Istana Gotik

Karya . Dikliping tanggal 16 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
DERIT rem, disusul empat bantingan pintu oto. Pasti Babah Sun dan teman-teman. Terlambat. Syaraf tubuh bagian bawahku mulai enggan mematuhi perintah otak. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh. Aku akan mati. Mereka akan menemukan tubuhku berkubang darah. Menyusul si durjana.
Sekuat tenaga kuangkat leher. Ah, tak tersisa gerumbul otot yang sepakat dengan kehendak ini. Syukurlah kedua bola mataku masih berfungsi. Kupaksa mereka berputar ke depan. Pemandangannya sama sejak sore tadi. Empat pria terkapar tanpa jiwa, mengelilingi sosok besar di kursi berukir. Si durjana, yang terkulai dengan mulut sobek sampai ke telinga. Oh, mulut lebar itu. Cocok menjadi rumah kata-kata manis yang sering ia tebar. Kata-kata yang telah membuat Miranda hanyut menjadi gadis bodoh.
Miranda. Nona Miranda. Kutengok tubuh seputih lilin di pangkuanku. Miranda. Kembang Istana Gotik. Kesayangan Babah Sun. Kesayangan semua orang.
“Kamu ikut ke mana Nona pergi,”aku ingat Babah Sun menepuk pundakku sebelum menoleh kepada perempuan di depan kami. “Orang ini pensiunan KNIL. Jago kelahi. Ia kini centengmu, gantinya si Joni.”
Gadis itu mengulurkan tangan. “Aku Miranda,” ia menyapa dengan warna suara yang sulit kutemukan dalam ungkapan. Nyaring? Bersih? Yang jelas, dia tidak kaget melihat wajahku.
“Willem,” sahutku.
“Boleh saya panggil Bang Willie? Oh, angkernya. Boleh beri saya wajah yang lebih ramah?”
Kubuang pandangan ke samping. Tak guna menjelaskan betapa “wajah angker” itu sesungguhnya sebagian daging kening yang gagal kembali ke tempatnya setelah tersapu kelewang seorang laskar Bali saat terjadi Puputan Badung.
Nona Miranda. Istana Gotik. Ya, semua bermula tiga tahun lalu, setelah Babah Sun kuselamatkan dari keroyokan para sinyo mabuk di sekitar Kalibesar. Mendengar aku butuh pekerjaan, Babah membawaku ke Istana Gotik menjadi karyawannya.

Semula aku tak tahu, tempat apa itu. Tapi setelah melihat gadis-gadis molek dan beberapa kamar dengan ranjang beraroma cendana, segalanya menjadi jelas. Ini rumah bordil kelas atas. Bukan rumah suhian seperti Macao Po, Gang Mangga, Gang Hauber, atau Paal Merah. Disebut Istana Gotik, menurut Pak Wage, supir Babah Sun, lantaran bangunannya menggunakan langgam hias Gotik.

Entahlah. Bagiku rumah ini mirip katedral di Waterlooplein yang dulu selalu kulewati dalam perjalanan menuju barak.
Meski unik, orang akan mengira rumah ini hanya satu dari banyak rumah mewah di wilayah itu. Jarang ada oto berlama-lama di pelataran. Saudagar Tionghoa, atau tuan-tuan Belanda datang mengambil teman kencan, lantas pergi. Seringkali bahkan hanya sopir yang menjemput. 
“Nona Miranda primadonanya,” tutur Pak Wage di awal masa kerjaku. “Bisa ngomong Londo. Banyak yang kepincut. Tapi Nona sangat hati-hati. Kadang menolak yang sudah dipilihkan Babah.”
BULAN-BULAN awal, aku belajar membiasakan diri melihat hal-hal di luar takaran otakku. Misalnya, ternyata banyak pria terhormat rela menghamburkan uang bersama wanita yang bukan istri mereka. Dan rumah-rumah mewah di atas bukit ternyata juga bukan dongeng. Sering kuantar Nona Miranda ke tempat-tempat semacam itu.
Aku lahir di Depok. Ibuku penjaga toko kelontong yang dipergundik ayahku, Kaas Nicholas, seorang kerani bank. Saat usiaku tujuh tahun, ayah mengusir ibu. Tadinya aku sempat diangkat menjadi anak resmi, terbukti ada tambahan “Salochin” di belakang namaku, gubahan dari “Nicholas”. Tak pernah terungkap mengapa Ayah urung mengajakku tinggal di rumahnya.
Dan ibuku? Tak ada yang bisa memulihkannya dari kehancuran jiwa. Dijauhi kerabat. Diberi julukan pezina. Suatu sore kujumpai ia tergantung di dalam sumur. Tali timba membelit lehernya. Tak ada uang untuk mengurus pemakaman, jadi kubiarkan gereja mengambil alih. Mereka mau menyantuniku tiap bulan, asalkan aku merawat halaman gereja.
Mulailah kujalani hidup sebatang kara sebagai seorang liplap. Belanda bukan, pribumi pun tidak. Tak terhitung, berapa kali kuayunkan kepalan tangan, membela diri dari hinaan. Tapi aku bersyukur, itu semua menempaku menjadi kuat. Jiwa maupun raga. 
Setelah dewasa, kupakai sebagian besar usiaku menjadi serdadu. Waktu itu, sulit membayangkan tempat lain yang lebih istimewa dari barak prajurit. Makan tiga kali sehari, ditambah sedikit jaminan sosial.
Di Istana Gotik, upahku berlipat kali jumlah tunjangan pensiun. Tugasku sangat menyenangkan, berdekatan dengan Nona Miranda. Maaf, maksudku menjaga keselamatannya dari lelaki mabuk atau pelanggan yang sulit menghitung jumlah duit dikalikan banyak jam yang mereka habiskan di atas tempat tidur.
Cara kerjaku ringkas. Kuwajibkan pasangan Nona Miranda bertatap wajah denganku terlebih dahulu, setelah itu barulah aku siaga di luar kamar. Semacam peringatan agar mereka tidak macam-macam. Jarang yang tak bergidik melihat ukuran tubuh dan bekas luka di wajahku.
Para lelaki boleh terbang ke bulan. Tapi setiap setengah jam Nona Miranda harus membunyikan lonceng kecil dekat tempat tidurnya. Kalau tak ada bunyi, pintu kamar akan kuketuk. Bila tak ada jawaban, kudobrak. Begitu hubungan kami pada awalnya. Terpaut jarak, peraturan, dan nasib.
Hingga suatu hari, seorang bintang tonil tenar melakukan kesalahan besar, mengurung Nona Miranda di sebuah penginapan. Ketika pintu kujebol, ia sedang berdiri telanjang dengan revolver di kening Nona Miranda. Tak jelas, apakah ia sedang menggelar upacara pembangkit syahwat yang aneh, atau memang ingin menyiksa Nona Miranda lantaran cintanya tak berbalas. Yang pasti, peraturan sudah dilanggar.
Kudekati pria itu. Meski pandai bermain drama, cahaya matanya bukanlah milik seorang petarung. Tak bakal ia menarik pelatuk. Kugempur lututnya dengan tendangan. Disusul tinju kananku yang terayun sepenuh tenaga. Kurasa butuh waktu lama baginya kembali ke dunia panggung. Hidungnya remuk, dua gigi depannya tanggal.
Itulah kali pertama Nona Miranda melihat kebuasanku. Jadi, bisa kumaklumi gigilan tubuhnya dalam pelukanku saat itu. Kami berkendara pulang dalam kebisuan yang menyiksa. Semula kukira hubungan kami akan rusak. Ternyata tidak.
SEBULAN kemudian, usai bertugas, Nona Miranda memintaku menepikan kendaraan di depan sebuah bangunan. Apakah ia akan menjumpai kekasihnya? Bagaimana mungkin bisa lolos dari pengawasanku? Aku harus tegas. Meski kekasih, peraturan harus tetap kupatuhi.
“Nona boleh ke mana saja, asal bilang dulu,” kutatap matanya agak lama. Baru kusadari ada sorot seteduh itu di mata seorang jalang. Dan mata itu terpicing jenaka saat pemiliknya terpingkal. “Bang,” katanya. “Abang sudah kerja keras. Boleh saya traktir Abang?” Ia membimbingku masuk. Bangunan itu ternyata sebuah rumah makan. Jauh dari suasana resmi. Dan jenis musik yang dimainkan di panggung itu. Belum pernah kudengar irama seperti itu.
Kami memesan makanan, lalu lebur dalam percakapan menakjubkan yang membuat kami merasa aman berdekatan satu sama lain pada detik-detik berikutnya. Baru kutahu kisah hidupnya: Anak seorang juru tulis perkebunan karet. Tumbuh bersama ibunya yang tawar hati. Sementara ayahnya seorang pria ringan tangan yang tak cuma sekali tertangkap basah berseketiduran dengan wanita lain. Menginjak remaja, kedua orang tuanya berpisah. Gadis itu hilang arah. Lari dari rumah. Menjual keperawanan untuk sebuah pernyataan kebebasan hidup, menjadi budak alkohol, sebelum akhirnya berkenalan dengan Babah Sun di sebuah pesta.
“Kalau Abang?” tanyanya.
Aku mengangkat bahu. “Tak ada yang enak didengar.”
“Mungkin bisa cerita dari sana?” Nona Miranda melirik ke sebuah titik. Lantai dansa. Beberapa pasangan tampak berhadap-hadapan, lalu irama asing itu kembali mengalun.
“Swing jazz,” bisik Nona Miranda. “Mereka mahir bermusik, seperti Han Samethini dan John Kiliaan. Ayo, kita gabung.”
Aku menggeleng sengit.
“Ah, dengar iramanya. Abang tidak terpanggil?” gadis itu menarik-narik tanganku. Dengan enggan, kuikuti langkahnya. Sesaat kemudian, di tengah irama yang meliuk dan menyentak, dapat kurasakan betapa berwarna sesungguhnya hidup ini. Cinta, harapan, kegagalan, serta keberuntungan. Satu persatu hinggap padaku, lalu pergi. Kadang kembali, kadang lama sekali baru kembali. Dan perempuan kecil ini, betapa pandai ia berdamai dengan ombak-ombak kehidupan tadi. Sepandai gerakan tubuhya. Berputar, mengerutkan badan atau melemparkan diri. Seolah akulah, dan bukan dia yang mahir berdansa.
Malam itu kukabarkan kepadanya seluruh perjalanan hidupku: Sebatang kara. Kemiskinan yang menggila. Dikhianati istri tercinta. Menjadi tentara. Dan akhirnya, belajar meniadakan nurani dengan menembak orang tua, wanita dan bayi di Bali tahun 1906. Kubisikkan semua. Tepat di muara telinganya. 
Di antara irama lagu yang kian melembut, sepasang mata kecil mengikuti ceritaku dengan cermat. Satu garis lurus dengan mataku. Barangkali tubuhnya kerap disinggahi para petualang cinta. Tapi sorot matanya, alangkah perawan. Membuatku ingin melakukan sesuatu yang mulia untuknya. Terutama setelah ia ganti berbisik ke telingaku: “Malam yang indah. Aku ingin hidup abadi. Bang Willie jadi ayahku mulai sekarang, ya? Jangan panggil Nona lagi.”
Aku mengangguk. Memang keterlaluan bila memimpikan hadirnya sebuah petualangan ragawi dari persahabatan ini. Siapakah aku ini? Berperan sebagai ayah, cukuplah menjadi alasan untuk selalu berada di dekatnya, menyerap gelora besar menjalani hidup yang terpancar deras dari kedua bola matanya.
Dengan binar mata yang sama pula suatu malam ia menghampiriku. “Dia melamarku, Ayah,” katanya seraya menunjukkan sehelai surat.
Seperti yang kukatakan, tak ada pria di sekitar Nona Miranda yang tak kuketahui. Justru karena itulah aku merasa remuk. Kutatap sekali lagi nama pengirim surat itu. Andreas Maurits Dorsten. Pengusaha besar. Tokoh penting di Volksraad. Rajin menyerukan kesetaraan derajat. Anak-anak muda, bahkan pribumi, mencintainya.
AWAL tahun lalu, ada surat ke Istana Gotik. Minta Nona Miranda datang ke sebuah villa di Buitenzorg. Bersama surat itu terlampir sehelai cek. Tiga kali jumlah yang seharusnya kami kutip sebagai imbalan gadis itu selama tiga hari. Mungkinkah ini jebakan? Bukankah orang-orang Volksraad rajin bicara moral dan sanksi hukum? Tapi Babah minta kami segera berkemas. Bahkan ia turut mendampingi Nona Miranda.
Di tempat tujuan, seorang pria tua tinggi besar menyambut kami. Tuan Dorsten. Ia mengangguk kepada Nona Miranda, lalu berbicara kepada Babah Sun.
“Tamu-tamuku, para pemodal dari Inggris ini keras kepala. Kehadiran wanita akan menciptakan suasana perundingan yang santai. Seorang kenalan telah mengantarkan beberapa lady ke sini. Tapi saya sendiri hanya ingin Nona Miranda yang menemani saya. Seperti prajurit wanita Sultan Agung, yang piawai sebagai juru runding.”
Aku buta sejarah, tetapi paham sorot mata setan tua yang sedang dilumat birahi. Itulah sebabnya aku merasa jijik mendengar kalimatnya. Dalam bisnis kami, pembenaran tindakan tak diperlukan. Juga dalih, atau hal-hal munafik lainnya. Asal sanggup memenuhi imbalan yang kami tetapkan, ia boleh memiliki wanita yang ia inginkan. Kerahasiaan dirinya pun terjaga. Kami memiliki daftar panjang manusia-manusia celaka macam Tuan Dorsten ini. Selain rasa muak dan geli, sebetulnya kami tak begitu peduli dengan keberadaan mereka di dunia ini.
Keesokan harinya, rapat usai sekitar pukul tujuh malam. Ada yang tak tahu diri, langsung masuk kamar bersama para lady. Banyak pula yang ingin menghabiskan malam di hotel Bellevue, tak jauh dari tempat pertemuan. Salah satunya adalah Tuan Dorsten. Tampil sangat perlente malam itu, ia membukakan pintu oto untuk Nona Miranda. Setelah menyusul masuk, ia melambai kepadaku dan Babah Sun.
“Saya mau berdua saja. Tak ada centeng,” katanya. Aku membuka mulut, siap menolak. Tapi injakan kaki Babah Sun membuatku diam. Ya, demi masa depan. Babah perlu koneksi kakap seperti Tuan Dorsten. Lagipula, benarkah pemandangan di depanku ini? Nona Miranda menyandarkan kepalanya ke bahu Tuan Dorsten. Dan senyum itu, belum pernah kulihat senyum semacam itu di bibirnya. Tampaknya gadisku menyukai bedebah itu. Bedebah? Ah, suara hati pria tua yang terbakar cemburukah ini?
Api cemburu itu berkobar kembali keesokan harinya, saat Nona Miranda bercerita penuh semangat tentang malam yang ia lewati bersama pujaannya.
“Kami bicara tentang puisi dan seni panggung sampai tengah malam di meja makan, dengan tubuh tertutup pakaian. Ia pria sopan. Ia mendukung orang-orang pergerakan. Katanya, sudah masanya negeri ini diberi kepercayaan untuk mandiri, dan ia akan ikut memperjuangkan bersama partainya.”
Aku orang bodoh. Sulit membayangkan seorang pria Belanda kaya-raya, penggemar wanita seperti Dorsten bicara soal perjuangan kaum pribumi. Ibarat langit dan bumi. Tapi itulah yang dikisahkan Nona Miranda sebelum menikah dan pindah ke istana Tuan Dorsten di Menteng. Sejak itu tak ada lagi kabarnya. Kebetulan aku juga semakin sibuk. Babah Sun mengangkatku menjadi centeng pribadinya. Luka hati perlahan tawar terbebat waktu.
HAMPIR terhapus bayangan Nona Miranda dari benak, seandainya pada suatu pagi kami tak bertukar pandang di sebuah oto. Ia duduk di kursi belakang Buick hitam yang beranjak pergi usai mengisi bahan bakar. Saat menyadari tatapanku, dengan gugup ia menutup muka. Hanya sekilas, tapi tak mungkin aku salah lihat. Pada pipi kiri, melebar sampai keliling mata, rona lebam tertera jelas.
Beberapa hari kemudian, datang seorang bocah bisu ke Istana Gotik menyodorkan gulungan kertas kecil kepadaku, lalu pergi. Tiga kali ia datang dengan kertas-kertas semacam itu. Dan setiap membaca isinya, bara api di dalam hatiku semakin besar.
Rupanya Nona Miranda bukan lagi ratu di rumah itu. Suaminya berbagi asmara dengan wanita lain, seorang Jerman. Sering tak kembali ke rumah. Kalaupun pulang, selalu membawa cindera mata berupa umpatan, pukulan, dan tendangan. Akhir tahun kemarin, janin dalam kandungan Nona Miranda gugur. Tak ada penyesalan dari Dorsten. Bahkan si durjana itu kini kerap mengumpankan istrinya untuk pelicin bisnis.
Sore tadi, surat keempat datang. Kali ini pendek, tak berisi pengaduan seperti sebelumnya: “Ayah, aku ingin pulang.”
Surat itu diikatkan pada sebuah lonceng kecil. Benda yang akrab di Istana Gotik pada masa lalu. Benda yang kebisuannya menjadi penanda bahwa Nona Miranda berada dalam bahaya besar. Tanpa pikir panjang, aku bersiap.
KUBUKA lemari senjata. Sepasang Browning M1903 berikut empat klip magasinnya berpindah ke saku celanaku. Kukaitkan pula di dada, sabuk kulit berisi enam bilah pisau lempar. Di muka garasi, sambil memacu oto, kuserukan tujuan kepergianku kepada tiga centeng lain, agar disampaikan kepada Babah Sun.
Hari mulai gelap saat rumah Menteng muncul di depan mata. Kubenamkan kaki pada pedal gas. Oto melonjak seperti kerbau gila. Menggempur pagar kayu hingga luluh-lantak. Lima centeng berlompatan. Senapan mereka menyalak bergantian. Tapi tak ada peluru yang mencapai tubuhku. Dasar amatir. Kubanting kemudi. Oto berputar setengah lingkaran sebelum berhenti. Sambil keluar dari oto, kutarik pelatuk Browning di tangan kiri dan kanan, mengantar kepergian kelima orang itu ke neraka.
Di beranda, seorang pendekar menyambutku dengan sabetan parang. Bahu kiriku terasa kejang. Apa boleh buat, dari jarak sangat dekat kuledakkan kepalanya. Agak terhuyung, kuganti klip magasin. Lalu masuk rumah. Di ruang tengah yang gelap, kakiku tertumbuk sesuatu. Si bocah bisu pengantar surat. Perutnya berlubang.
Mendadak ruangan menjadi terang-benderang. Aku melihat kursi berukir, tempat bertengger si durjana. Di depannya, Nona Miranda bersimpuh di lantai. Sepucuk Mauser menempel di punggungnya. Di sekeliling kursi, empat orang centeng  menjulurkan pistol.
“Engkau tangguh, Bung. Tapi pelacurmu mengemis hidup di sini,” tawa si durjana serupa iblis. “Jadi buang senjatamu dan dengarkan. Aku akan menawarkan pekerjaan untukmu.”
Pekerjaan? Kulirik Nona Miranda. Kutangkap sebuah gelengan kecil, nyaris tak terlihat. Jantungku berdebar. Ini soal hidup dan mati. Nona Miranda harus hidup, aku boleh mati. Celah kesempatan hanya berbilang detik. 
Kuangkat kedua tangan sambil melompat. Laras Browning kembarku menyentak-nyentak. Selongsong timah berdenting-denting memukul lantai. Dua centeng terdorong ke belakang dengan isi kepala berhamburan. Satu peluru lari menembus lengan si durjana, membuat senapannya terlempar. Sayang, dua centeng lainnya sempat menarik pelatuk. Aku terlempar ke dinding. Kurasakan cabikan besar pada pinggang kanan dan paha. Senjata-senjataku terlepas.
Salah seorang centeng berlari memburu, tapi terlambat menyadari bahwa ia berdiri terlalu dekat denganku. Ia harus mundur dan meluruskan tangan agar bisa membidik. Saat itulah kuraih pisau dari sabuk. Kubiarkan terbang memangsa dadanya. 
Temannya meletupkan pistolnya beberapa kali. Aku tahu, igaku tersambar, tapi sungguh bukan saat yang tepat untuk menghayati rasa sakit. Kuayunkan kepalan tangan. Centeng itu menjerit. Lengan kanannya berputar ke belakang karena bonggol bahunya lepas. Lalu, satu bacokan pisau pada leher mengakhiri deritanya.
Tiba-tiba terdengar letusan keras. Sesungguhnya aku sudah punya firasat, tapi tak pernah membayangkan bahwa hal itu akan terjadi. Nona Miranda. Gadisku yang gagah berani. Rubuh bersimbah darah, menjadi perisai penahan peluru yang dilepaskan si durjana untukku. Anjing!

Baca juga:  Tawanan

Dengan satu terkaman, kutarik senapan si durjana. Kudorong belati ke dadanya, lalu kuraih mulutnya. Kupaksa ia menganga, sampai terdengar bunyi sobekan daging dan gelinjang kematian. Setelah itu kuburu tubuh Nona Miranda.

Sambil bersandar di tembok, kupeluk erat ia di pangkuanku. Ia ingin pulang. Ingin bahagia. Bahagiakah ia sekarang di sana? Sebentar lagi tentu aku akan tahu. Belum pernah aku begitu menginginkan kematian. Tapi itu nanti. Kini, sambil menunggu saat itu datang, aku membayangkan lantai dansa. Swing jazz. Musik mengalun, kami berpelukan. Saling bercakap tentang kehidupan abadi.

Baca juga:  Sebutir Peluru Saja

Jatiwaringin, Februari 2015

Iksaka Banu bekerja lepas di lapangan periklanan. Kumpulan cerita pendeknya adalah Semua untuk Hindia (2014)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iksaka Banu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” 15 Maret 2015