Peron Tiga Perempat

Karya . Dikliping tanggal 10 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
BUKAN kebetulan kalau aku kenal perempuan di ujung peron itu. Bindi, orang-orang memanggilnya begitu. Aku kenal dia dari sejak dia masih berumur empat tahun: dia berlari-lari berjoget India di sebuah gang sempit di daerah Kebagusan, tidak jauh dari rumah mantan Presiden Megawati. Rambutnya selalu dikuncir dua, dan dahinya selalu diberi bindi berwarna-warni, karena dia senang sekali menonton film India. Itulah sebabnya dia dipanggil Bindi. Sampai dia besar, kurasa kebiasaan itu masih belum berubah. Bindi masih suka menonton film India, mengagumi para pemain film India, bergaya sepeti orang India. 
Kakaknya, Andra, tentu ingat aku sekali. Dia memiliki kebiasan memukul kucing-kucing liar di jalanan. Umurnya dua tahun lebih tua daripada Bindi, tetapi lebih kurus dan kecil daripada Bindi. Andra bukan anak lincah yang kelihatan nakal, seperti teman-teman mainnya Henrik atau Rudi. Malahan dia suka sekali duduk murung di depan rumahnya, lalu sesekali melempar batu kepada ayam-ayam tetangga yang lewat di depannya. Hal yang paling membekas dari ingatanku adalah ketika aku mengusir Andra yang baru berumur delapan tahun karena memukul kucing-kucing peliharaanku yang sedang bermain-main di teras rumahku. Betapa mengerikan anak ini, pikirku.
“Apa ayah ibumu tidak mengajarkanmu menyayangi binatang?” kataku keras-keras, berharap ibunya yang sudah pulang dari bekerja mendengar dari dalam rumahnya. Orangtuanya tentu tidak terima dipermalukan begitu. Sejak saat itu, aku dan orang tua Andra, Pak Hartono, tidak pernah bertegur sapa.
Pak Hartono dan istrinya bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Aku tidak pernah akan lupa setiap mendengar cerita para tetangga bagaimana Pak Hartono menghukum anakanaknya, Andra, Bindi, dan Citra. Mereka biasa dikurung berjam-jam di kamar mandi, atau dijemur di bawah sinar matahari terik pada hari Minggu. Aku tidak ingat apa saja kenakalan mereka. Namun, aku ingat Andra selalu mendapat peringkat satu di sekolah. Tetangga-tetangga menganggap dia lebih manis dan sopan daripada Henrik dan Rudi, tidak pernah mencuri mangga, atau melempar bola ke rumah orang. Dia memang suka memukul kucing-kucing liar dan melempar batu kepada ayam-ayam, tetapi para tetangga tampaknya tidak menganggap itu masalah besar. Hanya aku yang pernah mempersoalkannya. Selain itu, aku pun hanya ingat bahwa Bindi suka bergaya India sambil menari-nari dan bernyanyi di jalanan, dan adiknya Citra suka memanjat pohon di depan rumahku.
DARI tempatku duduk, aku pura-pura tidak melihat Bindi. Tetapi, aku bisa melihat dia menggenggam tiket berwarna ungu dan ungu-biru.
Di peron ini, setiap orang telah mendapatkan tiket. Masing-masing tiket memiliki warna sesuai warna kereta api yang mereka tumpangi. Kami biasanya akan menunggu dengan sabar sekali. Dari pukul dua siang sampai pukul enam atau delapan malam. Kadang-kadang, karena sudah sering sekali berada di sini, aku bisa melihat warna-warna tiket mereka walaupun mereka sembunyikan di dalam kantong, atau mereka tidak mau memberi tahu. Aku bisa melihat tiket-tiket yang seperti pita itu tersemat pada dada mereka masing-masing. Merah jambu, ungu, atau biru, misalnya. Lalu, aku tercekat memandangi semuanya. Tiga perempat kehidupan telah dijalani? Aku hanya tahu, betapa pun tiket-tiket itu berbeda wana, tetapi kereta-kereta kami pada akhinya akan menuju ke kota yang sama.
Ilustrasi oleh Munzir Fadly

Ada kalanya aku menunggu di peron ini dan tidak melakukan apa pun kecuali diam. Aku tidak bicara dengan orang di sampingku, tidak pula menyaksikan televisi di depan kami. Aku hanya memandangi orang-orang di situ, dengan tiket-tiket mereka yang kelihatan pada dada mereka atau dalam genggaman tangan mereka. Kalau aku sudah mengenap siapa mereka, kami biasanya akan saling melemparkan senyum dari tempat kami duduk, dan mendesah. Mendesah memandangi pintu-pintu dan jam dinding di depan kami. “Dapat nomor berapa?” Biasanya begitu yang kami saling tanyakan dari kejauhan. Lalu diam, berusaha menunggu dengan sangat sabar. Mungkinkan mereka juga sama seperti aku, mencoba mencerna tentang karma kami di peron ini. Apakah ini karma baik atau karma buruk?

PEREMPUAN-PEREMPUAN yang menunggu di peron ini lebih banyak daripada laki-laki. Akhirnya, lambat laun aku belajar bahwa kebanyakan dari mereka tidak pernah benar-benar bahagia. Tidak bahagia sampai mereka harus berada di peron ini. Jadi, aku tidak percaya ini bukan karma buruk untuk kami. Mengapa harus duduk berjam-jam di sini, menunggu kereta api yang tidak selalu pasti kapan akan pergi dan kapan akan kembali? Ini benar-benar tidak adil untuk kami.
Tetapi, hari ini aku melihat Bindi. Sambil duduk, aku bergumul. Kuhancurkan, kususun, kubongkar-bongkar kembali pemikiranku tentang karma kami di peron ini. Apakah Bindi mendapat karma buruk atau karma baik? Aku membenak, memikirkan perasaanku. Aku merenung, merasakan pemikiranku. Sulit sekali! Dia menderita sama seperti perempuan-perempuan lain yang kukenal di sini. Sama seperti aku. Tetapi, mengapa aku merasa sangat berdosa ketika berpikir, bukankah dia pantas mendapatkannya?
SUDAH bertahun-tahun aku keluar masuk rumah sakit di Jalan Rahmat ini. Pernah beberapa kali dirawat inap. Kadang-kadang berada di sana selama seharian untuk diperiksa beberapa dokter sekaligus. Atau, sesekali mampir untuk menebus obat. Mereka memanggilku odapus. Orang dengan lupus. Tentu saja aku menjadi akrab dengan orang-orang yang bekerja di rumah sakit ini. Mereka juga mengenalku seperti seorng teman lama, mereka hapal dengan kebiasaan-kebiasaanku. Pak Endin, misalnya, satpam di rumah sakit ini.

Baca juga:  Ziarah Desember
“Pak Aris atau Pak Mahdi yang menjemput Ibu pulang hari ini?” Dia sudah hafal kedua nama supir yang biasa mengantar jemput aku ke rumah sakit. 
Atau Mbak Mariana, petugas administrasi yang sudah langsung tahu aku akan dokter siapa saja pada waktu akan datang. Pelayan kantin di rumah sakit ini pun sudah tahu aku biasa memesan segelas teh manis hangat dan bakso buatan kantin yang khusus tanpa vetsin.
Aku juga telah menjadi sangat akrab dengan Dokter Yenti, dokter bedah umum yang sebaya denganku, yang biasa merawat luka-lukaku. Sering kali aku menghabiskan waktu lebih lama di ruang prakteknya untuk mengobrol berbagi berbagai hal daripada diperiksa atau dibedahnya.

Tidak cuma para dokter dan perawat yang kukenal akrab di sini, tetapi juga teman-temanku sesama pasien. Pertanyaan kami biasanya kalau baru muncul di ruang tungguh adalah, “Apakah Dokter Yenti sudah datang? Dapat nomor tunggu berapa?” Lalu, setelah itu aku baru bisa memutuskan apa aku punya cukup waktu untuk minum segelas teh hangat di kantin atau tidak, sebab menunggu dua sampai tiga pasien bisa menghabiskan waktu dua jam sendiri. Itu juga sebabnya kami bisa kenal baik satu samalain, bisa mengobrol banyak tentang kehidupan kami masing-masing.

Apalagi jika aku harus menunggu berjam-jam untuk bertemu Profesor Sukirman atau dokter Suryadi, dokter-dokter spesialis penyakit dalam yang menangani penyakitku. Aku pasti akan bertemu dengan beberapa pasien yang sudah kukenal.
BAGIKU, ruang tunggu yang panjang di poliklinik ini adalah sebuah peron. Pasien mereka banyak sekali. Kadang-kadang sampai seratus orang dalam semalam, keluar-masuk dari jam dua siang, tetapi salah satu dari mereka baru muncul pada jam lima atau jam tujuh malam. Selama itulah aku mengenal tak sedikit pasien tetap di sini.

Ketika duduk di peron ini, semua orang biasanya akan sesekali saling memandang satu sama lain, dan kadang-kadang memberanikan diri saling bertanya. Kami sudah tahu bahwa salah satu dari kami kalau tidak mengidap lupus, pasti mengidap kanker, HIV-AIDS atau penyakit-penyakit autoimun yang lain. Penyakit-penyakit yang mungkin terdengar aneh dan langka, yang namanya terlalu sulit untuk diucapkan, atau bahkan keren sekali kedengarannya. Psoriosis, vitiligo, Hashimoto thyroditis, atau MS alias multiple sclerosis. 


Nama-nama yang aneh atau keren itu tidaklah sebanding dengan deritanya. Misalnya, penyakit yang diderita Bagas, pemuda berkulit langsat dan baru berumur 18 tahun di sampingku sekarang. Aku selalu kesulitan menyebut nama penyakitnya sejak umurnya 15 tahun, sampai dia ketinggalan sekolah karena dirawat berbulan-bulan di rumah sakit dan akhirnya mengikuti home schooling. 


“Pemphigus vulgaris,” kata Bagas, sudah berulang kali memberi tahu. Mudah-mudahan kali ini aku tidak lupa lagi, walaupun tak tahu bagaimana cara menulisnya dengan ejaan yang benar. Kudengar penyakit ini adalah sepupu lupus, vasculitis dan seleroderma yang menyerang kulit dan banyak diderita orang Yahudi Askhenazi. Tentu saja Bagas tertawa waktu kuberi tahu. Gara-gara sering bertemu dengannya, aku jadi pelanggan setia jamur dan makanan ringan yang dijual ibunya. Jamur organik, dan makanan ringan tanpa penyedap buatan, perisa atau pun pewarna buatan.

Baca juga:  Angin Tak Dapat Membaca

DI peron ini, kami yang akan masuk gerbong menggenggam tiket-tiket berbeda warna berbentuk pita. Tiket-tiket yang berbeda warna berbentuk pita, menunjukkan penyakit kami. Semua penyakit berat dan aneh sekarang ini diwakili oleh sebuah pita dengan warna-warna tertentu. Kanker payudara berwarna merah muda. Lupus berwarna ungu. MCTD alias mixed connective tissue disorder dan RA alias rheumatoid arthritis, masing-masing juga ungu dan biru, hanya berbeda gradasi warna birunya. HIV/AIDS berwarna merah. Dan pita-pita berwarna hijau, hijau teal atau hijau daun, untuk penyakit-penyakit kanker lainnya, yang begitu banyak.

Sebenarnya, di peron ini yang paling banyak yang membawa tiket ungu. Para odapus. Perempuan-perempuan yang masih sangat muda dan juga tak sedikit, sehingga kadang-kadang aku memikirkan juga betapa tidak adilnya Tuhan memberikan penyakit ini kepada mereka sebelum mereka mengecap keindahan hidup sebagai ibu dan istri. Meski kadang-kadang aku juga merasa mereka beruntung. Apa indahnya menjadi ibu, jika tidak dapat bersama anak-anaknya. Seperti aku, dan Bindi.

HARI ini kali pertama aku melihat Bindi di peron ini, setelah beberapa bulan aku berhasil menjaga kesehatanku sehingga tidak perlu duduk menghabiskan waktu di peron ini. Tiga perempat kehidupan rasanya tertelan begitu saja kalau aku harus duduk di sini, menunggu giliran dipanggil, pertama kali untukd ditimbang dan ditensi, lalu kedua kali untuk diperiksa sepenuhnya oleh dokter.

Di ujung peron aku melihat Bindi duduk di atas kursi roda. Kulihat wajahnya sudah seperti bulan purnama penuh. Pasti karena kortikosteroid yang ia minum atau disuntikkan kepadanya. Mungkin dosisnya banyak sekali, enambelas miligram dua kali atau tiga kali sehari. Juga kulitnya yang penuh dengan ruam merah. Aku tahu benar betapa tersiksanya jika penyakit ini sudah menyerang kulit dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Seluruh luka dalam mulut yang membuat si penderita seketika bisu dan tak bisa menikmati bahkan setetes air pun. Belum lagi jika seluruh sendiri terasa seakan-akan ditarik-tarik langit dari ujung jempol sampai ke ujung pinggulku!

Ah, Bindi. Rambutnya sudah pendek sekali, pasti sudah banyak sekali yang rontok. Aku tahu ini bukan hanya menyiksa, aku percaya Bindi ingin memecahkan cermin dan tidak mau becermin seumur hidup. Aku ingat pernah berada di situasi itu beberapa tahun lalu.

Bu Hartono duduk dengan muka sangat lelah di sampingnya. Bindi sendiri tampak sangat sangat muram. Parasnya yang dulu kukenal cerah, elok, dan segar kini sudah sangat berubah, kecuali bahwa dahinya masih ditempeli bindi berwarna ungu.

Warna tiket Bindi sama dengan warna bindi yang menempel di dahinya saat ini. Aku berharap dia maupun ibunya tidak melihatku. Kalau melihatku, apakah mereka akan menegurku? Apakah aku harus melemparkan senyum, atau memandang mereka dengan tatapan dingin? Ini terasa jahat sekali. Setelah semua yang telah dilalui Bindi….

BEBERAPA tahun lalu, aku memang menganggap Bindi juga jahat. Terutama Andra tentu saja. Lalu, Pak Hartono, dan istrinya. Kecuali Citra, ya kecuali dia.

Setelah pindah beberapa bulan dari sana, tiba-tiba aku didatangi Annika, istri Andra, di kantorku. Mereka memang tinggal di sebuah rumah, persis di samping rumahku, tidak lama sesudah mereka menikah.

Kalau mengingat masa kecil Andra, aku tidak terkejut mendengar semua curahan hati dan laporan Annika di kantorku. Sejak saat itu, aku mendampingi kasus kekerasan, termasuk kekerasan seksual, yang dihadapi Annika. Aku mendampingi Annika menemui polisi, pengacara, dokter, psikolog, bahkan psikiater. Kami melewati dua macam persidangan pengadilan agama, dan pengadilan negeri. Aku menemani Annika mengambil kembali putri semata wayangnya Najwa, setelah berbulan-bulan Annika tidak dapat menemani mereka berdua bolak-balik menemui psikolog. Setiap melihat Najwa murung atau menangis, aku akan teringat pada Andra! Andra kecil yang memukul kucing-kucingku dengan tongkat besi, sehingga kucing-kucing itu menderita trauma, keluar dari rumah sejak kejadian itu.

Baca juga:  Djenema Dilarang Mencintai Kupu-Kupu

Seakan-akan penderitaan yang diberikan Andra itu belum cukup bagi Annika. Aku melihat dan mendengar sendiri bagaimana Bindi, Pak Hartono dan istrinya memperlakukannya ketika aku mendampingi Bindi menjemput Najwa. Menghardik dan menghinanya sebagai perempuan sundal, bahkan menghina kakak-kakak dan orang tua Annika. Di sekolah Najwa, dan di gang mereka tinggal, aku mendengar sendiri Bu Hartono yang lemah lembut malah membicarakan keburukan Annika.

“Ibumu itu bukan perempuan baik-baik. Meninggalkanmu untuk laki-laki lain,” kata mereka pula kepada Najwa.

Tentu aku melihat bagaimana seluruh anggota keluar Annika menderita. Ibu Annika harus keluar masuk rumah sakit. Ayah Annika sempat menderita lumpuh berbulan-bulan karena merindukan Najwa. Untuk semua itu, aku mengutuk mereka sekeluarga, ya mereka sekeluarga, kecuali Citra.

AKU tahu jika aku menyebut ruang tunggu ini sebagai Peron Tiga Perempat, orang-orang akan mengira ini seperti peron dalam novel Harry Potter. Seandainya saja peron semacam itu ada, dan kami bisa menembus tiang, naik kereta api ajaib untuk menuju kota kehidupan yang baru, tanpa penyakit dan tanpa obat-obatan yang telah menguras hampir tiga perempat kehidupan kami. Uang? Itu soal berbeda. Tetapi waktu? Waktu tidak dapat dibeli oleh seberapa banyak pun uang yang kami miliki. Menunggu berjam-jam, dirawat berhari-hari, dan sering hanya bisa berbaring di tempat tidur tanpa bisa melakukan hal-hal yang lain.

Di peron ini, kadan-kadang kami harus percaya bahwa masih ada sisa tiga perempat lagi waktu kehidupan. Ada keajaiban-keajaiban. Kadang-kadang harus percaya bahwa karma baik berasal dari keyakinan kami akan kesembuhan. Tetapi, kadang-kadang kami kehilangan kepercayaan itu. Selama setahun menolong dan mendampingi Annika, penyakitku kembali mencapai puncaknya. Aku juga pernah sampai harus beada di kursi roda. Aku pernah melempar cermin di depanku karena aku tidak sanggup melihat wajah dan tubuhku sendiri. Setiap berada di peron ini, melihat orang-orang yang dengan begitu sabar menunggu, perawat-perawat yang dengan begitu lembut berusaha menenangkan jika dokter datang terlambat, kadang kala merasa telah menghabiskan tiga perempat kehidupanku dengan sia-sia. Apakah Bindi juga merasakan hal yang sama?

AH! Kira-kira setahun lalu, setelah Annika berhasil melalui semua penderitaannya, aku harus dirawat inap di rumah sakit ini dan terbangun oleh suara televisi. Ahmad, pria yang kini menjadi suamiku, beada di sampingku.

“Maaf, sudah membangunkanmu,” kata Ahmad sambil meraih tanganku.

“Tidak mengapa. Berita apa itu?”

“Ah, seharusnya kau tidak melihat berita ini!”

“Jangan!” Aku merebut remote dari tangan Ahmad.

Aku pun menyaksikan berita yang mencengangkan itu. Anak perempuan Bindi dan suaminya, seorang polisi, ditemukan tewas di rumah mereka.

Yah, terlambat! Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Ketika Bindi muncul untuk mengambil Tania, mereka berkelahi sampai Farid tidak sengaja menembak Tania, lalu menembak dirinya sendiri,” jawab Ahmad menenangkanku dengan mengusap-usap tanganku.

“Oh!” gumamku.

Pernah kukatakan pada Ahmad, Annika bernasib baik tidak harus duduk di peron bersama denganku. Tidak seperti perempuan-perempuan lain yang cuma bisa memendam penderitaan mereka selama bertahun-tahun, lalu–voila–mereka mendapat tiket berbentuk pita dengan warna-warna tertentu!

Namun, saat mendengar berita itu, aku seperti berada pad jembatan di antara dua bukit berkabut. Senang? Sedih? Penebusan dosa? Karma buruk? Entahlah. Bayang-bayang Bindi kecil yang berjoget India melintas di benakku.

DI Peron Tiga Perempat sore ini, aku dan Bindi duduk menunggu giliran masuk gerbong. Pita ungu. Kereta-kereta berbentuk kupu-kupu. Tanpa sengaja, tiba-tiba mata kami saling bertembung.

Chen Chen tinggal di Bogor. Giat di Indonesia Conference of Religion and Peace.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Chen Chen
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” 10 Mei 2015