Bulan Berlalu

Karya . Dikliping tanggal 27 April 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
NYI Saminah memandangi
kalender yang
baru dipasangnya sore
tadi. Lalu menghela napasnya. 
”Begitu banyak bulan berlalu.
Tahun sudah berganti lagi. Masih
belum ada tanggal yang harus dilingkari…” 
Januari. Musim penghujan datang
bersama aroma tanah yang
khas. Udara dingin mengusap tubuh
perempuan tua itu. Nyi Saminah
beranjak, melihat anak semata
wayangnya, Dulkarip, sedang
mengasah batang-batang
bambu untuk dijadikan kandang
ayam di halaman belakang. 
”Seharusnya kamu sudah bikin
rumah untuk keluargamu. Bukan
buat kandang ayam.” Nyi Saminah
hampir saja mengucapkan kalimat
itu, tapi diurungkannya. Ia
hanya diam memandangi
anaknya. 
Dulkarip telah berusia 29 tahun,
tapi belum tampak tandatanda
ia akan menikah. Ia masih
seperti anak-anak muda yang merasa
bebas, bisa melakukan apa
saja tanpa perlu memikirkan rumah
tangga. 
Nyi Saminah selalu malu pada
orang-orang sekitar, sebab pemuda
lain seusia Dulkarip sudah menikah,
bahkan sebagian sudah punya
anak. Seolah tinggal Dulkarip
saja yang belum mendapat pasangan. 
”Mak, jodoh itu seperti kematian,
rahasia Tuhan. Ada yang cepat,
ada yang lama. Kalau Mak
mau jalan keliling kampung, pasti
banyak yang seumuranku belum
menikah.” Kata Dulkarip pada suatu
kali. 
”Tapi mungkin kamu harus sering-sering
ke pasar, biar dapat
kenalan. Kalau di rumah terus,
kamu jadi tidak kenal orangorang.” 
”Jodoh itu di tangan Tuhan, aku
akan memintanya langsung kepada
Tuhan. Sabar, Mak, jangan dengarkan
apa yang dibicarakan
orang.” 
*** 
Begitu banyak bulan berlalu.
Setiap malam, ketika Nyi Saminah
tidur di atas ranjang yang
berderit, ia tak henti-henti berdoa,
agar Dulkarip cepat dapat jodoh.
Namun ia juga tak ingin Dulkarip
menikah hanya karena seperti
diburu waktu. Ia ingat masa lalunya
sendiri, ketika dirinya berusia
30 tahun, ia merasa cemas tidak
bisa berumahtangga. 
”Sudahlah, yang penting menikah
dulu, Minah, buat menghapus
status perawan tua di masyarakat,
perkara sebulan bercerai ya
itu urusan gampang.” Kata orangtua
Nyi Saminah waktu itu. 
Memang, status perawan tua
seperti aib yang sangat dihindari.
Maka tawaran dari juragan minyak
wangi kreditan untuk menjadikannya
istri kedua pun diterimanya
begitu saja. Dari pernikahan
itu lahirlah Dulkarip, tapi kemudian
Nyi Saminah harus membesarkannya
sendiri, sebab tiba-tiba
sang suami meninggalkannya
begitu saja. 
Jadi, Nyi Saminah tahu rasanya
tertekan karena tak kunjung
menikah. Orangtuanya uringuringan
setiap hari. Memberinya
beban dari hari ke hari. 
Sekarang ia pun tahu, Dulkarip
hanya pura-pura tabah, pura-pura
tenang, padahal juga menanggung
beban serupa dirinya di masa
lalu. Apalagi biaya menikah dari
hari ke hari semakin mahal.
Warga mulai terbiasa dengan pesta
pernikahan yang mewah seperti
yang mereka lihat di televisi-televisi.
Para gadis akan mencari
calon yang bisa membuatkan resepsi
di gedung megah. Kalau tidak
cepat mengumpulkan biaya
dan menikah, Dulkarip bisa semakin
kesulitan. 
Semakin memikirkan hal itu,
Nyi Saminah semakin sedih, tapi
ia yakin, masih ada perempuan
yang mau dengan anaknya. meski
kelak pesta pernikahannya tidak
semewah orang lain. Sebab harta
Dulkarip hanya ayam-ayam bangkok
yang dipelihara di halaman
belakang. Kalau semua itu dijual
paling maksimal dapat dua sampai
tiga juta. 
Ah. Tiba-tiba malam datang
kembali, hari pun berlalu lagi. Nyi
Saminah berbaring, memejamkan
matanya… 
*** 
Ilustrasi karya Joko Santoso
Berbulan-bulan kemudian, kalender
di ruang depan rumah kecil
itu menampakkan lingkaran-lingkaran
merah pada beberapa tanggalnya. 
Pernikahan itu direncanakan
begitu sederhana, Dulkarip menjual
sebagian ternak ayamnya sebagai
tambahan biaya dan mas
kawin. Mungkin ia memang beruntung,
ia mendapat pasangan
seorang gadis dari pemilik toko
pakan ayam. 
”Saya memang cari mantu peternak
ayam bangkok.” Katanya
calon mertua Dulkarip saat itu. Ia
hanya tersenyum. Jalan itu kini
terbuka, benar-benar terbuka. 
Pemuda itu jadi sering melingkari
kalender. Entah itu tanggal
pertemuan pertama dengan calon
istrinya, tanggal melamar, sampai
penentuan tanggal pernikahan. Ia
beruntung, jodoh itu datang tak
jauh dari kegemarannya memelihara
ayam. Berawal dari kebiasaannya
membeli pakan ayam di kios
yang baru dibuka, Dulkarip jatuh
hati pada gadis yang suka
menjaga kios itu. Tak dinyana,
Dulkarip juga mudah akrab dengan
ayah gadis itu, keduanya
kadang duduk membicarakan pasaran
ayam hari ini, tentang ayam
yang bagus untuk diadu dan berharga
mahal. Akhirnya kecocokan
itu melahirkan jalan keluar tentang
masalah Dulkarip selama ini. 
”Menikahlah dengan Siti anak
saya…” Kata orangtua gadis itu
pada Dulkarip. 
Maka hari pun tiba. Tenda sudah
dipasang. Banyak tetangga
yang membantu, dari dapur sampai
dekorasi. Undangan sudah
disebar pekan lalu. 
Dan pagi ini, tepat beberapa
jam sebelum pesta pernikahan digelar,
Dulkarip menyempatkan
pergi sendirian ke kompleks pemakaman
desa yang jaraknya sekitar
500 meter dari rumah. Berbeda
dengan rumahnya yang sedang
ramai, kini dirasakannya
suasana makam yang sepi, cericit
burung, aroma bunga kamboja…
Ia lantas berhenti di sebuah makam
yang dipenuhi tumpukan
daun-daun kamboja kering. 
Dulkarip mengusap nisan itu,
ia seperti ingin menangis…
Kini ia benar-benar tahu, memang
sudah begitu banyak bulan
berlalu. ❑ – g
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunging Raga
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 26 April 2015