Pohon Pu Tao Tua

Karya . Dikliping tanggal 5 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
DI halaman rumah Borneo, sebatang pohon pu tao(1) tampak payah menopang ubuhnya yang semakin tua. Tinggi batangnya tak melebihi genting rumah. Cecabangan menyeruak membuat tajuk mendompol, tetapi kering karena banyak daun rebah ke tanah oleh kelelahan. Pohon pu tao itu berdii sama tua dengan rumah si empunya. Hanya, rumah yang dulu berlantai tegel hitam dan berdinsing papan kayu nangka kini sudah berubah dengan dinsing keramik warna metalik dan dinding bata dan kaca. Sudah alam pula pohon pu tao tak pernah berbuah. Memang, etika musim berbuah datang, akan tumbuh bunga dan bakal buah yang merimbuni tajuk. Tapi, pohon pu tao terlalu lemah untuk mempertahankan sebiji buah pun. walau pu tao berbuah lebat sekalipun, tidak akan ada yang berniat memakannya. Buah tua itu sudah disingkirkan dari meja makan. Buahnya masam tidak menimbulkan minat anak-anak.
MESKI pohon pu tao itu sudah sedemikian tua, Boneo belum berniat menebangnya. Dia masih takut akan nasihat ibunya. kata Harmunik, jangan sampai ditebang pohon pu tao itu sebelum Boneo menikah dan punya keluarga baru. Bagaimanapin, pohon itu kenangan hidup atas almarhum ayah dan hari kelahiran Boneo. Ayahnya menanam pohon pu tao ketika tahu anak pertamanya adalah lelaki. Anak ellaki kelak membawa tanggung jawab untuk mikul dhuwur mendhem jero. Mengangkat derajat orangtuanya dan mewarisi nama keluarga. Suasana suram di pekarangan rumah Boneo semakin kentara. Harmunik terus marah-marah. Akhir-akhir ini, banyak hal kecil yang mengusik kemarahan Harmunik. Seolah-olah segala sesuatunya tidak berada di posisi semestinya dan membangkitkan emosi. Dedaunan pu tao yang luruh karena angin membuatnya mengomel. Suara anak-anak yang riuh sepulang sekolah membuatnya gerah. Semua dirasakan salah. Penyebabnya adalah Boneo yang belum juga menikah. Seperti pohon yang masuk musimnya, tapi enggan menumbuhkan buah.
“Kamu ini kenapa, Boneo? Pekerjaan sudah mapan, harta juga sudah cukup, tapi masih belum juga mau menikah,” Harmunik berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Anak satu-satunya itu seperti menutup telinga dari semua omongan Harmunik dan para ettangga.
“Belum ada yang cocok,” Boneo menjawab santai. Meski menikah adalah hukum alam, tidak mungkin bila dipaksakan.
“Kematin ditolak, dokter muda dirasa tidak cocok. Wis pegel hatiku,” Harmunik mengelus dada. Matany asembap oleh air mata. “Boneo, lelaki itu wenang milih.”

“Lelaki yang bercinta dengan huruf” by Alanwari Spasi
Baca juga:  Rindu Menjelang Senja (Habis)

Kesendirian Boneo sempat menimbulkan desas-desus bahwa ia adalah keturunan generasi kaum Luth yang ditenggelamkan hujan batu karena suka sesama jenis. Bagaimana mungkin seorang lelaki bereperawakan kekar, wajah tak terlalu buruk, pendidikan tinggi (yang membawanya ke posisi strategis di kantor), tapi terus melajang hingga umur kepala empat. Ada sesuatu di benak Boneo yang tidak beres.

Akan tetapi, desas-desus itu terbantahkan ketika suatu kali Boneo pulang bersama seorang wanita berpipi kuning mentega. Para tetangga –yang selalu tidak sabar bila melihat berita baru– tersenyum bangga. Perjaka mapan yang tidak lekas kawin penanda dua hal, sakit jiwa atau tenggelam dalam kemaksiatan. Nyatanya hubungan dengan wanita berpipi mentega itu tak lebih dari selembar almanak bulanan. Boneo kembali berjalan sendirian sambil mengulum senyum tanpa penyesalan.
“Ayahmu pasti menangis di kuburnya, Boneo!”
“Mengapa?”
“Keturunannya putus di kamu,” Harmunik terhenti sampai di situ. “Percuma ayahnya menanam pohon pu tao ini, penanda kebusukanmu.” Ada keputusasaan dalam nada bicara Harmonik.
“Apa tidak menikah itu tanda busuk, Bu?”
“Apa yang hendak kamu cari setelah semuanya kamu dapatkan? Pendidikan, pekerjaan? Apa tidak hendak kamu mencari pasangan?” Pertanyaan Boneo dijawab dengan pertanyaan kembali.
“Belum ada yang cocok,” selalu itu yang dikatakan Boneo sebagai alasan penutuIlustrasi: “Lelaki yang bercinta dnegan huruf” karya Alanwari Spasip percakapan. Seolah aneka alasan lain akan dibantah Harmunik, kecuali yang satu ini. Boneo –dengan kerutan yang mulai membayang di wajah– tetap tersenyum dan emlaju meninggalkan Harmunik.
Air mata kembali membasahi pipi harmunik. Ia meronta seperti koak sepasang gagak yang mewartakan kematian bagi keturunan Boneo.
**
HARMUNIK mulai sering melamun. Mata sayu menatap dahan putau yang semakin sepuh. Kulit kayu mengelupas dierami sarang semut. Bebraoa klarap(2) beranak-pinak di rongga pokok pu tao. Rasanya, ada bagian di hatinya yang mulai keropos. Saban hari, sindiran dan gunjingan tetangga seperti jarum kasur yang dilesatkan tepat ke dada Harmunik.
“Silsilah keluarga seperti pohon terbalik,  syajaratun! Seharusnya, semakin ke bawah semakin rimbun. Banyak keturunan,” kata suami Harmunik ketika menanam pu tao tepat pada hari menanam ari-ari Boneo. Pohon pu tao adalah tanda keberlanjutan keturunan. Selama keturunannya masih hidup, pu tao harus tetap dijaga. Sebaliknya, selama pu tao masih berdiri tegak, selama itu pula keturunannya harus dilanjutkan.
Darah yang tumpah di dipan saat melahirkan Boneo tidak boleh sekejap menguap. Terlebih, dulu, pernikahan Harmunik ditentang semua orang. Bagaimana mungkin, Harmunik yang sekadar putri penjual serabi kuah minggah bale dengan menikahi lelaki bergaris biru di pemuluh nadinya. Meski tidak beroleh restu keluarga mertua, Harmunik menikah dengan konsekuensi tak diperkenankan menggunakan nama keluarga. Sudah dilepas menjadi sebatang pohon baru yang tidak ada kaitannya dengan dahan induk.
“Makanya aku pilih pu tao,” Harmunik mengingat perkataan suaminya. “Pu tao tidak berharga, tapi selalu ada buah yang memaniskan lidah.”
Semakin lama, pohon pu tao semakin tidak menunjukkan daya.
**
ANGIN kencang mematahkan dahan pohon pu tao. Dedaunan rontok ke tanah. Halaman dipenuhi rerontokan daun dan cabang-cabang. Hingga selesai masa duha,  Harmunik tidak berniat membersihkan halaman. Boneo sedang dinas ke luar kota. Hanya ada Harmunik dengan emosi beriak, laiknya segelas susu digoyang lindu.
**
POHON pu tao semakin tua. Harmunik mulai  tidak memedulikan pohon kebanggaan keluarganmya itu. Pikirannya benar-benar kosong.
“Bu, kutebang saja ya pohon pu tao itu?” tanya Boneo selepas perjalanan dinas. Hanya tersisa dahan-dahan tua tanpa daun hijau segar. Semakin nestapa pohon pu tao tua itu.
Harmunik masih diam.
“Bu, Boneo janji, tahun depan akan menikah. Hanya, Boneo belum menemuIlustrasi: “Lelaki yang bercinta dnegan huruf” karya Alanwari Spasikan calon yang sesuai.”
“Apa saja, etrserah kamu,” Harmunik tidak berselera menjawab.
“Sekarang, Boneo mau menebang pohon pu tao tua itu,” Boneo gegas berdiri.
Ia memanggul kapak lalu mendekati pokok pu tao. Dengan ebberapa tebas saja, pohon pu tao sudah rebah ke tanah. Dengan kapak juga, Boneo merampasi dahan-dahan lalu memotong-motongnya menjadi beberapa bagian dengan ukuran sepadan. Ia menumpuk potongan dahan itu di tepian teras. Bisa dijadikan kayu bakar atau arang untuk bakar jagung, pikirnya. Boneo mengelap peluh di dahi dan bahu. Sebiji-biji nangka bulir keringatnya. Lalu, ia masuk ke dalam ruimah, ingin mendinginkan suhu badan.
Harmunik masih terdiam diu kursi. Sebingkai foto pernikahannya tergeletak di pangkuan. Matanya terpejam, mungkin begitu mengantuk. Cahaya matahari menerobos jendela dengan bebas. Pohon pu tao yang biasa menghalau kini sudah tiada.
“Bu, sekarang rumah kita lebih cerah. Tidak ada penghalang sinar matahari lagi,” kata Boneo sambil meraih segelas air dingin.
“Bu, kemarin Boneo bertemu dengan Amhar, kawan kuliah dulu, yang sama-sama belum punya pasangan. Besok, Boneo kenalkan sama ibu.” Senyum Boneo mengembang.
“Bu, kalau tidur di kamar,” kata Boneo. Ia mendekati tubuh Harmunik yang sudah dingin. Pohon pu tao sudah ditebang. Harmunik tak lagi merisaukannya. Ketika terdengar suara berdebam, pokok pu tao tua membentur tanah, Harmunik menyebut-nyebut nama Allah, mewiridkannya dengan suara begitu lemah.***
Catatan:
(1) Pu tao, pohon dengan nama ilmiah Syzygium cumini. Sering pula disebut duwet, juwet, atau jamblang.
(2) Klarap, sejenis kadal dengan anam ilmiah Draco volans Linnaeus. Orang Sunda menyebutnya hap-hap. Dalam bahasa Inggris, disebut gliding lizards atau flying dragon.
Teguh Affandi, lahir di Blora 26 Juli 1990. Menuli cerpen, esai, dan resensi buku. Tahun 2014, mendapatkan penghargaan PPSDMS Awards kategori Pena Emas dan menjuarai sayembara menulis cepen Femina.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Teguh Affandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” 3 Mei 2015