Gadis Perahu

Karya . Dikliping tanggal 25 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
“GADIS perahu?”
Yasir menoleh, ia mulai tertarik mendengar ceritaku. Gadget yang sedari tadi sibuk ia mainkan segera dietakkan di meja dan menatap antusias, sambil mengubah posisi duduk untuk mendengar ceritaku. Ia sedikit merapat.
“Aku jadi penasaran, siapa sih gadis yang bisa membuatmu jadi kayak orang gola. Kadang-kadang bisa senyum-senyum sendirian. Haha….”
Aku menenegus kesal dengan candanya sambil menoyor kepalanya.
“Aku juga tak tahu siapa dia sebenarnya. Makanya aku menamainya gadis perahu. Yang jelas dia gadis yang manis,” pujiku seraya menghayalkan senyumannya ketika waktu itu tanpa sengaja mata kami bersitatap dalam. Ia lalu menunduk dan tersipu.
“Emang kalian ketemu di mana?”
“Pasar terapung. Ia bersama seorang perempuan yang mungkin Ibunya menjual buah dan sayuran,” jelasku. Aku menarik secangkir jus jeruk dan meminum sedikit. Aku menunggu reaksi Yasir.

Pasar terapung yang ada di Muara Sungai Kuin memang menjadi pasar kebanggaan warga Banjarmasin. Banyak orang luar kota, bahkan bule yang sengaja datang menyaksikan keunikannya. Mereka rela bangun pagi-pagi demi melihat cara bertransaksi jual beli yang unik sampai aneka dagangan yang bervariasi yang tak kalah dengan pasar tradisional yang ada di darat. Bahkan, pasar ini sering diliput media-media nasional juga mancanegara.

“Jadi di pasar terapung juga ada gadis penjual yang cantik?” Yasir menyangsikan ceritaku. Memang kebanyakan yang berjualan adalah ibu-ibu, bapak-bapak dan nenek-nenek.
Aku hanya mengangkat bahuku. Aku tahu, Yasir tak akan percaya sampai ia melihat sendiri dengan dua bola mata besarnya. Tipe cowok yang selalu ingin dikasih bukti. Kasihan cewek kalau sampai pacaran dengannya.
“Besok kita ke sana?”
Aku menggeleng. “Besok kita ada kuliah pagi. Jadi tak mungkin ke sana.”
“Kalau begitu siang-siang kita ke sana,” Yasir makin memaksa
“Haha… dasar oon.. Pasar terapung kalau siang sudah pada bubar.” Aku berhasil membuat Yasir manyun dan kesal.
 ***
“ALDRI!”
Seseorang memanggil namaku di belakang. Dari suaranya jelas ia seorang perempuan, tetapi aku tak mengenali suaranya.
“Ya….” Aku berbalik ke arah suara. Dia seorang gadis. Berambut panjang dan berkulit putih. Di kedua sisi pipinya menampakkan lubang kecil yang membuat senyumnya semakin menawan. Aku terkesima sesaat. Dan otakku mulai mencari-cari di mana telah menyimpan wajahnya. Dia seperti tidak asing lagi di ingatanku.
Tantri. Cewek teman facebook-ku. Cewek yang selalu suka kasih komentar atau sekadar like pada setiap statusku. Kini ia ada di hadapanku. Aku tak menyangka bisa bertemu dengannya di dunia nyata.
Ia dari Bandung dan terpaksa harus pindah kuliah demi tetap bersama kedua orangtuanya. Ayah dan ibunya tidak yakin meninggalkan anak semata wayang tanpa pengawasan di tengah kota yang serba mengusung kebebasan. Ayahnya dipindah tugas ke Banjarmasin.
“Sebenarnya ayahku yang meminta dipindahkan ke sini. Ia asli orang Banjar dan ingin menghabiskan sisa hidupnya di tanah kelahirannya. Keluarga besar Ayah masih banyak di sini,” jelasnya ketika aku harus bertanya kenapa tidak tetap kuliah di Bandung saja.
“Oya, bagaimana kalau kita foto dulu. Aku ingin kirim ke instagram dan update status kalau kita udah ketemu.” Tantri langsung mengalihkan topik pembicaraan. Memang kurang asyik membahas masalah keluarga saat baru bertemu seperti ini.
Tantri mengeluarkan Android dari dalam tasnya. Menekan halus pada layar beberapa kali, dan kamera belakang dengan resolusi tinggi ‘menembak’ dan merekam wajah kami.
“Aku boleh ikut nggak?” Yasir yang dari tadi diam langsung ikut beraksi. Merapikan baju dan rambutnya, serta memaang gaya sok cool.

“Iya, boleh. Tapi setelah ini ya.” sela Tantri lembut.
Yasir mundur teratur dan kembali duduk ke kursinya. Aku cekikikan melihatnya.
Klik… klik… klik…

Kami berpose berbagai gaya dan latar. Foto-foto khas anak muda. Yasir melongo seakan tak percaya kalau aku juga bisa sedikit narsis.
Ketika Tantri menggeser beberapa foto untuk mencari foto-foto kami yang diambil barusan, aku seperti mengenali foto seseorang.
“Coba balikkan ke foto yang tadi,” pintaku dengan pandnagan tajam menatap layar ponsel.
“Ini?”
“Iya, foto yang ini.”
Belum sempat aku melihat dengan jelas dan seksama. Tiba-tiba ada panggilan masuk. Tantri lekas mengangkatnya. Seketika wajahnya pias dan cemas.
***
AKU, Yasir dan Tantri setengah berlari di koridor Rumah Sakit Ulin Banjarmasin. Kami langsung menuju ruang ICU. Gadis perahu yang selama iniingin sekali aku ketahui tentangnya ternyata sepupunya Tantri.
“Dia masih kritis,” jawab Ayah Tantri, ketika anak kesayangannya menghambur dengan berbagai pertanyaan yang menyiratkan kecemasan.
Dua orang yang duduk di kursi di dekat kami menunjukkan gurat sedih yang begitu dalam. Aku yakin, mereka orangtua gadis perahu itu. Gadis itu dalam kondisi kritis akibat kecelakaan motor yang menimpanya. Aku dan Yasir hanya bisa diam, dan gelisah. Tantri sudah tak mampu menahan lelehan kesedihan. Aku ingin menguatkan, walaupun masih terasa canggung.
Krak…!

Seorang perawat keluar dari ruang ICU. Perempuan berbaju putih itu tergopoh-gopoh mendekat ke arah kami. Napasnya tidak teratur akibat diburu waktu.
“Gadis itu kehilangan banyak darah. Ia memerlukan golongan darah A. Rumah Sakit ini kehabisan stok darah, karena tadi pagi juga ada pasien bernasib sama dengannya. Kami memang sudah mengirim orang untuk mencari darah di rumah sakit lain, ettapi dokter khawatir akan kehabisan waktu menolongnya. Apa ada di antara kalian yang bergolongan darah A?” Tanpa jeda perawat itu langsung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia menunggu jawaban dan reaksi kami.
Kami semua saling pandang. Yasir langsung menyenggol bahuku, dengan dagunya ia memberi tanda. Aku menarik napas dalam, dan emmbisikkan sesuatu pada Tantri.
***
KONDISI mulai membaik, namun dokter masih belum mengizinkan pulang. Perkembangan kesehatannya masih harus dipantau dokter. Untunglah, waktu itu nyawanya masih bisa diselamatkan. Sang pahlawan telah mendonorkan darahnya. Aku sangat bersyukur, bisa melihat kembali senyuman manisnya ketika pertama kali melihatnya.
“Mereka tampak sangat akrab,” bisik Tantri.
“Ya…” Aku mengangguk pelan.
Ada rasa yang menelusup dalam hatiku. Entah rasa macam apa yang kurasakan ini. Sulit kujelaskan. Semenjak Yasir mendonorkan darahnya untuknya, mereka seperti punya ikatan batin. Darah yasir telah mengalir dalam tubuh gadis itu. Apa pun yang menjadi bahan obrolan mereka selalu nyambung. Mereka selalu tertawa riang.
Tiba-tiba ada sentuhan halus di jemari tanganku. Kumelirik Tantri. Ia terseyum.
“Semoga kita berdua juga bisa seakrab mereka.”
Aku hanya menjawab dengan senyuman. Tantri menggenggam erat tanganku.
Kualihkan pandangan apda gadis yang sudah mulai menemukan harapan itu. Ah, kenapa aku baru bisa mengetahui namanya setelah kecelakaan. Semuanya sudah terlambat, hatinya sepertinya sudah bertaut pada Yasir.
Sarah. begitulah nanti aku akan memanggil si gadis perahu.
Muhammad Saleh kelahiran Abung Kalsel, 03 Juni 1985, tinggal di Bawan Bukat barabai Hulu Sungai Kalimantan Selatan.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Saleh
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 24 Mei 2015