Kembalinya Machbat

Karya . Dikliping tanggal 16 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
ANGIN kemarau, dingin dan kering. Daun puring melengkung ditimpa matahari siang seperti kehabisan daya. Batako yang menutup halaman menguap menyemburkan debu-debu ke atas atap rumah, kaca jendela dan lantai rumah. jika angin melandai, debu-debu akan menghembus menaiki meja tamu, ruang makan, perpustakaan rumah dan kamar tidur. Kemana lagi kita selain menghambur ke dalam bak mandi yang tetap gerah setelah itu.
Sebuah mobil terparkir di depan ruma penuh debu kemarau. Sepertinya mobil baru saja pulang dari perjalanan jauh, kotor dan bau mesin masih terasa menyengat panas. Yosi melangkah memasuki rumah yang tak terkunci itu. Sepi. Penghuninya terlelap dalam tidur. Yosi duduk di ruang tamu tanpa dipersilakan. Ia ambil sebuah buku fiksi, seperti sebuah cerita lama. Beberapa buku lainnya berserakan; power mind, scoulder…., bahkan sampai buku tasawuf hati manusia, berceceran antara meja tamu dan rak buku.
Sore terus berjalan memadat. Langit mulai menampakkan warna emasnya dari ujung kedalaman kaki langit dan mengelam. Yosi belum selesai dengan buku cerita yang ada digenggamannya. Kepalanya bersandar daun sofa dengan mata terarah pada larik kalimat. “Machbat, orang besar dan pintar”. Kedua kaki Yosi berselonjor lurus. Sedang tangan kanannya kokoh mencengkram buku itu. Tiba-tiba, ia seperti berjalan dibawahg sadarnya menaiki kuda seperti seorang jendral.
Ilustrasi oleh Joko Santoso

“Machbat, orang besar dan pintar,” kata seseorang bertongkat dan berjenggot lebat. 

“Machbat, orang hebat dan cerdas,” teriak seorang berjubah.
“Machbat, orang mulia, calon seorang raja,’ seru seorang pemegang cerutu dan berjenggot panjang.
Yosi tersentak dengan kedatangan tiga orang yang seperti peramal masa depan itu, yang menyebut dirinya Macbath. “Hai, bagaimana mungkin kau bisa mudah mengatakan kata-kata indah itu pada orang lain. Bahkan kau tak mengenalnya, kan?”
“Huahaha, bagaimana sulitnya mengenal orang besar seperti kau, Mach.”
“Terlalu mudah dan sangat mudah, Mach.”
“Terlalu, mach.”
Ruang seperti padang sahar, panas tanpa penghijauan. Tenggorokanku mulai dihimpit rasa kering. Di depan seperti ada kilatan air, aku berlari mengejar. Tapi, air-air itu seperti berjalan terus ke belakang dan menghilang. 
“Jangan pergi. Jangan pergi. Haii!” Teriakku berulang. Air itu tak bergerak mendekat, ia justru semakin lenyap dari pandanganku yang terasa kabur bercampur pasir. 
Aku membuka buku tebal itu lagi. Lagi-lagi aku menemukan tiga orang peramal, berambut gondrong dan lusuh wajahnya. Mereka seperti bersitegang sesama temannya.
“Sebaiknya kau terus berjalan,” kata yang berjenggot pada yang berjubah.
“Kaulah yang duluan,” katanya.
“Aku bukan ketua, yeah,” mereka saling beradu mulut tak henti-hentinya. 
“Hai, kenapa kalian berteriak-teriak seperti itu. Bising tahu!” Teriakku menutup telinga dengan kedua tangan yang masih membawa buku itu.
“Machbat..,”
“Siapa Machbat?” Kataku tak mengerti.
“Huahahahaha,” mereka malah menertawakanku.
“Kenapa? Aneh dengan pertanyaanku?” Kataku lagi.
“Tidak, tidak, hanya sedikit lucu,…” Jawabnya.
“Menggelikan,” kata yang lainnya.
“Aneh dan konyol,” bisik satunya lagi.
Aku mengamati diriku sndiri. Menengok kanan dan kiri. Rumah Elan tak ada yang berubah, perabotan, ruang tamu yang acak-acakan masih tetap seperti semula ketika aku baru masuk ruang ini. Tapi, kenapa namaku jadi berubah? Tak ada ucapan dan pernyataan atau semacam bubur merah yag menjadi penanda untuk mengganti namaku. Sejak lahir namaku Yosi, Yosi Hendrawan, titik. Tak ada pengganti lainnya.
“Uaaahhhh!” Elan menggeliat dari mimpi paginya. Dari mana saja dia dua hari ini tak pulang ke rumah. Aku yang terus gerilya menyambangi rumahnya yang kosong, mematikan lampu dan menyalakannya ketika senja. Lagi-lagi memang perempuan sundal itu yang membuatnya keluyuran terus, tidak pulang ke rumah apalagi sampai membersihkannya. Untung ada pembantuku yang baik yang mau kusuruh membersihkan rumahnya.
Kembali aku membuka lembar-lembar buku lama digenggaman tanganku. Buku itu seperti aneh, ia memiliki mata yang menatapku dan suara yang memanggilku.
“Machbat ….”
“Huahahahaha,…”
“Keluarlah kau, Machbat.”
Buku itu seperti bernyawa ketika aku membuka lembarannya. Dan tiba-tiba ingatanku pada seorang tokoh dalam sebuah drama, namanya Machbat. Kisah tentang perebutan kekuasaan dalam sebuah kerajaan kunoyang akhirnya memakan korban. Ah, dimana-mana yang namanya kekuasaan selalu menjadi rebutan. Entah, mungkin karena fasilitas yang didapat sangat menggiurkan atau tunjangan yang bakal diterima nantinya sangat besar sehingga orang berbondong-bondong memperebutkan kekuasaan. Bahkan, mereka terkadang menggunakan cara yang sangat kotor sekali. Menjijikkan! Sementara aku yang sejak dua tahun lalu diwisuda menggantung tanpa status. Dua kali melamar sebagai pegawai negeri, gagal. Karena aku muak dengan pegawai penerima calon pegawai yang senang memutar-mutarkan peraturan, sedang ujung-ujungnya hanyalah uang.
“Berapa juta yang kau sisipkan di balik surat lamaran kerjamu, akan sangat menentukan kelancaranmu diterima kerja,” katanya. Tapi aku tak penah mempedulikan kata-kata itu. Uang-uang pelicin semacam itu hanya akan memperkokoh kejahatan manusia yang terbusuk. Dan hukuman yng pantas baginya adalah penyitaan seluruh hak miliknya, baik hidup dan hartanya. Karena hal itu sangat menyengsarakan dan meresahkan masyarakat.
Tahun ini aku ditolak, karena lamaranku tidak dilengkapi dengan surat keterangan wiyata bakti atau pengalaman kerja. Padahal, ada kemungkinan wiyata bakti itu dipalsukan demi mendapatkan sebuah pekerjaan. Tahun berikutnya, aku melamar dengan surat wiyata bakti yang kuperoleh dari sebuah instansi tempa aku magang beberapa minggu. Akhirnya aku diterima. Tapi, dengan syarat dua kali gajiku diifaqkan. Karena itu aku balik bertanya, “Diinfakkan kepada siapa?” Yang dijawab mereka, “Serahkan saja pada kami, kami pasti akan menyalurkannya.”
Hari itu juga kuputuskan menolak dan pergi meninggalkan para pegawai bawahan itu yang kurasa sudah menadahkan tangannya sejak kemarin lusa. Tapi, hari itu kubuat mereka kecewa.
“Mas, yang lain juga sama.” Mereka ada yang menahanku.
“Kesempatan hanya datang satu kali, bung.” Lainnya menimpali. Dan langkah-langkah terus bergegas semakin cepat meninggalkan kemaksiatan itu. Dan aku berjumpa dengan Elan dengan segudang buku-bukunya, menjadikan aku miniatur kekuasaannya.
Hari ini, aku harus menghabiskan buku-buku posmo. Esok harinya aku harus menghasilkan setumpuk ide dan tulisan. Esoknya lagi aku menjadi seorang kuli, karena harus membereskan rumahnya dan membersihkan sampai bersih dan rapi. Sementara Elan melenggang keluar masuk rumah tanpa melepas sepatunya.
“Busyet!” Kataku melihat Elan jingkrak-jingkrar di atas lantai yang barusan kupel.
“Waduh sori-sori, Yos.” Kata Elan cepat keluar dan membawa tumpukan bukunya. Entah, mau dibawa ke mana? Tapi, satu bukunya masih kusimpan, buku inilah yang jadi tokoh utamanya.
“Machbat”
“Ya,” jawabku spontan. Entah, kenapa aku menjawab juga panggilannya. Seolah-olah Machbatlah namaku, padahal itu bukan namaku. Tapi, aneh. Mulutku tiba-tiba menganga sendiri menjawab panggilan itu untuk menjadi Machbat dan aku mengikuti saja apa yang diperintahkannya. Aku menjawab semua pertanyaan sesuai dengan keinginannya. Aku seperti boneka kayu yang dimainkannya, yang diletakkan di atas mahliagi, tapi tak bisa menyuarakan hati nuraniku sendiri. Lidahku dipenggal sebelum keluar! []-g

Yogyakarta, 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ulfatin Ch
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 15 Maret 2015

Baca juga:  Telapak Kaki Mengukur Bumi