Untuk Sebuah Roman Picisan

Karya . Dikliping tanggal 9 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
UNTUK menjadi seorang tokoh di sebuah roman picisan, perempuan itu harus mengenakan kardigan dan membawa jaket. Maka, perempuan itu mengambil kardigan, dari rak lemari paling bawah. Ketika rajutan kuning kenari itu ditarik dair tumpukan terbawah, meruap aroma kapur barus usang. Perempuan itu mematikan lampu kamar. Dengan rembesan cahaya lampu dari ruang tengah, ia memandang tubuhnya di cermin lemari.
Perempuan itu mematut-matut diri.
Setelah mengikat rambutnya, ia mengaitkan seluruh kancing kardigannya. Lalu memandang lagi ke cermin. Kemudian ia putuskan untuk membiarkan kancing kardigan terbuka dan membiarkan rambutnya tergerai. Ia sangat mungkin akan lebih lama begitu kalau saja alarm dari telepon genggamnya tidak mengingatkan. Perempuan itu mengunci pintu sambil menekan-nekan tas yang menggantung di bahu. Jaket coklat tebal hampir memenuhi isi tasnya. Ruang lain dalam tas hanya bersisa untuk menyelipkan dompet, telepon genggam, dan sebuah buku kumpulan cerita pendek.
Untuk sementara saya menamainya Dara. Ia akan memakai celana kulot hitam, kaos lengan panjang hitam, dan kardigan. Sebenarnya paduan warna hitam tidak terlalu pas untuk Dara. Tubuh perempuan itu kurus hingga kepekatan hitam akan membuatnya semakin tenggelam. Tapi saya belum menemukan padanan lain yang mungkin lebih pas untuknya. Jadi, sementara, biarlah Dara dengan padanan celana kulot dan kaos lengan panjang hitam.
Kardigan saya pilihkan untuk membuat Dara merasa mudah dikenali. Hanya saja, saya bayangkan saat itu masih musim penghujan. Udara malam tentu dingin. Dara membutuhkan lebih dari sekadar kardigan. Saya membekalinya dengan jaket coklat berbahan kanvas. Tidak terlalu mencolok dan bisa menepis angin.
Ilustrasi karya Munzir Fadly

KINI perempuan itu turun dari taksi. Sehabis hujan seharian, jalan raya di pusat kota itu sepi. Satu dua motor melintas. Mobil-mobil juga tampak tidak tergesa. Ada genangan air di sisi jalan. Ada pantulan bulan di dalamnya.

Dara merapatkan kardigan. Udara memang lebih tajam dari biasa. Hujan yang baru berhenti menjelang malam, membuat aliran angin menancapi tiap lubang pori-pori. Perempuan itu memilih duduk di kursi dekat gerobak, di sisi paling kiri. Kursi kayu panjang itu lembab.
“Setengah saja, Pak. Jangan pakai telur.”
Penjual bubur itu mengangguk.
Dara mengeluarkan isi tas. Jaket ia kenakan. Layar telepon genggam yang gelap tanpa kedipan diletakkannya di atas meja. Buku bersampul tubuh perempuan telanjang yang membuatnya jengah, segera ia simpan lagi di dasar tas. Dara tidak mengerti mengapa harus membawa buku itu ke mana pergi, terutama malam itu, ketika ia makan bubur ayam di pinggir jalan. Lampu neon di muka gerobak dan lampu-lampu merkuri di pinggiran jalan tidak cukup terang untuk bisa membaca buku.
Bangku-bangku kayu masih kosong. Sebagian masih berembun. Penjual minuman, tidak jauh dari gerobak bubur, tampak menyiapkan dagangannya. Bungkus kopi, susu, dan jahe instan dikeluarkan dari dalam dus. Dijajarkan di tali plastik yang diikat melintasi trotoar. Baru saja laki-laki tua penjual bubur membersihkan cairan putih yang melelehi pinggir mangkuk, tiga laki-laki mendekat. Mereka duduk di meja seberang Dara. Seorang dari mereka mengeluarkan bungkus rokok dan mulai membakar sebatang.
“Biasa?” tanya penjual bubur kepada mereka bertiga sambil meletakkan mangkuk bubur di hadapan Dara.
Seorang dari mereka mengangguk, sementara dua yang lain asyik dengan telepon dalam genggaman. Seseorang yang mengangguk tadi melirik Dara.
Perempuan itu menunduk. Yang menguar dari dalam mangkuk menguapi puncak hidungnya. Dara menyendok bubur. Ia merasa mata seseorang itu lama menusukkan lirikan, menelanjanginya. Mata Dara sepenuhnya lekat dalam mangkuk bubur.
Sebelum tukang bubur selesai meracik tiga mangkuk pesanan, enam laki-laki dan perempuan belia datang. Mereka memenuhi meja paling dekat pinggiran jalan. Suara mereka seperti kumpulan angsa di pinggir kolam. Dara membuka kunci layar telepon genggam. Layar seketika terang. Dara mengunci layar telepon genggam. Layar kembali gelap. Berulang perempuan itu melakukan hal yang sama.
Karena kealpaan seorang penulis, seorang tokoh di sebuah roman picisan, hanya bisa menatap layar telepon genggam, mengaduk-aduk isi mangkuk, atau memperhatikan sekumpulan laron. Gerombolan hewan kecil itu mengerubuti lampu merkuri. Genangan air di pinggir jalan kehilangan bulan, tertutup helaian sayap. Seekor laron menghampir wadah plastik sambel. Dia menabrak-nabrakkan tubuhnya. Dara mengibaskan tangan. Sayap laron lepas.
Kalau saja Dara tidak mendengar decit ban, matanya masih menghitung urat di sayap laron yang tertempel di lembap meja. Sebuah taksi berhenti. Dara menengok. Napasnya tertahan. Dari pintu mobil putih susu sepasang laki-laki dan perempuan turun. Pasangan itu kelihatannya baru bertemu malam. Tubuh mereka menyengat parfum yang baru disemprot.
Dara mengembuskan napas. Udara panas menjalari hidung hingga tengkuknya. Ia membuka satu kancing jaket. Jantungnya serasa kembali memompa. Dara menunduk. Telapak tangannya yang dingin mengaduk-aduk sendok ke dasar mangkuk. Kacang kedelai dan kerupuk lepek ia sisihkan. Dara menyuap perlahan. Suwiran ayam belum disentuhnya. Perempuan itu masih bisa menunggu sekitar 15 menit lagi sebelum buburnya habis.
Dara ingat laki-laki dari ujung telepon dua hari lalu, “Saya merindukanmu.”
“Ya.”
“Kenapa hanya ya? Kamu tidak ingin ketemu?”
“Saya mau.”
“Kita jadi ketemu kan?”
“Ya.”
“Saya akan tunggu kamu….”
“Kamu akan datang?”
“Ya. Saya akan datang. Pasti datang.”
“Baiklah. Saya usahakan juga datang….”
“Kok diusahakan?”
“Maksudnya?”
“Setelah sekian lama, kamu hanya akan mengusahakan? Tidak mau memastikan atau memaksakan?”
Dara menahan senyumnya tidak lepas jadi tawa. “Iya. Iya. Saya datang. Tapi….”
“Tapi apa?”
“Kalau saya tidak mengenalimu bagaimana?”
Dara mendengar tawa laki-laki yang serenyah kue kering. “Saya pasti mengenalimu. Kamu datang saja duluan. Nanti saya antarkan teh hangatmu dan akan bilang, hari Dara….”
“Saya akan pakai kardigan kuning.”
Sebuah mobil jalan melambat. Dara tersentak. Lehernya tegak. Seorang perempuan berbibir merah semangka turun. Ujung lancip sepatunya nyelip di trotoar. Perempuan berkadigan kuning itu duduk persis di seberang Dara. Merah semangka pas dengan kaos ketat hitam yang dikenakannya. Perempuan itu seperti teratai merekah di tengah kolam. Dara memandangnya lama sekali.
“Ada apa ya?” tanya perempuan itu.
“Oh, eh, maaf. Tidak.”
Dara menggigit ujung sendok. Jari kanannya membuka lengan jaket. Jarum jam sudah menjauh dari angka 10. Tiga laki-laki di seberang meja sudah menghabiskan bubur mereka. Suara sendawa keras keluar dari mulut seseorang dari mereka. Sekumpulan angsa masih terus dalam keriuhan. Kadang kilatan dari telepon genggam mereka menyala. Mereka belum menyentuh bubur yang berderet di meja. Di mangkuk Dara, bubur tinggal satu suap. Penghabisan
Dara menghabiskan teh yang sudah tidak hangat lagi.
Perempuan itu menghampiri tukang bubur dan mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya. Dara memasukkan uang kembalian ke dalam saku jaket.
Sebelum menyeberang ia selintas mengarahkan mata ke ujung jalan, ke arah lampu lintas yang tengah menyala merah. Hanya ada empat mobil menunggu lampu berubah warna.Selebihnya kabut bergumul dengan asap knalpot. Dara masuk ke dalam taksi di baris terdepan. Ia menutup pintu taksi dan menyebutkan alamat. Mesin taksi berderum.
Awan bergerak menghalangi kilau bulan jatuh ke muka jalan. Awan yang, mungkin, sama yang sedang dipandang Jaka. Dari balik tirai jendela, dari satu tempat yang jauh, Jaka mengikuti gerak awan menutup muka bulan.

Baca juga:  Perempuan Hujan

PERISTIWA dalam sebuah kisah menjadi relevan ketika si tokoh terlibat di dalamnya. Begitu kata Tony McKibbin ketika membahas cerita-cerita dalam Laughable Loves, kumpulan cerita pendek Milan Kundera. Tapi dalam sebuah cerita pendek dalam Smese lasky (1969) yang, entah kenapa, tidak ada di Laughable Loves, terjemahan bahasa Inggrisnya (baik yang edisi 1974 maupun edisi 1999), seorang tokoh perempuan berada dalam perisitiwa yang tak memungkinkan ia terlibat di dalamnya.


Tokoh perempuan tak bernama itu berada di situasi yang janggal, yaitu perdebatan para eksil Cekoslovakia di sebuah kafe di Paris setelah Peristiwa Musim Semi Praha. Entah apa yang terjadi dengan metabolisme tubuhnya, tokoh perempuan yang juga bagian dari kaum eksil itu begitu ingin agar bibirnya dicium seseorang. Keinginan yang demikian tak tertahankan. Padahal tidak ada sosok seorang pun yang ia bayangkan mencium bibirnya.


Satu-satunya persentuhan tokoh perempuan tak bernama itu dengan peristiwa ialah ketika ia memesan kopi. Sejak ia berada di tengah perdebatan itu, sudah beberapa botol anggur kosong memenuhi meja. Ia merasa harus menghentikan pengaruh anggur dengan kopi pekat dan pahit. Ia mengira anggurlah yang membuatnya hanya memperhatikan setiap bibir yang bicara. Perempuan itu tidak pernah menyimak perdebatan itu. Ia hanya terpaku di gerak bibir-bibir yang mengalirkan kata-kata. Tubuhnya bergetar dan tangannya berkeringat setiap kali matanya melihat bibir yang bergerak. Seperti ada pusaran kuat menenggelamkannya dalam fantasi seksual.

Karena diceritakan dari sudut pandang orang ketiga yang terbatas, ujaran-ujaran dalam percakapan dalam cerita pendek itu tidak saling berkait. Perkembangan psikologinya akibat rangsangan tubuhhnya yang abnormal tidak terhubung dengan peristiwa cerita. Bagaikan sepasang rel panjang kereta api, ada bersama tapi tidak saling menyentuh.
Saya membayangkan Dara terdampar pada situasi yang kurang lebih sama dengan tokoh perempuan tidak bernama dalam cerita pendek itu.
Untuk kisah yang sedang saya kerjakan, Dara setuju bertemu dengan laki-laki yang meneleponnya di satu tempat yang ternyata tak sesuai dengan kondisi batinnya. Tempat yang tidak memungkinkan seseorang asyik masyuk sendiri. Kalau saja saya membekali Dara dengan earphone, ia punya alasan yang masuk-akal untuk tidak terlibat atau tidak mempedulikan tempat atau peristiwa susulan yang berlangsung dalam kisah.
Sebenarnya ada alternatif lain. Tokoh Dara mengalami perkembangan. Ia mengembangkan daya untuk terlibat dalam peristiwa, misalnya dengan menelepon laki-laki yang ditunggunya. Atau ia membaca buku yang ada dalam tasnya. Singkatnya, ia bisa berimprovisasi. Setidaknya ia tahu bahwa situasi yang dialaminya bukan situasi yang tidak bisa diatasi.
Dan karena karakter Dara tidak berkembang, saya belum tahu cara menutup hubungan mereka. Saya belum menemukan cara bagaimana membuat kedua tokoh saya, Jaka dan Dara, mencapai akhir yang bahagia. Karena begitulah seharusnya kisah percintaan. Akhir yang bahagia….
Dan karena itu pulalah, roman picisan ini harus dimulai lagi.
Ketika taksi yang baru saja ditumpangi Dara hilang di tikungan, awan bergerak. Pada saat yang sama, perempuan berbibir merah semangka itu mengeluarkan jaket dari dalam tas. Jemari yang berhias kuku warna biru menyala itu memasukkan telepon genggam.
Sambil menyendok bubu, Dara mulai membuka lembaran halaman sebuah buku cerita pendek.
Mona Sylviana tinggal di Jatinangor, Sumedang. Kumpulan cerita pendeknya, Wajah Terakhir (2011).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mona Sylviana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 8 Maret 2015

Baca juga:  Nonsens