Jabiru

Karya . Dikliping tanggal 3 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
Suatu sore, belasan
tahun yang lalu, setelah hujan, ketika awan menyibak pelan dan langit nampak
sedikit cerah, beberapa bagian jalan setapak masih digenangi air. Aku melihat
seorang perempuan muda duduk tidak jauh dariku. Aku tahu siapa dia. Dia tidak
tahu siapa aku. Aku mengenalnya. Itu lumrah. Wajahnya dikenal semua orang
karena dia seorang penari yang sering tampil di panggung-panggung pertunjukan. Dia
pernah membawakan tarian bangau yang diangkat dari sebuah cerita pendek tentang
sebuah patung bangau yang tiba-tiba hidup karena jatuh cinta pada pembuatnya.

SAAT itu musim hujan.
Toko kaset tempatku bekerja tetap buka meski air sering
menggenangi ceruk terasnya. Toko itu pernah hampir bangkrut. Namun perputaran tren
mengangkatnya kembali. Si pemilik toko membuka rolling door-nya hanya beberapa kali dalam seminggu terutama ketika
hujan turun. Meski ia tahu kini banyak pemburu kaset dan piringan hitam, Si
Koh, pemilik toko Jabiru, tidak berniat sedikit pun mendandani tempatnya
berjualan. Ia merasa tokonya akan bertahan meski papan namanya tidak lagi
kelihatan karena terhalang plang-plang besar toko pakaian, bar, dan kedai kopi
di sekitarnya.
Ilustrasi karya Munzur Fadly

Saat hujan, Jabiru dipenuhi orang yang membutuhkan tempat berteduh. Si Koh senang meski kebanyakan dari mereka tidak mempunyai niat membeli. Dia dengan jumawa memutar lagu-lagu lama, kadang lagu rock tapi lebih sering klasik, dengan tape player tua di belakang meja kasir. Wajahnya sumringah ketika ada pengunjung yang mengenali lagu yang tengah diputarnya, lantas mengajaknya mengobrol.

Aku dulu sebenarnya senang bekerja di tempat itu karena bisa melamun dan memikirkan tulisan sepanjang hari. Kami jarang melayani pengunjung karena begitu sepinya toko, lalu menyibukkan diri membersihkan kaset-kaset tua dan deretan piringan hitam yang tidak seberapa jumlahnya. Kini Jabiru ramai hingga waktuku untuk melamun berkurang. Meski begitu aku masih menikmati berada di sana, mendengarkan cerita-cerita Si Koh pada calon pembeli tentang riwayat barang dagangannya. 
Menjelang sore, dalam gerimis aku berlari seperti dikejar anjing, menyusuri trotoar area pertokoan. Orang-orang berlalu-lalang dengan payung-payung terbuka yang dari kejauhan tampak seperti bunga-bunga raksasa. Matahari bersahaja. Sinar oranye seperti ditembakkan dari langit, menyorot jalan, pohon, dan permukaan sungai yang membelah kota. Aku terus berlari. Aku membawa sesuatu yang sangat penting untuk kutunjukkan pada Si Koh. Sesuatu yang akan mengagetkannya.
Rolling door terbuka penuh. Beberapa pengunjung asyik melihat-lihat koleksi piringan hitam. Terdengar “Heart of Glass”-nya Blondie dari pengeras suara. Si Koh, seorang laki-laki Cina 50 tahunan dengan kaus merek Swan dan pantalon hitam berdiri di dekat kotak gramafon. Dia heran melihatku datang di hari Minggu.
You tidak libur? Lupa ini hari Minggu?” Dia berkacak pinggang melihatku tergopoh memasuki toko.
Aku menggeleng. “Saya mau menunjukkan sesuatu, Koh.”
Dia menatapku dengan kacamata melorot. “Piringan hitam kuno?”
Aku mengajaknya menuju belakang meja kasir. Kukeluarkan bangau kertas dari saku. “Tapi jangan kaget ya, Koh.”
“Bangau kertas ini bisa bergerak.” Aku berbisik padanya. Lawan bicaraku mengerutkan kening.
“Bergerak bagaimana? Digerakkan dengan benang atau gagang seperti wayang? You mau jadi dalang?”
“Bukan, Koh, bukan. Dia bergerak sendiri. Bukan digerakkan. Bukan dengan baterai, atau aliran listrik seperti robot. Bergerak sendiri seperti bernyawa!”Aku menjelaskan sampai napasku megap-megap.
You serius? You sehat?” Si Koh memegang dahiku seperti memeriksa apakah aku sedang demam atau tidak.
Aku mengangguk meskipun sebenarnya tidak tahu aku sehat atau tidak. Ini pasti terdengar menggelikan bagi orang lain. Pundakku melemas. Bangau kertasku tergeletak tidak bernyawa di meja kasir. Kutunggu beberapa saat. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi. Tentu saja ia tidak bernyawa. Aku mulai merasa yakin aku memang tidak waras.
Tapi tak lama kemudian, Si Koh mencengkeram lenganku, membuat napasku tersengal.
“Maaf, maaf. Hari ini toko tutup, ya! Saya baru ingat kalau saya ada kondangan. Besok datang lagi ya.” Si Koh keluar dari balik meja kasir lalu sopan berdiri di dekat pintu untuk mempersilakan pengunjung toko keluar.
Di luar, hujan menderas.
BANGAU kertas itu tegak di atas meja. Setelah para pengunjung meninggalkan toko, Si Koh menutup rolling door setengah lalu kembali ke belakang meja kasir. Dikerjapkannya mata beberapa saat. Dibetulkannya kacamata bulatnya yang melorot.
“Aku pernah melihat yang seperti ini.” Ia berbisik. Matanya yang sipit terlihat seperti garis lengkung yang menaungi tulang pipinya.
Kuhela napasku panjang. Aku merasa sangat lega. Lega, aku ternyata tidak gila. Juga lega, karena Si Koh tidak kena serangan jantung.
You dapat kertasnya dari mana”
“Saya temukan di sampul piringan hitam yang datang minggu lalu, Koh. Koh yang meminta saya membawanya pulang untuk didengarkan.”
“Itu kiriman piringan hitam yang dari mana? You sudah dengarkan?”
“Aduh saya malah lupa!” Aku menepuk dahiku sendiri.
“Aduh bagaimana begitu saja lupa!”
“Kalian ini meributkan apa? Piringan hitam apa?  Kalian sedang membicarakan aku?” Suara parau itu tiba-tiba menyahut. Aku mencari-cari dari mana suara itu berasal. Leher si bangau, yang berupa lipatan kertas tidak rapi, hasil karyaku, tidak terlihat bergerak.
Bangau kertas itu mendesah. “Seharusnya aku tidak usah memedulikanmu. Kalau kamu merasa tidak waras karena melihatku hidup, itu urusanmu sendiri. Tidak ada hubungannya denganku.”
MEREKA bertiga duduk di lantai di salah satu sudut toko, menjadikan kursi kayu sebagai meja makan. Menu makan mereka adalah bakpao isi babi. Si pemilik toko mempunyai dua buah bakpao yang dibelinya semalam dan masih tersimpan dalam rice cooker. Dia meletakkan bakpao bulat dan putih dengan uap masih mengepul tersebut di atas piring.
“Bakpao?” tanya si bangau.
“Iya. Ini bakpao terbaik di kota ini. Bakpao asli. Meskipun dibuat jauh dari tempat asalnya tapi si pembuat adalah orang asli Cina.”
Si bangau menggerakkan kepalanya.”Kalian saja yang makan.Aku tidak makan babi.”
“Kamu tidak makan babi?” tanya si pemilik toko. Sementara di kepala si pemuda tanggung tersimpan pertanyaan lain: bagaimana juga caramu makan?
“Kamu tahu mengapa aku membuka toko seperti ini?” tanya si pemilik toko sambil mengunyah bakpaonya pelan-pelan. “Kota ini dari dulu adalah kota yang penuh anak muda,” katanya membuka cerita, tanpa menunggu lawan bicaranya berkomentar. “Banyak sekolah seni tapi aku tidak bersekolah di sana. Aku pindah ke kota lain mengikuti orang tuaku. Selesai bersekolah aku memutuskan kembali ke kota kecil ini untuk menjadi penulis lagu.”
“Naif sekali,” bangau itu menyahut.
“Tapi aku tidak sendiri. Mereka yang naif sepertiku tinggal di sini sementara yang suka kehidupan serbacepat dan modern angkat kaki begitu selesai bersekolah dan menetap di ibukota propinsi atau ke ibukota sekalian. Tidak ada mal atau tempat perbelanjaan besar. Anak-anak mudanya menyukai kegiatan seni. Untuk tidak memuja teknologi sekalipun mereka mengikuti perkembangan musik dan kesenian lain dengan mendengarkan atau menontonnya. Mereka juga melihat perkembangan dunia terkini dari sebuah televisi besar yang dipasang di perempatan tengah kota.”
“Wah! Keren sekali!” si pemuda menyahut dengan bersemangat.
“Layar televisi itu besarnya mengalahkan plang-plang toko pakaian, bar dan kedai kopi. Televisi tersebut tidak menyiarkan berita dan hanya mempunyai satu saluran. Saluran seni. Dia menayangkan klip-klip musik dari banyak band yang sedang populer, film-film, juga kuis seputar seni. Aku pernah ikut kuis itu dan memenangkan uang banyak sekali. Lalu aku simpan uang itu di bank. Sejak saat itu aku tidak pernah bekerja.” Si pemilik toko kemudian terbahak. Dia sekolah senang sekali karena telah berhasil memperdayai hidup. Atau dia sebenarnya hanya menetertawakan dirinya sendiri.

Baca juga:  SEPASANG MATA MALAIKAT

Si pemuda memandang si pemilik toko dengan iri. Tidak semua orang mempunyai nasib baik sepertinya. Dia kini maklum mengapa bosnya itu selalu punya uang sementara tokonya dari dulu begitu-begitu saja.

“Anak istrimu di mana?” tanya si bangau. Dia menanyakan itu seperti orang lain bertanya perihal cuaca, terdengar seperti basa-basi. Tak disangka pertanyaan itu membuat raut muka si pemilik toko berubah.

“Aku tidak kawin.”

“Kamu tidak kawin?” Si bangau mengarahkan paruhnya ke muka si pemilik toko.

Si pemilik toko menatap sejenak ke muka bangau yang tidak bermata pun berhidung. “Aku tidak banyak mengenal perempuan sewaktu muda.”

Si pemuda membuka mulut. “Harus mengenal banyak perempuan untuk kawin?” Sepertinya ia menjadi pesimis karena ia sendiri tidak banyak mengenal perempuan, lantas seolah melihat masa depannya seperti si pemilik toko yang hidup segan mati enggan, menjual barang-barang yang tidak semua orang butuh, memperkerjakan pemuda putus asa seperti dirinya.

Baca juga:  Sumie Largo

“Aku cuma merasa tidak semua perempuan yang kutahu kukenal dengan baik. Kamu mengerti maksudku?”

Pemuda tanggung dan bangau kertas bersamaan menggeleng.

Si pemilik toko meneruskan cerita. “Ada perempuan yang aku kenal, yang tiap kali aku melihatnya lututku jadi lemas. Ah, tapi kurasa aku tidak punya kesempatan untuk dekat dengannya.”

“Oh ya? Seperti apa orangnya?” tanya si pemuda tertarik.

“Di tengah kota ada sebuah taman. Di sana banyak anak muda berkegiatan. Ada yang bermain musik, melukis, berolahraga, juga berpantomim. Aku sering duduk di sebuah bangku kayu putih tepat di bawah pohon akasia.” Sejenak mata si pemilik toko terlihat bercahaya. “Suatu sore, belasan tahun yang lalu, setelah hujan, ketika awan menyibak pelan dan langit nampak sedikit cerah, beberapa bagian jalan setapak masih digenangi air. Aku melihat seorang perempuan muda duduk tidak jauh dariku. Aku tahu siapa dia. Dia tidak tahu siapa aku. Aku mengenalnya. Dia tidak mengenalku. Itu lumrah. Wajahnya dikenal semua orang karena dia seorang penari yang sering tampil di panggung-panggung pertunjukan. Dia pernah membawakan tarian bangau yang diangkat dari sebuah cerita pendek tentang sebuah patung bangau yang tiba-tiba hidup karena jatuh cinta pada pembuatnya.”

“Apa?” Si bangau bersuara tiba-tiba. Nada suaranya terdengar gusar. “Jangan berharap itu akan terjadi padaku!”

“Aku juga tidak mau!” Si pemuda tidak mau kalah.

“Cerita macam apa itu? Kamu seharusnya menjawab pertanyaanku mengapa tidak kawin. Bukan malah mengarang cerita tidak bermutu tentang pantung jatuh yang cinta pada pematungnya segala. Kalau aku lihat, kamu memang punya kebisaan macam itu. Kalau ditanya apa, jawabannya apa. Mungkin kamu sengaja berputar-putar supaya lawan bicaramu bingung!”

“Sabar, sabar. Kamu harus benar-benar mendengar ceritaku untuk tahu maksudku.”

“Aku tidak mau! Aku tidak suka orang yang berbelit-belit. Aku lebih suka langsung ke pokok permasalahan! Aku tanya mengapa kamu tidak kawin. Kamu hanya perlu menjawab; aku punya trauma masa lalu, atau aku tidak laku. Beres. Tidak perlu membumbuinya dengan cerita yang menyindir orang lain juga. Tidak kawin itu kan urusanmu.”

“Mengapa kamu marah?” tanya si pemuda pada si bangau.

“Kamu mau aku meneruskan ceritaku tidak?” Si pemilik toko nampak masih bersemangat bercerita.

“Tidak!” jawab si bangau.

“Aku ingin tahu akhir ceritanya. Menurutku penting. Supaya kita tahu makna dari cerita tersebut,” si pemuda menyahut.

“Akhir cerita itu tidak penting!” sahut si bangau dengan malas. “Kamu mengira itu penting karena kamu seorang penulis.”

“Kamu menganggapnya tidak penting mungkin karena kamu takut mendengarnya.”

“Aku tidak peduli akhir ceritanya seperti apa. Itulah kenapa aku tidak ingin mendengarnya.”

“Kalau kamu tidak peduli akhir ceritanya, kamu tidak akan peduli juga apakah kamu mendengarnya atau tidak.”

Si bangau merasa gusar hingga mengeluarkan suara seperti dengusan berulang-ulang.

“Mungkin kita tidak usah cari tahu bagaimana cerita tersebut berakhir,” sela Si Koh.

“Lho, kamu juga tidak tahu?” Si bangau menggerakkan kepalanya ke arah si pemilik toko.

Si pemilik toko menggeleng. “Aku tidak pernah benar-benar membaca cerita itu ketika dimuat di koran nasional. Aku juga tidak terlalu paham bagaimana akhirnya karena mereka menari-nari lama sekali di atas panggung dan aku sibuk memandangi si penari.”

“Lalu waktu kamu melihatnya di taman, kamu berbicara dengan perempuan itu?” tanya si bangau.

“Ya.”

“Tentang apa? Tentang akhir cerita itu?”

Si pemilik toko menggeleng keras. “Aku tanya padanya, apakah dia suka mendengarkan musik. Kamu suka musik, tanyaku sambil menatap bola matanya yang hitam namun bening seperti kolam. Dia balas menatapku sambil tersenyum, lalu mengangguk. Musik apa, tanyaku lagi. Dia bilang musik klasik.” Bola mata si pemilik toko kembali bercahaya beberapa saat.

Dia melanjutkan ceritanya: “Lalu, karena aku sama sekali tidak mengerti musik klasik aku tidak bertanya apapun lagi. Aku cuma mengangguk-angguk untuk menjaga kesopanan.”

“Begitu saja?”

“Begitu saja.”

“Kamu gila ya?” Si bangau makin gusar.

Baca juga:  Tangis Pembuat Mainan

“Aku tidak gila.Tapi memang cuma itu isi obrolan kami waktu itu.”

Si pemuda ikut merasa kecewa dengan jawaban itu. Dia berdiri untuk mengambil minum dari meja di dekat kasir. Dia meneguk air segelas sekaligus.

“Baiklah. Setelah itu kalian bertemu lagi di lain tempat?” Si bangau bersuara lagi.

“Aku tidak ingat.”

“Kamu tidak ingat? Kok bisa tidak ingat?”

Si pemilik toko tampak berpikir.

“Tunggu dulu. Aku kemudian bertemu lagi dengannya!”

“Oh ya? Di mana?”

“Di sebuah toko piringan hitam. Dia berdiri di depan rak musik rock.”

“Wah itu cerita yang penting! Mengapa kamu bisa lupa?”

“Aku tidak lupa sebenarnya. Aku hanya ragu akan menceritakan ini atau tidak.”

“Kamu melihatnya. Lalu?”

“Dia berdiri di depan rak musik rock seperti sedang membaca tulisan yang ada di sampul piringan hitam”

“Kamu menyapanya?”

“Tidak. Aku hanya melihatnya menekuri piringan hitam satu per satu.”

“Sudah? Hanya seperti itu?”

“Iya.”

“Astaga aku tidak percaya ini.”

“Kemudian….”

“Aku tidak mau dengar lagi!”

“Dengarkan!”

“Apa? Kamu bertemu lagi dengannya? Di sebuah kedai kopi saat dia sedang menyanyi?”

“Lho? Kok kamu bisa tahu?”

“Aku hanya menebak. Dia menyanyikan lagu kesukaanmu, tapi kamu hanya termenung di pojokan memandanginya. Begitu?”

“Dari mana kamu tahu?”

“Sudah kuduga.”

“Anehnya, aku jadi sering bertemu dengannya di toko kaset atau piringan hitam. Aku pernah mendengar percakapannya dengan pramuniaga kalau dia mengoleksi piringan hitam. Sama seperti aku saat itu.”

“Kamu tidak pernah menegurnya untuk bercakap?” Si bangau tampak tidak menunjukkan antusiasme lagi.

Si pemilik toko hanya mengangkat bahu.

“Sepertinya mendengarkan ceritamu harus selalu bersiap kecewa ya?”

“Kok begitu?”

“Karena kamu tidak peduli pada pendengarmu.”

“Kamu kecewa mendengar ceritaku?”

“Ya. Sangat kecewa. Kamu membuatku gemas. Kamu sering berada di situasi yang akan mengubah hidupmu tapi kerap menyia-nyiakannya. Mana kamu tahu perempuan musik klasik itu sebenarnya jodohmu, jadi kamu tidak hidup membujang seperti sekarang ini. Jangan-jangan kamu membuka toko semacam ini karena berharap akan dikunjunginya?”

“Yang sopanlah sedikit!” Si pemuda tampak tidak senang mendengar ucapan si bangau.

“Aku tidak menganggp setiap momen dalam hidupku adalah titik untuk perubahan. Termasuk ketika aku memenangkan kuis dan mendapat uang banyak sekali. Aku mengikuti kuis itu karena aku suka bermain tebak-tebakan dan kebetulan aku tahu semua jawabannya.”

“Aku tidak paham dengan pola pikirmu.”

“Kamu tidak harus paham.”

“Kamu mau bakpao?” tanya si pemuda menyela pembicaraan.

“Aku tidak makan babi,” tukas si bangau.

“Aku bisa belikan bakpao rasa lain.” Si pemuda menawarinya.

“Aku tidak lapar. Dia membuatku kehilangan selera makan.” Si bangau menunjuk si pemilik toko dengan paruhnya.

“Oke, terserah maumu saja.” Si pemuda menjadi tidak enak sendiri.

“Dia sudah menikah?” Si bangau rupanya penasaran dengan akhir ceritanya.

Si pemilik toko hanya mengangkat bahunya. Ketiganya lalu diam. Piring telah kosong. Musik tidak terdengar lagi.

“Kita mendengarkan musik saja.”

“Oke. Aku mau musik disko,” sahut si bangau setengah menjerit.

“Musik disko? Yang sepertia apa?”

“Yang bisa membuatku berdisko.”

“Iya aku tahu, tapi yang seperti apa?”

“Terserah!”

Si pemilik toko berdiri lalu berjalan menuju satu rak piringan hitam, mencari-cari sesuatu di sana dan menemukannya. Dia mengeluarkan piringan hitam dari dalam sampulnya lalu menuju kotak gramofon.

Musik terdengar.

Saat itu terdengar pintu kecil terbuka. Bayangan sesosok perempuan jatuh di tengah ruangan.

“Permisi, apakah tokonya buka?”

Tidak ada yang menjawab. Semua melihat ke arah perempuan yang berdiri di depan toko.

Sepersekian detik setelah si pemilik toko beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu, si bangau kertas tampak kehilangan beratnya, terhuyung perlahan, lalu tergolek kaku di atas meja.

Yogyakarta, 2014-2015

Wihambuko Tiaswening Maharsi lahir di Solo, sekarang menetap di Yogyakarta. Buku kumpulan cerita pendekanya, Dunia Simon (2014).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wihambuko Tiaswening Maharsi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” 1 Maret 2015