Bencana Bahagia

Karya . Dikliping tanggal 11 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
APA sempat terbayang di pikiran, tinggal angan belaka bagi sang lelaki lajang. Kala hari pergantian usianya tiga hari silam, tiada hal istimewa terjadi. Justru kepeninga hadir menghantui kepalanya sejak menjelang petang hingga malam hari itu. Barangkali ada sesuatu kurang tepat dilakukannya, entah mungkin salah posisi saat tertidur siangnya atau sebab lain, hingga akhirnya demikian. Bisa jadi ia rada kelelahan pula sesudah seharian berziarah ke makam bapak ibunya. 
Padahal lelaki tersebut sebenarnya sekadar berharap satu dua kakak atau keponakannya sudi hadir ke rumah, tidak mengucapkan selamat lewat telepon, SMS, atau dinding Facebook semata. Ia sebenarnya senantiasa menikmati waktu bertatap muka, lalu berbincang akrab dengan kerabat dekat maupun sejumlah sahabat, yang kian jarang terjadi akhir-akhir ini. Si lelaki hampir tak pernah merayakan ulang tahun bersama kawan-kawannya sepanjang hayatnya, kecuali ketika masih bocah belaka pernah terjadi beberapa kali. Sementara itu, ia belum pernah sekali saja mengisi malam hari spesialnya bersama kekasih yang ia cintai sekaligus mencintainya. Sang lelaki lajang memang belum meraih keberhasilan dalam riwayat asmara.

Semenjak ibunya tiada enam tahun silam, sebuah tradisi dalam keluarga menjadi sirna pula. Dahulu, saban kali ada anggota keluarga yang berulang tahun senantiasa menjadi kesempatan bagi lelaki tersebut dan saudara-saudaranya berkumpul bersama. Sang ibunda selalu menjadi sosok yang paling sibuk manakala anak, menantu, maupun cucu-cucunya berganti usia. Demikian pula sewaktu sang ayah masih ada di antara mereka. Sementara ketika hari lahir ibunya tiba, ia beserta saudara-saudaranya selalu dengan sukarela mempersiapkan hal-hal yang bisa membahagiakan perempuan kesayangan mereka. Suasana hangat dan menceriakan seakan menjadi ciri khas setiap ada yang berulang tahun dimasa silam, kala ibunda tercinta masih bersemayam di antara mereka.

Baca juga:  Pasukan Gajah
Memang tradisi tersebut tak sepenuhnya musnah. Terkadang saudaranya masih bersedia datang saat lelaki tersebut berhanti usia di tahun sebelumnya, tapi biasanya segelintir belaka. Tak pernah lagi pada momentum itu, mereka berkumpul bersama seutuhnya laksana dahulu kala. Tersisalah kenangan yang kadang mengharukan si lelaki ketika mengingatnya. Mau tak mau, ia jadi merindukan kembali kehadiran ibunya yang selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada pagi hari, dengan tak lupa mencium kedua pipi maupun keningnya, serta dilengkapi dengan sederet doa dan sebaris harapan bagi anak lelaki bungsunya. Tentu ia senantiasa membalasnya dengan ucapan terima kasih dan mencium tangan serta pipi sang ibunda. Tidak ada seorang pun yang sanggup menggantikan peran ibunya lagi sejak beliau pergi menghadap Ilahi.
***
KEMUDIAN sampailah pada sebuah hari Minggu. Seperti biasa, itulah hari kerja yang senantiasa menceriakan bagi sang lelaki lajang. Melakukan sesuatu yang telah lama menjadi kesukaan dengan mendapat penghasilan, siapa yang tidak bersedia menerimanya? Begitulah, lelaki tersebut pun kembali menjalankan tugasnya dengan hati riang. Menemani para bocah menyanyikan lagu anak-anak, lagu yang memang tepat bagi mereka hingga dua jam berlalu dengan dipandu seorang guru. Di antara para muridnya, dilihatnya putri-putri sahabatnya. Tapi tumben sekali, tak tertampak sosok ibu mereka. Ketika satu demi satu para bocah sudah pulang bersama orangtuanya, tersisalah kedua anak yang paling dikenalnya.
“Lho, kalian tidak ditemani Mama?” tanya lelaki tersebut.
“Tidak, Om. Tadi Mama antar kami, lalu dia ada janji ketemu temannya.”
“Oh, begitu. Tapi nanti Mama jemput kalian berdua, kan?” 
“Iya, tapi bisa minta tolong kirim SMS ke Mama, Om? Saya lupa bawa handphone, tuh.” Anak perempuan yang lebih besar menjawabnya sambil balas bertanya dan tersipu. Si lelaki tersenyum pertanda maklum.
“Iya, ini Om sudah SMS Mama kalian, kok.”

Tak sampai lima menit kemudian, tampak hadirlah ibu kedua anak perempuan itu mengendarai sepeda motor bersama anak bungsunya yang juga perempuan. Anak-anak terlihat senang sudah dijemput sang ibunda. Si lelaki pun lega, tugasnya menemani anak asuhnya yang menunggu kedatangan orangtuanya telah usai.

“Terima kasih ya, sudah menemani anak-anakku,” ucap sahabat lelaki tersebut.
“Iya, kan itu memang sudah jadi tugasku.”
“Oh ya, makan-makannya kapan, nih? Katanya kemarin ulang tahun?”
Lelaki tersebut sesungguhnya tak menduga mendapat pertanyaan serupa itu, meski konteksnya mungkin bercanda belaka. Ia memang sempat membagi kegalauanya kepada sang sahabat lewat pesan singkat tempo hari. Namun tanpa direncanakannya, ia ternyata serius menanggapinya. Serta merta ia telah memiliki jawabannya.
“Ya sudah, sekarang saja. Silakan pesan, siapa yang mau makan bakwan kawi atau siomay?” sahut si lelaki dengan wajah cerah.
“Hah, jadi serius, nih?” tanya sang sahabat. Mata anak-anak pun tampak berbinar-binar menyambutnya.
“Iya, tapi sepeda motornya tolong diparkir dan dimatikan mesinnya, ya.”
Sedari mula, sebenarnya dua orang penjual makanan sudah menempati lokasi di dekat sebuah pohon besar, tempat si lelaki menemani kedua muridnya. Maka ia dan sahabatnya memesan bakwan kawi, sementara ketiga putri sahabatnya sama-samamemilih siomay.Mereka berlima lantas menikmati makan siang hari itu dengan saling bertukar cerita seraya bersenda gurau sesukanya. Dan sesuatu yang tanpa rencana, terjadi dengan begitu bersahaja, ternyata mampu menghadirkan sebentuk bahagia jua. Tak masalah bagi sang lelaki lajang bahwa yang bercengkerama bersamanya bukanlah kekasih tercinta dan anak keturunannya sendiri. Tetap saja ia bisa mensyukurinya dengan kesungguhan hati. [] – o.

*Luhur Satya Pambudi: lahir di Jakarta dan tinggal di Prawirotaman MG II Yogyakarta
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Luhur Satya Pambudi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 10 Mei 2015