kok namaku bisa Tiongkok sekali?

Pada awal tahun 1991, kala Mbak Ning baru berusia enam belas tahun, dia memutuskan untuk kabur dari desa kecilnya di Merakurak, Tuban. Mbak Ning sudah bosan hidup melarat Mbak Ning sudah bosan menanam cabe di ladang orang dengan hasil yang tidak pernah cukup untuk hidup layak. Mbak Ning berkeyakinan bahwa masa depannya berada di kota besar seperti di Surabaya. Nasib membawanya ke Kertalindo, pabrik kertas milik pengusaha Taiwan yang baru saja dibangun di pinggiran Kota Surabaya. Menjadi buruh di pabrik kertas jauh lebih nyaman dibanding bekerja di ladang cabe di bawah sengatan matahari.

Ilustrasi oleh Bagus

Karena pabrik masih baru, puluhan tenaga ahli didatangkan langsung dari Taiwan. Mereka ditugaskan untuk mengawasi lini produksi, memberi pelatihan dan memegang jabatan inti. Entah siapa yang memulainya, banyak di antara pria Taiwan itu kawin kontrak dengan wanita-wanita di sekitar pabrik. Jangka waktu kontrak sesuai dengan jangka waktu penempatan mereka. Selama mereka berada di Surabaya, para wanita itu adalah istri mereka. Begitu tugas mereka selesai, selesai pula perkawinan mereka. Sang pria pulang ke Taiwan, sang wanita kembali jadi buruh pabrik. Memang ada juga beberapa wanita yang beruntung bisa dibawa pulang ke Taiwan.

Mbak Ning yang cantik, belia, dengan postur tubuh yang indah serta senyum yang luar biasa menawan segera menarik perhatian salah satu dari tenaga ahli tersebut, Tan Liu Wei, yang berusia 55 tahun, lebih dari tiga kali usia Mbak Ning.

Tanpa masa perkenalan yang panjang, di bulan April tahun 1991, Mbak Ning kawin dengan Mister Tan. Mbak Ning dibelikan rumah di Sinar Galaxy. Pada tahun 90-an, Sinar Galaxy merupakan salah satu pengembang paling bergengsi di Surabaya. Kalau melihat dia mampu membelikan rumah di Sinar Galaxy, rasa-rasanya Mr Tan, bukan sekadar ahli mesin kertas di Kertalindo. Posisinya pasti lebih tinggi dari itu.

Setahun kemudian aku lahir. Ayahku memberi nama Tan Qi Zi. Mbak Ning memboyong Simak dari Tuban ke Surabaya untuk mengasuhku. Itulah sebabnya sampai sekarang aku merasa lebih dekat dengan nenekku daripada dengan ibuku. Menurut Simak, ayahku sangat memanjakanku dan memujaku. Namun, sebulan setelah ulang tahunku yang ketiga, tepat di hari ulang tahun Mbak Ning yang ke 21, ayahku pulang ke Taiwan. Meninggalkan Mbak Ning dan aku untuk melanjutkan hidup di Surabaya. Sementara dia melanjutkan hidupnya bersama keluarga resminya di Taiwan.

Sejak hari itu Mbak Ning dan aku tidak pernah bertemu dan berhubungan dengan ayahku lagi. Ayahku sirna dari kehidupan kami. Aku tidak begitu merasa kehilangan karena sejak kecil aku sudah dipersiapkan untuk menerima kenyataan bahwa ayahku adalah ayah pinjaman. Ada anak-anak lain di negara lain yang lebih berhak daripada aku.

Mbak Ning tidak pernah mengungkapkan mengapa dia mau menerima pinangan ayahku, padahal dari awal dia tahu dengan pasti kalau pada akhirnya dia bakal ditinggal pulang ke Taiwan.

“Uang. Apalagi alasannya?” Simak selalu berkomentar sinis setiap kali hal itu kusinggung. Dan setiap kali pula Mbak Ning hanya mengembangkan senyumnya yang luar biasa menawan. Tidak berusaha menyangkal tuduhan Simak.

Baca juga:  Hukuman untuk Pencipta Bahasa

“Ibumu baru bisa tenang kalau ada uang di tangannya?” lanjut Simak.

“Bukankah kita semua demikian, Mak?’ sahut Mbak Ning dengan suara lembut. “Tanpa uang, sampai hari ini kita harus mengais-ngais ladang tetangga untuk menanam cabe.”

Mbak Ning benar. Uang tidak pernah menjadi masalah bagi kami. Sejak ditinggal ayahku, Mbak Ning membuka rumah makan Taiwan di Tunjungan Plaza. Restoran yang berkembang pesat. Siapa nyana remaja jebolan SMP dari Merakurak ini bisa berubah menjadi wanita yang piawai mengelola usaha kuliner. Dari hasil restoran inilah Mbak Ning membiaya hidup kami bertiga. Kami memang tidak hidup berlebih, tapi kami jauh dari kekurangan.

Restoran itu adalah detak jantung Mbak Ning. Walaupun pegawainya banyak, Mbak Ning selalu hadir di restoran dari buka hingga tutup. Kehidupan sosial Mbak Ning berlangsung di restoran. Kehidupan pribadi, dia tidak punya.

Dulu, waktu aku masih di SMA, pernah ada pria yang akrab dengan Mbak Ning. Oom Widi namanya. Kepala cabang sebuah bank nasional. Orangnya baik dan penuh perhatian. Selalu cekatan membantu Mbak Ning di restoran dan sering membantuku menyelesaikan tugas sekolah. Lebih dari empat tahun mereka menjalin hubungan. Namun tiba-tiba Oom Widi raib entah ke mana. Kalau ditanya ke mana perginya Oom Widi, Mbak Ning hanya mengangkat bahu pasrah. Kalau ditanya mengapa Oom Widi pergi, Mbak Ning membuang muka. Sepertinya aku tidak bakal mengetahui penyebab pisahnya mereka. Namun ulang tahunku yang ke-21 akhirnya aku bisa memahami semuanya.

***

Pagi itu aku masih terlelap ketika telepon genggam yang kuletakkan di atas meja di samping tempat tidurku bernyanyi nyaring. Kubuka mataku, tapi badanku tidak mau bergerak. Aku masih mengantuk. Tadi malam aku terjaga hingga larut untuk mempersiapkan ujian sore nanti. Telepon terus berdering. Dengan malas kuraih telepon tersebut. Dari Mbak Ning.

“Ya, Mbak,” sapaku setengah sadar.

“Sudah bangun, Ci?” tanya Mbak Ning. Di latar belakang aku mendengar suara yang berisik. Pasti Mbak Ning sedang berbelanja di pasar. “Cuma mau mengingatkan jangan lupa mampir di restoran sehabis kuliah.”

“Baik, Mbak,” janjiku. Setelah menutup telepon aku meloncat dari atas tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar. Di atas meja makan telah tersedia nasi tumpeng. Aku baru sadar kalau hari ini hari ulang tahunku. Setiap ulang tahunku Simak selalu menyediakan tumpeng di atas meja makan. Hari ini tidak terkecuali. Hari ulang tahunku yangke-21.

“Selamat ulang tahun, Qi,” Simak tiba-tiba muncul dari dapur dan memelukku erat.

“Terima kasih, Mak,” ucapku. “Umurku sudah 21 tahun. Mak, enggak perlu bikin tumpeng lagi untukku” lanjutku.

“Bukan untukmu, Qi,” sahut Simak. “Tumpeng itu sebagai ungkapan rasa syukur Simak yang telah diberi kepercayaan oleh Gusti Allah untuk momong kamu,” imbuhnya.

“Bukannya aku adalah kecelakaan, Mak? Bukannya tidak seharusnya Mbak Ning punya anak di dalam perkawinannya?” Aku mengingatkan. Simak tertawa renyah sambil memotong tumpengnya dan meletakkan ujungnya di atas piringku dan menambahkan segala lauk-pauknya.

“Aku hanya menggoda ibumu, Qi. Aku senang melihat ibumu marah, setiap kali aku bilang kalau kamu adalah buah kecelakaan. Aku sedih melihat ibumu menjalani hidup ini tanpa emosi. Ayahmu pergi, ibumu pasrah. Widi pergi, ibumu lagi-lagi pasrah. Kok tidak ada keinginan untuk melawan seperti waktu dia minggat dari Merakurak dulu…”

“Mak, mengapa Oom Widi meninggalkan Mbak Ning? Kukira Oom Widi serius dan mau kawin dengan Mbak Ning,” tanyaku melihat peluang melintas di depan mataku.

“Widi memang berniat untuk mengawini ibumu. Beberapa kali dia melamar ibumu dan beberapa kali pula ibumu memintanya untuk menunggu,” ungkap Simak. “Terakhir kali dia melamar, ibumu memintanya untuk menunggu tiga tahun lagi. Widi tidak mau untuk menunggu tiga tahun lagi. Dia pindah ke Jakarta dan kawin dengan wanita pilihan ibunya,” sambung Simak.

Baca juga:  Pohon Pendendam

“Mengapa harus menunda tiga tahun padahal aku yakin Mbak Ning juga mencintai Oom Widi?”

“Ada banyak hal yang tidak bisa kupahami dari ibumu, Qi. Salah satunya adalah membiarkan Widi pergi,” bisik Simak. Aku tidak bertanya-tanya lagi dan dengan berdiam diri menyantap nasi tumpeng bikinan Simak.

***

Usai ujian sore itu, aku langsung menuju ke Tunjungan Plaza. Walaupun pura-pura tidak ingat akan ulang tahunku, tapi aku tahu kalau Mbak Ning sudah mempersiapkan hidangan spesial untuk menyambut hari lahirku.

Dugaanku benar. Meski malam itu restoran penuh pengunjung, Mbak Ning sengaja mengosongkan deretan meja di pojok kiri dan menghiasinya dengan balon-balon berwarna merah dan emas. Mataku pasti menyiratkan protes karena cepat-cepat Mbak Ning bilang: “Hanya kita-kita saja kok, Ci. Tapi sebelum kita merayakan ulang tahunmu, ada tamu yang harus kamu temui dulu,” lanjutnya sambil menggandengku menuju ke ruang VIP.

“Siapa?” tanyaku heran.

Lawyer ayahmu diantar manajer Kertalindo.”

Lawyer dan Kertalindo?” aku semakin heran. Mbak Ning tidak sempat menjawab pertanyaanku. Pintu ruang VIP terbuka dan di dalamnya aku melihat dua pria berseragam Kertalindo dan seorang wanita Taiwan. Setelah memperkenalkan kami. Mbak Ning segera berlalu.

“Mbak,”panggilku, “Mbak tidak ikut?” Mbak Ning menggeleng.

“Mereka ingin berbicara rahasia denganmu, Ci,” jelas Mbak Ning.

Setelah Mbak Ning pergi, Miss Wu, lawyer dari keluarga Tan Liu Wei mulai menjelaskan maksud kedatangannya. Bicaranya berputar-putar tidak karuan, mungkin karena keterbatasan bahasa Indonesianya atau untuk menghindari agar aku tidak tersinggung mendengar ucapannya. Intinya sebenarnya singkat. Pernikahan Mbak Ning dengan ayahku tidak diakui hukum. Baik hukum di Indonesia maupun hukum di Taiwan. Artinya, aku anak haram yang tidak berhak untuk menuntut warisan dari ayahku termasuk investasinya di Kertalindo. Kekayaan ayahku akan jatuh ke tangan tiga anak sahnya.

“Apakah Mr Tan sudah meninggal?” potongku mendengar dia menyebut-nyebut soal warisan. Sengaja aku mengalamatkan ayahku dengan sebutan Mr Tan untuk menekankan betapa asingnya dia dalam kehidupanku.

“Belum,” jawab Miss Wu cepat. “Beliau dalam keadaan sehat dan fit. Maksud saya, bila beliau meninggal, Anda tidak berhak untuk menuntut warisan,” tambahnya. Aku baru mau mengatakan kalau aku tidak mengenal ayahku dan tidak pernah menginginkan warisan darinya, Miss Wu cepat-cepat melanjutkan.

“Menyadari hal tersebut, begitu Anda lahir, Mr Tan membuka trust fund, dana perwalian untuk Anda. Trust fund itu dikelola oleh salah satu bank di Taipei yang Mr Tan tunjuk hingga Anda berusia 21 tahun. Begitu Anda berusia 21 tahun, seperti hari ini, secara otomatis dana tersebut menjadi milik Anda. Anda berhak untuk memutuskan apakah Anda mau tetap menggunakan bank tersebut untuk mengelola dana Anda atau Anda mau memindahkannya ke bank lain. Kami ke sini untuk membahas mengenai dana perwalian ini.”

“Mengapa saya tidak pernah tahu adanya trust fund ini?”

“Sengaja dirahasiakan darimu, Ki,” kali ini yang menjawab Pak Hutapea, kepala divisi hukum Kertalindo. “Karena ada beberapa hal yang dapat membatalkan trust fund tersebut sebelum kamu berusia 21 tahun,” lanjutnya.

“Misalnya apa?” tanyaku.

“Salah satunya bila ibumu kawin sebelum kamu berusia 21 tahun.”

“Apa?” seruku bagai disengat kalajengking, “Apakah ibuku tahu mengenai trust fund dan persyaratan-
persyaratannya ini?”

“Ya. Tiga tahun lalu, melalui kami, ibumu pernah meminta izin dari Mr Tan untuk kawin dengan seorang pria. Seorang banker kalau tidak salah. Ibumu meminta agar Mr Tan menghapus syarat agar dia tidak kawin sebelum usiamu 21 tahun. Mr Tan menolak permohonannya.”

Baca juga:  Ular Tiban

Aku terdiam. Kini semuanya jelas sudah. Kini aku mengerti mengapa Mbak Ning meminta Oom Widi menunda perkawinan hingga tiga tahun. Mbak Ning menunggu usiaku genap 21 tahun. Mbak Ning mencoba mempertahankan uang yang menjadi hakku. Mbak Ning tidak rela kalau gara-gara dia kawin, uang di trust fund itu tidak bisa jatuh ke tanganku. Mbak Ning benar-benar tersandera. Kalau saja aku tahu alasannya, aku akan mengatakan kepada Mbak Ning untuk tidak memedulikan trust fund tersebut dan kawin dengan Oom Widi. Kita tidak membutuhkan trust fund ini, Mbak Ning. Selama 18 tahun kita telah membuktikan kalau kita bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Mengapa Mbak Ning harus melepas Oom Widi untuk dana yang tidak seberapa ini? Tidak seberapa?

“Kalau boleh tahu, seberapa besar dana yang ada di trust fund ini?” tanyaku ingin tahu.

“Pada waktu kelahiranmu, Mr Tan memasukkan dana sekitar 3 juta dollar Amerika. Saat ini dananya sudah berkembang mendekati 7 juta dollar atau setara dengan 70 miliar rupiah,” jawab Miss Wu. Tujuh puluh miliar?? Pantas Mbak Ning begitu getol untuk mempertahankannya. Berapa ton cabe yang bisa dia beli dengan uang sebanyak itu?

Mencoba untuk tidak terpengaruh dengan bilangan yang begitu besar tersebut aku berkata sambil beranjak dari kursiku.

“Tolong sampaikan kepada Mr Tan, uang di trust fund itu tidak cukup besar untuk menggantikan masa muda ibuku yang hilang. Tidak cukup besar untuk menggantikan pengorbanan ibuku yang harus melepaskan satu-satunya pria yang pernah dia cintai. Tidak cukup besar untuk membeli harga diri kami.”

“Maksud Anda?” kejar Miss Wu.

“Saya tidak sudi menerima uangnya. Delapan belas tahun kami bisa hidup tanpa bantuannya. Kami masih bisa hidup delapan puluh tahun lagi tanpa dirinya, bila Tuhan mengijinkan…”

Ketiga tamuku terguncang. Mereka membelalakkan matanya tidak percaya. Aku berjalan keluar dari ruang VIP. Di deretan meja di ujung kiri yang berhiaskan balon berwarna merah dan emas, kulihat Mbak Ning duduk termenung. Sendiri dan nampak rapuh. Gadis kecil dari Merakurak yang berkeiinginan untuk hidup layak. Dia tersenyum melihat aku berjalan mendekatinya. Senyumnya yang biasa sangat menawan, kali ini terlihat ragu.

“Bagaimana hasilnya, Ci?” tanya Mbak Ning.

“Mbak Ning, kadang uang itu adalah berkah. Tapi tidak jarang uang itu adalah kutukan,” jawabku sambil duduk di sampingnya dan memeluk pundaknya. “Gara-gara uang itu, Mbak Ning tidak bisa mengenyam kebahagiaan hidup bersama Oom Widi.”

“Jangan bilang kalau kamu menolak uang itu. Kamu berhak mendapatkan setiap sen dari uang itu,” tegur Mbak Ning gusar. Kupeluk Mbak Ning dengan erat. Kegusarannya mulai mereda.

“Kita tidak membutuhkan uang itu, Mbak. Kita tidak pernah dan tidak akan membutuhkan uang itu,” bisikku.

“Uang yang sangat besar, Ci,” bantah Mbak Ning tidak lagi gusar.

“Uang yang sangat besar yang tidak kita butuhkan, Mbak,” sahutku.

“Kamu yakin?”

“Sangat yakin. Delapan belas tahun dia mengingkari eksistensi kita, Mbak. Sekarang saatnya kita mengingkari eksistensinya,” sahutku bersemangat.

Mbak Ning mengembangkan senyumnya yang luar biasa menawan. Aku ikut tersenyum. Kami masih dalam keadaan tersenyum, ketika Miss Wu dan dua petinggi Kertalindo keluar dari ruang VIP dan kami masih tetap tersenyum ketika mereka meninggalkan restoran kami. ***

Laily Lanisy, tinggal di lailylanisy@yahoo.com 



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Laily Lanisy
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” 15 Maret 2015