Lukisan Untuk Tuhan

Karya . Dikliping tanggal 20 April 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
IA
goreskan kisah cinta
dan kepedihannya sama eloknya. Sebuah lukisan yang kata seorang kurator kondang tampak indah, mengalir bagai
irama musik yang merdu dengan pilihan garis serta pilihan tata warna terkesan misterius dan mistis. 
Sebuah lukisan indah dengan garis
waktu yang detail dan menawan. Lukisan itu demikian hidup di mata penikmatnya. Tidak hanya itu, ia bisa
bercerita banyak hal, mengikuti suasana batin penikmatnya. Tentu, ia memang seorang maestro seni rupa yang
mampu memainkan perasaan penikmatnya sesuai suasana hatinya masing-masing. 
”Lukisan yang dibuat dengan sepenuh perasaan hati, memang akan merasuk ke dalam hati!’
ungkapnya lirih,
memberi pledoi dan apologi atas kredo
seninya. Namun meski lirih, ia mengucapkannya dengan mantap dan pasti
sambil jemari tangan kanannya yang
lentik, menarikan kuasnya di atas
kanvas. Sesekali tangan kirinya menarik sebatang rokok putih yang menyala di atas asbak, kemudian menghisapnya dalam-dalam. Seakan asap putih
yang masuk ke kerongkongannya
membuat jajaran garis-garis imaji liar
di atas kanvasnya. 
Bibirnya yang tipis menghitam serta
rambutnya jarang terkena sisir, kian
menegaskan identitas kesenimannya.
Cuek, acuh tak acuh! Tampaknya sejak remaja memang genit serta sedikit
ugal-ugalan. Itu pulalah yang membuat tidak sedikit lelaki yang malas-malasan untuk mengajaknya naik ke pelaminan. Meski sesungguhnya ia memiliki daya tarik seksual luar biasa! 
Ilustrasi oleh Joko Santoso
Konon, banyak lelaki bilang, perempuan tipe demikian, hanya layak dan
enak untuk diajak bercinta. Tetapi tidak untuk dicintai!
Atau katanya diajak naik pelaminan. Dan tampaknya
ia juga mengerti dan sadar betul akan
hal itu. Maka pilihan untuk melajang,
hanya bergulat dengan kuas, cat dan
kanvas telah ia tetapkan. ”Keturunanku atau anak-anakku adalah karya-karyaku. Itulah yang akan dikenang
semua orang dan akan memanjangkan memori akan namaku!’
Katanya
di suatu kesempatan, saat memberi
sambutan pada pameran tunggalnya,
renyah dan terkesan ringan, dingin
dan cengengesan. 
Yang paling menggetartakjubkan setiap kali memandang lukisan-lukisan
dari perempuan tua yang hidup sebatang kara sepanjang hidupnya itu,
adalah kekuatan ekspresinya yang paling mendalam. Semua kritikus seni
berujar
, bahwa ia memang seorang
ekspresionis sejati, yang dimatangkan
oleh pengalaman dan kepedihan hidupnya. 
Tetapi bagi Laksmi, demikian nama
pelukis itu biasa disapa dan senantiasa memberi inisial ‘eleksm’
dalam setiap lukisan-lukisannya, tak pernah
terusik, risau dan peduli dengan apa
yang dibilang kritikus. Karena ia memang tidak pernah memikirkan terlebih dahulu setiap apa yang akan
dilukisnya. ”Demi hatiku mulai
berdzikir mengagungkan asma dan
cinta ilahi dan demi ada aliran hawa
hangat merasuk ke sekujur tubuh dan
perlahan mulai menggerakkan jari jemari tangannya, di situlah aku mulai
melukis’
Tukasnya, dalam satu wawancara dengan seorang wartawan
koran lokal yang memaksanya untuk
mengutarakan alasannya melukis.
Meski ia sendiri kurang suka dengan
aktivitas wawancara dan sejenisnya. 
”Jadi…?’ 
”Betul, saya selalu telah menyiapkan kanvas, kuas, cat dan uba rampe
melukis lainnya di sanggar kerja sekaligus kamar pribadiku. Di tempat ini
pula hampir seluruh aktivitas hidupku
berlangsung. Salat, berbuka, berzikir
,
bahkan sampai ketiduran.
Ya, kecuali
mandi, wudlu dan ke kamar kecil’
”Berbuka? Jadi ibu selama ini selalau berpuasa?’ 
”Tidak selalu. Tetapi aku menjalankan puasa Daud. Sehari puasa sehari
tidak. Karena ajaran agama melarang
orang puasa abadi. Meski begitu, ketika hari mengharuskan aku tidak berpuasa, aku hanya menyediakan air
putih dan beberapa camilan kecil dan
baru makan besar, selepas magrib tiba!’. 
”Benarkah rumor yang menyatakan
bahwa sewaktu muda, untuk memulai
satu karya ibu, memulainya dengan
menjalani ritual khusus– maaf, sekali
lagi maaf – seks bebas?’ 
”Apakah perlu aku jawab!?’ 
”Maaf, jika tidak keberatan!’
Kata
wartawan yang justru tersipu gelagapan. 
”Jangan suka memancing!’
Katanya
genit menggoda ”Setiap orang punya
jalan dan cara hidup sendiri. Demikian
juga aku, apa yang aku lakukan di
masa muda sebelum mendapatkan
pencerahan. Rasanya tidak ada yang
istimewa dan sah-sah saja. Semua
orang mengalami dan memiliki pengalaman pribadinya masing-masing’ 
”Tetapi maaf bu, sekali lagi maaf!
Dahulu sebelum aku menjadi wartawan seni budaya, aku mendengar rumor santer mengenai hubungan ibu
dengan pejabat teras negeri ini yang
jadi gunjingan menghebohkan!?’ 
”Ah, masa lalu itu? Mengapa harus
bertanya masa lalu?! Jawabnya datar
dan tenang. ”Masa lalu adalah nostalgia dan buah rindu. Janganlah
bertanya masa lalu jika hanya akan
teringat penyesalan dan tak punya harapan. Rentangkan langit imajimu sejauh engkau mau, di sana cakrawala
pandang terbentang dan kepicikan hilang!’ 
”Jadi…?’ 
”Sudahlah…!’
Laksmi, perempuan
pelukis yang usia kian menanjak renta
itu memotong pertanyaan wartawan
dengan sigap, tapi tenang. Seraya ia
mengajaknya masuk ke ruang pribadinya, yang memajang koleksi karya-
karya pribadinya yang tak pernah ia
pamerkan ke khalayak. Dan betapa
terkejutnya sang wartawan. Ia terpana, terbengong kamitenggengen. Bukannya ia mengarahkan kamera un

tuk memotretnya, seperti biasanya
kerja kuli tinta. Tetapi mendadak ia
disergap gairah cinta yang menyala-
nyala dan meluap-luap. Mendadak
ada kekuatan magis dan mistis yang
mendorong siapapun yang memandangi lukisan potret diri sang pelukisnya sendiri sewaktu masih muda yang maaf tanpa sehelai benang itu
untuk memeluk, mencium, melepaskan hasrat-hasrat purbawi kemanusiaan hingga terlena dan tak sadarkan
diri dalam beberapa waktu lamanya. 
Laksmi, mengetahui betul apa yang
terjadi pada diri orang-orang yang melihat koleksinya di ruang pribadinya
itu. Demikian semua orang yang melihatnya akan mengalami hal yang sama. 
Laksmi, tidak tega membiarkan
wartawan itu berlama-lama meraung,
meratap dan nglumpruk tak berdaya
dalam keringat dingin yang basah
mengkuyubi tubuhnya di ruang pribadinya itu. Seraya ia menuntunnya ke
luar
. Setelah menyodorkan air putih
dan menenangkan jiwa dan perasaan
sang wartawan, seraya ia berujar
”Sepuluh tahun lalu, lukisan itu pernah ditawar 1,5 Miliar!’ 
”Satu setengah mil….?’
Reaksi wartawan bengong laksana sapi tercokok
hidungnya ”Harga lukisan sekalu
menjungkirbalikkan akal sehat, apalagi bagi kelas menengah ke bawah seperti diriku?!’
pikirnya wartawan dalam hati. 
”Mengapa terdiam dik?’
Sela Laksmi
datar ”Anda pasti terpikir, mengapa tidak dilepas?’ 
”He eh….!’
kata wartawan terbata 
”Lukisan itu khusus kupersembahkan untuk Tuhan!’
Jawab Laksmi
enteng dan tenang. 
Wartawan itu kian terbengong omong!
Yang membuatnya ia tak habis
mengerti, sepanjang karier jurnalistiknya, sekali pun ia tidak pernah
mampu membuat laporan tentang lukisan koleksi pribadi Laksmi, meskipun ia telah berkali-kali mencobanya,
hingga terdengar berita duka akan kematiannya.
Yang juga membuatnya
tak habis mengerti, ia juga tidak tahu
siapa yang mengoleksinya. Rumor menyatakan lukisan itu raib sepeninggal
pelukisnya. []
– o 
Yogyakarta, 2014
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Otto Sukatno CR
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 19 April 2015

Baca juga:  Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (5)