Prolog Geliat Musim (2) – Gempa Palung Dalam – Mimpi Kalender Lama – Akumulasi Lupa

Karya . Dikliping tanggal 15 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Prolog Geliat Musim (2) 

terbayang segala aneka panganan yang tersaji di kios
oleh oleh di jalan-jalan yang selalu riuh itu. panganan
panganan yang mengawetkan ingatanku pada katamu,
meskipun ada juga yang menerbitkan ngilu di gigiku.
berkali aku singgah, namun selalu saja seperti ada yang 
belum kudapat. dari kotamu ribuan kesan kubawa pulang,
namun ada mimpi elok yang terus menjelang.
suara derap kuda yang menarik andong terdengar
mendekat-menjauh. seperti tarik ulur permainkan karet di
dalam arus degupan. jalanan berkelok berliku terasa makin 
purba. seperti menyusuri sajak dengan berbagai majas dan
rima, tak cukup sekali melintas untuk menafsir dan
memaknainya. ada magnet dalam hijab gaib yang
senantiasa memancarkan aura elok rekah, yang gemar
menggamit batin untuk singgah.
lagu lama yang terputar dari radio transistor mengecupi
dinding kota, membiaskan kenang dan pendar suasana.
tentang nama tempat wisata, tentang percakapan di relung
senja, tentang berkas cuaca, dan semua yang pernah dekat,
yang pernah lekat. seperti tak pernah habis walau dikikis,
tak pernah tuntas meski dikupas. kian bertumbuh dan
merimbun segala imaji yang sedemikian ranum.

Gempa Palung Dalam

pagi belum tinggi
ketika aku terdera gempa
yang terbit dari episentrum
gemuruh patahan persepsi
derak derak kegugupan
mencetuskan ronta
di pori-pori yang tersengat terik
cuaca yang bertukar perangai
dalam kejapan mata
aku dikecam kecamuk ancam
serta dicekam kecemasan
dari amuk cakar kota
yang hilir mudik
menebar leruh
di lorong pembuluh
Jakarta, 2013

Mimpi Kalender Lama

masihkah kau simpan kalender kalender lama
karena aku ingin ceritamu
ketika purnama masih mengiirmkan dekap
dan dusun dusun suka berjabat erat
karena kini waktu selalu gegas
seperti tak ada jeda untuk bercakap
sepoi rintih rintih di kedalaman tubuh
menanggung rindu yang kian jauh
dan purnama makin kesepian
tersaput pendar lampu lampu kota
yang sebenarnya tak pernah membagi rindang
dan perantau pun gagap mencari jalan pulang
Jakarta, 2013

Akumulasi Lupa

engkau bilang aku tak teliti dalam mengarsip
semua hal yang kerap menyuarkan kilau
karena sedemikian banyak yang mengantri
berbagai ihwal untuk dijamah dan dikerjakan
mungkin tahun tahun yang telah lewat
akan mendiami lembah yang gelap
menumpuk di belakang punggung kita
tak terlipat dalam langkah putaran masa
aku tak menandai setiap kidung perjumpaan
karena aku tak ingin teriris silet kenangan
sementara yang sanggup aku lakukan 
menanam namamu dalam dingin ingatan
Jakarta, 2013
Budhi Setyawan: dilahirkan di Purworejo, 9 Agustus 1969.
Sehari-hari bekerja di Badan Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan di Jakarta. Ketua Forum Sastra Bekasi. Tinggal di Perumahan Taman Galaxi Bekasi.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budhi Setyawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 15 Maret 2015