Sebelah Tangan untuk Ibu

Karya . Dikliping tanggal 19 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
“AMPUN Bu! Sakiiit!”
Jeritan anak yang baru duduk di kelas 6 SD itu mengguncangkan jagat raya. Membuat alam menangis darah. Menjadikan malam semakin kelam. Beberapa kali pukulan mendarat di tangan, pipi, dan kaki sang gadis kecil sejak duduk di kelas 1 SD. Ya, dia adalah Sanny, anak semata wayang yang sering disiksa oleh ibunya karena nilai matematikanya selalu merah.
“DASAR bodoh! Harus berapa kali ibu mengajari kamu supaya kamu mengerti?” bentak sang ibu. Sanny hanya terdiam, membisu. LIdahnya begitu kelu. Air matanya berderai tak tertahankan saat menahan sakit akibat pukulan ibunya sendiri.
Betapa malang nasib anak itu. Masa-masa yang seharusnya ceria ia jalani dengan penuh duka. Tidak hanya tekanan dari snag ibu, tetapi juga dari teman-teman sekolahnya.
“Anak pungut1 Anak pungut!” Kata-kata itu kerap ia terima dari teman-temannya. Sanny memang anak pungut. Bu Hera mengadopsinya sejak berumur 5 tahun dari panti asuhan karena tidak bisa memiliki keturunan. Sanny hanya bisa menelan semua hinaan itu. Ia seringkali mencurahkannya ke atas kertas.
“LONELY” karya Resti Yusnia
Pada suatu sore, Sanny sedang asyik menulis di kamarnya. Tiba-tiba, ibunya datang dan merobek kertas itu.
“Heh, mau jadi apa kamu? Bisanya hanya menulis dan menulis, sedangkan nilai matematika kamu merah semua,” ujar sang Ibu.
“Aku ingin jadi penulis terkenal, Bu, seperti Andrea Hirata,” jawab Sanny sambil terisak.
“Apa? Penulis? Mau disinpan di mana muka ibumu ini? Almarhum ayahmu seorang insinyur. Ibumu ini akuntan. Ibu ingin kamu jadi ahli matematika!” bentak ibunya sambil meninggalkan Sanny di kamar.
Sanny terus menangis. Disatukannya serpihan-serpihan kertas yang dirobek sang ibu. Ia peluk kertas itu erat-erat.
***
KINI Sanny telah duduk di kelas 3 SMA. Hari ini adalah pengumuman kelulusan ujian. Detik-detik yang  mendebarkan. Dalam keersahan, gadis cantik itu masih sempat menulis. Jari-jari lentiknya menari-nari di atas laptop.
“Sanny! Dalam suasana seperti itu kok masih sempat-sempatnya menulis? Heh, Nak, jadi penulis itu belum tentu menghasilkan uang banyak,” ujar Bu Hera.
“Bu, rezeki tidak akan ke mana,” jawab Sanny.
Seketika itu, tamparan sang ibu menghantam pipi anaknya yang ranum. Pipi yang mulus itu kini menjadi merah dan dibanjiri air mata.
“Ampun, Bu. Sanny…”
Ting…tong!
Kalimat yang diutarakan Sanny terpotong oleh suara bel rumahnya. Bu Hera segera membukakan pintu dan kembali ke kamar sang putri. Ternyata, tamu itu tukang pos yang mengantar surat kelulusan.
“Nih, surat kelulusan ujian nasional. Coba kamu buka!” ujar sang ibu.
Sanny perlahan membuka amplop. Dengan tangan bergetar, ia keluarkan selembar kertas dari dalamnya. Dada gadis berjilbab itu begitu sakit.
“Kenapa, Nak? Sini berikan suratnya pada ibu!” sang ibu merebut kertas itu.
TIDAK LULUS. Itulah hasil yang tertera dalam surat kelulusan. Bu Hera segera meribek surat itu dan melemparkannya ke muka Sanny.
“Dasar anak tak tahu diuntung. Apa ini balasan untuk ibumu? Kamu tidak lulus pasti karena nilai matematikamu itu merah. Dasar anak gembel! Ibu menyesal sudah mengadopsi kamu dari panti!”
“Maafkan Sanny, Bu.” Sanny bersujud di kaki ibunya.
“Ahhh, maaf-maaf, rasanya kepala ibu hampir pecah mendengar kata-katamu. Lebih baik pergi kamu dari rumah ini. Dasar anak tidak berguna!” bentak sang ibu sambil menendang anaknya hingga jatuh tersungkur.
“Ibu, Sanny mohon, jangan usir Sanny!”
Sang ibu tidak emmedulikan lagi apa yang diucapkan anaknya. Ia tarik anaknya ke luar rumah. Saat di depan pintu, Sanny meronta semakin kencang. Ibunya terus menarik tangan anaknya dan ditutupnya pintu rumah.
Awww! Sanny menjerit sambil memegang tangannya, Ternyata tangan kanannya patah. Ia tak berdaya lagi menahan sakit yang luar biasa.
Suara petir menyambar diiringi hujan yang deras. Langit pun menangis. Gadis belia itu berjalan tergopoh-gopoh tanpa tujuan. Ia tak sadarkan diri.
***
DUA puluh tahun berlalu…
Bu Hera kini sakit-sakitan. Ia hidup seorang diri. Setiap hari hanya melamun. Pada suatu pagi, tepat di usianya yang ke-70 tahun, Bu Hera termenung di kamar. Ia tatap foto Sanny sambil meneteskan air mata. Rupanya ia merindukan anak yang telah ia usir. Penyesalan kerap menghantui bati
n Bu Hera.
Ting tong! Suara bel mengejutkan lamunan Bu Hera. Ternyata, tukang pos mengirimkan paket. Bu Hera membuka paket itu. Paket itu berisi novel yang berjudul Sebelah Tangan untuk Ibu karya Sanny Cantika. Di atas buku itu, tertulis frasa “Best Seller.”
Betapa kagetnya Bu Hera. Jantungnya serasa mau copot. Anak yang ia sakiti kini menjadi seorang penulis terkenal. Dibacanya novel itu. Air matanya segera membasahi novel bersampul merah muda itu. Ternyata, novel karya Sanny berisikan kisah perjalanan hidup dan curahan-curahan hati sang anak pungit itu, dari kecil hingga dewasa.
Derai tangis tak terbendung lagi dari pipi Bu Hera yang mulai keriput. Di halaman belakang, terdapat foto keluarga yang dan sepucuk surat. Di foto itu, tertampak tangan Sanny buntung.
Ibu… ini foto keluarga Sanny. Alhamdulillah Sanny sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Lihat cucu Ibu! Cantik-cantik, kan? Suami Sanny seorang penulis juga. Ia menolongku saat pingsan setelah ibu usir. Tangan kananku patah. Walaupun dengan sebelah tangan, alhamdulillah, Sanny bisa membuat novel ini dan sebentar lagi akan difilmkan. Ini kado untuk ibu. Selamat ulang tahun, Ibu…Sanny selalu menyayangi Ibu sampai akpan pun. Maafkan anakmu ini yang tidak pernah membuatmu bahagia. Tunggu Sanny ya, Bu. Suatu saat, Sanny akan kembali bersama menantu dan cucu-cucu Ibu. I Love You, Mom.

Betapa sedihnya hati Bu Hera. Dipeluknya foto itu erat-erat. Hanya penyesalan yang menemaninya. Kini ia sadar bahwa mendidik anak tidak harus dengan ekekrasan. Dan, cita-cita anak itu tidak dapat dipaksakan.***
Lina Amalina, lahit di Bandung, 8 Januari 1987, alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lina Amalina
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran rakyat” pada 17 Mei 2015