Televisi

Karya . Dikliping tanggal 12 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Tabloid Nova
“Sabarlah Bang! Kita banyak urusan,” pintaku pada Abang.
Abang diam, tidak lagi berselera membantah apa yang aku katakan.
Sudah dua bulan Abang di rumah, menganggur tapi dia tidak berdiam diri dengan keadaan ini. Abang selalu tidur larut malam hanya untuk mengejar paket gratis dari provider simcard handphone-nya yang baru dimulai jam dua belas malam untuk membuka situs resmi perusahaan penyedia informasi lowongan pekerjaan. Biasanya Abang akan langsung mengirim e-mail lamaran pekerjaan ke perusahaan yang kebetulan memiliki lowongan pekerjaan yang menurutnya sesuai dengan keahlian dan pengalamannya pada malam itu juga.
Beberapa e-mail itu berbuah panggilan tes dan interview tapi sayang belum ada yang benar-benar menjadi rezeki Abang. Satu per satu panggilan itu gugur di atas kertas psikotes aatau di meja interview, bahkan ada yang berakhir tepat di seleksi terakhir, negosiasi gaji atau penempatan kerja. Aku akui Abang menjadi cukup selektif setelah PHK dari tempatnya bekerja, ada beberapa kriteria yang ia wajibkan untuk disediakan perusahaan yang nantinya akan mempekerjakannya si antaranya sistem kontrak yang jelas, penggantian biaya operasional kerja yang adil dan transparan, dan penempatan kerja yang sesuai dengan gaji dan operasional yag diberikan perusahaan. Dan sayangnya criteria-kriteria itu justru membuatnya sulit menemukan perusahaan yang mau memperkerjakannya.

“De, sudah bisakah kita membeli tivi?” Abang bertanya dengan sangat hati-hati, mungkin mengimbangi aku yang lelah sehabis pulang kerja.

Aku hanya melihatnya sekilas kemudian beranjak ke kamar mandi.
‘De!” suara Abang terdengar ingin buru-buru mendapat jawaban.
“Bang, biarkan aku mandi dulu, aku capek sekali. Hari ini pekerjaanku sangat padat,” aku balas meminta.
Pemandangan yang aku dapat selesai mandi adalah Abang yang sibuk memukul-mukul kepala televisi kami, tujuannya agar televisi itu bersedia menampilkan gambarnya. Tak berapa lama layar televisi memperlihatkan warna-warna, pertanda gambar akan muncul tapi sayangnya warna-warna itu berlari-lari naik dan turun bahkan kadang bercampur dengan warna hitam.
Abang menoleh ke arahku, menatapku dengan pandangan penuh tanya, “Kapan kami akan membeli televisi baru?”
“Abang sudah bosan di rumah De, ga ada aktivitas, bahkan menonton tivi saja gak bisa. Abang butuh hiburan.”
Ya, Abang benar pengangguran juga butuh hiburan.
Aku diam dan merenungkan poin penting itu.
Abang diam.
Pembicaraan malam itu kembali buntu.
***
Pagi itu seperti biasa aku bangun lebih dulu dibandingkan Abang, aku lihat Abang masih tertidur pulas di sisi sebelahku, entah ia pulang jam berapa. Aku segera beranjak dari atas kasur dan menuju ruang tamu, tujuannya memastikan televisi rongsok kamu sudah bertengger di atas meja televisi seperti hari-hari kemarin.
Nihil, kemana Abang bawa tivi itu?
“De?” suara parau Abang memanggil, sama seperti pagi-pagi yang telah kami lewati bersama, akulah yang ia sebut ketika ia membuka mata.
“Iya, Bang!” aku menghampiri tapi tidak bersedia melanjutkan tanyaku padanya, masih terlalu pagi bukan?
“Abang ada interview hari ini, tolong siapkan kemeja Abang ya?”
Aku mengangguk.
Tidak seperti biasanya, Abang mandi lebih dulu pagi ini, menyiapkan teh sendiri dan berangkat lebih pagi dibandingkan aku. Herannya aku tidak bertanya dimana Abang akan interview karena aku terlalu sibuk menerka-nerka sendiri jawaban kenapa Abang tidak meminta ongkos padaku hari ini.
Aku mematung sambil dibonceng Abang pulang ke rumah, sesi makan malam tidak berjalan menyenangkan bagiku karena aku sibuk berkonsentrasi pada apa yang Abang bawa, bungkusan persegi panjang berselimut kertas cokelat yang cukup besar. Apa itu?
“De, kenapa kok diem aja?” tanya Abang masih sambil mengendarai motor.
“Gak apa-apa Bang,” aku menjawab sekenanya sambil berharap Abang lebih cerdas mencerna jawaban singkat itu.
“Sabar De, nanti Abang akan cerita sesampainya di rumah,” Abang paham juga ternyata.
Ah, kenapa perjalanan pulang jadi selama ini ya? Runtukku dalam hati.
Sesampainya di rumah Abang dengan sigap membuka bungkusan misterius itu, tampaknya kegusaranku terbaca jelas olehnya. Aku terperangah mendapati isi bungkusan itu. Kejutan apalagi ini?
“Abang baru saja membelinya De, bagus, kan? Ini smart tivi De, fungsinya sudah seperti handphone, seperti yang di iklan.”
“Bagus,” aku setuju, “Tapi darimana Abang mendapatkan uang?”
Abang menoleh padaku.
“Darimana Abang mendapatkan uang untuk membeli tivi ini, termasuk untuk membayar makan malam kita tadi, dan ongkos Abang interview lima hari ini?” tanyaku bertubi-tubi, meluapkan semua yang menjadi kegelisahanku selama ini.”Satu lagi Bang, kemana Abang sebenarnya selama ini, pergi pagi pulang malam. Abang kemana?”
“Biar Abang jelaskan ya De…”
“Tunggu, ada yang aku lupa! Kemana tivi kita yang lama?” Aku memotong pembicaraan Abang.
Abang tertawa,”Banyak sekali pertanyaan kamu De?”
“Kamu ingat Romli? Teman sekampung Abang yang teknisi elektronik itu?”
Romli adalah teman satu kampung Abang, dari cerita Abang aku menangkap usaha yang digeluti Romli sekarang jauh lebih pesat dibandingkan dulu, Romli tidak hanya memiliki bengkel servis elektronik tapi juga pengepul elektronik bekas. Elektronik-elektronik itu ia teruskan ke perusahaan elektronik untuk didaur ulang sejak semaraknya kampanye go green di Indonesia.
Entah sedang mujur atau semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, Abang juga bertemu dengan teman lamanya yang sekarang sukses menjadi Purchasing Manager di sebuah pabrik elektronk terkemuka di Indonesia. Salah satu pekerjaannya adalah membeli barang-barang elektronik bekas dari para pengepul elektronik.
“Abang sedang menungguu bus seusai interview, Abang lihat  ada orang kesulitan dengan mobilnya, banyak asap mengepul dari mesin mobilnya, Abang dekati saja,” Abang masih bercerita.
Abang yang pernah bersekolah di STM jurusan teknik mesin mobil mencoba membantu orang tersebut yang tak lain adalah teman lamanya, Andi, hingga mesin mobilnya  berhasil hidup kembali. Sebagai imbalan Andi mengajak Abang makan siang  di sebuah restoran dekat mobil Andi mogok. Makan siang itu membuahkan sebuah tawaran untuk Abang mencari pengepul elektronk agar bisa dibeli oleh perusahaan tempatnya bekerja. “Dari sanalah Abang ingat dengan Romli, De,” Abang menjabarkan korelasi cerita.
Akhirnya Abang menawari Romli untuk menjadi pemasok di perusahaan Andi. Romli jelas bersedia, bahkan membeli televisi lama kami dengan harga tinggi karena ia merasa berhutang budi pada Abang. Ya, siapa yang tidak tahu perusahaan elektronik tempat Andi bekerja, itu perusahaan elektronik nomor satu di Indonesia, bahkan dunia maka sudah terbayang bukan seberapa fantastis keuntungan yang akan diperoleh Romli. Sejatinya Abang hanya ingin menolong Andi dan menjembatani usaha Romli agar lebih berkembang lagi tapi takdir berkata lain. Andi justru bergantung pada Abang untuk mencari pengepul lainnya dan Romli mempercayakan Abang pada proses dokumen administratif antara usahanya dengan Andi. :Bisa dibilang Abang ini seperti makelar-lah De. Abang mendapat kompensasi dari Andi dan Romli.”
Pekerjaan itu Abang jalani sambil terus mengikuti seleksi demi seleksi di penerbitan majalah. Seleksi pertama Abang lolos, lanjut dengan seleksi kedua, ketiga dan yang terakhir bertemu user dan negosiasi gaji. Abang juga lolos. Jadi dengan kata lain Abang mendapat dua pekerjaan dalam waktu yang bersamaan.
“Jadi tivi ini dari uang kompensasi dari Andi dan Romli?”
Abang mengangguk,”Iya, tapi apalah artinya sekarang Abang membeli tivi baru ya, karena Abang gak akan sempat menonton tivi. Abang akan jadi orang sibuk, haha,” tawa Abang lepas.
Aku jelas ikut tertawa tapi menertawai hal lain, siapa yang tahu takdir baik lahir dari sebuah televisi butut.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eka Sawitri Rahayu
[2] Pernah tersiar di surat kabar tabloid “Nova” 10 Mei 2015