Seekor Anjing Kecil dalam Hujan

Karya . Dikliping tanggal 5 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
HUJAN menemui malam yang sepi di gang itu. Deras sekali. Yang tadi hanya rintik-rintik tak terlihat, kini seperti tirai jarum berjatuhan ke bumi. Jarum dingin yang menimbulkan sensasi gigil dan sepi. Hingga semua yang bergerak segera gegas menyelamatkan diri. Ia melihat semuanya tadi. Di bawah perut sebuah bangkai truk yang teronggok pasrah di sebuah pekarangan. Batang-batang pohon kelapa dan rerumputan tampak seperti siluet garis-garis hitam yang menghalangi pemandangan. Orang-orang bergerak lamban di gang itu. Ke kanan dan ke kiri. Sepanjang waktu. Lalu hujan mengusir mereka semua. Termasuk dirinya. Tanah dalam kebun sudah becek. Tak nyaman untuk tubuhnya. 
Tak lama ia pun sampai di gang itu.Menoleh kanan kiri. Lampu-lampu tampak bias akibat tirai hujan. Pintu-pintu sudah menutup, menyembunyikan segala isinya. Ia sempat berbelok sejenak ke sebuah teras yang memiliki cahaya remang. Sengaja ia memilih tempat itu, karena jika dalam terang ia selalu merasa sedang diawasi banyak mata. Mata-mata yang mengikuti nasibnya. Mata-mata yang mengikuti nasibnya. Mata-mata yang sering terdengar riuh seolah tengah menggunjingkan dirinya yang sebatang kara.
Sepi menghampirinya di teras itu. Menunjukkan sampah-sampah plastik dan kardus-kardus bekas yang menyisakan remah-remah makanan. Lumayan. Setidaknya para penghuni perutnya akan sedikit girang setelah mendapat jatah. Meski setelah itu sepi ganti memanggil masa lalu untuk turut duduk bersama. Membuat kepalanya dipenuhi riuh silih berganti. Siang yang benderang, keramaian pasar, batu yang tiba-tiba menghantam tubuhnya, anak-anak kecil yang mengacung-acungkan tongkat, lalat-lalat, tempat sampah, deru mobil, lapar, sebuah pekarangan, pohon-pohon kelapa, rerumputan, dan lalu gelap yang perlahan menutup semua. Teringat semua itu membuatnya tak nyaman. Ia coba melarang sepi memanggil lebih banyak lagi kenangan. Tapi perintahnya tak didengar. 
Ia pun memutuskan beranjak dari tempat itu. Dipercepatnya langkah agar sepi tak mengejarnya lagi. Sampai setengah berlari. Dan hujan terasa begitu tajam. Cahaya lampu-lampu menyambung menjadi satu tali cahaya menuju lorong kenangan. Entah bagaimana cara agar ia bisa bebas dari kenangan. 
Langkahnya melambat ketika hampir kehabisan napas. Dia harus mencari tempat berteduh. Gigil serasa hampir membunuh. Hingga akhirnya dia melihat itu. Sebuah teras yang terang benderang. Dan sebuah pemandangan yang membuatnya tertarik untuk mendekat. 
Bening itu menghalangi kepalanya untuk bisa melongok ke dalam. Tetesan air hujan menandakan keberadaannya, menciptakan sebentuk tirai aneh. Tapi ia masih bisa melihat jelas ke dalam. Sebuah ruang penuh cahaya dan beberapa orang berwajah riang ceria.
Sosok yang menyita perhatiannya adalah seorang bocah perempuan yang mematung di hadapan sebuah kue dengan banyak lilin di atasnya. 
“Tiup lilinnya, Nak.” Sebuah suara membuatnya menoleh. Ada banyak anak mengepungnya di sana. Dengan topi warna-warni. Dengan aneka benda di tangan; dari mulai kado, terompet, balon, sampai pita-pita warna ceria. Riuh sekali. Terlihat penuh kebahagiaan. Meskipun di luar hujan mengepung.
“Ayo, tiup! Ayo tiup!” ujar lelaki tadi sekali lagi. Disusul teriakan anak-anak lainnya.
Dan setelah lilin-lilin ditiup, kebahagiaan tampak semakin menjadi, mengalahkan sepi yang mengintip di sesela hujan. Riuh nyanyian. Tepuk tangan. Kado-kado. Balon meletus. Kecupan. Tawa. Doa. Saat itulah –terjadi hanya dalam beberapa detik– matanya berserobok dengan mata bocah yang tengah dikerumuni kebahagiaan itu. Saling mengabarkan keadaan.
“Ayah, bolehkah aku keluar sebentar untuk mengantarkan kue ini?” tanya bocah itu.
“Buat siapa?” jawab sang ayah.
“Aku melihat seseorang di luar. Sepertinya dia kedinginan.”
Begitu mendengar kalimat itu, ia buru-buru menarik kepalanya dari tepi jendela. Matanya panik mencari tempat persembunyian. Di kolong bawah tumpukan kayu kini ia bisa melihat, bocah itu benar mencarinya. Dengan sepotong kue di tangan. Dalam kedinginan, lapar terasa begitu menyiksa sekali. Tapi tentu saja, ia takkan mendekat ke sana, meski harus membungkam suara perutnya sendiri. Bocah-bocah di dalam rumah itu, ia punya banyak pengalaman buruk dengan mereka.
Suatu ketika ia pernah mendapatkan sepotong daging yang terjatuh di halaman rumah entah. Ia sangka itu rezeki. Saat daging baru saja masuk kerongkongan, tiba-tiba saja hujan batu melanda. Disusul riuh sorai anak-anak yang mengepungnya. Hujan batu terus saja mengejar meski ia telah lari menjauh. Di mana pun ia terlihat oleh anak-anak itu, tubuhnya takkan pernah selamat dari hujan batu. Kata-kata kasar pun kadang terasa seperti batu yang memarkan hati. Seolah ia tak berhak mendapatkan nyaman yang ia ingin, seolah tempat layak baginya hanya dalam dekap sepi. Dan ia harus menerima itu. Mau tak mau. Seperti saat ini.
Di tempat persembunyian ia membayangkan, andai saja ia bertukar takdir dengan anak itu. Dilahirkan di sebuah rumah yang masih memiliki ibu bapak. Lahir dari keturunan terhormat sehingga mudah mencari teman. Tak pernah kesepian. Tak pernah kedinginan. Dan terutama tak pernah kelaparan. 
***
TRAKTAKTAKTAKTAH

Letusan yang kemudian diikuti riuhsorai itu mengagetkannya. Buru-buru ia kembali ke bibir jendela. Ia lihat di dlam sana banyak sekali balon berjatuhan. Ajaibnya balon-balon itu kemudian menjelma daging, dan bocah-bocah itu saling memperebutkannya. Namun ketika letusan kembali terdengar, daging-daging yang bejatuhan itu lenyap. Dan ia semakin kedinginan.
Membayangkan bahwa ia pemilik pesta itu, sungguh amatlah menyenangkan. Ia punya banyak teman yang setiap saat menyapa dan mengetahui keadaannya. Ia bukan lagi gelandangan kecil yang diabaikan dunia. Dan terutama perutnya akan selalu kenyang. Memiliki orangtua mungkin juga menyenangkan. Setidaknya akan ada yang terus menemaninya sepanjang hari, meskipun sudah lama ia tak membutuhkan orangtua.
Dhuaarr!

Gelegar petir membuyarkan semua. Sedari dulu ia memiliki pemikiran, petir adalah kendaraan Tuhan yang diutus untuk menjemput seseorang. Adakah seseorang yang hendak dijemput Tuhan malam ini? Padahal pesta di dalam sana masih tak ingin melepaskan siapapun. Siapakah yang dijemput untuk pergi ke rumah-Nya? Apakah salah seorang anak dalam pesta itu? Ia selalu berharap bahwa Tuhan akan sudi menjamunya ke rumah yang penuh makanan dengan menu utama kasih sayang. Meskipun ia hanya seorang yatim piatu menyedihkan!
Hujan masih menderas ketika bocah-bocah dalam pesta itu membubarkan diri dan nekat menembus tirai hujan demi segera pulang ke rumah masing-masing. Seolah mereka tiadak takut kena demam atau flu parah esok harinya. Mungkin karena sebuah alasan yang menyenangkan itu, di rumah mereka ada segala yang lebih menyenangkan dibanding segala yang ada dalam pesta. Sungguh beda jauh dengan dirinya.
Ia coba memejamkan kedua mata demi membayangkan sebuah rumah yang menaunginya. Meski selalu hanya gelap pekat dan sepi yang menyelimuti. Sementara dingin masih berusaha menusuk-nusuk kulit membangunkan makhluk lapar yang berdiam dalam perutnya.
“Ssstt, diamlah kau cacing sialan!” batinnya, karena gagal meredam keganasan makhluk yang mulai rewel lagi itu. Remah-remah makanan tadi hanya mampu menahannya sebentar. 
Sepuluh menit berlalu. Duapuluh menit. Tigapuluh menit adalah waktu yang cukup lama setelah cahaya di bingkai jendela tempat ia tadi mengintip ke dalam: padam. Saat itulah kendaraan jemputan baru datang. Ia merasa bahwa itu mungkin mobil, meski akalnya memaksa bahwa itu pastilh semacam petir seperti pemikirannya kalipertama. Yang ia rasakan, cahaya itu begitu tiba-tiba, menelan tubuhnya ke dalam, baru kemudian membawanya ke suatu tempat yang penuh kedamaian. Tak muluk tujuan yang diharapkannya. Hanya sebuah rumah yang sekiranya mau menyediakan beberapa helai pakaian, terutama pakaian dalam, roti, permen, ikat rambut, dan ikat pinggang untuk mengencangkan rok yang kerap melorot saat ia berlari kencang. Ia memohon. Syukur jika di sana sudah ada pesta yang menyambutnya di ambang pintu, yang lalu mengantarkannya ke pembaringan dengan damai, seperti yang pernah ia temukan pada sebuah bingkai jendela yang lain.
Keesokan paginya, sesaat setelah hujan mereda, terjadilah kegegeran kecil di sekitar tempat tumpukan kayu bakar pengusaha kue tradisional. Sebagian orang merasa nyinyir saat melihat bangkai seekor anjing kecil yang meringkuk di bawah kolong tumpukan kayu bakar.
“Pasti ini dia anjing kecil yang kerap mencuri pakaian dalam anakku di jemuran. Pasti ini dia anjing kecil yang kerap mengutil di kiosku. Pasti ini anjing kecil yang….”
Di dalam pakaian mayat malang itu memang ditemukan aneka benda; dari mulai celana dalam, cendok, sobekan kain, pensil, sampai kertas-kertas. 
“Sudah. Langsung dikubur saja. Tak perlu ada upacara pemakaman untuk seekor anjing kecil sepertinya.”
Namun sebagian orang yang lain justru meleleh-leleh rasa ibanya. Bagaimana tidak, jika yang mereka lihat adalah mayat seorang bocah perempuan lusuh yang kerap mereka lihat berdiri mengiba di depan pintu rumahnya, atau kadang-kadang mengintip malu-malu di bingkai jendela. (k)


[] Kalinyamatan Jepara.

Adi Zamzam (Nur Hadi) tinggal di Banyuputih RT 11/03 Gg Masjid Baitush Shamad Kalinyamatan Jepara. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zamzam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 3 Mei 2015

Baca juga:  Ketika Rabbi Diturunkan