Tahi Lalat di Dada Kiri Mary

Karya . Dikliping tanggal 26 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
MORIS kembali mengenakan jaket lalu duduk di kursi teras. Ia merasa sedikit lebih nyaman ketika cahaya matahari menyiram tubuhnya. Ia tahu, seandainya kamar yang ia sea untuk 2-3 hari ke depan tak menghadap ke timur, ia akan kesulitan beradaptasi dnegan udara –yang sejak kedatangannya kemarin– seolah tak berkurang temperaturnya. Dingin.
“APAKAH tebing dan pepohonan di sini tak pernah menggigil?” begitu gumamnya saat sepeda motor melewati jalan menanjak, berliku, dan kelabu oleh kabut yang turun sebelum menemukan penginapan itu.
Bahkan, perempuan yang disediakan oleh pemilik penginapan, yang menemaninya semalam, tak cukup mampu mengusir dingin yang seolah mengulitinya tanpa ampun.
“Seharusnya aku sudah berhenti dari pekerjaan ini. Benar-benar bukan duniaku. Seharusnya aku sudah bisa menulis sebuah cerita. Aku bersumpah, setelah bis amundur dari pekerjaan ini, aku akan membuat novel!”
Menegluarkan sumpah seraopah semacam itu adalah kebiasaan Moris setiap kali menghadapi kesulitan dalam pekerjaan. Sepekan lalu, ia mendapatkan tugas menyelidiki pembunuh seorang anggota dewan. Usahanya etlah emmbuahkan hasil begini: pembunuh itu seorang perempuan simpanan anggota dewan. Moris mengendus perempuan itu berada di sekitar sini.
Moris melupakan sejenak tugasnya. Ia berusaha mengingat perempuan yang menemaninya semalam. Tapi, kemudian ia berkata pada dirinya sendiri. “Sungguh membosankan! Tapi lumayan juga. Cukup mujarab untuk membuatku lelah tertidur dalam kebekuan.”
Ia tak tahu kapan perempuan itu pergi.
**
“DIjerat Harapan.” Ilustrasi karya Mawar Diah Pratiwi
BEBERAPA menit lalu, kutukan di pintu membangunkannya. Dengan mata masih terpejam, ia berkata bahwa pintu tak dikunci, menyuruh orang itu masuk. Ketika hidungnya mencium aroma kopi, tahulah ia bahwa orang itu pelayan penginapan. Ia segera membuka mata lalu perlahan bangkit, tapi pintu sudah menutup kembali. Samar saja ia mendengar langkah yang bergegas menjauh.
Ia tak mendapati perempuan itu, tapi sisa parfum oriental masih tertangkap indera penciumannya. Aroma parfum yang berbaur dengan wangi rempah kopi. Ia sulit mengingat, apakah sudah memberikan sejumlah uang pada perempuan itu ataukah belum.
Moris menyeruput kopinya.
“Uh,
lebih nikmat dari persetubuhan semalam! ucapnya kepada dirinya snediri.
Ia mencoba mengingat lagi soal kesepakatan dengan perempuan itu. Tapi, alih-alih mendapatkan jawaban, ia malah teringat pada dada perempuan itu. Bukan. Bukan bentuk ataupun ukurannya. Moris merasakan ada yang aneh ketika menyentuhnya. Sekarang ia mengerti soal keanehannya: dada kanan sedikit lebih besar daripada yang kiri!
Moris tersenyum lalu menyeruput lagi kopinya. Kali ini, pikirannya yang nakal berharap, kopinya tiba-tiba berubah jadi rasa susu.
Mmebayangkan kembali dada perempuan itu membuatnya teringat pada Aomame, salah satu tokoh dalam Novel 1084 yang juga pernah ia imajinasikan saat membaca novel karya penulis Jepang, Haruki Murakami. Tapi, bukan itu yang sekarang sedang mengisi kepalanya. Di dada kiri perempuan itu, yang ukurannya lebih kecil, ada semacam bercak samar kecokelatan berbentuk oval. Bercak itu berada tepat di atas puting susunya. Tentang hal ini, ia ingat Seribu Burung Bangau karya Yasunari Kawabata.
“Aha, apakah penulis Jepang menyukai dada perempuan?”
Tapi, juga bukan itu yang ia pikirkan. Bercak kecokelatan berbentuk oval di atas puting perempuan mengingatkan Moris kepada teman sewaktu kecil, bernama Mary.
Dua puluh tahun lalu.
Waktu itu, mereka masih dua bocah dan suka berlarian menembus kabut hujan. Membiarkan tubuh-tubuh mungil mereka dilecuti rerintik air yang jatuh dari langit.
“Terbuat dari apakah hujan itu?”
“Air.”
Dalam hujan, mereka tertawa. Mereka berlarian dengan dada telanjang. Tapi, diam-diam, Moris memperhatikan tahi lalat yang nangkring tepat di atas puting susu Mary. Sebenarnya, ia ingin bertanya, mengapa dada Mery sebelah kanan memiliki dua puting susu? Tapi, ia tak berani mengajukan pertanyaan itu kepada Mary. Bagaimanapun, Moris tahu, itu pertanyaan nakal.

Baca juga:  Balada Rindu Nek Padma

Setelah mereka sama-sama beranjak remaja, kesukaan hujan-hujanan menghilang begitu saja. Bahkan keduanya nyaris tak lagi pernah bertemu meski rumah mereka hanya dipisahkan oleh dua gang.

Pada suatu kali, tanpa sengaja, mereka bertemu. Dengan canggung, mereka saling menyapa. Mata Moris tak bisa tidak memandang dada Mary. Dada yang tak lagi rata sebagaimana dulu ia perhatikan diam-diam di bawah siraman air hujan.

Tentang hal itu, Moris pernah bertanya kepada ayahnyamengapa dada perempuan bertambah besar, sedangkan lai-laki tidak. Tapi, alih-alih mendapatkan jawaban, ayahnya malah menampar pipinya.

Baca juga:  Dua Sahabat

“Kamu jangan kurang ajar! Dasar anak pelacur!”

Moris tak memiliki ibu. Tepatnya ia tak tahu ke mana ibunya pergi. Ayahnya hanya bilang bahwa ibunya minggat saat dirinya berusia enam bulan.

Kelak, ia tahu, perempuan yang melahirkannya itu mati di kamar sebuah hotel. Wajah yang terpampang di koran merupakan satu-satunya yang memberitahukannya bahwa itu milik ibunya. Ayahnyalah yang memberitahukan itu tanpa perasaan sedih sedikitpun.

Entah kenapa, apa yang Moris perhatikan diam-diam saat mereka masih kanak-kanak itu kembali memenuhi isi kepalanya.

Tahi lalat itu sekarang pasti juga bertambah besar. Tentu besarnya sama dengan…


Moris tak berani melanjutkan kata-kata bahkan walau dalam hati.

“Mary, apakah boleh aku bermain ke rumah?” Itulah yang akhirnya keluar dari mulut Moris.

“Ke rumahku?” Mery tergelak. Ia tak menyangka, Moris ingin pergi ke rumahnya setelah sekian lama tak bertemu.


Moris mengangguk.

“Boleh,” ucap Mery. akhirnya.

Begitulah. Untuk pertamakalinya sejak mereka tak lagi suka berhujan-hujanan –yang sebenarnya merekapun tak bisa mengingat kapan terakhir kali bermain hujan– Moris menjadi tamu di rumah Mary.

 Hanya mereka berdua yang ada di rumah itu. Ayah dan ibu Mary bekerja dan baru pulang selepas Asar. Agak lama mereka bisa mengembalikan keakraban yang pernah ada. Setelah kecanggungan benar-benar sirna, mereka slaing bersendau gurau, menceritakan kembali tentang kesukaan berhujan-hujan bersama hingga sampailah pad atahi lalat di dada Mary. Tanpa sengaja, Moris mengatakan –atau tepatnya bertana– soal itu.

Seketika wajah Mery bersemburat merah. Itu cukup membuat Moris sadar bahwa dirinya baru saja membuat kesalahan. Ia ingin berucap maaf, tapi terlambat.

Mary tersedu, berlari, lalu membanting pintu kamar. Moris tak tahu apa yang harus dilakukan. Baru setelah sekian menit Mary tidak keluar, ia meninggalkan rumah itu. Meninggalkan begitu saja.

***

MORIS tersenyum mengingat kisah itu. Ia kembali menyeruput kopi yang sudah mulai dingin. Ia kemudian menguap. Diregangkan tubuhnya. Ia bangkit dari kursi lalu berdiri mendekati pagar teras. Dibuang pandnagnya pada hamparan rumah-rumah di bawah, seolah baru tahu bahwa penginapan itu berada di tempat tinggi. Ia juga melihat ke telaga. Ada bebrapa perahu berputar di sana dengan buih putih memanjang di belakangnya. Itu mengingatkannya kepada perahu mainan yang berputar di sebuah baskom, di sebuah pasar malam yang pernah ia kunjungi sewaktu kecil.

Baca juga:  Kasihanilah Mereka, Maryam!

Sementara ia melihat telaga, telinganya menangkap suara ribut di kamar sebelah. Itu membuatnya berpaling kepada sumber suara. Iseng saja ia mendekat. Ia tahu apa yang sedang terjadi di dalam kamar. Ia melihat ada sedikit celah pada kain gordyn. Ia mendekatkan wajah ke kaca jendela itu. Matanya melihat apa yang memang dilihatnya, mengingatkannya kepada apa yang ia koleksi dan simpan di dalam laptop.

Apakah perempuan itu adalah perempuan yang semalam menemaniku? Ia membatin.

Ia memperhatikan dada perempuan itu. Dada yang sama besarnya. Tetapi, matanya membelalak ketika mendapati ada tanda kecil di atas puting susu sebelah kiri. Itu bekas sayatan. Mungkin bekas operasi, pikirnya. Matanya kemudian memicing pada wajah perempuan itu. Ia merasa mengenalinya. Itu bukan perempuan yang menemaninya semalam.

Moris menelan ludah. 


Sesuatu tiba-tiba dirasanya bergetar di dalam celana. Ia merogoh saku dan mengeluarkan benda kecil itu.

“Halo,” ucapannya setengah berbisik.

“Apakah kau sudah mendapatkannya?”

“Belum!”

“Ada informasi baru. Perempuan itu memiliki tanda…”

Suara di seberang kemudian memberitahukan soal tahi lalat di dada kiri perempuan pembunuh anggota dewan.

“Kukira aku akan mendapatkannya!” ucapnya lirih dan segera mematikan telefon seluler.

Sekarang tangannya meraih sesuatu yang lain di sebalik jaket. Gamang ia menggenggam benda itu. Lalu, sumpah serapah yang sama ia ucapkan kembali, “Seharusnya aku sudah berhenti dari pekerjaan ini. benar-benar bukan duniaku. Seharusnya aku sudah bisa menulis sebuah cerita. Aku bersumpah, setelah bisa mundur dari pekerjaan ini, aku akan membuat novel!**

Y Agusta Akhir, penikmat sastra dan aktif di Komunitas Sastra Alit, Solo

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Y Agusta Akhir
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 24 Mei 2015